
Soraya terdiam menatap ruang kosong di kamarnya. Semenjak keluar dari rumah sakit, Ibunya dengan sabar merawatnya, meksi ketus cara bicaranya nyatanya Ibunya benar-benar seperti tak memiliki rasa sakit hati karena ulahnya selama ini. Soraya bukan sekali dua kali membentak Ibunya semenjak keluar dari rumah sakit, merasa terganggu dengan Ibunya yang terus datang ke kamar untuk melihat kondisinya. Sarapan, makan siang, maka malam selalu Ibunya antar ke kamarnya.
Awalnya semua terasa begitu berat bagi Soraya hingga masa bodoh saja dan membentak Ibunya tanpa sadar melampiaskan kekecewaan kepada Ibunya. Di luar dugaan, Ibunya tak membentak seperti biasanya, dia hanya mengangguk, lalu menangis dan meminta maaf karena gagal memahami dan mengerti apa yang di inginkan Soraya.
Ibunya menatap dengan begitu dalam, menunjukan betapa bersedih nya dia dengan apa yang terjadi dengan Soraya. Dia memeluk erat-erat tubuh Soraya tak memperdulikan Soraya yang sempat menolak pelukan dari nya. Tapi tangan hangat penuh cinta itu begitu terasa menyentuh kulit, membuat Soraya merasa begitu tenang dan merasa jika selama ini dia sudah cukup parah menyakiti hati Ibunya. Soraya terdiam, dia mengingat semua perkataan kasar, juga perilaku buruk yang pasti sudah menyakiti hati Ibunya.
" Soraya, kau adalah putriku yang baik. Tolong jangan berubah sikap hanya karena apa yang kau inginkan tak bisa kau dapatkan. Ibu tetap menyayangimu, tidak perduli seberapa besar luka dan rasa sakit yang Ibu dapatkan Ibu tidak akan pernah bisa membenci putri Ibu sendiri. "
Soraya menangis hingga terisak-isak karena menyesali semua yang sudah ia lakukan kepada Ibunya, dan semua orang yang juga ia sakiti.
Semenjak itu Soraya tak lagi memikirkan terus menerus tentang Jordan, dia benar-benar sadar jika akal sehatnya sempat terkalahkan oleh rasa kecewa dan kemarahan. Tapi sekarang dia benar-benar sudah menyesali semua yang terjadi, meski tak memiliki kesempatan untuk kembali dan memperbaiki kesalahan yang sudah ia lakukan. Sekarang Soraya hanya boleh fokus dengan hidupnya, juga orang tuanya dia sudah tak terllau memikirkan soal hati maupun cinta, baginya cinta yang sebenarnya adalah orang tuanya.
***
Beberapa hari setelah Ana kembali ke rumah, Jordan benar-benar begitu telaten menjaga Ana. Tidak perduli pagi siang malam apapun yang Ana inginkan pasti dia akan coba untuk memberikannya.
Hari ini adalah hari dimana Jordan dan Ana berniat mencari rumah untuk mereka tinggali nanti bersama anak-anak mereka. Kendra sebenarnya merasa agak tidak rela karena jelas dia tidak akan bisa bertemu putrinya sesering saat mereka tinggal di satu rumah. Tapi mau bagiamana lagi? Ana sekarang sudah memiliki seorang suami, sebentar lagi juga sudah akan memiliki anak, jadi mana bisa Kendra melarang niat mereka?
Sebuah rumah sederhana, itu adalah rumah yang di inginkan Ana. Niatnya yang ingin mengurus rumah dan anak-anak benar-benar menjadi cita-cita nya. Maka dari itu Ana memilih rumah yang tidak terlalu besar karena setidaknya itu akan mengurangi kelelahan nya.
" Proses pembayarannya nanti akan di urus oleh sekretarisnya Ayahku, kapan mau pindah ke sini tentu saja terserah kau saja. " Ucap Jordan kepada Ana yang kini berada di pelukannya.
Ana tersenyum, lalu mengangguk setelahnya.
" Terimakasih, Jordan. "
" Terimakasih untuk apa? Kenapa harus ada terimakasih di antara kita? "
Ana menghela nafasnya.
__ADS_1
" Terimakasih karena begitu menghargai pilihanku. "
Jordan mengecup pipi Ana, sekarang ini level cintanya kepada Ana sudah seperti akan berada di level maksimal sehingga merasa tidak masalah juga apapun yang di inginkan Ana tidak perduli kalaupun harus menjadi gembel juga akan dia lakukan.
Setelah pulang dari Sana, Ana juga Jordan melanjutkan kegiatan mereka dengan makan malam bersama. Bak sepasang kekasih yang begitu penuh cinta, mereka begitu mesra tak perduli dengan orang lain yang akan melihatnya.
" Hari ini sudah makan makanan pedas lumayan banyak, sudah ya? Ganti dengan makanan yang rada yang tidak terlalu kuat seperti ingin " Ucap Jordan menjauhkan makanan milik Anne yang jelas jika itu terasa pedas.
" Dokter kan bilang makan makanan pedas tidak akan berpengaruh apapun untuk bayi? " Protes Ana, dia yang biasa memakan makanan pedas benar-benar hampa kalau harus di ganti dengan makanan yang memiliki rasa cenderung hambar.
" Sayang, kalau kau sakit perut kan pasti tidak nyaman. Nanti kalau kau bolak balik ke kamar mandi, laku terpleset bagaimana? "
Ana tersenyum, buka karena perkataan Jordan yang begitu terdengar perhatian, tapi Ana merasa bahagia ketika Jordan memanggilnya sayang tadi.
" Kenapa tersenyum? " Tanya Jordan dengan tatapan lembut.
" Kau memanggilku sayang tadi. "
" Boleh kan? Kalau boleh mulai sekarang aku akan memanggilmu seperti itu, kau juga harus belajar memanggil ku begitu loh. "
Ana terkekeh sendiri mendengar ucapan Jordan.
Tak lama dua orang gadis cantik datang menghampiri mereka berdua, menyapa Jordan dengan sapaan yang terdengar begitu akrab dan ramah.
" Jordan? Kau Jordan kan? " Tanya salah satu wanita itu.
Jordan dan Ana kompak melihat ke arah dua wanita itu dengan dahi mengeryit bertanya melalui ekspresi.
" Aku Stevi, aku teman kuliah mu dulu. " Ucap salah satunya, laku kembali tersenyum ramah.
__ADS_1
" Oh, begitu ya? " Jordan memaksakan senyumnya, sejujurnya dia sama sekali tidak ingat dia punya teman wanita yang bernama Stevi.
" Ini siapa? Adik mu? Tapi kalian kok tidak mirip ya? "
" Istri, aku istrinya. " Ucap Ana yang jelas saja dia sebal melihat wanita cantik berbadan seksi teru mengajak bicara suaminya.
Wanita itu ternganga seperti tak percaya dengan apa yang di katakan Ana.
" Wah, aku pikir kau masih pelajar sekolah menengah atas, ternyata malah istrinya Jordan. Aku tidak menyangka kalau pria populer kampus ternyata seleranya seperti ini. " Wanita itu menatap Ana sebentar lalu tersenyum dengan perasaan sebal karena mengetahui jika Jordan sudah menikah, tapi yang di nikahi adalah wanita biasa-biasa saja.
Jordan mengeryit dengan tatapan kesal, mulut wanita seperti ini memang sangat pintar menghina fisik orang lain dan merasa fisiknya paling sempurna saja.
" Iya, istriku ini susah payah aku dapatkan. Kalau dengan wanita lain pasti sangat mudah hanya dengan tersenyum saja sudah cukup, itulah kenapa aku bangga dengan seleraku. "
Wanita itu sontak terdiam tak bisa berkata-kata.
***
" Kak, mau aku buatkan teh? "
" Tidak usah. "
Moana memaksakan senyumnya, sudah tidak heran dan sudah menyangka kalau lagi-lagi akan mendapatkan sikap dingin dari Kendra. Semenjak hari dimana Ana di culik, Kendra benar-benar seperti berubah menjadi orang lain, dan Moana juga hanya bisa memilih diam serta menerimanya. Tapi hari ini dia benar-benar tidak tahan lagi.
" Kak, mati kita bicara! "
" Tentang apa? "
Moana terdiam sebentar.
__ADS_1
" Kak, aku tahu aku salah karena tidak bisa melindungi Ana saat itu. Tapi apakah benar kita harus seperti ini? Kalau memang kak Kendra merasa aku tidak cocok untuk menjadi istri dan Ibu sambung untuk Ana, beritahu saja aku, aku harus bagaimana tolong beritahu aku, kalaupun kita harus bercerai juga aku akan coba mengerti. "
Bersambung.