Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 83


__ADS_3

Moana bangun dari tidurnya, ini masih pukul empat pagi, tapi untunglah dia bangun sepagi itu dan bisa mengindari tatapan Kendra yang jelas akan membuatnya gugup dan malu. Ah benar-benar gila karena pada akhirnya dia dan Kendra melakukan itu tanpa lingerie yang sudah dia beli.


Moana tersenyum melihat wajah Kendra yang masih tertidur pulas, pria itu terlihat begitu tampan, kulit wajahnya benar-benar sangat halus meski ada rambut yang mulai tumbuh di beberapa letak layaknya pria lain. Ingatan tentang semalam benar-benar tak bisa dia lupakan bahkan sebentar saja. Moana menyentuh bibirnya, ingat benar saat bibir Kendra bergerak dengan hangat memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan tangannya yang nakal membuatnya ikut masuk dan menikmati apa yang mereka lakukan. Sakit, tapi untunglah itu hanya sebentar saja.


Mungkin karena Kendra begitu berpengalaman sehingga rasanya tidak sedramatis yang dikisahkan drama di televisi. Dia begitu lembut dan terus bertanya apakah sakit? Pertanyaan itu benar-benar dia ucapkan hingga beberapa kali dengan tatapan khawatir. Untunglah, karena rasa cinta yang ia miliki untuk Kendra membuatnya tak mengindahkan rasa sakit itu dan hatinya terus mendorong dengan rasa bahagia.


Iya, dia bahagia! Entah apakah Kendra akan menyesal sudah melakukan itu dengannya atau tidak, tapi yang Moana tahu adalah dia tidak akan menyesal apapun yang terjadi telah memberikan apa yang seharusnya menjadi hal Kendra sebagai suaminya.


Segera setelah itu perlahan Moana berjalan menuju kamar mandi, memang masih agak letih rasanya apalagi saat dia buang air kecil. Tapi ya sudahlah, itu memang tidak sebanding dengan perasaan bahagia yang ia rasakan.


Setelah selesai membersihkan diri, Moana keluar dari kamar dan dia berjalan menuju dapur, sudah ada pembantu yang mulai membersihkan sayuran, juga sudah mulai memasak nasi untuk sarapan.


" Loh, Ibu kok sudah bangun? " Tanya satu pembantu di dapur.


" Sudah, aku ikut masak ya? "


Pembantu yang berjumlah dua orang itu hanya bisa mengangguk setuju tak berani melarang majika barunya. Jujur saja mereka berdua masih belum begitu terbiasa, tapi untungnya mereka juga tak terlalu menunjukkannya sehingga Moana bisa merasa nyaman.


Tiba saatnya sarapan.


Ana menatap Kendra dan juga Moana yang seperti saling menghindari tatapan satu sama lain. Ah, kalau begini bukanya semua orang malah akan tahu kalau hubungan mereka sudah semakin dalam?


" Ayah? "


" Iya. "

__ADS_1


" Nanti aku dan Ibu kecil mau pergi ke salon ya? "


" Iya. "


" Ngomong-ngomong Ibu kecil, leher nya ada bekas merah apa semalam banyak nyamuk? "


Uhuk Uhuk


Kendra dan Moana kompak tersedak dan sempat sebentar saling menatap.


" Ah, pasti memang ada nyamuk ya? " Gumam Ana yang bisa di dengar keduanya, tapi karena Ana menatap ke arah lain seolah tidak begitu penasaran mereka juga hanya bisa memilih diam karena tidak mungkin memberikan alasan atau penjelasan kan?


" Sebenarnya tadi Ayah ingin kita semua menengok teman Ayah yang baru memiliki ana kedua, bayi mereka kembar pasti sangat lucu kan? "


" Ah kalau begitu kita ikut Ayah saja! " Ucapan Ana barusan mendapatkan anggukan dari Moana, maklum saja, baik Moana dan Ana mereka sama-sama sangat menyukai anak-anak apalagi bayi yang katanya kembar, ah pasti sangat membahagiakan sekali.


Ana yang begitu antusias membayangkan akan bertemu bayi kembar dia benar-benar sampai lupa dengan ponselnya yang tertinggal di kamar.


***


Setelah mendapati keberadaan Soraya, Jordan dengan terburu-buru berjalan untuk menuju garasi mobil, tujuannya adalah untuk menyelamatkan Soraya yang pasti beberapa hari di sekap oleh pria aneh yang tidak dia kenal. Selama di dalam perjalanan dia terus mencoba menghubungi Ana, tapi entah apa yang sedang dilakukan Ana sehingga tidak mengangkat telepon darinya.


Tak lama kemudian Jordan sampai di sebuah gedung apartemen yang terbilang elit. Berbekal alamat dari orang yang ia minta untuk melacak nomor telepon Soraya dan nomor telepon pria itu, akhirnya Jordan tahu di lantai berapa dan di unit mana Soraya berada. Tak ada waktu lagi untuk menghubungi Ana. Dia berjalan dengan terburu-buru hingga berpapasan dengan Rigo yang berjalan santai dengan kaca mata hitam yang menghiasi wajahnya. Berbeda dengan Jordan yang berekspresi panik, Rigo dengan sebagainya tersenyum tipis saat Jordan melewatinya.


Rigo berbalik badan sembari melepas kaca mata hitamnya.

__ADS_1


" Kau datang tepat waktu, Jordan. Yah, setidaknya sebelum wanita itu mati karena dehidrasi parah. " Gumamnya lalu kembali membalikan tubuh sembari memakai kembali kaca mata hitamnya. Dia berjalan dengan santai menuju lift dan keluar dari gedung apartemen dengan perasaan sedikit bahagia.


Begitu menemukan nomor unit dimana katanya Soraya berada, Jordan mengetuk pintu apartemen itu beberapa kali, tak mendapat jawaban, dan saat menggerakkan Pitu rupanya pintu apartemen itu tidak terkunci. Dengan segera Jordan masuk ke dalam, sejenak dia membeku melihat bagaimana keadaan Soraya sekarang. Dia tertidur di atas tempat tidur dengan bekas merah yang begitu banyak di sekujur tubuhnya. Entah pria binatang mana yang melakukan itu, bahkan di wajah Soraya juga ada beberapa di sana. Bibir Soraya pecah, jelas juga pasti karena pria tak di kenal itu menggigitnya dengan kuat.


Dengan hati-hati Jordan melangkahkan kaki, sebelum mendekat ke Soraya dia memutuskan untuk menghubungi kembali polisi yang sebentar lagi akan sampai. Setelah itu Jordan kembali menatap ke arah Soraya dengan tatapan melas.


" Siapa yang melakukan ini, Soraya? "


Rupanya Soraya masih bisa membuka mata meski perlahan, dia menatap Jordan dengan tatapan sayu seolah menunjukan betapa menderitanya dia sekarang ini. Tubuhnya tergelatak tanpa busana, ruangan hah berantakan bahkan ada pecahan gelas dan tumpahan anggur di mana-mana. Untungnya sebelum mendekati Soraya dia juga sudah membuat video agar orang tidak salah paham terutama polisi.


" Tolong aku, Jordan. " Ucap Soraya dengan nada yang begitu pelan, Jordan terlihat tak tega, apalagi kalau menunggu polisi pasti masih butuh waktu lima belas menitan lagi. Tanpa mau membuang waktu, Jordan meraih seimut tebal untuk menutupi tubuh Soraya, lalu membopongnya untuk dia bawa kerumah sakit.


Baru beberapa langkah dia keluar dari pintu apartemen, dan sekarang dia akan masuk ke dalam lift untuk turun. Jordan terdiam dengan tatapan terkejut yang luar biasa melihat tiga orang yang berada di dalam lift itu.


Sama saja dengan tiga orang yang tak lain adalah Ana, Moana dan Kendra. Mereka tak kalah terkejutnya melihat Jordan membopong Soraya yang seperti orang kelelahan, ditambah ada banyak sekali bekas merah tanda dia telah berhubungan badan.


" Ana, aku- "


" Bajingan! " Ucap Kendra menahan kemarahan, dia tidak bisa langsung memukul Jordan karena tangan Moana sudah lebih dulu menahannya.


" Tahan emosi mu kak, please... "


" Ayah, ayo cepat kita pergi! " Ana berucap dengan tatapan terkejut, kecewa hingga matanya memerah menahan tangis.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2