
Ana menghela nafas sebalnya, ini sudah telur ke empat yang dia coba masak, tapi masih saja gagal. Yang pertama terlalu asin, yang kedua terlalu gosong, yang ketiga hancur dan masih mentah, yang ke empat lupa memberikan bumbu. Benar-benar sangat memusingkan rupanya memasak, memang harus diakui jika Ibu tirinya amanat hebat memasak. Tapi apakah seorang istri memang harus pinta memasak, memasangkan dasi juga? Apakah tidak boleh ada istri yang tidak bisa melakukan keduanya? Hah! Sudahlah, lupakan saja karena yang harus berjuang adalah dia sendiri, jadi lebih baik kalau tidak banyak mengeluh.
" Ana, buat Ibu saja yang masak telurnya ya? Kau tunggu saja di meja makan. "
Ana tentu saja tidak setuju dengan itu, hati ya bergerundel kesal, bukanya di ajari bagaimana memasak telur, malah mau di ambil alih, batin Ana. Sebenarnya pembantu disana juga sudah memberitahu, tapi Ana yang tidak pernah memasak selalu saja salah dan tidak sesuai dengan apa yang di ucapkan di pembantu rumah.
" Aku ingin memasak telur, sekali lagi saja. "
Soraya tersenyum, lalu mengangguk saja. Dia dengan telaten mengajari bagaimana membuat telur seperti yang dia inginkan, dan pada akhirnya jadilah telur ceplok yang jelas tidak akan keasinan lagi. Dengan bangga dia menyiapkan satu telur ceplok di tiap piring untuk dia buat sandwich.
Beberapa saat kemudian.
Semua orang sarapan seperti biasanya. Memaklumi tak mengatakan jika dialah yang membuat sandwich pagi ini, tapi melihat semua orang makan dengan semangat dia merasa sudah cukup bahagia.
Ponsel Jordan berdering, dan dengan cepat segera Jordan menerima panggilan telepon karena itu adalah Ibunya.
" Ada apa, Jordan? " Tanya Kendra saat Jordan kembali bergabung di meja makan.
Jordan tersenyum sopan sebelum menjawab.
__ADS_1
" Ibu meminta aku dan Ana untuk datang kerumah, katanya ada hal yang ingin dibicarakan. " Jawab Jordan dengan sopan.
Kendra menatap Jordan, lalu Ana secara bergantian. Dia menghela nafas seolah menebak-nebak apa yang ingin di katakan orang tua Jordan nantinya.
" Jordan, kau tahu kan kalau aku hanya punya satu anak sampai saat ini? Aku sudah terbiasa bersama Ana dalam satu tempat, jika boleh aku meminta, tolong tetaplah tinggal disini. "
Jordan terdiam sebentar, dia bukannya melihat ke arah Ana untuk menanyakan pendapatnya, Jordan malah menatap Soraya, tapi untunglah segera Soraya menatap ke arah Ana yang hanya bisa terdiam tak bisa memberikan pendapatnya semarang juga. Dia lain sisi sulit sekali mengatasi pertemuan antara Jordan dan Soraya, takutnya akan diketahui oleh Ayahnya. Tapi untung dari tinggal di rumah Ayahnya adalah, Ana bisa mengawasi pergerakan keduanya. Ah, entahlah! Sekarang ini dia masih merasa bingung dan tidak tahu harus memberikan saran seperti apa.
" Nanti akan disampaikan sesuai yang Ayah mertua ucapkan barusan. " Sadar tak memiliki pilihan Sian mengatakan itu, maka Jordan juga asal menjawab saja. Tapi kalau boleh jujur, akan lebih baik untuk mereka tinggal di tempat yang berbeda jadi alasan juga tidak terlalu nampak. Tapi tinggal bersama juga memiliki keuntungan sendiri, yaitu sering bertemu jadi tidak begitu mudah rindu seperti sebelumnya.
" Terimakasih, Jordan. "
Setelah kegiatan itu selesai, tak lama Ana dan Jordan menuju ke rumah orang tua Jordan tinggal. Seperti biasanya, Ibunya Jordan akan terlihat sakit, dan itu juga masih akting.
Jordan terdiam memandangi kedua tangannya yang saling bertautan dengan tatapan bingung. Memiliki anak? Dia bahkan kesal setiap kali bersama Ana, melihat Ana, mendengar suara Ana, semua hal itu membuatnya muak dan malas. Tapi apa-apaan ini?! Memiliki anak dengan Ana? Kalau ada cara lain, sungguh Jordan ingin mencari cara yang lain.
" Ibu, Ana kan bisa menggunakan perut palsu, nanti adopsi anak saja, aku tidak ingin memiliki anak. " Ujar Jordan berasalan. Iya, dia tidak ingin anak kalau dari rahim Ana, dia sungguh ingin anak yang lahir dari Soraya saja. Kalau mengingat wajah Soraya yang sangat cantik, tentu saja anak mereka nanti akan amanat cantik dan tampan, tapi kalau Ana? Bahkan tidak ada yang menarik satupun dari wanita itu, wajar saja Jordan meragukan bentuk anaknya dengan Ana nanti.
Ibunya Jordan, atau mari kita panggil Ibu Lin. Dia memegangi kepalanya seolah kepalanya begitu terasa sakit, dia menyender di seberang tempat tidur dan mulai bernafas sesak, iya itu adalah akting!
__ADS_1
" Ibu mertua, nanti kita pikirkan lagi ya? Tolong jangan sakit dulu, pelan-pelan kami akan coba memiliki anak, jangan menyerah dulu ya? " Ucap Ana yang juga berakting mengimbangi Ibu mertuanya yang sudah sangat hebat bersandiwara.
Jordan terdiam, bagaimana mungkin dia memiliki anak dengan Ana? Kalau sampai itu terjadi, perasaan Soraya pasti akan amat sakit dan hancur, jadi mana tega dia melihat Soraya bersedih seperti itu?
" Aku hanya ingin cucu dari kalian, bukan ingin gunung permata. Apa kalian tidak mengerti betapa tersiksanya seorang pasien dengan keinginan mendalam untuk menimang cucu dari kalian berdua? "
Sebenarnya Ana juga agak kesal dengan sandiwara Ibu Lin yang tiba-tiba menginginkan cucu. Dia kura membuat cucu itu mudah ya? Hah! Jordan saja melihatnya sudah seperti melihat kotoran, mustahil sekali membuat Jordan menghamilinya.
" Ibu mertua, kita bicarakan lagi ini nanti. Ibu mertua baik-baik istirahat ya? " Bujuk Ana.
" Berjanjilah dulu untuk berikan aku cucu! "
Ana menatap Jordan yang seperti ingin mengatakan tidak, jadi Ana saja yang menjawab ucapan Ibu Lin.
" Iya, iya, nanti kalau sudah Tuhan izinkan kami memiliki bayi, kami akan segera memberitahu Ibu mertua ya? "
Ibu Lin tersenyum, dia mengangguk cepat. Iya, setidaknya membuat putranya stres adalah pilihan terakhir yang ia miliki. Kenapa harus membuat anaknya stres? Itu karena Jordan adalah orang yang tidak suka banyak pikiran, Jordan akan mudah sekali membuat kesalahan, tapi Ibu Lin merasa yakin kalau menitipkan putranya kepada Ana adalah pilihan yang sangat tepat.
" Bu, kami pulang dulu ya? " Pamit Jordan karena ini memang sudah sore hari. Ah padahal ini adalah akhir pekan dan dia ingin habiskan bersama Soraya, tapi karena Ibunya menelepon dan meminta untuk datang, jelas waktu mereka sudah tidak ada lagi hari ini.
__ADS_1
" Iya, hati-hati di jalan. Ingat, Jangan lupa segera berikan cucu untukku, aku sangat menginginkan cucu, jadi jangan janji-janji, kalau saja bohong, aku akan mematikan semua buku tabungan mu. " Ucap Ibu Lin.
Bersambung.