Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 36


__ADS_3

Soraya mengeratkan genggaman tangannya yang tengah memegang sendok dan garpu. Sekarang dia sedang berada di meja makan bersama Kendra, Ana, dan juga Jordan. Seharian ini dia benar-benar di buat tak berdaya karena begitu merindukan Jordan, tapi pria itu malah sudah berada di rumah bersama dengan Ana. Yakin, Soraya benar-benar merasa yakin jika Jordan pasti melakukannya dengan Ana. Sebentar Soraya mencoba untuk menenangkan diri, dia terus mencoba hingga dia sudah bisa tenang. Dia mencoba sedikit tersenyum, memakan makanan yang sudah di siapkan oleh pembantu rumah, dan mencoba sebaik mungkin agar tak terlihat bagaimana suasana hati yang sesungguhnya.


" Sayang, kau mau makan pepes ikan tidak? Ini kan kesukaan mu. " Ujar Soraya, dia tersenyum seperti biasanya saat melayani Kendra, tapi sayangnya pria itu malah terlihat acuh saat menjawab.


" Tidak usah, aku sudah mulai kenyang. "


Keanehan ini tentu bukan hanya di rasakan oleh Soraya saja, tapi juga oleh Ana dan Jordan. Untuk pertama kalinya Kendra menjawab pertanyaan Soraya dengan mimik dingin seperti tadi.


" Oke kalau begitu. "


Soraya terdiam tak lagi ingin bicara, sungguh dia bingung dengan hatinya. Dulu dia begitu kesal harus terus berpura-pura mengimbangi perhatian dari Kendra dan berharap Kendra tidak lagi begitu perhatian yang sering membuatnya risih sendiri. Sekarang, dia justru merasa sakit saat Kendra bersikap seperti acuh padanya. Soraya kembali menoleh ke arah Kendra, karena pria itu masih terlihat dingin, bahkan lebih dingin dari pada kemarin.


Setelah makan malam, Soraya dan Kendra kini berada di dalam kamar. Kendra yang biasanya tidak bekerja di rumah juga entah mengapa sibuk sekali minat laptop dan memeriksa stok yang sudah tinggal sedikit, padahal biasanya juga pekerjaan itu hanya sebentar, tapi sepertinya Kendra membuat durasi bekerjanya jadi lebih lama.


Menyadari jika Kendra sengaja agar Soraya lebih dulu tidur, maka Soraya juga hanya bisa berpura-pura tidur saja dengan hati yang kecewa. Setelah cukup lama Soraya berpura-pura tidur, tak lama Kendra ikut membaringkan tubuhnya di sana, dia sama sekali tak melihat ke arah Soraya yang biasanya sangat sangat membuatnya tak tahan sebentar saja tak melihatnya. Apakah cinta itu menghilang? Tidak, cinta itu masih ada, dia masih merindukan Soraya, hanya saja cinta yang sudah ternodai oleh penghianatan sulit untuk dia bisa berpura-pura tidak terjadi apapun.


Tes!


Kendra yang begitu kecewa dengan apa yang dilakukan Soraya benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menitihkan air mata. Dia bukan begitu mengagungkan Soraya, dia hanya selalu mengingat bahwa dia punya satu anak perempuan, jadi dengan segala harapan dan tidak ingin putrinya mendapatkan karma dari perbuatan buruk, Sebisa mungkin Kendra memperlakukan Soraya dengan baik, dia mencurahkan segala cinta dan sayang sebagai seorang suami berharap pasangannya hidup bahagia, dan putrinya juga akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Soraya. Tapi, nyatanya Soraya malah tidak bisa seperti dirinya, jadi harapan untuk putrinya agar merasakan apa yang dirasakan Soraya juga tak mungkin dia percayai. Sekarang dia hanya bisa terus berdoa agar Jordan setia, menyayangi Ana seperti sayang yang dia miliki, mencintai sepenuh hati, dan menomor satukan Ana dalam keadaan apapun.


" Sayang? " Panggil Soraya yang merasa tak tahan karena untuk pertama kalinya Kendra tidur membelakanginya setelah sempat menatapnya sebentar.

__ADS_1


" Aku tahu kau belum tidur, kau ada masalah? Apa ada sikap ku yang membuatmu kesal? "


Kendra menyeka air matanya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum dia berbalik menatap Soraya. Sebentar Kendra menatap kedua bola mata Soraya yang benar-benar begitu indah, bersinar meski penerangan tengah dalam keadaan redup sekalipun.


" Aku memang sedang ada masalah, tapi karena semua belum jelas, jadi aku hanya bisa diam memikirkannya sekarang ini. " Jawab Kendra, di akhir kalimat dia mencoba untuk tersenyum meski itu sungguh sulit baginya.


" Masalah apa? Apa sangat besar? "


Kendra terdiam sebentar.


" Bisa di sebut besar, bisa juga tidak. "


Soraya mendekatkan tubuhnya memeluk Kendra, mungkin Soraya pikir pelukan itu bisa membuat Kendra merasa kuat seperti biasanya, nyatanya pelukan itu malah membuat hati Jordan semakin sakit. Kenapa Soraya begitu lihai berbohong? Jadi selama ini sikap lembut penuh cintanya hanya bohongan? Jadi bukan di pria yang di cintai Soraya? Apakah rasa sayang terhadap Ana juga palsu? Betapa menyedihkan jika semua pertanyaan itu adalah iya jawabannya.


Kendra mengeraskan rahangnya, sebenarnya dia tahu benar jika ucapan itu bohong, tapi semua belum jelas bukti-buktinya, jadi dia terpaksa untuk diam sebentar ini. Sudah ada orang yang Kendra minta untuk mengikuti Soraya, tapi seperti sedang menyadari jika ada yang mengawasi, Soraya beberapa hari terakhir sama sekali tidak pernah menemui pria manapun.


***


Ana mengubah posisi tidurnya ke kana, ke kiri juga karena tidak bisa tidur akibat pinggangnya yang terasa pegal. Hari ini Jordan benar-benar tidak biasa, dan Ana yang tidak berpengalaman sedalam itu hanya bisa merasakan nyeri pinggang meski tak memungkiri jika rasanya benar-benar tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.


" Jordan? "

__ADS_1


Karena tak tahan lagi akhirnya Ana membangunkan Jordan dengan menggerakkan lengan Jordan.


" Apa? " Jawab Jordan dengan suara serak khas bangun tidur.


" Pinggangku sakit, tolong bantu aku pijat ya? "


Sebenarnya malas sekali melakukannya, tapi jika mengingat hari ini memang bisa di bilang luar biasa saat mereka melakukan penyatuan tadi, Jordan jadi merasa tidak enak juga untuk mengatakan tidak.


" Iya. "


Ana tersenyum, di menelungkupkan tubuhnya mengambil posisi nyaman agar Jordan juga bisa memijat punggungnya.


Glek!


Jordan menelan salivanya melihat punggung mulus Ana yang menurutnya lumayan seksi. Jujur tubuh Ana memang lebih kecil dari pada Soraya, tingginya juga berbeda jauh dengan Soraya. Mungkin Soraya sekitar seratus tujuh puluhan lebih, sedangkan Ana seratus lima puluh lima atau mungkin kurang, tapi kalau di perhatikan tubuh Ana yang tanpa busana memang begitu menggoda.


Jordan menggerakkan tangannya menyentuh dan memijat dengan lembut punggung Ana. Berbeda dengan Ana yang begitu menikmati sentuhan jemari Jordan yang membuat punggungnya terasa nyaman, Jordan justru di buat gelisah dengan terus menelan saliva dan pikirin yang sudah kemana-mana.


" Jordan, besok temanku ulang tahun, dia akan mengadakan camping di puncak gunung, dan merayakan di sana, menginap semalaman juga di sana. Jadi aku besok pergi juga ya? "


" Apa? Ah, Iya! " Ucap Jordan yang sebenarnya kebingungan karena dia kan tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Ana gara-gara memikirkan hal mesum.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2