Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 38


__ADS_3

Melihat wajah Soraya yang terlihat senang meski dia mencoba untuk menutupinya, Ana menatap Soraya dengan tatapan tak suka. Iya, dia tahu benar jika kepergiannya untuk bergabung di pesta ulang tahun salah satu sahabatnya pasti akan memberikan kesempatan Soraya dan Jordan untuk bertemu, tapi entah mengapa Ana merasa yakin jika kemungkinan itu akan mengecil entah mengapa dan dari mana keyakinan itu.


Soraya yang menyadari tatapan tak suka dari Ana hanya bisa tersenyum tipis. Tidak masalah, mau menatapnya sampai matanya keluar sekalipun dia tidak akan perduli karena yang paling penting dia memiliki kesempatan untuk bersama dengan Jordan. Memang dia akui jika perasaan semacam itu memang salah, tapi jika menyangkut hati, mau sebaik apapun manusia pasti ada sisi egois yang tidak terelakkan.


" Ibu, percayalah jika Ibu terus memikirkannya, suatu saat Ibu lah yang akan menjadi orang paling menderita, Ibu akan kehilangan banyak hal, dan tidak tahu mengapa, aku merasa jika Ibu akan benar-benar berakhir tidak baik. "


Soraya menghela nafas, dia menatap Ana yang kini berada di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan olehnya secara signifikan. Seperti ketegasan, seperti ada harapan, seperti ada rasa yang tersampaikan seolah itu adalah peringatan untuknya. Sebentar Soraya memang boleh merasa takut, tapi kalau sudah mengingat betapa rasa cinta kepada Jordan begitu terasa membara, dia seolah menjadi amat yakin jika meninggalkan Kendra dan Ana adalah pilihan terbaik yang akan membuatnya bahagia.


" Aku sudah membulatkan tekat untuk meninggalkan Ayahmu, aku juga akan membicarakan ini secepatnya. "


Ana mengepalkan kedua tangannya, tubuhnya gemetar membayangkan betapa menyakitkan dan menakutkan barisan kalimat yang keluar dari bibir Soraya barusan. Padahal, selama ini dia sudah melakukan sebanyak apa yang dia bisa, dia merelakan harga dirinya, kehormatan nya, menyodorkan dirinya kepada pria yang sama sekali tidak menginginkannya.


" Ibu, percayalah itu hanya akan membuatmu menyesal. " Ucap Ana sebua mungkin dia terlihat berani Meksi matanya sudah memerah, tubuhnya gemetar, seluruh tubuhnya juga mulai terasa dingin.


Soraya tersenyum setelah menghela nafas.


" Bukan aku, tapi kau dan Ayahmu, Ana. Kalian lah yang tidak sanggup aku pergi, iya kan? Kau mencintai Ayahmu, Ayahmu mencintai, sangat mencintaiku. Kau takut Ayahmu menderita ketika aku pergi bukan? Berhentilah menjadi egois, Ana. Aku juga ingin bahagia, aku tidak ingin terus bersama Ayahmu dan tertekan oleh tidak enak karena Ayahmu terlalu baik. "


Ana terkekeh sembari menyeka air matanya yang luluh tak tertahankan.


" Tertekan oleh Ayahku yang begitu baik? Maksud Ibu, Ibu lebih ingin diperlakukan buruk begitu? Ibu ingin bertemu bajingan dibanding bertahan dengan Ayahku yang baik, juga setia? Ibu, apakah Ibu waras? "


Soraya terdiam sebentar. Benar, Kendra memang sangat baik, Jordan juga baik terhadapnya. Jika alasannya adalah merasa tertekan karena kebaikan seorang pria, itu berarti menjelaskan bahwa dia ingin hidup dengan pria yang tidak baik kan? Tidak mungkin! Jordan dan Kendra sama-sama baik, hanya saja hatinya terllau berfokus kepada Jordan, maka dia sama sekali tidak nyaman dengan semuanya tentang Jordan.

__ADS_1


" Ibu, pikirkanlah lagi tentang ucapan Ibu. Mungkin Ibu tidak tahu, tapi Ayahku adalah orang yang tidak akan memungut sesuatu yang sudah pernah meninggalkannya atau mengkhianati nya. "


Iya, memang benar! Tapi yang Soraya tahu kan itu dalam ruang lingkup pekerjaan saja, apakah mungkin itu juga berlaku bagi keluarga?


" Maaf Ana, aku sudah memutuskan. Aku tidak ingin lagi bertahan dengan Kendra, aku ingin mengejar kebahagiaan ku sendiri. "


" Aku tidak akan melepaskan Jordan! "


Soraya menatap Ana dengan mata membelakak kaget.


" Ana, kau tidak boleh seperti itu! Jordan itu mencintaiku, dia juga pantas untuk bahagia. "


Ana menarik nafasnya, menelan saliva berharap bisa menghilangkan rasa gugup dan takut yang ia rasakan saat ini.


Soraya menatap Ana dengan tatapan marah. Tentu dia tahu benar dan bisa merasakannya juga, Jordan memang banyak berubah semenjak bersama atau menikah dengan Ana. Pria itu jadi tidak lagi mengikuti keinginannya, pria itu menjadi lebih banyak berpikir dan mempertimbangkan ketika ingin bertindak. Terbukti juga dengan Soraya yang sudah mengirimkan video dan photo panasnya ke Jordan tapi Jordan malah hanya menghubunginya selama beberapa detik saja, dan tidak lagi mencarinya untuk melakukan tindakan selanjutnya.


" Kau sudah menghancurkan kami, Ana. " Ucapan itu keluar dari bibir Soraya yang tidak tahan dengan semua yang terjadi. Tentu saja dia tahu jika pernikahan Ana dan Jordan terjadi pasti karena rencana Ana dan orang tua Jordan. Bahkan sampai berpura-pura hamil pun dia masih tetap diam karena dia tahu jika dia mengungkapkan kepada Kendra, dia juga akan menjadi pihak yang paling di salahkan oleh Kendra, bahkan tidak mungkin juga kedua orang tuanya akan membelanya.


" Bukan, bukan aku. Tapi Ibu, Ibu yang sudah menghancurkan kami! Aku, Ayahku, orang tua Ibu, bahkan juga Jordan. Ibu menghancurkan hati kami semua dengan alasan cinta yang Ibu miliki! "


" Tutup mulutmu, Ana! " Soraya sudah akan menampar Ana karena tangannya sudah naik ke atas bersiap-siap.


" Kenapa berhenti? Apakah ucapan ku menyakiti hati Ibu? Apakah ucapan ku terlalu nyata sehingga Ibu yang biasa bersandiwara menjadi tak terima? "

__ADS_1


Soraya menurunkan tangannya perlahan, dia memang benar-benar marah dengan ucapan Ana, tapi mengingat dia pernah menampar pipi Ana dan membuat tatapan mata Ana begitu penuh kebencian terhadapnya, Soraya tak sanggup melanjutkan tangannya.


" Berhentilah Ana, berhenti saja, aku sudah tidak sanggup melayani mu untuk berdebat. " Ucap Soraya.


***


" Kak, butik Mentari memberikan daftar pesanannya, mereka berharap sebelum awal bulan depan semua bahan sudah bisa di kirim kesana karena mereka akan mulai menjahit baju pesanan customer mereka. " Ucap Moana menyerahkan selembar nota untuk dia tunjukkan kepada Kendra.


Kendra yang nampak melamun itu hanya bisa segera memperbaiki ekspresi nya, dia tersenyum ramah karena memang dia begitu biasanya.


" Oke, nanti kau berikan nota ini kepada Andi ya? Biarkan dia yang mengurus hal selanjutnya. "


Moana tersenyum, lalu mengangguk.


" Kak, apa kakak baik-baik saja? " Tanya Moana yang bisa jelas melihat bahwa Kendra agak aneh belakangan ini.


Kendra memaksakan senyumnya.


" Jujur saja tidak, tapi aku juga tidak mungkin menceritakan ini kepadamu. "


" Iya, tidak apa-apa kak. Apapun yang terjadi tolong jangan sampai mengabaikan diri sendiri, masalah di kehidupan kan pasti ada saja. Kenyataan yang berjalan tidak sesuai harapan juga adalah hal yang lumrah. Jadi jangan menyerah begitu saja ya? Aku yakin kok kakak adalah orang yang baik, jadi kebaikan juga akan terus bersama kakak. "


" Hah.... Begitu ya? " Kendra tersenyum kelu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2