
Kedua orang tua Rigo benar-benar tak memiliki pilihan lain selain mengancam Soraya dengan uangnya. Memang benar dia bisa melakukan apapun asalkan punya uang, dia juga tahu kalau apa yang dia lakukan kali ini pasti menyakiti Soraya karena merasa jika harga dirinya begitu terinjak dan tak memiliki harga diri sama sekali. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau Soraya menolak menikahi Rigo, bukan hanya dia akan jauh dari cucunya, tapi kemungkinan untuk Rigo di penjara juga sudah sangat jelas. Rigo sudah berjanji akan mengikuti dan memenuhi keinginannya Soraya tidak perduli itu akan di penjara atau apapun.
Awalnya Rigo masih enggan menikahi Soraya, tapi karena surat wasiat dari Lisa yang menginginkan agar Rigo menikahi Soraya sebagai bentuk tanggung jawab, Rigo hanya bisa memenuhi keinginan istrinya, entah akan di tolak atau tidak nyatanya dia benar-benar ingin memenuhi keinginan Lisa. Tapi melihat tatapan Soraya dia tahu benar jika Soraya tak ingin menerimanya, atau sekedar memberikan maaf. Jadilah Rigo hanya bisa diam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
" Kenapa anda mengancam saya? Apa anda senang mempermainkan orang miskin seperti saya? Berhentilah mengancam dan berbuat sesuka hati hanya karena anda punya uang. "
" Kalau kau masih tidak ingin menikah, maka jangan salahkan aku kalau keluar dari rumah ini juga kau tidak akan bisa. "
Soraya menghela nafas, Soraya jelas tahu benar jika kedua orang tua Rigo tidaklah main-main dengan ucapannya, tapi bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang baru saja ditinggal pergi selamanya oleh istrinya? Belum lagi dia juga enggan sekali terikat dengan seorang pria setelah apa yang terjadi di dalam hidupnya.
" Jika kau menikah dengan Rigo, kau bukan hanya bisa tinggal di pedesaan dengan tenang, kedua orang tuamu juga aku jamin tidak akan kekurangan apapun. "
Soraya menatap Rigo yang masih terdiam tak bicara, benar-benar ingin sekali menampar dan memukuli wajah pria itu, tapi melihat wajahnya yang melas sekarang dia jadi memiliki niat untuk menunda melakukanya. Soraya membuang nafas kasarnya, menatap Ibunya Rigo Yang sedari tadi aktif mengajukan penawaran padanya.
" Nyonya, kalaupun ingin menikahkan kami, aku memiliki syarat yang tidak boleh di tolak. " Ini adalah usaha terakhir yang bisa di lakukan oleh Soraya. Berharap mereka akan menolak tentu saja adalah keinginanya, tapi kalaupun menyanggupi juga yakin benar pasti pria brengsek bernama Rigo itu tidak akan sanggup menjalaninya terlalu lama.
" Katakan saja, semua syarat yang kau ajukan akan kami penuhi hari ini juga. "
Soraya membuang nafasnya, dia tersenyum miring penuh rencana.
" Pertama, pernikahan tidak boleh di daftarkan di catatan negara. Kedua, dia bisa saja menjadi suamiku, tapi tidak boleh menyentuhku. Ketiga, dia tidak boleh banyak bertanya, apapun yang aku lakukan, apalagi memprotes hal yang aku sukai. Ke empat, aku tidak ingin tinggal bersama kalian di kota, kalau dia mau dia bisa ikut tinggal bersamaku di desa. "
__ADS_1
Kedua orang tua Rigo terlihat bingung dengan semua syarat yang di ajukan Soraya. Aneh, persyaratan itu seperti mejelaskan bahwa Soraya hanya ingin mendapatkan status istri tapi tidak ingin menjalani kewajibannya, juga tidak ingin mengakuinya secara negara. Jelas mereka tersinggung, tapi memikirkan beberapa kemungkinan seperti Rigo akan di penjara, lalu dengan anak yang di kandung Soraya, mereka kini hanya bisa mengangguk setuju saja dengan harapan suatu hari nanti hubungan Rigo dan Soraya akan membaik dan melupakan persyaratan ini.
" Rigo, kau setuju? "
Rigo menghela nafas dan mengangguk. Memang apa lagi yang dia harapkan dari pernikahan ini? Anak? Meskipun dulu dia menginginkan anak bersama Lisa, sekarang dia benar-benar tidak perduli dengan anak yang ada di perut Soraya. Entah benar itu anaknya atau bukan, intinya dia menikahi Soraya hanya karena ingin memenuhi keinginan Lisa saja.
Melihat kepada tiga orang itu mengangguk setuju Soraya hanya bisa mengepal dengan tatapan marah. Sungguh dia tidak percaya kalau akan ada orang yang sebegitu nya menginginkan pernikahan yang jelas kalau mereka hanya ingin anak yang ada di dalam perutnya saja.
" Tunggu, aku masih ada syarat lagi. "
" Apa? "
Soraya hanya bisa semakin kesal ketika kawan bicaranya mengangguk dengan mudah.
***
Ana dan Jordan kini sudah tinggal di rumah yang mereka beli beberapa hari lalu. Tidak banyak barang yang di beli karena saat membeli rumah itu juga sudah sekalian furniture nya. Seperti pasangan romantis di dalam drama, Jordan setiap pagi akan membatu Ana menyiapkan sarapan untuk mereka. Menunya sangat sederhana karena ini juga latihan untuk Ana agar nanti bisa memasak untuk anak-anak mereka.
" Sudah selesai. " Ucap Ana begitu senang saat nasi goreng dengan sosis juga telur ceplok siap di meja makan. Dia meraih ponselnya, memotret masakan yang dia masak bersama Jordan lalu mengunggah ke akun media sosial miliknya. Seperti biasanya, Moana adalah orang pertama yang akan memberikan komentar dengan emotikon hati lalu ciuman serta ucapan semangat. Terasa seperti seorang teman, tapi Ana menyukai hubungan di antara mereka.
" Makan dulu ya? Nanti kalau sudah dingin tidak enak. " Ucap Jordan setelah mengecup kening Ana sebentar sembari mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.
__ADS_1
" Iya iya! "
Suara bel pintu, Jordan dan Ana kompak menghela nafasnya. Ini sudah empat hari tetangga sebelah selalu datang dengan alasan untuk menawarkan sarapan pagi. Alasannya pasti pergi biasa, terlalu banyak memasak dan takut tidak habis terbuang sia-sia. Sebenarnya Ana dan Jordan kesal juga, bagaimanapun mereka juga tidak kekurangan makanan sehingga begitu rutin di beri makanan.
" Aku buka pintu dulu ya sayang? Tunggu disini saja, mulai sarapan dulu saja tidak apa-apa. " Ucap Jordan sudah ingin bangkit, tapi Ana menahan lengannya membuat Jordan terhenti menatapnya dengan maksud bertanya.
" Biar aku saja! "
Ana bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu utama dan membuka pintunya sembari memaksakan senyumnya.
" Selamat pagi? " Sapa tetangga rumah mereka yang adalah seorang janda cantik tanpa anak. Sebenarnya sih saya membeli sayuran Ana tidak sengaja dengar kalau wanita itu adalah mantan istri kedua dari pengusaha batu bara yang usianya sangat jauh darinya. Orang juga bilang dia tidak begitu ramah, tapi anehnya kenapa dia selalu datang setiap pagi dengan alasan mengantar atau berbagi sarapan?
" Anda tetangga yang sering mengantar sarapan ya? " Tanya Ana terus tersenyum meski tangannya gatal ingin mencakar wajah penuh make up tebal itu.
" Ah, iya. Ini untuk kalian. " Wanita itu menatap ke arah lain seperti mencari sesuatu, ah! Jordan, dia pasti sedang mengincar Jordan, batin Ana kesal.
" Aduh, bagiamana ya? Maaf kalau hari ini di tolak. Suamiku dan aku sudah membuat nasi goreng bersama, sebenarnya kami tidak suka memakan makanan pemberian, makanan sebelumnya selalu di buang oleh suamiku, maaf sekali ya? Lebih baik bawa kembali saja kalau tidak bisa di bagikan kepada satpam saja kan? "
Wanita itu mengeryit dengan tatapan marah.
Bersambung.
__ADS_1