
Moana akhirnya merasa begitu lega karena jawaban yang dia dapatkan dari Kendra benar-benar terasa begitu meyakinkan. Memang benar di balik kelegaan dan rasa bahagia yang ia dapatkan ada kakaknya yang menderita dan bersedih karena harus merelakan Kendra yang kini sudah menjadi suaminya.
Entah akan seperti apa hidup Soraya kedepannya, tentu lah dia sebagai seorang adik yang menyayanginya meski beberapa akhir ini Soraya begitu berubah seolah tak menyayanginya, dia tetap ingin yah ternak untuk kakaknya, dia ingin kakaknya bahagia meski tidak bersama Kendra, ataupun Jordan.
" Saran ku lebih baik kau pikirkan dirimu dulu, jangan begitu sok baik dengan mengutamakan kebahagiaan orang lain. Orang yang seperti itu hanya akan bisa tersenyum tapi tak merasa bahagia dengan alasan bahagia saat melihat orang lain bahagia. Tidak ada kebahagiaan semacam itu, jadi utamakan dirimu sendiri asal tidak merugikan orang lain. "
Moana mengangguk dengan cepat, dia mendekatkan tubuhnya, memeluk lengan Kendra yang juga berada di posisi duduk, kalau menyenderkan kepalanya di pundak Kendra. Memang tidak salah jika Kendra adalah pria yang dia cintai selama ini, Selian dia begitu perhatian kepada keluarganya, Kendra benar-benar membuatnya merasa nyaman dan tahu bagaimana harus berbuat apa tanpa banyak menjelaskan ini dan itu.
" Tidurlah ini sudah malam. " Ucap Kendra setelah melihat pukul berapa sekarang ini. Dia tahu kalau hari ini adalah hari yang melelahkan dan menguras emosi, jadi istirahat, tidur dengan nyenyak pasti akan membuat tubuh menjadi segar esok pagi.
Moana menggeleng, kini dia mengangkat kepalanya laku menatap Kendra dengan senyum di wajahnya yang tidak bisa Kendra artikan apa maksudnya.
" Kenapa? " Tanya Kendra.
" Kenapa? Memang kita akan langsung tidur begitu saja? " Moana kini tertunduk dengan semua merah di wajahnya.
***
Jordan tersenyum sembari memeluk Ana yang kini sudah nyenyak di dalam pelukannya. Mungkin dia terlalu lelah hari ini sehingga begitu mudah tertidur setelah mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan beberapa saat lalu. Perlahan tangan Jordan mengusap punggung Ana yang mulus dengan hangat berharap Ana akan lebih nyenyak dan nyaman untuk tidur.
Jordan juga tak hentinya menatap wajah Ana yang sedang tertidur pulas itu dengan perasaan heran. Padahal Ana tidak cantik seperti Soraya ataupun matan kekasihnya yang lain, Ana tidak memiliki bentuk tubuh seperti wanita sebelumnya yang pernah menjalin hubungan dengannya. Tapi, anehnya Jordan malah begitu terikat seperti sudah kehilangan akal sehat.
Bohong saja kalau masih tidak tahu perasaan apa yang dia miliki untuk Jordan, karena perlahan Jordan sudah bisa merasakan perasaan yang selama ini coba dia tolak dengan akal sehatnya.
Ana tidak cantik, dia biasa saja, bentuk tubuhnya juga tak terlihat memiliki kelebihan selain begitu langsing cenderung rata. Kehamilan yang sudah tiga bulan itu saja sama sekali belum terlihat oleh matanya.
Besok paginya.
Jordan sengaja menunggu di dalam kamar hingga Kendra pergi untuk bekerja baru dia bisa keluar dari sana.
" Ada Jordan di kamar mu ya? " Tanya Moana setelah mengantarkan Kendra untuk pergi bekerja. Mendengar pertanyaan itu tentu saja Ana melotot kaget, bagaimana bisa tahu Jordan ada di dalam kamarnya? Mobil Jordan kan sudah di ambil oleh sopir Ibunya?
" Tidak usah kaget begitu, kau kan jarang mengunci pintu kamar. Kalau sedang di kunci pasti ada yang sedang kau sembunyikan kan? "
__ADS_1
Ana menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari tersenyum kikuk.
" Apa kau ada rencana pergi hari ini? " Tanya Moana.
" Tidak ada Ibu kecil, kenapa? "
" Em, boleh temani aku membeli buah dan kebutuhan kak Soraya tidak? Nanti saat mau kerumah sakit baru aku antar kau pulang, kau pasti tidak nyaman kalau bertemu dengan kakak ku kan? "
Ana memaksakan senyumnya, jujur saja dia memang membenci Soraya, tapi mengingat apa yang terjadi dengan nya Ana jadi merasa kasihan dan menjenguk bukanlah hal ya g salah kan? Toh itu juga termasuk tindakan manusia kan?
" Boleh Ibu kecil, nanti aku juga ingin melihat bagaimana keadaan Bibi Soraya. Bagaimanapun dia mengalami hal yang kurang menyenangkan pasti dia juga sangat terpukul. "
Moana mengangguk sembari tersenyum.
Setelah kembali ke kamar, Ana tak lupa membawa sepiring makanan untuk Jordan sarapan, setelah kepergian Jordan untuk bekerja barulah Ana dan Moana pergi ke supermarket untuk membeli buah-buahan kesukaan Soraya juga roti yang biasanya di makan Soraya.
" Kak, eh Ibu kecil! Bibi Soraya kan sangat menyukai keju, bagaimana kalau beli roti isian saja? Di saat sakit begitu dia tidak mungkin mau repot-repot mengoles selai atau krim keju ke roti tawar kan? " Ucap Ana sembari menunjuk roti isian keju yang terlihat sangat enak.
" Iya, kau benar sekali Ana. Ya sudah ambil saja ini. Kau masih mau disini atau mau ikut lihat buah? " Tanya Moana karena dia melihat Ana masih ingin di tempat itu sementara dia sudah tidak ingin.
" Oke! "
Beberapa saat kemudian, Ana sudah mendapatkan beberapa varian kue kering yang menurutnya pasti enak jika di lihat dari tampilan dan harganya.
" Ana? "
Ana segera mengeryit melihat pria yang tiba-tiba ada di dalamnya dan menyebut namanya.
" Oh, eh, anda itu kan? "
Pria itu terkekeh.
" Kau lupa namaku ya? Aku Rigo. "
__ADS_1
Ana memaksakan senyumnya, yah dia ingat benar dia adalah pria yang sok kenal tempo hari hingga menanyakan alamat tinggalnya.
" Iya, Tuan Rigo. Kita bisa bertemu lagi rupanya ya? " Ucap Ana yang sejujurnya ini adalah bosa basi semata.
" Mungkin karena kita berjodoh. "
Ana tersenyum menyembunyikan hatinya yang kesal. Padahal kalau di perhatikan pria itu memang benar-benar sangat tampan, tapi anehnya dia sama sekali tidak tertarik, dan malah memikirkan Jordan dan takut Jordan salah paham padanya. Ah benar-benar tidak tahu bagaimana bisa pemikiran semacam itu bisa dia rasakan.
" Kau suka kue kering, kau pasti suka ngemil ya? " Tanya Rigo lagi dengan tatapan yang memperlihatkan betapa ramah dan hangatnya dia.
" Iya begitulah. "
" Oh iya, ngomong-ngomong bisa batu aku memilih roti? Sebenarnya aku tidak terlalu suka roti karena kebanyakan rasa roti dan teksturnya berbeda dari yang biasa aku makan di negaraku. "
Ana kembali memaksakan senyum sembari membatin kesal.
Ya pulang saja ke negaramu!
" Mau ya? Please..... "
Ana tak punya pilihan lain selian menuruti saja permintaan pria itu. Segera dia menunjuk dengan mimik yang ia paksakan untuk menjadi ramah.
" Kau yakin rasa roti ini pasti akan enak. "
Ana membalasnya dengan tersenyum.
" Ngomong-ngomong Ana, kau terlihat masih muda, betapa usia mu? "
" Sembilan belas tahun. "
" Wah, masih anak-anak rupanya. "
" Iya, aku anak-anak yang sudah bersuami. "
__ADS_1
Bersambung.