
Soraya berjalan tertatih-tatih begitu masuk ke dalam rumah yang saat itu pintu rumah orang tuanya tidak terkunci. Dia menyeret dua koper besar dan menggunakan satu tas selempang untuk membawa benda pentingnya seperti dompet, dan juga handphone. Kedatangan Soraya yang kacau kala itu benar-benar membuat kejutan bagi kedua orang tuanya terutama Ibunya yang tidak henti-hentinya terkejut, menatap bingung mencari tahu apa yang terjadi dengan putrinya.
Soraya menatap kedua orang tuanya yang duduk menatapnya dengan tatapan terkejut dan benar-benar terlibat syok. Dia melepaskan pegangan dua kopernya, lalu berlari dan bersujud di kaki kedua orang tuanya yang duduk berdampingan masih dengan tatapan yang terlihat syok.
" Maafkan aku, Ibu, Ayah. Aku minta maaf atas semua yang terjadi ini, aku egois, aku minta maaf. "
Dengan tangan gemetar Ibunya Soraya meraih wajah sang anak, menatapnya seolah ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
" Soraya, apa maksudnya ini? " Ayah menatap Soraya dengan tatapan yang benar-benar luar biasa tidak bisa Soraya artikan. Berbeda dengan Ibu yang masih mau menyentuh wajahnya, Ayah malah mengepalkan tangan seolah menahan rasa takut jika saja apa yang sedang dia pikirkan adalah benar adanya.
Soraya meraih tangan Ibunya, mencium tangan itu sembari terisak, dia juga memaksa untuk mencium tangan sang Ayah.
" Aku bersalah, Ayah, Ibu. "
" Sebenarnya kesalahan apa yang kau lakukan sampai kau datang dengan dua koper besar? " Tanya Ayah dengan mimik yang begitu terlihat menahan diri. Bukan tidak memiliki perasaan dan dugaan yang kurang bagus, hanya saja Ayah dan Ibunya Soraya masih belum bisa menerima jika apa yang sedang mereka pikirkan adalah benar adanya.
Soraya mencoba menenangkan dirinya, dia tetap duduk bersimpuh hanya saja tangannya kini sudah tak lagi memegang tangan kedua orang tuanya. Seluruh jemarinya saling bertautan seperti sedang mencari kekuatan dari sana, barulah ketika dia sudah agak tenang dia berani menatap wajah kedua orang tuanya.
" Aku, aku dan Kendra akan segera bercerai, Ayah, Ibu. "
__ADS_1
Ibu sontak memegangi dadanya yang terasa begitu sesak dan berdenyut sakit. Ayah yang sebenarnya juga terkejut mengabaikan itu terlebih dulu, dia mencoba untuk menenangkan istrinya memandu untuk mengatur nafasnya agar perlahan-lahan lebih tenang. Barulah setelah beberapa saat dia bisa merasa baik-baik saja, itupun Soraya tidak henti-hentinya menangis dan memanggil terus Ibunya karena dia merasa takut terjadi sesuatu dengan Ibunya.
" Kenapa itu bisa terjadi? Kesalahan apa yang membuat perpisahan ini harus terjadi, Soraya? " Tanya Ibu yang tak kuasa menahan tangis kesedihannya.
" Selama ini aku tidak bahagia hidup bersama Kendra Bu, aku tidak menemukan kebahagiaan yang aku inginkan, aku lelah sekali berpura-pura mencintai dia dan menyayangi dia, aku lelah sehingga memutuskan hal ini. "
Ayah dan Ibunya Soraya menggeleng tak percaya, jelas mereka keheranan dengan alasan Soraya yang sangat tidak masuk akal. Padahal Kendra adalah pria yang tampan, dia begitu baik dan memperlakukan Soraya serta keluarganya dengan begitu hormat dan penuh kasih. Bagaimana pria seperti itu tidak mampu membuat Soraya bahagia?
" Kau gila ya?! Bagaimana kau mengatakan alasan perpisahan mu yang tidak masuk akal itu? " Ayah terlihat begitu kesal, dia bangkit dari posisinya bersiap untuk pergi sembari meraih pergelangan tangan Soraya.
" Ikut Ayah, ayo kita perbaiki segalanya! Kau harus minta maaf dengan apa yang kau katakan kepada Kendra, Ayah yakin dia akan mengerti, dan kau bisa berbicara dari hati ke hati untuk memperbaiki semua ini. "
'' Tidak, itu tidak mungkin Ayah! " Soraya menahan tangan Ayahnya yang benar-benar terasa menariknya untuk pergi menemui Kendra.
" Jangan Ayah! Aku tidak bisa pergi kesana, aku mohon jangan bawa aku kesana Ayah! "
Ibu yang melihat bagaimana Soraya ketakutan dan terus menolak tentu saja jadi berpikir, kenapa Soraya sampai begitu takut? Apakah Kendra melakukan kekerasan? Ataukah Soraya melakukan kesalahan yang amat fatal?
" Soraya, katakan sejujurnya kepada kami, kesalahan apa yang sudah kau lakukan? " Mata Ibu menatap dengan tajam seolah dia benar-benar bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Soraya dan apa yang sesungguhnya terjadi. Soraya menjadi lemah dalam berbicara karena tatapan itu, belum lagi tatapan Ayahnya begitu mengisyaratkan jika dia juga merasakan adanya hal yang tidak beres dengan Soraya.
__ADS_1
" Katakan, jangan buat kami datang dengan kesalahpahaman, jangan membuat kami datang dengan maksud baik yang malah hanya akan membuat hubungan ini semakin pelik dan rumit. " Ayah menegaskan melalui.ucaoan yang ia barengi dengan nada suara dan tatapan matanya.
Soraya menunduk kembali, posisinya sekarang masih bersimpuh, hanya saja tubuhnya jauh lebih terlihat gemetar dari pada sebelumnya. Rasanya dia ingin sekali menatap kedua wajah orang tuanya dengan tatapan berani, sekali lagi berbohong untuk menyembunyikan dirinya yang buruk itu, tapi dia tidak sanggup bahkan hanya melakukannya di dalam angan-angannya.
" Bicaralah, Soraya. Atau kalau kau masih ingin diam kami yang akan segera pergi menemui Kendra untuk menanyakan apa yang terjadi. " Timpal sang Ayah.
" Ayah, Ibu, aku, aku mengkhianati pernikahan ku bersama Kendra. Aku memiliki pria lain yang aku cintai selama tiga tahun ini, aku sangat mencintai pria itu hingga begitu tersiksa dengan keadaan kami. Maafkan aku Ayah, Ibu. Aku egois karena ingi mendapatkan kebahagiaan ku. "
Bruk!
Ayah jatuh terduduk di atas sofa di sebelah Ibunya Soraya yang kini terbengong tak percaya dengan apa yang di katakan Soraya. Air matanya luruh tak tertahankan membayangkan dan menerima kenyataan jika putrinya yang dia besarkan dengan susah payah bisa melakukan hal yang begitu memalukan.
Ayah juga tak bisa menerima ini hingga tanpa sadar dia terus menggelengkan kepala. Dia merasa gagal sebagai seorang Ayah, dia merasa kecewa karena nyatanya putri yang dia banggakan malah membuat ulah yang begitu memalukan. Jatuh cinta dengan pria lain, tiga tahun? Jadi sudah selama itu putrinya mencurangi suaminya dan mempermainkan hati kedua orang tuanya juga?
" Soraya, apa begini putri pertamaku yang sesungguhnya? Kenapa Kemi begitu bodoh hingga tidak menyadari wajah buruk mu yang ka sembunyikan? Aku gagal, aku gagal mendidik mu, Soraya. Aku gagal sebagai seorang Ibu, aku gagal mengenali seperti apa Watak asli putriku sendiri. " Ibunya Soraya memukul mukul dadanya yang terasa begitu sesak.
" Pergilah, Soraya. Pergi dan bersujud meminta maaf kepada Kendra. "
" Ayah, di tidak akan menerima ku lagi apapun yang aku lakukan, aku juga tidak ingin kembali padanya. "
__ADS_1
" Kau pikir, setelah apa yang kau lakukan kami masih berani memintanya menerimamu? "
Bersambung.