
Soraya duduk terdiam di atas closed kamar mandinya. Dia memandangi alat penguji kehamilan yang menunjukkan dua garis di sana. Sekarang bagaimana dia akan bereaksi? Dokter padahal sudah mengatakan jika dia akan sulit hamil, tapi bagaimana bisa dia hamil sekarang? Haruskah dia menganggap ini sebuah keajaiban? Ataukah dia seharusnya malu karena hamil tanpa suami?
Bagiamana dia akan memberitahu Ibu dan Ayahnya? Bagaimana dia akan mengahadapi masyarakat dengan kehamilannya? Sebenarnya bisa saja Soraya menggugurkan kandungan dengan caranya, tapi bagaimana kalau nanti dia sudah tidak bisa hamil sama sekali? Jelas bayi yang ia kandung adalah anak dari pria brengsek yang menyekapnya dan melecehkannya tanpa ampun. Selama berbulan-bulan dia tidak pernah berhubungan badan lagi dengan Jordan, dengan Kendra pun juga sudah tidak mungkin karena setelah meninggalkan Kendra dia masih datang bulan.
Soraya bangkit secara perlahan, dia keluar dari kamar mandi dengan wajah pilu yang tak bisa di gambarkan lagi bagaimana mimiknya. Dia duduk di pinggiran tempat tidur, perlahan merebahkan tubuhnya dengan posisi miring. Dia menangis tanpa suara mengingat betapa bahagianya dia beberapa bulan lalu. Dia memiliki kedua orang tua yang selalu tersenyum dan menatapnya dengan hangat, dia punya suami yang baik seperti Kendra, dia punya putri tiri yang manis dan menyenangkan seperti Ana, dia juga punya adik yang selalu mengaguminya, tapi karena keegoisan dan labil sikap membuatnya kehilangan itu semua. Benar, orang tuanya tetap memperhatikan dan menyayanginya seberapa besar pun luka yang dia torehkan kepada mereka. Tapi, bagaimana dengan keluarga kecilnya? Sudah hilang, Ana juga selalu menatapnya penuh kebencian akhir-akhir ini. Kendra yang dulu menatapnya dengan penuh cinta dan lembut berubah menjadi sangat dingin dan begitu menjaga jarak. Moana, adik tersayangnya kini seperti menjadi musuhnya dan mulai menjaga jarak darinya. Menyesal, benar-benar dia menyesal telah mengacaukan hidupnya dengan sangat hebat dan sempurna. Dia bahkan membuat Jordan terperangkap tak punya pilihan, dan hanya mengikuti inginnya.
" Maaf........ " Ucap Soraya lirih sembari menangis.
Sekarang dia sadar jika sudah melakukan banyak kesalahan, dia sudah menyakiti banyak orang, dan pada akhirnya dia begitu menyesal luar biasa. Jadi bagaimana bisa dia akan menyakiti calon bayinya sendiri? Dia tidak bersalah kan? Dia tidak punya pilihan lain karena dia tidak bisa memilih dari siapa dia di lahirkan, dia juga tidak bisa memilih seorang Ibu kandung kan? Mungkin dia memang bukan wanita yang baik, tapi bukan berarti dia akan terus buruk apalagi untuk anaknya sendiri kan?
" Soraya, ada apa? "
Soraya tercekat, dia sontak terbangun dari posisinya karena terkejut dengan suara Ayahnya yang begitu dekat dengannya. Ya Tuhan, begitu larut dalam kesedihan hingga dia tidak menyadari Ayahnya masuk ke dalam kamar dan menatapnya dengan tatapan pilu.
" Ayah? "
__ADS_1
Ayahnya Soraya perlahan duduk di samping Soraya, mengusap kepala Soraya dengan pelan dan lembut begitu juga tatapan matanya.
" Ada apa? Kenapa kau menangis? "
Soraya menggeleng, masalah penyesalan yang ia rasakan Ayahnya tentu saja sudah tahu karena beberapa hari lalu dia sudah menceritakan semua yang ia rasakan kepada Ayah dan Ibunya secara langsung. Tapi mengenai kehamilannya dia terlalu takut untuk memberitahu karena tidak sanggup menghadapi kekecewaan dari wajah Ayah dan Ibunya nanti.
Ayah menghela nafas, dia meraih tangan Soraya dan menggenggamnya dengan lembut.
" Soraya, mulai sekarang jangan menyembunyikan apapun dari Ayah dan Ibu ya? Kami tahu kami juga banyak melakukan kesalahan sebagai orang tua untukmu, tapi tolong libatkan kami saat kau merasa kesulitan, biarkan kami membantu sebisa kami agar kami tidak mati dengan menyesal karena mengabaikan kesedihan anak kami. "
Soraya menggeleng sembari menangis. Dia mencium punggung tangan Ayahnya, memeluknya erat-erat. Sekarang yang Soraya punya hanyalah Ibu dan Ayahnya, hanya mereka berdua yang selalu mendukung, mengerti dan memberikan semangat serta terus mengingatkan saat dia melakukan kesalahan, jadi bagaimana dia bisa menerima saat orang tuanya meninggal?
Ayahnya Soraya mengecup pucuk kepala putrinya, sungguh dia pernah merasa kesal luar biasa kepada Soraya, tapi hati nuraninya sebagai seorang Ayah menolak untuk membenci putri kandungnya sendiri. Dia tidak bisa mengacuhkan anaknya dengan dalih memberikan pelajaran hidup, dia tidak tega melihat putrinya menangis, tangannya secara otomatis menghapus air mata anaknya saat menetes, lalu merentangkan tangan dengan tatapan penuh kasih untuk tetap merangkul erat dan hangat putrinya.
" Soraya, berjanjilah untuk menceritakan semua masalah mu kepada kami, biarkan kami membantu mu sebisa kami ya? "
__ADS_1
Soraya menjauhkan tubuhnya, dia menatap kedua bola mata Ayahnya yang terlihat teduh, hangat dan penuh kasih sama seperti dulu seolah Soraya tak pernah melukai hatinya.
" Ayah, aku, " Soraya kembali menangis membuat ucapannya terjeda.
" Tidak apa-apa, nak. Ceritakan saja, biarkan Ayah dan Ibu membantumu ya? "
" Ayah, aku, aku hamil anak laki-laki yang melecehkan ku waktu itu, Ayah. " Kini tangis Soraya pecah membuat Ibunya yang menunggu di luar menutup mulutnya rapat-rapat tak ingin Soraya mendengar dia yang juga tengah menangis di sana. Hancur? Iya tentu aja hatinya hancur, bukan menangisi kehamilan putrinya yang berarti hamil tanpa suami, tapi dia menangisi keadaan putrinya yang pasti sangat menderita dengan semua ini.
" Tenanglah nak, tidak apa-apa. Tenangkan dirimu. " Ayah kembali memeluk Soraya, dia boleh saja terlihat tegar, tapi begitu memeluk Soraya dia menangis tanpa suara. Hancur dan sakit sekali hatinya, bagikan di hantam besi panas seluruh tubuhnya melihat kemalangan putrinya. Masalah karma, tentu saja Soraya sedang menjalani karmanya dengan kehilangan banyak hal yang dulu dia sia-siakan, sekarang pun harus menjalani hidup sebagai wanita hamil tanpa suami. Mereka tentu saja akan menerima apapun yang terjadi pada Soraya, mereka tentu akan merawat Soraya, juga merawat bayinya nanti. Tapi apakah Soraya sanggup menghadapi masyarakat di luar sana? Siapkah Soraya menghadapi cibiran yang akan membuat dia semakin buruk di mata masyarakat setelah isu bahwa dia bercerai beberapa waktu lalu belum selesai?
" Soraya, putriku yang baik, percayalah semua akan baik-baik saja. Ayah dan Ibu akan menjaga dan merawat mu baik-baik, kami akan selalu ada untukmu selama Tuhan belum meminta kami untuk kembali padanya. "
Soraya mengeratkan pelukannya, tentu saja dia tahu Ayahnya juga menangis karena suaranya bergetar saat bicara. Tapi dia benar-benar tersentuh dengan betapa lapang dadanya seorang Ayah yang beberapa waktu lalu dia sakiti hatinya.
" Ayah, apakah ini karena aku melakukan kesalahan dan jadi wanita jahat beberapa waktu lalu? " Tanya Soraya tak henti menangis.
__ADS_1
" Berhentilah untuk bicara seperti itu, Ayah hanya tahu setiap manusia hidup pasti akan mengalami kesedihan dan kebahagiaan. Kau hanya perlu belajar dari kesalahan, Jangan ulangi lagi, dan terus belajar untuk menjadi lebih baik setiap harinya. "
Bersambung.