Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 112


__ADS_3

Kendra terduduk dengan perasaan takut yang luar biasa, momen seperti ini tentu saja pernah dia rasakan kala istri pertamanya dulu melahirkan Ana. Persis, gejalanya juga sama yaitu pecah ketuban, lalu Dokter menyarankan untuk operasi, tapi karena dulu Kendra belum bisa menghasilkan uang, di tambah dia dan Ibunya Ana adalah yatim piatu sehingga tidak ada banyak orang yang mengarahkannya harus bagaimana. Saat itu Ibu kandungnya Ana yang bahkan masih baru beranjak remaja rela memilih untuk melahirkan normal dengan cara dirangsang agar segera kontraksi. Tentu saja alasannya adalah karena dia merasa kasihan dengan Kendra yang bahkan tidak memiliki uang lebih saat itu.


Ana lahir dengan selamat, tapi dia harus kehilangan istrinya karena beberapa kendala, terutama masalah usia yang masih sangat muda kala itu. Tentu saja ada berbeda, karena begitu Dokter memberikan opsi untuk operasi sesar Kendra dan Jordan langsung mengiyakan karena yang paling penting untuk mereka adalah keselamatan Ana.


Jordan, pria itu juga tidak ikut masuk ke dalam ruang operasi karena permintaan dari Ana sendiri. Mungkin melihat Jordan yang pucat pasi begitu Dokter menyarankan untuk operasi membuat Ana merasa tidak tega apalagi kalau sudah berada di ruang operasi nanti suasananya akan menjadi lebih tegang kan? Jorda tentu saja tidak bisa berbuat apapun karena jika memang itu keinginan Ana, maka dia bisa apa kalau bukan menurutinya saja? Moana juga berada di sana, meksipun tidak terlihat sangat takut seperti Jordan dan Kendra, dia tetap lah merasa takut juga.


Beberapa saat kemudian, suara tangis bayi menggema hingga Kendra dan Jordan kompak bangkit untuk memastikan suara bayi, benar memang ada suara bayinya, jadi sekarang mereka hanya fokus memikirkan keselamatan Ana saja. Tak lama peringatan bahwa operasi telah berubah menandakan operasi selesai. Beberapa saat setelah itu Dokter keluar dari ruang operasi membuat semua orang kompak berjalan mendekat, kedua orang tua Jordan yang baru saja tiba juga bergegas bergabung untuk menanyakan bagaimana keadaan Ana dan cucu mereka.


" Ibu dan bayinya sehat, tolong masuk suaminya saja dulu, yang lain nanti bisa menyusul setelah pasien di pindahkan ke ruang perawatan ya? "


Kalimat yang keluar dari mulut Dokter itu benar-benar membuat Kendra merasa begitu lega, begitu juga dengan Jordan dan yang lainnya. Mereka saling mengucapkan selamat untuk kebahagiaan ini, sementara Jordan langsung masuk ke dalam untuk menemui Ana dan melihat langsung bagaimana keadaan Ana sekarang ini.


" Sayang..... "


Ana tersenyum, ada lelehan air mata yang keluar dari ekor matanya membuat Jordan langsung memeluk Ana yang masih berbaring dan mencium keningnya berkali-kali.

__ADS_1


" Sayang, terimakasih untuk pengorbananmu hari ini. Seumur hidup aku tidak akan pernah melupakannya, aku juga akan memperlakukan mu dengan lebih baik untuk membalas ini. "


Ana tersenyum Meksi matanya meneteskan air mata. Sejujurnya dia sangat takut, dia takut tidak bisa selamat dan meninggal seperti Ibunya dulu, tapi entah mengapa mengingat wajah Jordan membuatnya merasa kalau dia harus hdup lebih lama lagi.


Setelah itu Jordan kini beranjak untuk melihat bagaimana keadaan bayinya. Jordan mengusap wajah bayi laki-laki pertama mereka dengan perasaan bahagia. Padahal selama ini Jordan tak begitu menggubris akan bayinya dan hanya fokus untuk Ana saja, tapi melihat wajah polos bayinya yang tampan mirip seperti dirinya membuat Jordan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada bayi pertama mereka.


" Selamat datang ke dunia, Axel Jordana Michiel. " Ucap Jordan pelan dengan tatapan lembut penuh kasih.


Axel, adalah nama panggilan untuk bayinya Ana dan Jordan. Semenjak adanya Axel keluarga Ana dan juga Jordan beserta keluarga Moana menjadi demikian akrab. Tak ada hari tanpa bertengkar memperebutkan waktu untuk bersama Axel yang tampan dan menggemaskan itu.


***


Soraya, wanita itu kini benar-benar sudah hamil besar, tapi semangatnya benar-benar tak hilang sedikitpun. Dia sekarang ini sedang sibuk menanam beberapa sayuran, dia bahkan sudah beberapa kali memanen tomat, mentimun, juga selada air yang ia tanam beberapa bulan lalu.


" Bagaimana kalau mulai besok kita gunakan cara menaman hidroponik saja? "

__ADS_1


Soraya berbalik menatap pria yang mengajaknya bicara. Soraya tersenyum dan mengangguk, pria itu adalah Rigo. Sejak beberapa bulan lalu Rigo mulai menawarkan diri untuk membantu menanam di halaman rumah yang cukup luas. Bukan tanpa alasan Rigo melakukan itu, selain dia ingin menyibukkan diri agar tak terus menerus memikirkan kematian Lisa dan kesedihannya, dia juga merasa kasihan melihat Soraya begitu bekerja keras sendirian.


" Sepertinya lumayan menarik juga sih, tapi jangan di area ini ya? Kita pakai yang di sana saja, di sana kan masih belum banyak tanaman juga agak luas. "


Rigo mengangguk setuju, dia benar-benar tidak menyangka kalau Soraya akan mengangguk setuju ketika dia menawarkan diri untuk ikut menanam seperti Soraya. Awalnya hubungan mereka benar-benar canggung dan jarang sekali mereka berbicara, tapi lama kelamaan mereka menjadi terbiasa dan sekarang mereka sudah seperti sahabat yang lumayan dekat.


Soraya menghela nafas setelah meletakkan alat untuk menyiram tanaman. Hari ini sungguh melelahkan, tapi semua terbayarkan karena tanaman yang ia tanam tumbuh subur, beberapa hari lagi juga sudah bisa memanen semangka dan juga melon. Soraya sedikit tersenyum melihat Rigo yang kini melanjutkan kegiatannya untuk mencabut rumput liar di dekat tanaman mereka. Dia tidak menyangka kalau kegiatan remeh yang ia lakukan mampu membuat Rigo perlahan membaik dan bisa tersenyum sumringah seperti sekarang. Memang hubungan mereka tidak seperti hubungan sepasang suami istri yang lain, tapi Soraya bersyukur benar dengan hubungan baik layaknya sahabat baik.


Soraya tadinya ingin melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, tapi karena merasakan nyeri hebat di perutnya dia jadi berteriak tanpa sadar memanggil nama Rigo. Tak membuang waktu, Rigo segera berlari menghampiri Soraya, begitu melihat wajah Soraya meringis kesakitan sembari memegangi perut tentulah dia tahu kalau Soraya pasti akan melahirkan.


Dengan segera Rigo membantu Soraya untuk berjalan ke puskesmas. Tidak ada motor, bahkan sepeda saja tidak ada karena percuma saja menggunakan dua kendaraan yang Rigo tidak bisa memakainya. Untung saja jarak ke puskesmas tidaklah jauh, dan kontraksi juga masih awal jadi Soraya masih terlihat baik-baik saja.


" Soraya, aku boleh menemanimu melahirkan di dalam? " Tanya Rigo, bukan dia ingin berperan sebagai suami yang baik, hanya saja dia tidak tega kalau Soraya sendirian mengingat mereka hanya berdua sedangkan semua keluarga berada di kota.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2