
Setelah pertemuannya dengan Moana, kini Soraya hanya bisa terdiam merenungi segala yang terjadi. Padahal sudah menjadi orang baik selama ini, hanya karena dia jatuh cinta kepada seorang pria semuanya menjadi hancur bagai tak ada jejaknya. Sejenak Moana menghela nafas, dia mengingat benar bagaimana cara Kendra dan Jordan memperlakukannya dulu. Kendra akan tersenyum dengan manis, sesekali juga dia akan terlihat malu-malu dan pipinya bersemu merah seperti seorang gadis yang tengah jatuh cinta. Jordan, pria itu memang tidak sama sekali pernah bertingkah malu seperti Kendra, tapi dia sangat perhatian, cara berjalan yang gagah, tubuhnya yang tegap, aroma tubuhnya yang wangi dan maskulin, serta telapak tangannya yang selalu hangat membuatnya sulit untuk lupa.
Kemana? Kemana semua itu menghilang? Kenapa sesuatu yang begitu dulu begitu banyak tak sedikitpun tersisa. Bukankah dulu dia merasakan cinta dari Kendra dan Jordan secara bersamaan hingga sempat bimbang untuk memilih dan pada akhirnya memutuskan untuk bertahan dengan keduanya? Kenapa hanya dalam hitungan hari semuanya menghilang begitu saja?
Dia ingat benar semua janji manis yang di berikan Kendra dan juga Jordan, tapi sepertinya tak satupun janji dari mereka yang bisa dia pegang. Tentu saja dia sadar bahwa dia tidak bisa menuntut janji itu sekarang, hingga hatinya merasa kecewa, sakit sendirian, juga keinginan untuk membalas dendam itu muncul.
Sekarang dia akan diam terlebih dulu, tapi janji Soraya kepada dirinya sendiri adalah menghancurkan kebahagiaan Jordan dan Ana, juga Kendra dan Moana tidak boleh bahagia menurutnya. Semua adalah miliknya, jadi apa yah tidak bisa dia miliki kembali artinya orang lain juga tidak boleh memilikinya.
" Ana, lihat saja apa yang bisa aku lakukan. Meskipun aku tidak membencimu, tapi posisimu membuatku tidak bisa menerima bahwa Jordan mala memilihmu dibanding aku yang sudah menyelamatkan nyawanya. Padahal jelas-jelas dia yang sudah mengatakan banyak sekali janji manis untukku, tapi pada akhirnya dia merealisasikan padamu, jadi jangan salahkan aku kalau nanti aku berbuat kasar padamu. " Ucap Soraya dengan tatapan licik.
" Moana, kau juga tidak boleh menikahi Kendra. Meksipun aku tidak menginginkannya dan memilih bercerai, kau tidak boleh menikah dengannya. Bukankah seharusnya dia menderita karena kehilangan aku? Dia selama ini kan menunjukan cinta yang begitu besar untukku, jadi seharusnya dia tidak boleh begitu cepat menikah dan dengan mudah melupakan aku. "
***
Kendra memundurkan kursinya, dia bangkit dari duduknya untuk membuka jendela yang ada di ruangannya lalu mematikan pendingin ruangan. Dia membuang nafas berharap penat dan juga lelah hari ini sedikit berkurang, sebentar lagi adalah waktunya pulang kerumah, mau tidak mau dia juga harus menghadapi Moana yang tadinya adalah adik ipar menjadi istrinya.
Feeling Kendra memang mengatakan kalau Moana jauh lebih baik dari Soraya, tapi trauma akan hubungan sebelumnya masih begitu membekas hingga kalau harus belajar mencintai Moana begitu dalam dia belum sanggup melakukannya. Memang benar dia harus mencoba untuk menumbuhkan rasa tertarik dan biarkan waktu membawa hubungan mereka semakin dalam jika benar Moana adalah jodohnya. Ah, ngomong-ngomong soal jodoh, Kendra benar-benar mengatakan kepada diri sendiri bahwa jika dengan Moana juga tidak berhasil mempertahankan rumah tangga, maka seumur hidup dia tidak akan menikah lagi, dan fokus untuk anaknya saja yaitu, Ana.
Suara getar ponsel terasa di saku Kendra, dengan segera dia mengeluarkan ponselnya dan minat siapa yang mengirim pesan, dia adalah Moana.
Kak Kendra, malam nanti ingin makan apa? Aku tidak ada kesibukan sama sekali, jadi ingin memasak untuk Kak Kendra.
__ADS_1
Kendra tersenyum tipis, memang begini enaknya kalau punya istri, yah tapi bagaimanapun ada beberapa hal yang tidak bisa di lewati olehnya karena hubungan sebelumnya di antara mereka.
Kendra menghela nafas lalu membalas pesan dari Moana dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan memakan apapun yang di masak oleh Moana. Setelah selesai membalas pesan dari Moana, Kendra kini bersiap membereskan meja kerjanya yang penuh sekali dengan beberapa contoh tekstil yang akan masuk ke toko beberapa hari kemudian. Tak sengaja dia minat photo Soraya dan juga dirinya beserta Ana di dalam laci sehingga membuat Kendra terdiam sesaat mengingat ketika momen mereka bersama beberapa waktu lalu.
Merasa sudah cukup dan tidak ingin larut dalam kenangan tak berarti, Kendra mengeluarkan photo itu dari laci berniat untuk menyingkirkannya.
" Memang tidak seharunya yang bersangkutan dengan Soraya berada di sini kan? " Tanya Kendra kepada dirinya sendiri. Setelah selesai membereskan barang-barang nya Kendra bangkit dan keluar dari ruangannya, tapi sayang dia lupa menyingkirkan photo tadi.
***
" Aku harus pulang, Jordan. " Ucap Ana kepada Jordan yang sedari tadi terus mengusap perutnya sembari menikmati indahnya matahari terbenam dari sebuah restauran yang dekat dengan danau buatan yang menampilkan pemandangan matahari tenggelam setiap harinya.
Jordan terlihat kecewa, dia sadar juga sih kalau sudah bersama Ana sedari pagi. Tapi entah mengapa waktu seperti begitu cepat berlalu sehingga dia tidak rela melepaskan Ana untuk dia kembali ke rumahnya. Yah, padahal Ana adalah istrinya, tapi kenapa juga dia malah merasa seperti menjadi selingkuhannya Ana?
Ana menghela nafasnya, bisa aja sih, tapi entah mengapa dia merasa takut, takut jika Ayahnya mengetahui bahwa selama ini dia terus bersama dengan Jordan.
" Aku tidak berani. "
Jordan merangkul Ana dan mengecup singkat kepalanya. Tidak tahu dia mabuk apa, tapi bersama dengan Ana seperti sudah sebuah kebiasaan, juga kebahagiaan yang tidak akan mungkin bisa dia dapatkan pada wanita lain maupun di tempat lain.
" Aku apa belum boleh datang lagi menemui Ayahmu? "
__ADS_1
Ana tertunduk, buka masalah boleh atau tidak boleh, semarang ini malah justru Ana yang merasa takut sendiri. Dia takut lagi-lagi melihat Jordan di pukul, dia takut melihat kemarahan Ayahnya lagi, dia tidak sanggup menghadapi semua itu.
" Jordan, kau tahu bagaimana peringatan Ayahku kemarin kan? Meksipun kita menginginkannya kita juga tidak boleh memaksa karena akhirnya juga tidak akan baik untuk kita semua. "
" Ana, tapi aku tidak akan sabar kalau begini terus. "
" Bagian mana yang membuatmu merasa tidak sabar? "
Jordan menoleh menatap Ana yang kini tengah menatapnya dengan tatapan begitu dalam. Jordan tersenyum, kaku mencubit pipi Ana karena dia benar-benar terlihat imut saat berekspresi seperti itu.
" Tidak seperti yang kau pikirkan sekarang. "
Ana membuang pandangannya.
" Memang kau tahu apa yang aku pikirkan? "
" Tahu. "
" Cih! Sok tahu! "
Jordan merah tangan Ana, menggenggamnya erat.
__ADS_1
" Aku memang menginginkan itu, tapi aku lebih ingin melakukan banyak hal seperti sekarang ini. "
Bersambung.