Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 51


__ADS_3

" Kenapa kau kemari? "


Soraya membeku menatap Ibunya yang sepertinya sedang sakit. Wajah pucat, tangan yang terus memegangi dada, mata yang bengkak seperti kebanyakan menangis, nafas yang menderu tidak teratur jelaslah Soraya tahu jika Ibunya pasti syok berat hingga jatuh sakit. Tapi apa yang bisa dia lakukan kalau semua sudah menjadi seperti ini? Dia dan Kendra memang tidak bisa bersama karena dia tidak merasa bahagia. Sedangkan perasaan cinta yang tumbuh untuk Jordan juga berada di luar rencananya, jadi bukankah memang tidak ada ya h perlu di salahkan dalam hal ini? Begitulah rasa hati dari seorang Soraya yang hingga kini enggan untuk percaya jika apa yang dia pilih adalah sebuah kesalahan yang mungkin suatu hari nanti adalah hal paling menyesal yang sudah pernah ia lakukan semasa hidup.


" Kak, tolong jangan datang menemui Ibu dulu ya? Saat ini Ibu sedang sangat tidak baik, tolong ya kak? "


Soraya menatap Moana yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya. Cara bicaranya masih lembut seperti biasanya, sehingga Soraya memilih untuk menuruti apa yang di katakan Moana karena dia beranggapan bahwa Moana adalah satu-satunya keluarga yang mampu mengerti dirinya dan tidak menyalahkan dirinya seperti kebanyakan orang. Padahal tidak, itu hanyalah dugaan Soraya saja, karena nyatanya Moana juga menyalahkan Soraya untuk semua yang terjadi, apalagi saat Ibu dan Ayahnya kompak sakit karena syok yang kuat biasa, Moana jadi memiliki rasa marah yang menjurus kepada benci. Tapi karena dia ingat benar bahwa Soraya adalah kakaknya, dan keadaan, situasi sedang sangat kacau saat ini, Moana sebisa mungkin menahan diri, menyingkirkan kemarahan yang ia rasakan agar bisa mengurus kedua orang tuanya dengan baik.


" Moana, kalau kau ingin antar Ibu dan Ayah kerumah sakit, kau bilang saja padaku ya? Nanti uang untuk berobatnya pakai uang ku saja. "


Moana terdiam, sungguh dia sangat ingin melampiaskan kekesalannya terhadap Soraya, dia kesal sekali karena menganggap bahwa orang tuanya hanya butuh uang dari Soraya saja, padahal bukan itu yang di inginkan mereka selama ini. Sudahlah, benar-benar saat ini dia harus menahan diri dan membicarakannya nanti saat orang tuanya sudah lebih baik.


***


Setelah hari dimana semua terbongkar, Kendra benar-benar terlihat seperti orang lain. Dia sulit mengontrol emosi, bahkan dia yang tahu bahwa Ana mengunjungi Jordan sampai mengunci Ana seharian di dalam kamar untuk membuat Ana merenungkan kesalahan yang sudah ia lakukan. Tapi setelah menghukum Ana rasanya dia sangat menyesal, padahal Ana juga sudah sangat menderita, tapi dia malah menghukum Ana seperti itu.


Setelah Ana kembali di bebaskan untuk keluar, Kendra dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada putri satu-satunya itu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Aku baik-baik saja, Ayah.


Seperti itulah yang dikatakan Ana, padahal jelas Kendra tahu benar jika di kurung di dalam kamar tanpa ponsel, akan membuat dia trauma. Sungguh Kendra lebih suka putrinya marah dan protes dengan apa ya.g sudah di lakukan olehnya ketimbang mengatakan aku baik-baik saja dengan senyum yang seolah membuktikan jika dia begitu kuat dan hukuman itu bukanlah apa-apa baginya.


Sakit, rasanya sangat sakit melihat putrinya begitu hebat berpura-pura baik-baik saja dan bahagia sepanjang waktu, bahkan setelah drama gila yang terjadi kemarin, Ana masih terus tersenyum agar sang Ayah tidak khawatir, apalagi sampai merasa bersalah. Jadi, apakah ini sebuah hukuman atau kan ini anugrah karena memiliki anak sebaik Ana dan juga begitu pengertian? Entahlah!

__ADS_1


" Ana, mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun dari Ayah ya? Terutama tentang perasaan mu, beritahu Ayah apa yang kau inginkan, apa yang membuatmu bahagia dan juga tidak. Katakan jika kau tidak setuju dengan yang Ayah lakukan, katakan saja jika Ayah tanpa sadar menyakitimu, Ayah akan lebih bahagia jika kau bisa mengungkapkan apa yang kau rasakan, jangan pedulikan bagaimana perasaan Ayah, karena Ayah hanya akan bahagia jika kau bahagia. "


Ana tersenyum, tapi hatinya sungguh ingin mengisi. Bagaimana mungkin dia melakukan itu semua? Karena baginya melihat Ayahnya bahagia itulah kebahagiaan untuknya juga.


" Iya ayah. " Jawab Ana karena tidak mungkin juga kalau dia menyampaikan apa yang di rasakan hatinya.


" Oh iya, aku yakin orang tua Soraya pasti masih sangat syok, bagaimana kalau kita hubungi mereka? " Tanya Kendra meminta pendapat kepada Ana.


" Iya, aku rasa dia pasti lebih merasa syok di banding kita. "


Kendra mengangguk, laku segera dia menghubungi Moana untuk menanyakan kabar orang tuanya.


Halo?


" Moana, maaf sekali aku mengganggu, bagaimana keadaan Ayah dan Ibu? "


Ayah dan Ibu syok parah, sekarang mereka sedang sakit kak. Sore ini aku akan membawa mereka ke Dokter.


Kendra menghela nafasnya, jelas lah mereka begitu syok sampai jatuh sakit, sebagai orang tua tentu ini adalah pukulan yang super menyakitkan sekaligus memalukan untuk mereka.


" Moana, aku dan Ana akan datang kesana, nanti kita bawa ke rumah sakit bersama ya? "


Tapi kak, apa tidak merepotkan kakak?

__ADS_1


" Tidak apa-apa, aku kan sudah menganggap dia orang tuaku juga. "


Ah, baik kalau begitu. Aku tunggu kak!


" Iya, aku dan Ana siap-siap sekarang ya? "


Baik, kak.


Setelah bersiap-siap, segera Ana dan Kendra menuju kerumah orang tua Soraya dan Moana.


" Kak, silahkan masuk! " Ucap Moana begitu membukakan pintu dan mendapati Kendra beserta Ana di sana. Sungguh malu rasanya melihat kedua orang itu, orang yang sudah di sakiti oleh kakaknya, tapi masih saja perduli dengan keluarganya.


" Ibu, Ayah, kita kerumah sakit sekarang ya? " Ucap Kendra dengan wajah penuh perhatian seperti biasanya. Ayah dan Ibu tertunduk sembari menahan tangis, mereka malu, mereka merasa bersalah kepada Kendra hingga menatap wajah Kendra yang begitu tulus mereka sudah tidak mampu lagi melakukannya.


" Aku tunggu di ruang tamu bersama Ana ya? Jangan memikirkan hal lain, bukannya Ayah dan Ibu menganggap ku seperti anak sendiri? "


Ayah mengangguk sembari menyeka air matanya yang tidak tertahankan lagi. Sementara Ibu masih menunduk tapi juga mulai menangis.


Setelah Kendra kembali ke ruang tamu bersama Ana untuk menunggu orang tuanya Soraya siap, rupanya Soraya mengetahui kedatangan mereka, jadi memutuskan untuk menemui Kendra dan Ana sebentar.


" Lain kali jangan datang kesini lagi, mereka adalah orang tuaku, jadi mereka adalah tanggung jawab ku. "


Kendra membuang nafas kasarnya.

__ADS_1


" Dulu saat mereka membutuhkan mu untuk membatu Moana merawat mereka, bukannya kau sibuk berselingkuh? Kenapa di saat seperti ini kau ingin di akui sebagai anak yang berbakti dan bertanggung jawab? Lain kali pikirkan dulu saat ingin bicara, jangan sampai ucapan mu mempermalukan dirimu sendiri. " Ucap Kendra dengan mimik dinginnya.


Bersambung.


__ADS_2