
Sudah satu pekan waktu berlalu, hari ini Jordan dan Gorge sudah berhasil menemukan Lisa yang bersembunyi di sebuah tempat, Jordan tadinya ingin mendesak Lisa apakah dia tahu kenapa suaminya begitu berubah, tapi melihat keterkejutannya, juga ekspresinya Lisa sepertinya benar-benar tidak tahu. Dia juga menangis begitu pilu membuat Jordan dan Gorge tak tega untuk terus mendesaknya. Setelah beberapa waktu membicarakan ini dengan Lisa, sepertinya dia tahu bagiamana semua ini bisa terjadi.
Kenapa tidak langsung saja membawa polisi untuk menangkap Rigo yang sudah jelas dimana keberadaannya? Semua itu karena Rigo bukanlah orang yang mudah untuk di taklukan, dia menepatkan banyak orang untuk mengawasi bahkan beberapa kilo meter sebelum menuju gedung yang ia tinggali sudah mulai di awasi dengan ketat di setiap penjuru.
" Hubungi aku saja jika terjadi sesuatu yang kritis, aku sepertinya tidak punya pilihan selain menemuinya. " Lisa menyerahkan nomor teleponnya. Gorge dan Jordan saling menatap, mereka benar-benar dilema dan tidak tega juga melihat Lisa kalau ikut masuk secara langsung di lingkaran yang berbahaya ini.
" Kami minta maaf karena membuatmu harus menunjukan yang sebenarnya, pria itu pasti sangat mencintaimu hingga melakukan semua ini dengan brutal. " Gorge menatap degan dalam Lisa yang sedikit tersenyum kelu, wanita itu tampak tak bisa banyak bicara mungkin karena segala pertimbangan yang membuatnya dilema sampai saat ini.
" Jangan meminta maaf padaku, aku adalah sumber masalahnya. Aku pikir dia yang dikagumi banyak wanita akan dengan mudah melupakan aku, tidak di sangka malah seperti ini. Aku yang seharusnya minta maaf, terutama kepadamu, Jordan. Aku tidak punya pilihan selain menjadikan mu alasan waktu itu, aku minta maaf. "
Jordan mengangguk saja, sungguh dia jadi tidak tahu harus bagaimana setelah melihat keadaan Lisa yang juga tidak baik.
***
Ana terdiam tak mengatakan apapun setelah panjang lebar Rigo membujuknya dengan suguhan janji manis yang keluar dari mulutnya. Rasanya dia sudah hampir putus asa karena lelah menolak ajakan gila dari Rigo, selama satu Minggu ini dia memang tidak kelaparan atau kehausan, tapi selama satu Minggu dia begitu berharap Jordan dan Ayahnya segera menemukannya, tapi mau apa lagi kalau harapan malah membuatnya sedih sendiri saat harapan tak ada yang memenuhinya.
" Kau bisa merasakannya kan? Jordan kebanggan mu itu, Jordan kesayangan mu tidak datang juga. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan wanita liar tanpa memikirkan tentang mu. Ah, jangan-jangan dia juga sedang tidur nyaman bersama dengan mantan Ibu tiri mu. " Ucapan itu tentulah sengaja Rugi ucapkan untuk memancing emosi Ana yang sudah satu pekan ini terus diam tak mau bicara. Sejujurnya dia juga mulai lelah membujuk Ana yang begitu keras kepala luar biasa. Tapi sialnya ingin berbuat kasar lagi dia tidak tega, Selian tubuh Ana yang begitu kecil seperti anak sekolah menengah pertama, dia juga ingat benar kalau Ana sedang hamil muda.
" Bisa menemukan ku atau tidak, aku tidak akan berubah pikiran. Aku, sudah cukup menikahi satu pria brengsek, tidak ingin menikahi lagi pria yang lebih brengsek dari pada suamiku. "
Sial! Rigo pikir Ana akan mulai luluh, atau setidaknya putus asa sampai rela melakukan apapun setelah satu pekan terkurung tak bisa merasakan hawa pagi, siang dan malam. Tapi ternyata keras kepala Ana benar-benar melebihi ekspektasi nya. Rigo berjalan mendekati Ana yang duduk terdiam ogah menatapnya barang sedetikpun.
__ADS_1
" Ana, kau hanya mengenalnya sebentar, kau belum tahu bagaimana yang sesungguhnya, jadi berhentilah memanggilku brengsek, apalagi menempatkan ku di atas kebrengsekkan suamimu itu! "
Ana terkekeh dengan tatapan menghina, sekarang dia benar-benar menatap Rigo dan menunjukan betapa tidak sudi nya dia di sentuh oleh Rigo dengan menepis tangannya yang menyentuh pundaknya.
" Pria brengsek yang sesungguhnya adalah kau, dulu aku pernah berpikir kalau suamiku adalah pria paling brengsek di dunia, tidak tahunya ada yang jauh lebih brengsek, bahkan tida ada tandingannya. Sekarang aku benar-benar sada jika suamiku memang lebih baik, jadi aku tidak akan pernah menyesal mencintainya sepenuh hati. "
" Diam! Tutup mulutmu bajingan! " Rigo meraih leher Ana, mencengkeramnya kuat tak perduli Ana tersengal beberapa kali.
" Ah, bagus! Setidaknya kau sudah memperlihatkan dan menunjukan padaku kala kau memang lebih brengsek dari dugaan ku. " Ucapan Ana barusan benar-benar tersengal hingga beberapa kali, matanya juga sudah memerah, urat di wajahnya jelas terlihat membuat Rigo tersadar dan segera menjauhkan tangannya.
" Sepertinya kau memang tidak akan menyerah ya? " Rigo mengeraskan rahangnya, menarik paksa lengan Ana membuatnya hampir saja terjatuh mengikuti ritme langkah kaki Rigo. Ana mencoba mengimbangi sebisa mungkin karena dia tidak mau bayinya dalam bahaya. Rigo ingin mendudukkan Ana dengan kasar, tapi untunglah Ana bisa menahannya sehingga benturan tak begitu kuat. Dengan kasar Rigo mengikat tubuh Ana mengabaikan mulut Ana yang terus mengumpat kesal, bahkan sampai mengatai binatang juga. Setelah tubuh Ana terikat kuat dengan posisi duduk, Rigo mencengkram dagu Ana, laku dengan begitu brutal menyergap bibir Ana.
Ana melotot kesal, di dalam hati dia hanya bisa terus mengumpat kesal. Rigo semakin menjadi dan terus semakin dalam mencium Ana membuat Ana tidak tahan lagi, lalu menggigit kuat bibir Rigo berdarah.
" Ah! " Rigo yang reflek segera menjauhkan bibirnya, memukul wajah Ana, dan untunglah itu tidak terlalu kuat sehingga Ana masih bisa tersadar meski sudut bibirnya lagi-lagi mengeluarkan setitik darah.
Ana membuang air liurnya, dia kembali menatap Rigo dengan tatapan yang seolah menunjukan dia begitu jijik dengan apa yang dilakukan Rigo padanya barusan. Terang saja Rigo marah, dia mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Jordan.
Kala itu Jordan sudah akan pergi dari tempat Lisa bersama Gorge, tapi karena telepon masuk dia menghentikan langkah kakinya sebentar untuk menerima telepon karena Jordan takut ini tentang Ana. Jordan mengeryit, panggilan video?
" Hello, mister Jordan? " Hanya ada suara seperti itu karena kamera dari panggilan video dimatikan olehnya, itu adalah suara pria yang membuat kedua bola mata Lisa membulat sempurna.
__ADS_1
" Siapa kau? " Tanya Jordan dengan cepat.
" Oh, aku ingin kau melihat wanita ini, apa kau merindukannya? " Kamera di aktifkan, dan Ana yang terikat di kursi dengan wajah bengkak juga ada setitik darah Jordan melihatnya dengan jelas.
" Bajingan apa yang kau lakukan pada istriku?! " Jordan terlihat benar-benar marah, kedua bola matanya membulat dengan sorot mata tajam, tubuhnya bergetar karena dia tidak rela melihat Ana terluka sedikitpun.
" Katakan apa mau mu! " Ucap Jordan yang tak mau bosa-basi.
" Mau ku? Datanglah ke tempatku, aku tahu kau sudah mengetahui keberadaan ku. Kau cukup pintar karena tidak menerobos, kau pasti tahu konsekuensinya. Datang sesegera mungkin, ayo kita lihat pertunjukan yang menarik. "
" Tidak, jangan datang! Pria ini gila, Jordan? Jangan datang! " Ucap Ana sembari menangis membuat Jordan tak tahan juga untuk menangis.
" Ana, tunggu aku! Kau harus baik-baik saja ya? "
" Jangan! Tidak boleh! Pria ini gila! "
Telepon berakhir.
" Bawa aku! Aku memang tidak tahu seberapa besar gunanya aku, tapi aku yakin bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan istrimu. " Ucap Lisa.
Bersambung.
__ADS_1