Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 111


__ADS_3

Hari berganti Minggu, Minggu juga telah berganti bulan, Kehamilan Ana kini sudah memasuki usia sembilan bulan. Jujur saja dengan tubuh Ana yang begitu kurus, di tambah tinggi Ana kan juga sekitar seratus lima puluh membuatnya terlihat begitu kesusahan membawa perut besarnya. Jordan, pria itu sebenarnya merasa begitu ngeri melihat bagaimana istrinya terus beraktifitas dengan perut besarnya. Ana sih selalu mengatakan jika dia baik-baik saja dan rasanya tidak begitu berat seperti yang di bayangkan Jordan.


" Sayang, duduk saja ya? Please..... Biar aku yang menyiapkan sarapan untukmu. " Ucap Jordan sembari memegangi tubuh Ana karena setiap kali melihat perut Ana dia selalu merasa begitu ngeri dan takut.


" Aku tidak apa-apa kok, kita kan cuma mau sarapan sandwich saja, tidak akan kelelahan akunya juga. "


Jordan menghela nafasnya, benar-benar dia sangat takut kalau terjadi sesuatu dengan Ana, tapi mau bagiamana lagi kalau Ana selalu bersikeras melakukan pekerjaan dapur yah sebenarnya kalau boleh memilih Jordan pasti akan memilih untuk menggunakan pembantu agar tidak perlu melihat istrinya bekerja seperti itu.


" Sayang, besok kita cari pembantu saja ya? Nanti kalau kau kelelahan bagaimana? Sebentar lagi kan kau juga akan melahirkan, jadi lebih baik kalau ada yang mengerjakan pekerjaan rumah. "


Ana tersenyum, kalau di pikirkan memang benar sih apa yang di katakan Jordan, bagaimanapun Jordan adalah suaminya jadi memang seharusnya dia tidak boleh terlalu keras kepala dan mengikuti saran suaminya yang jelas itu untuk kebaikannya.


" Iya sudah aku ikut saja saran darimu. "


Jordan tersenyum, dia berjalan menghampiri Ana dan memeluknya dari belakang. Ah, benar-benar sangat kecil tubuh istrinya, tapi drai tubuh inilah rasa cintanya tumbuh menjadi begitu besar luar biasa untuk si pemilik tubuh yang mungil itu.


" Setelah sarapan selesai kita ke kamar saja yuk? Ini kan weekend jadi aku ingin seharian bersama dengan mu, memeluk mu juga. " Ucap Jordan setelah mengecup beberapa kali kepala Ana.


" Tapi Ibu kan sebentar lagi datang? " Yang di maksud Ana Adah Ibu mertuanya atau Ibunya Jordan. Iya, dia yang begitu antusias juga khawatir dengan Ana akhirnya hampir setiap hari datang kerumah mereka untuk menemani Ana, Moana juga tidak kalah, dia akan datang tiap tiga hari sekali, atau dua hari sekali untuk menemani Ana dan bergabung bersama Ibunya Jordan juga.

__ADS_1


" Tapi ini kan weekend, Ibu tidak mungkin datang kan? " Ujar Jordan karena biasanya di akhir pekan Ibunya tidak akan datang jelas alasannya adalah Jordan akan berada di rumah seharian untuk menemani Ana.


" Ibu bilang aku kan sudah dekat masa melahirkan, hanya tinggal menunggu saja besok, lusa atau malahan- " Ana terdiam karena merasakan sesuatu yang tida biasa di bagian perutnya.


" Sayang, kenapa tiba-tiba diam? " Jordan beralih ke hadapan Ana dan menatap Ana untuk mencari tahu apakah Ana baik-baik saja.


" Sayang? " Jordan meraih kedua lengan Ana dan menatap wajahnya dengan tatapan khawatir.


" Sa sayang, sepertinya perutku aneh deh. Basah juga, tapi aku ingat baru saja aku ke kamar mandi untuk buang air kecil sebelum ke sini. "


Jordan dan Ana kompak melihat ke bawah, benar-benar di buat syok luar biasa kedua orang itu karena lantai juga ikut basah untungnya Ana tidak mengerakkan kaki jadi masih aman tidak terpleset.


Jujur saja Jordan benar-benar sangat panik, tapi Dokter juga sudah mengingatkan untuk jangan terburu-buru dan panik selama kepala bayi belum keluar dari jalan lahir. Setelah menarik nafas dalam-dalam kini Jordan membawa Ana ke tempat yang kering terlebih dulu. Jordan mendudukkan Ana di sofa dan dia mengambil posisi membuat Ana mengeryit bingung. Tentu saja Ana panik, dia bahkan sampai tak bisa bicara meski tubuhnya gemetar hebat.


" Sayang, kenapa menaikkan dress ku?! Seharunya kita segera ke rumah sakit kan?! " Protes Ana karena sebal juga melihat Jordan malah menaikkan dress-nya membuat otaknya berpikir macam-macam saja. Padahal di saat begini gentingnya Jordan malah ingin melakukan hal aneh. Apa dia mau jadi dukun beranak?


" Sayang, sebentar ya? Aku lihat kepala bayinya masih di dalam atau tidak, sebentar saja kok. " Dengan segera Jordan membuka kain yang seharusnya dia buka, dan dia menghela nafas setelahnya karena kepala bayinya ternyata belum terlihat sama sekali.


" Tunggu disini sayang! "

__ADS_1


Jordan berlari menuju kamar tidur, dia mengambil kunci mobil dan juga tas besar untuk keperluan melahirkan yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari. Degan hati-hati dia membantu Ana berjalan ke depan untuk masuk ke dalam mobil berniat ke rumah sakit segera.


" Eh, kalian mau kemana? " Tanya Kalina yang masih saja belum kapok mencari perhatian Jordan.


Tak ada yang menjawab baik Jordan maupun Ana membuat Kalina memanyunkan bibirnya dengan tatapan kesal.


" Dasar menyebalkan! Hamil saja berlebihan sekali, tiap hari selalu di pegangi kalau berjalan seperti balita saja. Ck! Jordan itu apa ya buta? Masa iya segitu cintanya kepada Ana yang tampangnya saja biasa begitu. " Gumamnya yang hanya bisa menatap mobil Jordan melesat jauh meninggalkan kediamannya.


Diperjalanan Ana mengabari Keluarga lengkap sehingga mereka juga sudah akan segera menyusul ke rumah sakit.


Ana menjauhkan ponselnya, dia menarik nafas dan menghembuskan perlahan begitu terus beberapa kali karena dia gugup, juga merasa takut kalau saja terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


Jordan meraih tangan Ana, menggenggamnya erat-erat karena dia juga gak kalah takutnya seperti Ana. Dia bukan hanya takut melihat Ana kesakitan, tapi dia juga takut sampai terjadi sesuatu kepada Ana. Membayangkan tentang itu rasanya Jorda menyesal karena pernah berharap untuk Ana hamil, tapi sudah seperti ini dia bisa apa kalau bukan menguatkan istrinya sendiri?


" Sayang, tenangkan dirimu ya? Aku akan bersamamu terus. Ayahmu, Ibu Moana, orang tuaku juga akan menemani mu, selalu ada untukmu. Jangan takut, aku tahu ini adalah pertama bagimu dan bagiku juga, tapi semua pada akhirnya akan baik-baik saja jadi jangan begitu takut, cobalah tenangkan dirinya ya sayang? Berjuanglah, aku akan menemanimu selalu meski aku tidak bisa merasakan sakitnya bagiamana. "


Ana sedikit tenang mendengar apa yang dikatakan Jordan, dia kini bisa tersenyum menatap Jordan yang wajahnya sudah basah di penuhi keringat dingin. Iya, Jordan pasti sangat takut tapi harus menahan itu demi dirinya.


Ana menyentuh perutnya, dia mengusap pelan sembari memohon di dalam hati agar bayinya lahir dengan sehat tanpa kurang satu apapun, dia juga sehat karena kesehatan Ana adalah dunianya Jordan dan juga Ayahnya, Kendra.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2