Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 110


__ADS_3

Kendra mengeryit bingung karena merasa aneh dengan Moana. Padahal beberapa saat, lalu tepatnya beberapa detik yang lalu dia kan terlihat semangat untuk pergi dengannya, kenapa tiba-tiba jadi sedih? Apa yang membuat Moana sedih? Seingatnya Kendra sama sekali tidak membuat kesalahan deh.


" Kau baik-baik saja? Apa aku membuat kesalahan? " Karena tidak ingin ada salah paham akhirnya Kendra memutuskan untuk bertanya kepada Moana. Mungkin memang dia yang salah tanpa di sadari sehingga bertanya langsung adalah solusi terbaik yang menurutnya benar.


Moana menggeleng, di sana masih ada pegawai yang memperhatikan mereka jadi tidak mungkin untuk Moana mengatakan apa yang tengah ia pikirkan dan ia rasakan. Dia juga tahu kalau seharusnya dia tidak begitu sensitif dan lebih bersabar lagi karena bagaimanapun dari awal kan Kendra memang tidak mencintainya. Hah,.... Mengingat itu benar-benar membuatnya menjadi lebih sedih dari pada sebelumnya. Dia jadi berpikir apakah sampai detik ini juga Kendra masih tak memiliki perasaan untuknya walau sedikit saja?


" Aku pulang duluan saja ya kak? Kakak lanjut sibuk saja, aku tidak mengganggu. " Moana memaksakan diri untuk tersenyum setelah selesai berbicara. Biarlah dia tahan saja dulu semua ini sampai dia agak tenang dan bisa berpikir dengan baik, semoga saja setelah tenang nanti dia bisa berbicara dengan Kendra baik-baik tentunya.


" Kalau begitu biar aku antar pulang saja. "


" Tidak usah, aku pulang sendiri saja bisa kok. "


Kendra terdiam semakin membatin bingung, dia terus menebak di mana dia membuat kesalahan? Apalagi Moana yang jelas berpura-pura tersenyum padahal matanya seperti ingin menangis dengan tegas menjelaskan bahwa ada hal yang membuatnya menjadi sedih belum lama ini.


Tidak bisa menahan Moana lagi karena dia terus bersikeras untuk pulang sendiri saja akhirnya Kendra hanya bisa kembali ke ruangannya dan melanjutkan kegiatannya meski pikirannya jadi runyam stelah kejadian itu.

__ADS_1


Sampainya pulang kerumah karena memang sudah waktunya pulang Moana juga masih terlihat sama. Dia memang sudah menyiapkan makan malam seperti biasa, melayaninya di meja makan juga, tapi yang tidak biasa adalah Moana masih banyak diam. Rasanya ingin sekali bertanya lagi apa yang sudah dia lakukan sehingga membuatnya seperti ini, tapi Kendra juga tidak begitu yakin apakah dia melakukan kesalahan atau memang Moana sedang ada masalah lain jadi dia memutuskan untuk membiarkan saja dulu Moana sampai dia tenang karena berpikir nanti juga akan kembali seperti semula.


Satu, dua, bahkan ini sudah satu Minggu tapi Moana masih tetap diam tak terlihat ingin bicara atau membahas soal apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya menjadi banyak diam seperti ini. Sudah satu minggu pula Kendra merasa bingung dengan Moana, dia ingin bertanya tapi merasa tidak enak juga kalau pada akhirnya akan membuat Moana tidak nyama. Tidak ingin bertanya tapi dia juga merasa terganggu. Ketika malam Moana selalu tidur memunggunginya membuat dia yang kala itu menginginkan hak sebagai seorang suami jadi tidak terlaksana.


Kendra menghela nafas, sekarang ini dia berada di teras rumah di lantai dua. Dia duduk memandangi langit malam dengan pikiran yang kacau karena diamnya Moana rupanya begitu berpengaruh untuknya. Bukan hanya saat malam saja, tapi ketika siang hari bekerja juga dia selalu tak tenang memikirkan apa sebabnya Moana mendiamkannya seperti ini?


" Kak, besok pagi-pagi sekali aku ke rumah Ibu ya? Aku berangkat sebelum sarapan pagi jadi nanti kakak sarapan sendiri, boleh kan? "


Kendra terdiam sebentar, lalu dia mengangguk setelahnya.


Moana sudah berbalik, tapi dia tak bisa melangkah ketika tangan Kendra meraih lengannya dan menahannya. Moana membalikkan tubuhnya, menatap Kendra yang juga menatapnya dengan mimik yang tak bisa dia artikan apa maksudnya.


" Ada apa kak? " Tanya Moana mengawali pembicaraan karena ingin segera selesai dan pergi tidur sebelum dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya dan akhirnya dia pula lah yang akan merasakan sakit hati jika mengetahui kebenarannya.


" Kau, kau yang ada apa dan kenapa kau begitu diam belakangan ini? "

__ADS_1


Moana terdiam, sungguh dia ingin menanyakan apa yang ingin dia tanyakan tentang hatinya. Tapi, dia terlalu takut kalau sampai jawaban yang akan dia dapatkan malah hanya akan menyakitinya, dia takut dan tidak sanggup mendengar Kendra jujur kepadanya dan mengakui jika dia masih mencintai Soraya.


" Katakan apa yang mengganggumu, apa aku melakukan kesalahan? Apa kau sedang dalam masalah? Kalau kau diam terus apa kau pikir bisa menyelesaikan masalahnya? "


Moana masih terdiam, tapi matanya kini sudah memerah menahan tangis. Dia juga tidak ingin diam saja seperti ini dan ketakutan sendiri seperti beberapa waktu terakhir ini. Tapi dia juga tidak berani bertanya karena dia tidak siap dengan jawaban yang akan dia dapatkan.


" Di bagian mana kau merasa tersakiti oleh ku? Katakan dimana letak kesalahan ku agar aku bisa memperbaiki diri. Kau tahu benar kalau aku tidak begitu peka apalagi bisa membaca apa yang orang lain pikirkan kan? Jadi katakan saja agar kau, kita tidak perlu merasa begitu asing sekarang ini. "


Moana menatap kedua bola mata Kendra yang nampak begitu teduh. Dia benar-benar pria yang bisa meyakinkan melalui tatapan matanya itu sehingga Moana memiliki keberanian untuk bertanya. Yah, meksipun dia merasa sedih kalau memang benar Kendra masih mencintai Soraya, tapi sepertinya akan lebih baik untuk dia mengetahui itu jadi dia bisa sedikit berpikir dan mencari tahu apa yang harus dia lakukan setelahnya.


" Kak, beberapa hari yang lalu aku melihat Kak Kendra memandangi cincin pernikahan kak Soraya dan kak Kendra. Seminggu yang lalu aku juga masih melihat photo kakak, dan kak Soraya serta Ana yang tersenyum bahagia seperti keluarga harmonis di ruang kerja kakak, aku iri tapi aku sadar bahwa masih harus bekerja keras lagi agar bisa sedekat itu dengan kakak dan Ana. Tapi saat kita keluar dari ruang kerja kakak, seorang pegawai bertanya dan terus menyebut ku adik ipar berkali-kali dan kakak sama sekali tidak berniat membenahi nya. Apakah salah jika aku berpikir bahwa kak Kendra masih mencintai kak Soraya di saat kak Kendra menunjukan semua itu? Apalagi saat kak Kendra memungut bunga lili yang aku injak, aku melihat kemarahan dari wajah kakak tapi kak Kendra menutupinya kan? kakak tidak mungkin lupa kalau kak Soraya amanat menyukai bunga lili kan? Iya kan? "


Kendra menghela nafasnya, cinta? Dia sendiri tidak yakin bahwa dia masih mencintai Soraya atau tidak sebelumnya. Tapi begitu mendengar kalau Soraya sudah menikah entah mengapa dia merasa lega, bukankah itu berarti dia tidak menginginkan kebersamaan lagi terhadap Soraya kan?


" Moana, cincin pernikahan itu sebenarnya adalah milik orang tuaku dulu. Aku memakaikan cincin itu untuk ibunya Ana karena saya itu kan kami menikah di usia remaja di mana aku belum bisa menghasilkan uang. Cincin itu memang aku gunakan lagi untuk pernikahan bersama Soraya karena aku pikir apa salahnya menggunakan barang peninggalan mendiang orang tuaku? Malam itu aku memang memandanginya, itu karena aku berpikir apakah layak jika aku memakaikan cincin itu kepadamu? Setelah dua wanita sebelumnya aku merasa agak aneh jika memintamu menggunakan cincin itu. Aku sedang menimbang pilihan, tapi aku memutuskan untuk tidak melakukanya karena untuk menjaga perasaan mu. Masalah bunga lili itu aku benar-benar menyukai aroma bunga lili, sama seperti Ana juga. Bunga lili juga adalah kesukaan mendiang Ayah dan Ibuku. Kalau masalah panggilan adik ipar itu, aku minta maaf, itu memang salahku. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2