
Ana terdiam saat dia dan Jordan dalam perjalanan untuk pulang, Jordan yang tadi tidak menggunakan mobilnya hanya bisa menggunakan taksi untuk mengantar Ana pulang ke rumah. Menyadari bahwa Ana begitu pendiam, Jordan mencoba untuk mencari tahu. Dia meraih tangan Ana, menggenggamnya sembari menatapnya.
" Ada apa? Kenapa kau diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan? "
Ana memaksakan senyum, dia menghembuskan nafas panjangnya mencoba mengusir kegundahan akibat ucapan Soraya yang cukup membuatnya merasa sedih. Memang siapa yang ingin di lahirkan dengan merenggut nyawa Ibunya? Tapi apapun faktanya dia juga bukan sengaja kan? Sebenarnya ingin sekali tidak begitu memikirkan ucapan Soraya, tapi sulit juga untuk melakukannya.
" Tidak apa-apa kok. "
Jordan menghela nafas, tentulah dia tahu kalau Ana tengah berbohong.
" Kenapa kau berbohong dan harus mengatakan tidak apa-apa saat wajahmu menjelaskan bagaimana suasana hatimu yang sebenarnya. "
Ana terdiam sebentar, rasanya dia juga ingin berbagi kesedihan dengan menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Soraya tadi, tapi apakah mungkin Jordan akan mendengarkan dengan baik, ataukah Jordan akan menyalahkan dia juga seperti Soraya? Kalau dia menceritakan hal ini kepada Ayahnya, sudah jelas Ayahnya akan marah kepada Soraya, bahkan tidak mungkin dia akan mencari Soraya hanya untuk memukulnya.
" Ana, beri tahu aku apa yang terjadi. Aku mungkin tidak bisa melakukan banyak hal, tapi aku janji akan sebaik mungkin mendebarkan keluh kesah mu, aku juga akan sedikit membantu meksipun tidak semaksimal itu. "
Ana menatap Jordan yang memperlihatkan wajah hangatnya. Entahlah, senyum Jordan yang nampak di wajah tampannya membuat Ana merasa tidak masalah untuk menceritakan itu kepada Jordan.
" Tadi aku bertemu Bibi Soraya ketika aku dan kak Moana memilih gaun pengantin. Kami ada sedikit berdebat, hingga kalimat yang keluar dari mulut Bibi Soraya membuatku tidak tenang. "
" Apa yang dia katakan padamu? "
__ADS_1
Ana terdiam sebentar.
" Dia bilang aku Maruk, juga pembunuh. Aku sudah merebut nyawa Ibuku dan membuatnya mati saat aku lahir, dan aku juga merebut mu dari dia. "
Jordan terdiam, dia mengeraskan rahangnya dengan tatapan kesal. Jika saja Ana menceritakan ini beberapa bulan lalu, bukan tidak mungkin Jordan malah akan memukul Ana, mencekik kuat-kuat sampai dia tidak bisa bicara dan dengan kasar memeringatkan Ana agar tak memfitnah Soraya yang begitu lembut dan baik hati. Tapi, beberapa waktu terakhir ini Soraya benar-benar bertingkah seperti orang ya g tidak dia kenal. Pertama dia mulai berbicara kasar dan banyak menuntut, Jordan kira itu hanya perasaan nya saja, tapi semakin lama Soraya semakin tak bisa mengontrol perilakunya. Tentu saja dia percaya dengan apa yang dikatakan Ana sehingga dia tidak sanggup menahan diri untuk tidak marah.
Ana yang melihat Jordan diam saja hanya bisa membatin bahwa Jordan pasti tidak akan percaya padanya, bagaimanapun hubungan Jordan dan Soraya sudah berlangsung beberapa tahun terakhir, jadi wajar saja kalau Jordan lebih percaya kepada Soraya.
" Kita temui Soraya saja sekarang. "
Ucapan Jordan barusan benar-benar membuat Ana menatap dengan kekecewaan, apakah sungguh benar apa yang dia pikirkan itu?
" Pft! " Ana menahan tawanya, benar-benar lucu sekali ucapan Jordan. Tapi percayalah Ana benar-benar merasa begitu lega dan bahagia karena sekarang dia tahu jika Soraya tidaklah lagi besar artinya untuk Jordan.
" Apa? Kenapa tertawa? " Tanya Jordan bingung.
" Memangnya kenapa aku harus melakukan itu? Lagi pula Bibi Soraya kan lumayan jauh usianya dariku, aku tidak perlu sembrono dan tidak sopan seperti itu kan? "
Jordan menghela nafasnya, sungguh di saat begini dia merasa mau sendiri karena nyatanya usia matangnya tak bisa menyaingi kedewasaan Ana yang baru berusia sembilan belas tahun.
" Maaf ya, maaf karena di saat seperti itu aku malah tidak berada di samping mu. Sebenarnya aku bisa melihat matamu sembab dari kita bertemu tadi, tapi aku tidak berani bertanya karena karena ada adiknya Soraya juga. Kau pasti sangat sedih karena ucapan Soraya itu kan? "
__ADS_1
" Sekarang aku kan sudah tidak apa-apa, aku baru ingat juga kalau Dokter berpesan bahwa aku tidak boleh stres karena ini akan mempengaruhi perkembangan bayi kita. Jadi aku tidak akan lagi memikirkannya, dan aku akan berusaha sebaik mungkin agar selalu bahagia. "
Jordan mengacak pelan rambut Ana. Ah, tiba-tiba dia teringat kue kering kesukaan Ana saat melihat toko kue jadi Jordan meminta sopir taksi untuk berhenti di sana saja.
" Kenapa kita kesini? " Tanya Ana bingung.
" Kita beli kue kering kesukaan mu ya? Kau kan pernah bilang bahwa saat tengah malam kau sering merasa lapar, jadi bisa kau makan saja malam nanti. " Ana mengangguk setuju dengan wajah bahagia. Selain memang kue kering yang Ayahnya berikan sudah habis, Ana menyukai dan nyaman dengan perhatian Jordan sekarang ini.
Beberapa hari lalu juga Jordan mengirimnya banyak sekali photo pakaian bayi laki-laki dan perempuan, Jordan meminta Ana untuk memilih agar dia bisa membelinya. Bukan hanya pakaian saja, tapi peralatan bayi lainnya juga. Ana yang merasa jika itu terlalu dini, di tambah dia tidak tahu apakah anaknya nanti laki-laki atau perempuan jadi memutuskan untuk menunda terlebih dulu membeli barang-barang untuk bayi mereka.
" Bagaimana? Yang mana lagi? " Tanya Jordan, dia berpikir mumpung di sana jadi sekalian saja beli semua yang di sukai Ana.
Ana melongo melihat banyaknya kue kering yang sudah di pilih Jordan untuknya, dia benar-benar bingung sendiri hingga tak bisa bicara.
Dari kejauhan, seorang pria melepas kaca mata hitamnya untuk membuatnya bisa lebih jelas melihat gadis yang ia kenal tengah bersama seorang pria. Dia adalah Kendra, hari ini dia datang mengunjungi sahabatnya yang terkena musibah selepas makan siang, tadinya dia ingin mampir ke toko kue itu dan memberikan kue kering kesukaan Ana, tapi ternyata dia malah melihat Ana bersama dengan Jordan.
Tadinya dia ingin segera turun dari mobil dan menghampiri kedua orang itu, lalu memukul habis Jordan. Tapi begitu melihat Ana tersenyum kepada Jordan, tengah mereka yang saling menggenggam membuat Kendra terdiam tak lagi ingin melakukan apa yang dia inginkan.
Jika bertanya apakah ada kesempatan untuk menerima Jordan kembali sebagai menantunya, maka dia benar-benar tidak ingin memberikan kesempatan itu, tapi bisa apa dia kalau nyatanya putri tersayangnya malah nampak bahagia seperti itu bersama pria yang paling dia benci.
Bersambung.
__ADS_1