Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 88


__ADS_3

Rigo terkekeh karena menganggap ucapan Ana adalah gurauan semata. Dia mengangguk saja mengiyakan tanpa memilki kepercayaan sedikitpun, biarlah batinnya memiliki pendapat sendiri tentang Ana. Mungkin ini memang terbilang tidak masuk akal, tapi Rigo benar-benar tertarik dengan Ana. Memang tidak cantik, tapi Rigo merasa kalau senyum Ana benar-benar membuatnya terpesona. Aneh, padahal dulu dia selalu berada di lingkungan wanita cantik, pasangan sebelumnya juga sangat cantik, tapi bagiamana bisa dia begitu terpana oleh gadis biasa saja seperti Ana? Entah dari mana perasaan itu timbul, sepertinya Rigo tak akan bisa menolak perasaan itu.


Ana menghela nafasnya, sungguh dia benar-benar sudah malas melayani Rigo yang malah tersenyum tiada henti entah apa yang sedang di pikirkan nya. Apakah mungkin karena wajah Ana terlalu biasa saja sehingga dia tidak percaya kalau dia sudah menikah alias ada laki-laki yang mau menikahinya? Ah membangun seperti itu membuat Ana merasa kesal dan jengkel sendiri.


" Ngomong-ngomong apa kau masih kuliah? " Tanya Rigo lagi yang tak ingin obrolan mereka berhenti begitu saja dan harus segera berpisah.


" Sedang cuti, soalnya aku sedang hamil. "


" Pft! "


Ana ternganga heran karena Rigo malah seperti ingin terbahak-bahak mendengar ucapannya barusan. Sementara Rigo, pria itu benar-benar tidak tahan untuk tertawa karena mengaggap Ana semakin mengada-ada, yah dia mengira kalau Ana pasti tidak nyaman berada di dekatnya dan mengatakan hal tidak masuk akal agar Rigo segera pergi dari sana. Tapi karena masih belum ingin berpisah, Rigo tak mengindahkan ucapan Ana dan lagi-lagi mengangguk saja.


" Kau benar-benar sangat lucu. "


Ana terperangah lagi dengan anehnya Rigo. Padahal dia tidak melawak sama sekali, dia juga tidak punya hobi seperti itu, tapi kenapa pria di hadapannya malah terus tersenyum dan tertawa membuatnya seperti seorang pelawak saja.


" Terimakasih banyak untuk pujiannya, tapi apa yang aku katakan adalah sungguhan kok. "

__ADS_1


" Iya, iya deh. "


Ana menggeleng semakin heran, memang kalau orang sudah akan gila sulit sekali untuk di buat mengerti.


" Aku pergi menyusul Ibuku dulu ya? " Ana segera melangkahkan kaki untuk menyusul Moana, sungguh memang sangat aneh pria itu. Bibir dan wajahnya terlihat tulus, ramah dan hangat, tapi perasaan tertekan yang di rasakan Ana hingga membuatnya gelisah tak bisa ia tolak. Memang tidak masuk akal karena pada pertemuan pertama dia juga langsung merasa seperti itu, sepertinya akan lebih baik jika tidak berurusan dengan pria itu, batin Ana.


Setelah melihat Moana, dengan segera Ana menghampiri, dia ikut memilih buah untuk Soraya dan mencoba menyibukkan diri sebisa mungkin agar fokusnya tak lagi dengan pria asing yang ramah tapi membuatnya waspada begitu kuat.


Setelah selsai membeli buah, Moana dan Ana segera membayar belanjaan mereka, lalu langsung pergi untuk menemui Soraya. Untunglah pria asing yang aneh itu tidak lagi mengganggunya sehingga segera dia bisa pergi dari sana.


Hampir dua jam di dalam perjalanan, akhirnya Moana dan Ana sampai di rumah sakit tempat dimana Soraya si rawat. Berbeda dengan Moana yang langsung masuk begitu sampai di depan pintu kamar ruangan Soraya di rawat, Ana memilih untuk sebentar tinggal di sana dan menenangkan diri agar tidak terbawa suasana dan jangan sampai membuat Soraya yang katanya mengalami depresi menjadi semakin depresi.


" Kak, ini makan ya? Rotinya juga di makan, ini susunya. " Ucap Moana sembari menyodorkan makanan ke hadapan Soraya. Tidak mengucapkan terimakasih, Soraya justru menjauhkan semua makanan itu dari hadapannya tanpa bicara membuat Ana mengerti kalau depresi juga bisa dengan diam terus seperti orang bisu.


" Kak, Dokter bilang kakak menolak sarapan tadi pagi, ini sudah hampir siang kan? Makan ya kak, supaya kakak cepat pulih. "


" Kau seharusnya senang kalau aku tidak pulih kan? "

__ADS_1


Moana menghela nafas, rasanya benar-benar ingin sekali membentak Soraya sesuka hatinya, tapi mengingat betapa malangnya dia beberapa saat lalu membuatnya urung dan memilih untuk mengalah saja dulu.


" Kenapa kau membawa dia kemari? Kau ingin semakin menyiksaku hah? Tidakkah kalian berdua malu? Kalian ini sekarang adalah wanita yang menjadi pasangan pria ku, apa kalian tidak tahu malu datang menemui ku seperti ini? "


Ya ampun!


Ana membuang nafas sebalnya, dia memutar bola matanya dengan tatapan jengah. Padahal baru saja dia percaya kalau Soraya benar-benar depresi, dan ternyata Soraya telah membuktikan sendiri bahwa dia bukan depresi berat. Yah, mungkin memang sih ada dia merasakan depresi, tapi yakin sekali bukan karena apa yang terjadi dengannya beberapa waktu lalu, depresinya adalah karena kehilangan Jordan, juga menyajikan Kendra menikah dengan adiknya sendiri.


" Kak, berhentilah mengatakan omong kosong. Sedari kemarin aku terus manahan diri karena yang kakak maki adalah aku saja. Ana sekarang sudah menjadi anak ku juga, jadi Kakak tidak boleh seperti itu padanya. "


Soraya ternganga heran sebentar lalu terkekeh seolah meremehkan ucapan Moana barusan.


" Anak mu juga? Kau ini sudah gila ya? Kau tahu berapa beda usia kalian berdua kan? Berhentilah sok keibuan, kau saja masih tidak pecus mengurus diri sendiri. Jika saja tidak ada aku, kau bukan hanya tidak bisa melakukan apapun, tapi kau juga tidak mungkin mendapatkan gelar sarjana. "


Moana mengepalkan tangannya, sungguh dia sangat kesal dengan apa yang dikatakan Soraya. Padahal dulu dia sempat bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya, tapi karena Soraya menikah dengan Kendra dan tidak bisa mengurus Ibunya yang sedang sakit, Moana menggantikan untuk mengurus Ibunya dan uang kuliah di bayar oleh Kendra karena Moana tidak bisa membagi diri menjadi tiga sekaligus yaitu, untuk bekerja, merawat Bu, dan kuliah. Jadi dimana letak salahnya?


" Kalau begitu terimakasih untuk pemberian yang kakak berikan padaku, aku benar-benar bodoh karena tidak menyadari betapa baiknya kakak selama ini, maafkan aku yang tidak berguna ini ya? Maaf karena terlalu sibuk mengurus Ayah dan Ibu sendirian hingga tidak mampu mencapai gelar sarjana dengan kerja kerasku sendiri. "

__ADS_1


Soraya terdiam tak berani menanggapi ucapan Moana. Sadar benar lagi-lagi dia salah bicara dan mengatakan apa yang seharusnya tidak dia katakan.


Bersambung.


__ADS_2