Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 102


__ADS_3

Rigo terdiam di kursi duduk tunggu luar ruangan Lisa, di dalam sana Lisa sedang berjuang untuk mendapatkan kembali usia, menunda kematian dalam arti kasarnya. Sebenarnya dari dua hari yang lalu keadaan Lisa benar-benar bisa terbilang drop parah dan buruk, hanya saja Rigo begitu memaksakan agar Lisa tetap bertahan dan berjuang melawan rasa sakit luar biasa itu.


Mungkin ini terdengar egois, tapi hatinya benar-benar tidak siap untuk kehilangan Lisa selamanya, begitu payah dia bisa mendapatkan hati Lisa, tapi begitu mereka sudah dalam keadaan saling mencintai, kenapa mereka harus di pisahkan oleh penyakit mematikan? Ini benar-benar di luar batas kerelaannya sehingga enggan untuknya mencoba mengerti dan terus memaksa Lisa bertahan tak perduli seberapa sakitnya itu.


Tak lama Dokter keluar dari ruangan di mana Lisa di tangani. Dokter itu menghela nafas saat Rigo bangkit dan menanyakan bagaimana keadaan Lisa. Dokter itu menatap kecemasan, kekhawatiran dari kedua bola mata Rigo, tapi dia juga tidak ingin menyimpan rapat fakta yang ia tahu hanya karena rasa kasihan kepada Rigo yang jelas dia takut kehilangan istrinya.


Dokter itu meraih pundak Rigo, menepuknya pelan dengan tatapan yang dalam. Mungkin apa yang akan dia lakukan akan menggores egonya, tapi ini juga yang terbaik untuk pasiennya yang sudah dalam keadaan sekarat tapi tertahan karena Rigo.


" Tuan, saya tahu merelakan seseorang untuk pergi menghadap Tuhan itu sulit, saya tahu anda mencintai istri Anda hingga terus menyemangatinya untuk bertahan. Tapi apakah anda tahu jika bertahan dengan rasa sakit luar biasa itu sangat buruk? Istri anda benar-benar bertahan karena anda, dia begitu menderita hingga saya melihat dengan mata kepala saya sendiri istri anda terus meneteskan air mata tadi. "


Rigo menggeleng enggan mendengarkan ucapan Dokter, dia terus berpatokan dengan salah satu kisah nyata dimana ada seorang yang koma bertahun-tahun lalu bangkit beberapa tahun kemudian, dia berharap itu juga akan terjadi kepada istrinya, dan yakin seratus persen dia akan menunggu dengan sabar kapan hari itu akan tiba.


" Di dunia ini banyak kasus dimana orang kritis, koma lalu bangkit beberapa tahun kemudian kan? Jadi jangan memintaku untuk menyerah, aku tidak akan melakukannya. "

__ADS_1


Dokter itu kembali menghela nafas, sayang sekali dia tahu benar kondisi pasiennya sehingga membuatnya tak bisa menyerah begitu saja untuk meyakinkan Rigo.


" Kasus koma yang anda maksud adalah orang yang mengalami kecelakaan parah, Tuan. Istri anda mengidap kanker otak yang sudah berada di stadium akhir. Hasil pemeriksaan juga anda sudah lihat sendiri kan? Tumor itu bukan hanya di kepala pasien saja, tapi sudah menyebar. Tolong kasihani istri anda, Tuan. Relakan dia, dia begitu kesakitan menahan ini. Saya yakin sekali begitu anda merelakan dia, dia bisa beristirahat dengan tenang dan melepaskan rasa sakit di tubuhnya. "


Rigo menjatuhkan dirinya di atas kursi tunggu, dia menangis karena tak kuasa menahan kesedihannya. Dia tidak rela kehilangan Lisa jelas itu adalah benar, tapi dia juga tidak ingin Lisa menderita karena penyakit sialan ini.


Dokter itu menepuk punggung Rigo dengan pelan, sebagai seorang Dokter tentu dia sudah sering melihat hal seperti ini, dia yang juga manusia biasa hanya bisa ikut merasakan sedih, dan mencoba memberikan sedikit semangat yang ia bisa.


" Tuan, kematian hanyalah sebuah peristiwa pemisah sementara saja. Nanti juga kalian akan bertemu lagi kan? Sekarang tetaplah hidup dengan baik sampai giliran anda datang, lakukan yang terbaik, tetaplah bahagia karena saya yakin ini adalah harapan terbesar dari istri anda. "


Sebentar Rigo mengusap wajahnya yang masih tertinggal air mata di sana dengan satu tangan, dia membuang nafasnya lalu kembali menatap Lisa. Dia tersenyum meski sebenarnya dia ingin menangis tersedu-sedu dengan begitu lantang. Tapi, bagaimana mungkin dia melakukan apa yang jelas akan membuat Lisa sedih?


" Sayang, kau sudah bekerja keras selama ini. Aku berterimakasih untuk kebahagiaan yang sudah kau berikan padaku, meksipun nyatanya kita masih belum di beri anak sesuai dengan harapan kita dulu, tapi itu sama sekali tak membuatku merasa kurang saat bersamamu. Aku bahagia, aku benar-benar sangat bahagia bersamamu hingga tidak tahu bagiamana mengungkapkannya saat kata i love you saja tidak akan cukup untukku. " Rigo tersenyum, dia membuang jauh air matanya yang jatuh tanpa izin darinya. Kembali menarik nafas karena tidak ingin tersengal saat berbicara dengan Lisa.

__ADS_1


" Aku ingat benar hari dimana kita bertemu pertama kali, kau sama sekali tidak menatap ku, kau menunjukan secara jelas kalau kau tidak tertarik padaku, lalu akhirnya kita menikah sesuai dengan perjodohan dari orang tua kita, meksipun kau masih tak menatapku dengan cinta, nyatanya aku benar-benar jatuh cinta di waktu aku pertama kali bertemu denganmu. Seiring berjalannya waktu kau mulai menerima ku, perlahan tersenyum dengan begitu manis, lalu tatapan benci berubah menjadi penuh cinta. Semua itu benar-benar membuatku bahagia. " Rigo menjeda ucapannya sebentar.


" Beberapa tahun pernikahan kita, aku rasa aku sudah melakukan banyak hal yang kadang membuatmu kesal, juga bahagia. Terimakasih ya sayang? Terimakasih untuk semua momen itu, mungkin aku memang tidak akan bisa mengulangnya lagi, tapi kenangan itu tidak kan pernah hilang dariku, kau adalah bagian dariku yang akan selalu ada di dalam diriku. Jadi aku rasa aku akan baik-baik saja dengan kenangan bahagia bersamamu, sekarang aku, aku- " Rigo berhenti bicara karena menahan tangis yang tercekat seperti sudah sampai ke tenggorokannya.


" Aku sudah rela kau pergi, aku akan mencoba baik-baik saja hanya dengan kenangan bersamamu. Maaf karena aku egois memaksa mu bertahan padahal jelas kau sangat kesakitan. Maaf jika aku tidak maksimal dalam mencintaimu dan memperlakukan mu dengan baik, sekarang kau bisa pergi dengan tenang, aku akan mencoba sebisa ku untuk hidup dengan baik seperti yang kau inginkan. "


Terasa tangan Lisa bergerak menggenggam pelan tangan Rigo, dia meneteskan air mata tanpa membuka mata sedikitpun.


" Aku mencintaimu, Lisa. Tunggu aku di sana, tunggu aku dan pergilah dengan tenang serta bahagia. Perhatikan aku dari sana, aku akan datang saat waktunya tiba. Ingat selalu, aku mencintaimu. "


Selamat tinggal, pria terbaikku....


Mesin deteksi detak jantung bergerak menunjukan detak jantung Lisa yang semakin melemah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2