
Kendra menatap kedua bola mata Soraya yang nampak membelakak terkejut menatapnya. Jika boleh jujur, perpisahan ini bukanlah yang di inginkan Kendra, dia hanya ingin sebentar acuh untuk berpikir dengan baik bagaimana dia akan menjalani pernikahan ini setelah perselingkuhan yang dilakukan Soraya. Sempat di mengira jik perselingkuhan itu sudah berlalu, dan dia bahkan sedang menguatkan hatinya untuk memaafkan, dan dengan naif nya dia akan merentangkan tangan, membuka lebar-lebar kedua lengannya memeluk Soraya, memberikan tempat untuk kembali meski dia juga tidak ingin berbohong jika hatinya masih merasa sakit. Tapi, mendengar kalimat Soraya yang begitu menjurus bahwa dia tidak bahagia bersama dengan dirinya, tiba-tiba saja ego seorang Kendra seperti di Sentil kuat hingga kemarahan timbul tak terelakkan.
Dia sudah melakukan segalanya, dia tidak perduli sulitnya mengimbangi kebaikan Soraya terlebih dia terlihat menyayangi Ana sebab itu dia memberikan lebih sebagai ucapan terimakasih dan balasan serta haknya sebagai istri. Benar-benar sangat bodoh, kebahagiaan dalam hubungan pernikahan rupanya hanya Kendra yang berangan-angan sendiri, bahkan dia tidak yakin apakah pernah sekali saja Soraya bersikap tulus, atau bahkan Soraya pernah menyukainya walau hanya sebentar saja.
Kendra menghela nafas, mungkin memang takdir kehidupan yang di haruskan untuknya seperti ini, meksipun dia tidak rela, hatinya sakit dan ingin sekali memohon untuk tetap bertahan, nyatanya Kendra juga tidak bisa dan tidak berhak mengekang seseorang manusia hidup yang jelas memiliki hatinya sendiri, memiliki ego yang ingin bahagia dengan caranya sendiri.
" Soraya, perceraian ini memang membuat ku sedih, tapi aku yakin aku tidak akan pernah menyesalinya nanti. Kau tahu kenapa? " Kendra menatap kedua bola mata Soraya dengan senyum pilu yang begitu jelas terlihat.
" Aku sudah melakukan segalanya yang aku mampu sengaja seorang suami. Aku memberikan nafkah lahir batin yang aku rasa cukup, aku membahagiakan mu sebisa ku, aku memperlakukan mu dengan hormat, dengan tulus, karena aku menganggap mu sebagai salah satu hartaku, sebagian dari duniaku selain Ana. Aku menganggap mu seperti sebuah matahari di dalam hatiku, aku sudah melakukan semua kau juga jelas merasakannya bukan? Keluargamu, aku juga mencintai mereka, menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri. Jika perlakuan itu tidak membuatmu bahagia, aku sungguh penasaran perlakuan seperti apa yang ingin kau rasakan dan dapatkan dari pasanganmu? Apa perlu bersikap kasar? Memberi nafkah sesuka hati? Ah, tapi aku mana bisa membaca pikiran mu? Pokoknya aku hanya bisa menggeleng heran dengan alasan mu tidak bahagia ketika bersama ku, semoga saja nanti kau bertemu pria yang bisa memperlakukan mu sesuai dengan yang kau mau. "
Soraya terdiam sebentar, kedua tangannya yang saling bertautan nampak gemetar. Padahal beginilah respon yang ingin dia dapatkan dari Kendra begitu dia mengatakan kalimat ajakan bercerai, tapi kenapa saat mendengarnya langsung dia malah kecewa? Hatinya merasa sakit saat Kendra mengatakan semua perlakuan baik untuk dia dan keluarganya, dia seperti sesak tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sendiri. Aneh, tapi dia seperti merasakan rasa penyesalan telah mengatakan kalimat ajakan
__ADS_1
untuk bercerai. Ah, tidak! Begitu mengingat akan rasa takut kehilangan Jordan, Soraya kini merasa seperti di isi ulang keberanian setelah beberapa saat sempat hilang.
" Aku berterimakasih karena kau memperlakukan ku dengan baik selama ini, Kendra. Aku juga sangat amat berterimakasih karena kau juga mencintai keluargaku, memperlakukan mereka layaknya keluargamu sendiri. Tapi, aku ingin jujur satu hal padamu, Kendra. Aku mencintai pria lain, aku sangat mencintai dia, aku takut dia hilang dariku. Dia adalah kebahagiaan yang aku inginkan, aku juga yakin dia lah yang aku butuhkan dalam hidup ini, aku menginginkan dia lebih dari pada apapun. "
Kendra tak bisa berkata-kata, matanya memerah menahan tangis dengan rahang yang kembali mengeras menahan kesedihan dan marah menjadi satu. Kepalan tangannya gemetar ingin sekali memukul sesuatu jika saja Soraya tidak disana. Sungguh dia tahu kalau Soraya berselingkuh, tapi karena orang suruhannya mengatakan jika Soraya tidak pernah pergi ke tempat yang mencurigakan atau bertemu orang asing terutama pria, Jordan sempat berpikir kalau perselingkuhan itu sudah berlalu.
Hati mana yang tidak sakit jika pasangan yang di cintai sepenuh hati dengan gamblang, tegas dan percaya diri mengakui bahwa dia mencintai pria lain, dari ucapan Soraya barusan jelas menunjukan bahwa pria itu jauh lebih penting dibanding dirinya. Mungkin, dia hanyalah debu jika di sandingkan dengan pria itu, lalu bagaimana bisa dia tidak begitu terpukul dan sedih? Padahal dia sudah melakukan banyak hal, tapi cinta yang berlebihan ia berikan nyatanya membuat dirinya sangat kesakitan ketika wanita yang begitu cintai malah mengkhianati. Jadi apakah memang mencintai dengan sangat itu sangat tidak boleh di lakukan?
" Kau membohongiku selama ini, Soraya. Aku yakin ini sudah lama kan? Kau berselingkuh dariku sejak lama bukan? " Kendra menatap kedua bola mata Soraya dengan tatapan menuntut meski dia tidak bisa menyembunyikan matanya yang merah menahan tangis itu.
Kendra terkekeh, dia membuatkan air matanya jatuh karena tidak ingin lagi menahannya. Dia sungguh merasa semua ini sangat konyol, pernikahan di antara dia dan Soraya sudah berjalan lima tahun, sedangkan Soraya sudah berselingkuh selama tiga tahun. Betapa naif dan bodohnya dia selama tiga tahun itu, dia begitu mempercayai Soraya mati-matian tapi yang dipercayai dengan asiknya mengkhianati hingga bertahan tiga tahun.
__ADS_1
" Kau hebat sekali, Soraya. Kau sangat hebat menyembunyikannya dariku. Aku takut padamu, aku benar-benar tidak menyangka sekali kalau wanita yang ku nikahi dan ku jaga sepenuh hati, aku anggap segalanya bagiku nyatanya hanyalah parasit, sampah tidak berguna yang dengan bodohnya aku pikir bongkahan intan. "
Kendra bangkit dari duduknya setelah mengusap wajahnya dengan kasar. Kembali dia menatap Soraya dengan tatapan yang tidak bisa Soraya artikan.
" Kendra, aku minta maaf. " Ucap Soraya lalu menangis tersedu-sedu. Sungguh Kendra tidak tahu alasan apa yang membuat Soraya menangis.
" Tenanglah, Soraya. " Ucap Kendra yang membuat Soraya menjadi menatapnya meski tak juga berhenti terisak. Kendra menatap jemarinya, dia mengeluarkan cincin pernikahan yang sudah melingkar di jari manisnya lima tahun terakhir ini.
" Mari satukan cincin kita, dan buang jauh-jauh cincin pernikahan ini. "
Soraya menutup mulutnya yang masih mengeluarkan suara isakan. Dia melihat jarinya, dan ternyata dia lupa kalau sudah melepasnya tadi dan dia ingat dia menaruhnya di tas kecil yang biasa ia gunakan. Dia bangkit dari posisinya, mengambil tas itu, karena sulit mencari akibat beberapa barang lain seperti lipstik, lip balm, juga yang lainnya, Soraya menuang semua isi tas itu.
__ADS_1
Kendra melotot kaget mendapati satu benda yang sangat tidak dia sangka akan di gunakan oleh Soraya. Pil kontrasepsi, pil yang digunakan untuk mencegah kehamilan, padahal selama ini Soraya beralasan jika kesuburannya memang kurang baik, dan dengan bodohnya Kendra percaya dan mengatakan jika apapun keadaan Soraya dia akan tetap mencintai Soraya sepenuh hati.
Bersambung.