
Jordan menelan makannya dengan cepat seperti sudah berhari-hari tidak makan. Sebenarnya dia juga ingin menangis tapi tidak tahu kenapa, karena sedang makan maka Jordan mencoba melupakan perasaan ingin menangis itu dan fokus menerima suapan yang di berikan Ana padanya. Lezat, bahkan jauh dari pada sebelumnya, rasanya makanan yang di siapkan Ana ke dalam mulutnya benar-benar memiliki aroma yang wangi, bahkan aroma cabai saja begitu Endah terhirup oleh hidungnya.
Satpam yang berjaga di rumah Ana tentu tidak ingin mengganggu suasana, jadi dia memilih untuk kembali ke depan untuk berjaga, sekalian dia bisa memberikan kabar dan tanda kalau Kendra pulang lebih awal. Dia tentu saja tahu tentang keributan yang terjadi di rumah majikannya itu, makanya dia juga tidak ingin kalau sampai apa yang dilakukan Ana menjadi tambahan masalah dan membuat masalah yang sebelumnya menjadi lebih rumit dan tak berkesudahan.
" Pulang nanti makanlah dengan baik, Jordan. Tubuhmu lemas, wajah mu juga pucat pasti karena kurang makan kan? Tinggal saja dulu bersama dengan Ibu dan Ayahmu, mereka pasti akan merawat mu dengan baik. "
Jordan terdiam karena tak tahu harus mengatakan apa. Sungguh dia merasa sedih mendengar apa yang dikatakan Ana, itu berarti Ana belum bersedia untuk ikut bersama dengannya kan? Tidak apa-apa, semua tentu butuh proses. Mungkin untuk mendapatkan hati Ana akan terasa sulit, tapi selama dia yakin maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kan?
" Buka mulutmu Jordan. "
Jordan membuka mulutnya, sungguh makanan yang masuk ke dalam perutnya membuat dia merasa bahwa Ana benar-benar memiliki arti yang penting untuknya.
" Jordan, kau sering kali lupa minum vitamin mu, mulai sekarang jangan lupakan itu. Kau kan bekerjanya cukup melelahkan, jaga kesehatan mu, Jordan. Jangan terlalu lelah, dan jangan begitu memilih makanan agar kau bisa makan apapun jenis makanan, karena kalau kau berada di tempat yang tidak menyediakan makanan yang kau suka, kau tetap bisa makan dengan baik. "
Jordan yang saat itu sedang mengunyah makannya tak bisa lagi menahan air matanya. Dia meneteskan air mata tapi tak berhenti mengunyah makanan di mulutnya. Sakit sekali rasanya mendengar ucapan Ana, memang terdengar begitu perhatian, tai apakah tidak bisa jika yah melakukan itu adalah Ana? Dia ingin terus di ingatkan untuk minum vitamin, dia ingin makan makanan apa saja bersama Ana, dia ingin tetap bersama Ana entah dari mana perasaan itu. berasal karena hingga kini Jordan benar-benar masih belum memahami apa yang dirasakan hatinya, khusunya kepada Ana yang tiba-tiba saja menjadi istri, dan tiba-tiba memiliki arti di hidupnya.
Ana mengepalkan tangannya, menahan agar tak gemetar. Dadanya berdenyut sakit melihat Jordan menangis sembari mengunyah makanan di mulutnya. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu, seolah Ana bisa merasakan rasa sakitnya, Ana hingga tak mampu mengatakan apa-apa.
" Ini suapan terakhir, buka mulut mu. " Ucap Ana kembali menyodorkan sendok yang berisi makanan setelah tangannya sudah tidak gemetar lagi.
__ADS_1
Jordan menatap Ana dengan tatapan yang tidak biasa, dia menjalankan satu tangannya menggenggam tangan Ana yang memegang sendok.
" Tolong, jangan mengucapkan kata terakhir saat bersamaku. Aku merasa sakit, tolong jangan katakan lagi. " Jordan membuka mulutnya, dan kembali mengunyah makanan itu.
Ana tak menjawab, dia menjauhkan piring itu setelah semua makanan pindah ke perut Jordan hingga tak tersisa. Sebenarnya dia sendiri juga tak memiliki selera untuk makan beberapa hari terakhir ini, tapi karena dia meminum susu tubuhnya masih segar Meksi tidak sekuat biasanya.
" Ana, kalaupun tidak ingin bertemu denganku, bisakah membalas pesan dariku? Minimal berikan saja kabar mu setiap hari, aku janji tidak akan mengirim banyak pesan untukmu. "
" Aku tidak bisa janji, Jordan. Kau tahu benar bagaimana kekacauan ini terjadi kan? Aku tidak ingin melukai perasaan Ayahku. "
Jordan terdiam sebentar, apakah itu berarti Ana tidak perduli dengan perasaannya? Apakah Ana juga tidak memiliki sedikitpun perasaan untuknya? Jordan menatap kedua bola mata Ana, sungguh membayangkan bahwa Ana tidak memilki perasaan untuknya membuat dia merasa sedih sendiri.
Ana mencengkram kain dress rumahan yang ia kenakan. Tentu saja dia akan memberikan apa yang di harapan Jordan, bukan karena dia ingin Jordan mencintai dia seorang, tapi dia ingin tetap memberi batasan kepada Soraya dan Jordan dengan caranya.
" Aku tidak tahu, Jordan. Hatiku tergantung bagaimana sikap dan tindakan mu. Aku juga perlu melihat usahamu, apakah kau akan tetap tergoda oleh Ibu Soraya, atau tidak, semua itu bergantung dengan dirimu sendiri. "
Bagai mendapat angin segar, Jordan dengan segera meraih tangan Ana, Menggenggamnya erat dengan tatapan penuh keyakinan.
" Baiklah, aku akan berusaha sebaik yang aku mampu. "
__ADS_1
Baru saja mereka ingin berbicara lebih serius, suara ribut-ribut terdengar dari depan dan mau tak mau Ana bangkit untuk melihat siapa yang berisik.
" Kau tunggu saja disini, aku takut itu adalah Ayahku. Nanti kalau benar Ayahku, kau keluar lewat pintu samping ya? Biar pak satpam membantumu keluar dari sini nanti. " Ucap Ana kepada Jordan, dan segera di angguki oleh Jordan.
Ana membuang nafas begitu melihat bahwa ternyata Soraya lah yang datang kesana. Sepertinya dia memaki satpam karena tidak di izinkan masuk.
" Ibu, maksudku Bibi Soraya? Ada apa? "
Soraya menatap Ana seperti menunjukan rasa tidak sukanya. Hanya sebentar tatapan itu berlangsung, karena tak lama Soraya seperti sudah sangat lelah hingga memutuskan untuk berbicara kepada Ana.
" Ana, tolong biarkan aku masuk ya? Ada beberapa barang yang harus aku ambil. "
Ana tersenyum karena dia tahu benar jika apa yang dikatakan Soraya benar-benar tidak masuk akal. Dia pasti melihat mobil Jordan yang di parkiran pak satpam di pinggiran jalan tak jauh dari gerbang rumahnya, jadi jelaslah dia tahu kalau di dalam pasti ada Jordan dan dia ingin memastikan hal itu.
" Bibi Soraya, semua barang-barang Bibi yang tertinggal sudah dibuang oleh Bibi dapur, jadi benar-benar maaf sekali karena Bibi Soraya sudah tidak memiliki barang apapun untuk di ambil. "
Soraya membeku menatap Ana yang begitu sinis padanya. Sebenarnya dia memang ingin mengambil surat dokter yang tertinggal di laci kamarnya, tapi saat minat ada mobil Jordan di pinggir jalan dia menjadi semakin ingin masuk kedalam untuk memastikannya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1