
Bak balas dendam, Jordan benar-benar tak membiarkan Ana istirahat dengan baik malam ini. Dia seperti kerasukan hingga tanpa sadar sudah tidak lagi Ingat kalau tubuhnya sangat lemah beberapa saat lalu, dia juga merasa seperti dulu sebelum menolak semua makanan. Rasanya sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melakukan hubungan suami istri dengan Ana setelah beberapa waktu ini berpisah. Apakah ini karena sudah cukup lama dia tidak melakukanya? Ataukah ada perasaan istimewa yang mencampuri hingga rasanya jadi lebih dahsyat padahal melakukan hubungan badan terbilang biasa untuk Jordan meski sebelum menikahi Ana.
Beberapa kali mereka melakukannya tapi tetap terus menahan suara agar tak membuat Kendra menyadari ada yang tidak beres mengingat kamar mereka berdekatan. Jika ditanya kenapa Jordan bisa segila itu maka dia akan menjawab, tidak tahu! Ini untuk pertama kali dia merasakan ada sensasi berbeda saat melakukan hubungan badan, jujur saja ketika melakukan pertama kali dengan Ana meski tahu itu adalah pertama kalinya untuk Ana dia tak merasakan dahsyatnya perasaan seperti sekarang ini. Rasanya seperti narkoba, melayang bahagia hingga tidak ingin berhenti dan terus menikmatinya sampai entah kapan. Yah, tapi apalah daya karena dia adalah manusia biasa yang pada akhirnya juga akan kelelahan.
Jordan memeluk Ana erat-erat begitu dia tertidur, dan ini adalah kali pertama Jordan memeluk Ana karena dulu Ana yang akan terus berinisiatif dan memeluk Jordan sepanjang malam.
" Bagaimana kau bisa kembali berenergi secepat ini? " Ucap Ana lirih sembari menatap wajah Jordan yang benar-benar tertidur pulas karena begitu kelelahan. Ini sudah subuh, jadi Ana tidak ingin tidur karena takut kesiangan dan Ayahnya akan datang ke kamar di saat dia belum siap nanti.
Ana menggerakkan jemarinya perlahan meletakkan telapak tangannya di wajah Jordan. Ingat sekali dia bagaimana pucatnya Jordan beberapa saat lalu, pergelangan tangannya juga masih ada bekas lebam di sekitar bekas jarum infus. Sungguh tidak tahu pesona apa yang dimiliki Jordan, tapi sepertinya Ana mulai menyadari hatinya yang perlahan bergerak menuju ke Jordan.
" Aku benar-benar penasaran, Jordan. Bagiamana bisa pria yang tadinya terlihat sangat amat mencintai seorang wanita hingga rela menjadi selingkuhannya tiba-tiba berubah tak menginginkannya lagi? Aku takut kalau kau hanya sedang ingin bermain-main, Jordan. " Ucap Ana lirih, dia pikir Jordan tidak mungkin mendengarnya, tapi sayang sekali karena saat Ana menempelkan telapak tangannya di wajah Jordan, pria itu sebenarnya sudah terbangun meski tak membuka matanya.
Wajar saja jika kau belum bisa mempercayai ucapan ku, Ana. Tidak apa-apa, perlahan aku akan menunjukan betapa besar tekad ku untuk bersama denganmu, hidup denganmu juga anak kita.
Waktu untuk sarapan pagi. Ana datang kemeja makan setelah memastikan Ayahnya sampai duluan kesana karena takut jika dia lebih dulu ke meja makan Ayahnya akan datang ke kamarnya dan melihat Jordan di sana.
" Nak, kenapa matamu merah sekali? Kau tidak tidur semalaman? " Tanya Kendra dengan tatapan khawatir, tangannya juga mengusap wajah Ana dengan lembut seperti biasanya.
Ana tersenyum, lalu mengangguk.
" Semalam aku menonton drama kesukaan ku, jadi lupa waktu, dan tidak sadar kalau hati sudah pagi. "
Kendra menghela nafas.
" Pantas saja Ayah seperti mendengar suara dari kamarmu semalam. "
__ADS_1
Ana menelan salivanya, dia jadi tidak berani lagi membahas tentang itu karena takut salah bicara dan kelepasan nantinya.
" Oh iya, besok kau ada acara tidak? " Tanya Kendra kepada Ana di sela kegiatan sarapannya.
" Tidak, ada apa? "
" Besok temani Bibi Moana untuk memilih gaun pernikahan bisa? "
" Bisa! Ya ampun aku hampir lupa dia sudah akan menikah ya? "
Kendra tersenyum lalu mengangguk. Sebenarnya dia agak merasakan ada yang aneh dari Ana, karena hari ini Ana terlihat lebih ceria dari beberapa satu setelah masalah ini terjadi. Ana tersenyum lebar untuk hal kecil yang cukup lama ya Kendra lihat setelah masalah di rumahnya terjadi karena Soraya tentunya.
" Ana, apa pernikahan Bibi Moana begitu membuat mu senang? "
" Maksud Ayah? "
Ana terdiam sebentar, mungkinkah? Apa karena kehamilannya? Atau karena dia menghabiskan malam bersama dengan Jordan?
" Sudahlah, apapun itu yang penting membuatmu bahagia Ayah juga akan senang. "
Ana memaksakan senyumnya, apakah benar apa yang dikatakan Ayahnya barusan? Jika menyangkut Jordan apakah dia bisa menerimanya dan merasa senang? Tidak kan?
Setelah sarapan Kendra langsung berangkat bekerja, Ana yang tadinya ingin mengatakan tentang kehamilannya jadi menahan dulu karena dia ingin memeriksakan ke Dokter terlebih dulu agar semuanya pasti barulah memberitahu Ayahnya.
" Kau sudah selesai mandi? " Tanya Ana kepada Jordan yang kini duduk di pinggiran tempat tidur. Dia berjalan masuk sembari membawa sepiring makanan untuk Jordan agar perut Jordan tidak kosong ketika pulang ke rumah nanti.
__ADS_1
Jordan tersenyum dan mengangguk.
" Terimakasih karena membiarkan baju dan barang lainnya tetap di sini. "
Ana sebenarnya juga tidak tahu kenapa merasa tidak tega untuk menyingkirkan barang-barang Jordan sesuai dengan perintah Ayahnya, dia memilih berbohong dan mengatakan sudah membakar semua barang Jordan padahal nyatanya masih tersusun rapih di kamarnya seperti saat Jordan masih tinggal di sana.
" Sebenarnya aku tidak ada waktu saja untuk mengeluarkan barang-barang mu. " Bohong Ana sembari memalingkan pandangan membuat Jordan paham sekali jika Ana tengah berbohong.
" Meksipun begitu aku tetap ingin berterimakasih. "
Ana membuang nafasnya, dia duduk di samping Jordan dan menyerahkan piring berisi makanan kepada Jordan. Sekarang ini Jordan terlihat sangat segar dan sehat sehingga dia merasa tidak perlu menyuapi Jordan lagi.
" Kau tidak ingin menyuapiku lagi? "
" Kau terlihat mampu melakukanya, Jordan. "
Jordan tersenyum, lalu dia menerima piring makanan itu dan memakannya perlahan. Benar-benar berbeda sekali kalau Ana yang menyuapkan makanan ke mulutnya, tapi meksipun tidak seenak dari tangan Ana, setidaknya dia bisa menelan makanan itu dan tidak boleh juga selalu menyusahkan Ana.
" Hari ini kau ada yang mau di lakukan? " Tanya Jordan setelah menelan habis sepiring makanan yang di bawa Ana.
" Ada, aku mau ke Dokter untuk memeriksakan kehamilan, aku juga ingin memastikannya agar lebih jelas. Aku baru mengeceknya dengan alat penguji kehamilan di rumah, bisa saja hasilnya salah kan? "
" Aku akan mengantar mu, nanti baru kabari orang tuaku, mereka pasti sangat bahagia. " Jordan tersenyum membayangkan wajah bahagia orang tuanya kalau sampai mendengar kabar kehamilan Ana.
" Bagaimana kalau Ayahmu sampai tahu aku pergi denganmu? " Tanya Ana dengan tatapan khawatir.
__ADS_1
" Aku tidak perduli, Ana. Mau sampai kapan aku menghindar? Nanti atau kapan pun aku harus tetap menghadapi Ayahmu, kalau hanya di pukuli sampai babak belur aku benar-benar akan menerimanya karena luka itu jelas tidak sebanding dengan luka batin yang Ayahmu rasakan karena aku. "
Bersambung.