Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 45


__ADS_3

" Mari habiskan waktu hari ini berdua saja. "


Jordan menatap Ana begitu berharap, entah apakah dugaannya benar ataukah tidak, tapi Jordan benar-benar tidak siap menghadapi semua ini. Ana, mungkin kedekatan di antara mereka begitu cepat tercipta, tapi nama Ana sudah mulai membekas di hatinya. Mungkin jalan dalam menikahi Ana adalah bukan sebuah rencana untuknya, tapi perasaan untuk bertahan dengan pernikahan ini sudah muncul dengan alasan-alasan klise, hingga pada akhirnya Jordan menyadari adanya nama Ana di hatinya. Benar, rasa sukanya terhadap Ana belum bisa di bandingkan dengan rasa cinta untuk Soraya, tapi keinginan untuk tetap bertahan jauh lebih besar dari apa yang di rasakan kepada Soraya.


" Sebenarnya, apa yang sedang kau pikirkan, Jordan? "


Jordan terdiam sebentar, apa yang sedang dia pikirkan? Bisakah dia memberitahu akan hal itu? Tidak kan? Karena masalahnya bukan tentang apa yang sedang di pikirkan Jordan, tapi masalahnya keadaan yang sudah semakin sulit untuk di kendalikan, dan perasaan takut yang datang tiba-tiba itu jelas adalah hal yang tidak bisa di ungkapkan begitu saja.


" Aku hanya ingin kita lebih dekat lagi, hari ini saja kita fokus dengan kita, mari kita bahagia tanpa memikirkan apapun. "


Jordan meraih tangan Ana, meski tak berani menatap kedua bola mata Ana tapi Jordan benar-benar terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


" Ana, aku tahu hubungan yang kita jalani benar-benar membingungkan, tapi untuk kali ini aku ingin mengatakan yang sebenarnya. Tolong bertahanlah denganku, karena aku yakin dengan terus bersama mu aku akan tetap berada di jalur yang benar. "


Ana terdiam karena dia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Jordan. Sebenarnya tanpa Jordan minta Ana juga akan terus membuat Jordan terus bersamanya, bukan karena dia telah jatuh cinta kepada Jordan, tapi meksipun pada akhirnya nanti Soraya tetap meminta cerai dari Ayahnya untuk bersama Jordan, dia memang tidak akan membiarkan Soraya mendapatkan apa yang dia inginkan.


" Jordan, kau tahu apa yang kau bicarakan ini kan? "


Ana menatap kedua bola mata Jordan yang kini sudah berani menatapnya. Sorot mata itu seperti menunjukkan bahwa memang Jordan sudah mantap dengan keputusannya meski masihlah ada perasaan tidak rela. Iya, pasti karena hatinya masih mencintai Soraya, tapi niat Jordan ini benar-benar tidak akan di sia-siakan oleh Ana.

__ADS_1


" Aku tahu, aku akui aku masih mencintai Soraya. Bukan mudah bagiku sehari saja untuk tidak mengingat Soraya meski aku mengabaikannya beberapa waktu terakhir setelah kita menikah. Aku tidak rela hubungan ini berakhir, tapi ketika aku mengingat wajah orang tuaku, wajah Ayahmu, wajah orang tua Soraya, dan juga kau saat menangis waktu itu, aku sepertinya masih sanggup menahan luka karena cintaku kepada Soraya di banding melihat wajah kalian bersedih karena ku. "


" Jordan, kau sudah memutuskan, ini berarti kau tidak bisa mundur lagi, kau harus bisa perlahan melupakan Soraya, dan hanya boleh ada aku saja, Ana. " Ucap Ana dengan tatapan tegas meyakinkan Jordan agar tak main-main dengan apa yang dia ucapkan tadi.


" Aku tahu. " Jordan mengangguk setuju.


Ana tersenyum, sungguh dia memang tidak tahu apakah dia bisa mencintai Jordan atau tidak, tapi yang paling penting untuknya adalah peluang untuk Soraya bersatu dengan Jordan sudah semakin menipis.


" Jadi, mulai sekarang aku akan belajar memasak, terutama makana kesukaan mu, iya kan? " Jordan tersenyum berbarengan dengan senyum yang terbit dari wajah Ana.


Setelah perbincangan itu, Jordan memutuskan untuk membawa Ana pergi ke vila milik sahabatnya yang biasa di sewakan. Untuk malam ini, sampai besok mereka akan menginap di sana, mengabiskan waktu bersama. Ponsel Ana yang memang sudah ha ia baterai di biarkan saja sesuai dengan permintaan Jordan agar tidak ada yang mengganggu mereka. Jordan juga melakukan hal yang sama, karena semenjak dia berangkat pagi-pagi untuk bekerja dia sudah menonaktifkan ponselnya meski dia bahkan sudah memblokir nomor Soraya sekalipun. Untungnya dia sempat mengaktifkan kembali untuk melihat pesan dari Ana jadi bisa menjemput Ana.


" Ah......! " Pekik Ana membuat Jordan yang tengah membakar ikan di dekat kolam renang segera berlari menghampiri Ana yang tengah berada di dapur.


" Ada apa? " Jordan terdiam kaget melihat noda di lantai yang mirip seperti darah.


" Ana, kau tidak apa-apa? Kau kenapa?! Apa jarimu terpotong? " Tanya Jordan dengan mimik wajah khawatir dia memeriksa jemari Ana satu persatu.


" Bukan, bukan itu. Kau tidak kenapa-kenapa, aku hanya tidak bisa membuka penutup botol saus, jadi berantakan tumpah kemana-mana. " Ucap Ana tak enak hati sendiri karena membuat lantainya kotor.

__ADS_1


Jordan menghela nafas lega. Memang benar-benar anak yang manja, tapi meski begitu Jordan justru merasa kalau dia bisa melakukan banyak hal untuknya. Ana Memeng berbeda dari Soraya, karena Soraya bisa melakukan hampir semuanya sendiri. Masak, membersihkan rumah, dia pandai dalam bersolek, dia pandai dalam berkata-kata, sehingga Jordan hanya bisa membatin memuaskan Soraya saja di atas tempat tidur. Ana, bocah yang sudah menjadi istrinya itu memberikan dia banyak kesempatan untuk melakukan banyak hal, tapi dia tak merasa di repotkan dan dia bangga juga bisa menjadi suami yang berguna untuk Ana.


" Tidak apa-apa, nanti biarkan penjaga vila yang membersihkannya, kau ikut aku bakar ikannya saja ya? "


Ana tersenyum lalu mengangguk. Syukurlah batin Ana, dia juga cukup sadar diri jika tidak bisa melakukan banyak hal apalagi kalau urusan dapur. Yah, kalau di bandingkan dengan Soraya jelas saja seratus untuk Soraya dan dia dapat nol koma nol lima persen saja.


Setelah dua ikan yang di bakar Jordan dan Ana matang, mereka makan dengan nyaman di sana di tembak teh hangat dan juga suasana malam vila yang begitu tenang.


" Jordan, kita berenang saja yuk? Ini kan belum terlalu malam juga, kita tidak mungkin tidur secepat ini kan? "


Jordan tersenyum dan mengangguk.


Benar-benar seperti pasangan baru menikah yang saling mencintai, Jordan dan Ana berendam di kolam renang sembari saling merangkul mesra, bahkan mereka juga sudah entah berapa kali mereka berciuman bibir.


Beberapa saat kemudian setelah kegiatan berenang bersama selesai. Seperti kebanyakan pasangan suami istri lain yang di dukung oleh situasi dan kondisi, Jordan dan Ana kini tengah menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Suara lenguhan dari bibir keduanya benar-benar terdengar merdu saling bersahutan dengan nada yang mesra.


Ana, aku benar-benar berharap kau segera hamil. Hanya ini satu-satunya cara agar kita tetap terikat, karena kalau Ayahmu sudah tahu segalanya, aku takut aku tidak akan memiliki kesempatan bersamamu lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2