Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 70


__ADS_3

Setelah hari itu, Jordan dan juga kedua orang tuanya memutuskan untuk memberikan waktu kepada Kendra dan Ana untuk tenang hingga kembali bisa untuk mereka berbicara dan mencari solusi terbaik dari masalah ini. Semua jelas terasa begitu berat untuk Jordan, tapi dia juga tidak bisa memberontak dengan keputusan Kendra, karena bagaimanapun Ana adalah putrinya meski Jordan sendiri adalah suaminya Ana.


Untunglah Ana masih rajin membalas pesan darinya, tak lupa juga dia terus mengingatkan Jordan agar tetap makan apapun kondisinya. Demi bisa makan Jordan meminta satu hal dari Ana, yaitu dia akan selalu meminta Ana menerima panggilan video darinya untuk menemani makan nanti.


Hari ini Ana yang sudah berjanji dengan Moana untuk menemani memilih gaun pernikahan akhirnya berangkat ke butik karena Moana sudah mengirim pesan mengabari bahwa dia sudah berada di sana dan sekarang sedang menunggu Ana saja.


Sedikit macet hingga Ana datang agak lama dari jam mereka untuk bertemu. Tapi untunglah karena butik juga masih buka hingga beberapa jam kedepan jadi mereka masih memiliki banyak waktu untuk memilih dengan santai.


" Bibi, eh! Maksudku kak Moana suka yang seperti apa? Tertutup atau terbuka? Atau suka yang agak nerawang? "


Moana terkekeh, sebenarnya tidak masalah juga mau di panggil apa oleh Ana, hanya saja dia tidak pernah menyangka kalau ada masanya Ana akan merasa kaku seperti ini.


" Ana, Jagan kaku begitu. Apapun panggilannya kita tetap saudara kan? "


Ana tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Iya sih, cuma kalau panggil Bibi itu kan beberapa waktu lalu Ayah menikah dengan Bibi Soraya. Kala sekarang mau panggil Bibi agak tidak pantas, Kak Moana kan masih muda. "


Moana menghela nafas, sebenarnya agak malu juga dia meminta Ana menemani untuk memilih gaun, tapi bagaimana lagi karena Kendra lah yang memintanya mengajak Ana agar Ana tak melulu di rumah dan merasa suntuk. Sebenarnya masalah kehamilan Ana juga dia baru di beritahu oleh Kendra karena Kendra sempat curhat kepadanya meminta pendapat, tapi Kendra meminta Moana agar bersikap biasa dan jangan menyinggung soal kehamilan Ana sekalipun.


" Ana, apapun yang terjadi di antara Ayahmu dan juga kakakku, aku tetap merasa bahagia memiliki mu sebagai keluargaku, aku suka bersamamu karena kau termasuk adik manis yang baik hati. Kau sudah mengabulkan keinginan ku yang sedari dulu menginginkan seorang adik. "


Ana tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia juga merasa bahagia memiliki Moana yang begitu dekat dengannya. Dulu boleh saja dia dekat dengan status Keponakan dan Bibi, tapi tidak ada salahnya kalau sekarang sebagai kakak adik kan?


Tak lama mereka melanjutkan lagi kegiatannya, Moana dan Ana sudah memilih tiga gaun, sekarang tinggal Moana mencobanya. Satu persatu Moana gunakan dan ia pamerkan kepada Ana niatnya hanyalah untuk meminta pendapat darinya, Ana boleh saja tersenyum dan mengacungkan Ibu jarinya, tapi hatinya justru merasa sedih. Dia jadi teringat momen pernikahannya dengan Jordan. Memang tidak mewah, bahkan Ana juga tidak menggunakan gaun pernikahan sama sekali, tapi mengingat hari dimana Jordan bersumpah kepada semua orang yang menjadi saksi dan juga Tuhan membuatnya tak bis lupa.


Sekarang tinggal gaun yang terakhir, dan gaun inilah yang menurut Ana paling cocok di kenakan oleh Moana sehingga Moana memutuskan untuk menggunakan Gaun itu di pesta pernikahannya nanti.

__ADS_1


" Kakak yakin ingin menggunakan itu? Jangan hanya karena aku menyukai itu kakak jadi tidak enak memilih yang lain, yang akan menikah kan kakak sendiri. " Ucap Ana karena merasa tak enak saat Moana langsung mengiyakan pilihan Ana tanpa berpikir dulu.


Moana menghela nafas, dia mencubit pipi Ana karena merasa gemas dengannya.


" Aku juga menyukai gaun itu, jadi jangan berlebihan pikir. "


" Jadi kau tidak mengajak ku kesini karena ingin pergi bersamanya? "


Ana dan Moana menoleh ke arah sumber suara. Mereka sempat terdiam sebentar dengan tatapan terkejut melihat kedatangan Soraya di sana.


" Kakak? Kenapa kakak datang kesini? " Tanya Moana.


" Kenapa? Apa kau lupa aku ini kakak mu? Seharusnya kau memberitahu kakak bukan orang asing. "


Moana menghela nafasnya. Padahal masalah undangan saja tidak jelas bagiamana, sekarang ingin di libatkan soal memilih gaun pengantin? Yakin sekali kalau semua mengandalkan Soraya, pernikahannya akan berantakan bahkan bisa jadi pernikahannya jadi di batalkan karena kesiapannya yang nol persen.


Soraya membuang nafas sebalnya. Iya dia tahu masalah undangan dia memang bersalah karena tidak konsentrasi memikirkan Jordan yang begitu berubah akhir-akhir ini. Sebagai seorang kakak jelas dia ingin memperbaiki kesalahannya dengan melakukan hal lain, tapi saat datang kesana dia malah begitu terkejut melihat Ana setelah ia di tolak ikut pergi memilih gaun oleh Moana tadi.


" Kakak minta maaf soal undangan itu, pulang dari sini kakak akan segera mengurusnya. "


" Sudah tidak ada waktu lagi, kak. Undangan juga butuh waktu untuk mendesain, denah dan lainnya. Aku juga butuh waktu untuk mengantar undangan itu, jadi tidak usah repot-repot, aku sudah menghubungi semua orang yang ingin aku undang lewat telepon. "


Soraya terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.


" Ya sudah, aku menemui pelayan butik tadi untuk membahas beberapa hal tentang gaun pernikahan. " Ucap Moana segera dia berjalan menuju dimana si pelayan butik tadi berada. Ana melihat ke arah Moana yang memberikan kode untuk segera menyusulnya dan meninggalkan Soraya di sana. Baru saja akan melangkah ucapan atau pertanyaan Soraya membuat Ana terhenti.


" Apa yang kau lakukan di rumah sakit waktu itu bersama Jordan? "

__ADS_1


Ana berbalik badan dan menatap Soraya yang juga tengah menatapnya.


" Bukan urusan Bibi Soraya, sekarang Bibi Soraya adalah orang asing untuk kami, karena kami tidak suka sok kenal dengan orang asing, jadi aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabnya. " Ana meninggalkan seulas senyum membuat Soraya menahan kesal dan kecewa.


" Apa kau senang sudah mencuri Jordan dariku? "


Ana terdiam, sungguh dia kesal sekali mendengar pertanyaan Soraya apalagi melihat tatapan Soraya yang mulai memperlihatkan kemarahan untuknya seolah dia adalah orang ketiga di dalam hubungan rumah tangganya bersama Jordan.


" Jordan bukan barang yang bisa di curi, dia itu manusia yang punya akal dan hati. Jordan sekarang tentu saja punya otak yang sehat sehingga bisa memilih pilihan yang benar. "


Soraya mengepalkan tangannya menahan kesal.


" Maksud mu otaknya tidak sehat ketika bersamaku? "


" Benar sekali! " Ana tersenyum.


Soraya semakin menekan kuat kepalan tangannya.


" Dasar pembunuh! "


Ana mengeryit menatap Soraya karena dia tidak paham dengan maksud tuduhan Soraya barusan.


" Wanita yang begitu lahir sudah membunuh Ibunya, apa kau tidak merasa Maruk karena merebut milik orang lain setelah merebut nyawa Ibumu? "


Ana terdiam dengan wajah syok, matanya menitihkan air mata.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2