
Ana membuka kedua bola matanya, kali ini posisinya sedang berbaring di atas tempat tidur yang begitu empuk dan nyaman. Ini sudah malam, dan dia masih di sekap oleh Rigo yang menurut Ana adalah pria gila. Padahal sudah coba ia jelaskan bahwa sebenarnya Jordan bukan orang yang bisa di salahkan, tapi apalah daya karena menjelaskan kepada Rigo seperti menjelaskan kepada anjing bahwa daging lebih nikmat ketimbang tulang.
Sepertinya Ana benar-benar akan tertahan beberapa saat disana, jadi dia hanya perlu berjaga dan menunggu karena dia yakin benar Jordan juga Ayahnya pasti akan datang menyelamatkannya.
Ana perlahan bangun dari posisinya, seperti yang dikatakan Dokter bagaimana caranya bangun untuk wanita hamil, Ana melakukan itu. Sebentar dia menghela nafas, setidaknya sekarang tidak ada Rigo disana.
" Ah! " Ana merasai pipinya yang sakit, juga ada perih yang terasa. Ah, dia baru ingat kalau beberapa saat lalu Rigo menamparnya hingga dia pingsan. Segera Ana melihat pakaiannya ketika dia menyadari kalau sempat pingsan. Untunglah pakaiannya masih lengkap, tubuhnya juga tidak merasakan adanya perbedaan seperti setelah berhubungan badan dengan Jordan.
Perlahan Ana bangkit dari posisinya, dia berjalan pelan tanpa menggunakan alas kaki menuju jendela. Dia membuka tirai yang menutupi jendela kaca, sekarang Ana tahu jika dia berada di gedung lumayan tinggi, mungkin sekitar empat atau lima lantai. Sayangnya dia begitu asing dengan tempat itu, jalanan yang terlihat dari atas sana juga tak ia kenali. Sial! Kalaupun ingin kabur, jelaslah dia si kunci di dalam sana. Ana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Tenang, dia benar-benar harus tenang dan jangan seperti siang tadi. Sebenarnya saat ketakutan luar biasa dia merasakan perutnya seperti mengeras bagaikan batu, entah itu apa namanya tapi Ana yakin anaknya di dalam perut merasakan ketakutan yang sama dengannya.
Ana mengusap perutnya yang sedikit buncit dia bagian bawah pusar. Padahal sudah berjanji untuk menjaga baik-baik anaknya, tapi tetap saja sempat lupa dan merasa begitu takut hanya karena pria gila seperti Rigo.
" Nak, sehat selalu ya? Ibu yakin sekali Ayahmu pasti akan menemukan kita. Kakakmu juga akan mencari kita sekuat tenaga, karena kita berdua adalah kesayangan, jadi jangan takut dan khawatir lagi ya? Ada Ibu juga kok yang melindungi mu. " Ana mencoba untuk setenang mungkin, dia terus mengusap perutnya dan berusaha untuk tidak bersedih meskipun itu benar-benar sangat sulit sekali.
Tok Tok
Begitu terdengar suara ketukan pintu, tak lama Rigo kembali masuk kedalam sembari membawa sebuah nampan yang berisi sepiring makanan, buah, air mineral serta susu hangat.
" Makanlah dulu, kau pingsan cukup lama. "
" Kalau kau tidak memukulku, aku juga tidak mungkin pingsan. "
Rigo menghela nafasnya.
__ADS_1
" Makanlah, bayimu juga pasti sudah kelaparan. "
Ana menatap makanan itu, sungguh dia memang benar-benar lapar. Tapi dia juga takut kalau ada racun atau sudah di berikan obat perangsang yang nanti akan membuatnya seperti wanita gila. Yah, kira-kira begitu kisah dari beberapa cuplikan drama, juga novel yang pernah ia lihat.
" Tenang saja, makanan itu tidak ada racunnya. "
Meski merasa takut pada awalnya, begitu merasakan makanan yang terasa lezat membuat Ana tak lagi perduli karena dia mengedepankan rasa laparnya yang semakin menjadi begitu melihat makanan di hadapannya.
Setelah makan selesai, Rigo membawa nampan itu keluar tanpa kata. Ana pikir sudah lebih baik memang kalau begitu, tapi sial karena ternyata Rigo kembali masuk ke dalam kamar.
" Apa yang kita bicarakan siang tadi, lebih baik kau menyetujuinya dengan segera. Besok aku akan minta orang untuk mengurus surat perceraian mu, aku akan membayar mahal seorang pengacara agar kau bisa segera bercerai dari Jordan. "
Ana menggeleng heran, ternyata Rigo masih belum menyerah pula rupanya. Ya sudah, ini sudah kepalang tanggung, maju tidak bisa mundur juga tidak bisa. Sekarang Ana hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan dan mengulur waktu, kalaupun bisa dia ingin memberikan kode kepada Jordan atau Ayahnya agar lebih cepat untuk menemukannya.
" Dengar ya, aku adalah seorang wanita hamil. Anak di dalam perutku ini adalah anak dari pria lain, tepatnya anak ini adalah anak dari pria yang kau anggap adalah musuh mu. Apa kau tidak takut dengan resikonya? Cobalah untuk pikirkan lebih dulu, aku bisa saja membalas apa yang kau lakukan kepada ku juga anakku. "
Ana tersenyum.
" Istrimu memang tidak waras, tapi aku tidak seperti itu. "
Rigo terlihat lagi-lagi kesal.
" Baiklah, kau akan tetap terkurung di sini sebelum kau menyetujui apa yang aku inginkan. " Rigo keluar dengan wajah marah, menutup pintu dengan kasar.
__ADS_1
Dua hari berselang, dua hari pula kakak iparnya Jordan yang bernama Gorge begitu sibuk mencari keberadaan Ana melalui semua koneksi.
" Ah, ini dia! " Gorge menemukan rekaman mobil tanpa plat yang membawa Ana melintas. Ternyata di tengah perjalanan mereka sempat memindahkan Ana ke mobil lain yang sudah menunggunya, lalu dua mobil itu pergi ke arah yang berlawanan.
" Bagus! Aku sudah akan dapat! " Gorge terus memantau kemana arah perginya mobil itu, lalu ketika mobil itu berhenti di sebuah gedung yang sudah lama tidak terpakai, tapi terlihat begitu rapih. Ana di keluarkan dari dalam mobil dengan posisi Ana yang masih belum sadarkan diri.
Gorge mengeryit bingung karena seperti pernah melihat pria berkaca mata dan tampilannya sangat rapih. Gorge memfokuskan kearah wajah pria itu lalu memotretnya. Gorge mulai mencari tahu wajah pria itu, lalu tak lama munculah biodatanya. Jordan hanya bisa diam meksipun ia sangat penasaran, tapi karena kakak iparnya itu sangat tidak suka ada suara Selain miliknya ketika sedang fokus mau tak mau Jordan hanya bisa menunggu dengan tenang meski sulit sekali.
" Steve Clork? Bekerja di perusahaan besar yang bergerak di bidang minuman anggur. " Gorge sebentar berpikir, segara setelah itu dia mencari tahu siapa pemimpin perusahaan itu, dan munculah wajah Rodrigo atau Rigo.
" Kau kenal orang ini? " Gorge menunjuk wajah Rigo, Jordan nampak berpikir sebentar.
" Itu, dia sepertinya pria yang menikah dengan Lisa. "
Gorge mengangguk paham.
" Kau tahu kemana saja istrimu pergi belakangan ini? " Tanya Gorge.
" Beberapa hari yang lalu dia sempat pergi ke pusat belanja. "
Setelah mencari tahu melalui rekaman kamera pengawas dari gedung pusat belanja itu, Jordan benar-benar di buat terkejut karena melihat Rigo seperti begitu tertarik kepada Ana.
" Itu, dia benar-benar suaminya Lisa kak! "
__ADS_1
" Jangan gegabah dulu, kita cari tahu apa masalahnya. Beri aku satu hari saja lagi, aku janji akan menyelesaikan masalah ini. '' Ucap Gorge.
Bersambung.