Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 67


__ADS_3

Soraya melemparkan tasnya ke atas tempat tidur, menyusul dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan wajah merah menahan marah. Beberapa hari belakangan dia sengaja tidak mendekati Jordan dulu karena ingin memberikan waktu kepada Jordan agar bisa baik-baik berpikir dan merasa yakin kalau Jordan pasti akan merindukannya. Semua yang terjadi ini benar-benar di luar ekspektasi nya, karena Jordan yang dulu ia kenal adalah Jordan yang sangat mencintainya, dan tidak akan mungkin bertahan lama jika tidak bertemu dengannya.


Nyatanya semua sudah berbeda, Jordan justru asik bersama dengan wanita lain ketika dia sedang ingin mengobati miom yang katanya akan membuat dia kesulitan hamil nantinya. Memang sih wanita lain yang ia maksud adalah istrinya Jordan, tapi semua juga tahu bagaimana proses Jordan menikah.


" Kak, kakak sudah menghubungi orang yang mencetak undangan? " Tanya Moana yang sudah beberapa waktu menunggu janji Soraya. Bukan tidak ingin mengurusnya sendiri, hanya saja ini adalah permintaan Soraya karena dia mengatakan jika dia memiliki kenalan pencetak buku undangan yang bagus, harganya juga akan murah jika keluarganya yang memesan.


" Memang kau tidak bisa melakukanya sendiri? Yang mau menikah kan kau, bukannya aku! " Moana terdiam tak bisa berkata-kata, bagaimana dia syok jelas hanya dia yang tahu. Padahal pernikahannya sudah akan di gelar dua Minggu lagi, dia pikir undangan akan selesai dia atau tiga hari lagi jadi dia ingin menyelesaikan soal undangan dan segera membagikannya. Sungguh di luar dugaan karena sepertinya Soraya tiba-tiba tidak ingin terlibat, dan yang lebih mengejutkannya lagi Soraya justru berubah Seperti bukan dirinya. Padahal biasanya Soraya akan berbicara dengan nada rendah entah dia sedang kesal atau tidak, tapi kali ini dengan lantang Soraya menunjukannya.


" Kak, aku tidak tahu sebesar apa masalah yang sedang kakak hadapi, tapi jangan melampiaskannya padaku. Aku tidak akan melibatkan kakak soal pernikahanku, jadi lakukan saja apa yang ingin kakak lakukan, jangan meminta tolong padaku karena aku pasti akan sangat sibuk. "


Moana meninggalkan kamar Soraya dengan perasaan marah serta kecewa, sementara Soraya mengusap wajahnya dengan kasar karena beberapa saat tadi dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Sebenarnya kehilangan Jordan adalah sebuah hal yang sangat mempengaruhinya, mulai dari cara berpikir, pengaturan emosi, semua seolah menjadi buntu dan sulit menemukan jalan keluar dari masalah yang di hadapi.


Ingat benar kalau dia lah yah melarang adiknya saat dia akan mencetak undangan dan meminta adiknya melibatkan dia soal undangan, tapi karena sibuk memikirkan Jordan dan masalah yang ada dia jadi lupa dan semua berantakan di luar kendalinya.


Moana terdiam sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, mungkin dia juga sempat kehilangan kontrol tadi, karena tadi adalah kali pertama dia menunjukan rasa marahnya secara langsung dengan kakaknya. Sebenarnya pernikahan ini juga bukanlah hal yang dia inginkan, mengingat dia sama sekali tidak menyukai calon suaminya, tapi dia juga tidak berani menolak karena orang tuanya sudah berjanji untuk menjodohkan Moana dengan calon suaminya dari beberapa waktu lalu.


" Sudahlah, tidak usah pakai undangan segala. Aku telepon saja satu persatu temanku, atau kirim pesan saja. " Gumam Moana seraya menyambar ponselnya.


***


Setelah selesai dengan makan siangnya Ana kini sudah berada di rumahnya sementara Jordan datang ke perusahaan Ayahnya yang sudah beberapa waktu dia absen membiarkan Ayahnya menangani banyak pekerjaan pimpinan dan pemilik perusahaan sendirian. Setelah semalaman bersama dengan Ana, dia juga sudah makan siang bersama jadi dia benar-benar sangat segar sekarang.


" Jordan? " Ayahnya Irdan segera bangkit dari duduknya dan menghampirinya.

__ADS_1


" Dari mana saja kau ini? Kenapa meninggalkan rumah tanpa kabar dan mencabut infus? Kau ini benar-benar membuat kami hampir gila! Kau lebih baik segera hubungi Ibu mu, dia benar-benar seperti orang gila mencari mu kesana kemari. "


Jordan menghela nafas, dia tersenyum melihat begitu perhatiannya kedua orang tuanya. Memang salah sih, semenjak malam dia menghubungi Ana dan Ana membahas tentang kehamilan dia langsung pergi dan tidak memberitahu orang tuanya. Dia tidak membawa mobil, hanya ponsel yang hanya sedikit baterai tersisih, untunglah saja dia bisa membayar dengan satu aplikasi di ponselnya sebelum ponsel itu mati. Sungguh dia terlaku senang sampai lupa mengisi baterai ponselnya, ah dia juga tidak tahu di mana ponselnya sekarang, kemunginan tertinggal di kamar Ana dalam keadaan mati.


" Kau terlihat sehat, dari mana saja kau sebenarnya? " Tanya Ayahnya Jordan yang merasa penasaran juga khawatir.


" Aku semalam bersama Ana, Ayah. " Ayahnya Jordan menghela nafas lega, dia menyeka keringat di keningnya karena perasaan campur aduk begitu melihat Jordan masuk ke ruangannya tadi.


" Kenapa tidak memberitahu kami? Kau tahu bagaimana Ibumu kan? Kau tahu pernah membuat kami syok parah kan? Kau pernah terluka parah, jadi sesibuk apapun kau harus tetap mengabari kami, Jordan. "


Jordan mengangguk sembari tersenyum.


" Meksipun begitu, Ayah senang melihat mu bisa tersenyum seperti ini. Kau makan dnegan baik selama bersama Ana? "


" Kenapa? " Ayah menatap Jordan dengan tatapan bingung, dahinya juga mengeryit.


" Itu karena, aku akan jadi seorang Ayah sebentar lagi! "


Ayah terdiam syok dengan tatapan bengong, dia menatap Jordan kembali karena tak ingin salah dengar.


" Kau bilang apa? "


" Aku akan jadi, Ayah! "

__ADS_1


Ayah memeluk Jordan erat, dia bahagia, bahagia sekali sampai ingin menangis. Sebenarnya dia juga memiliki satu anak perempuan yang sudah menikah, tapi keputusan untuk tidak memiliki anak sudah dipilih oleh anak perempuannya karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan. Harapannya benar-benar hanya Jordan seorang, dan sekarang dia akan mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.


" Selamat, selamat untukmu, Jordan. Ayah bahagia, selamat. "


Jordan mengangguk, dia benar-benar merasa tambah bahagia melihat Ayahnya bahagia. Suara Ayahnya yang biasanya akan terdengar datar atau kesal saat berbicara dengannya kini bergetar menahan tangis karena terharu, yah bagaimanapun dia juga akan menjadi seorang kakek, itu adalah impiannya selama ini meski tak pernah mendesak kakaknya, atau Jordan sendiri.


" Beritahu Ibumu segera, dia pasti akan bahagia mendengar kabar ini. "


" Iya, Ayah. "


" Ngomong-ngomong bagaimana selanjutnya? Kau akan sampai kapan tinggal terpisah dengan Ana? " Tanya Ayah yang tiba-tiba teringat Ana, gadis itu kan masih sangat muda, tentu saja dia sangat membutuhkan suaminya untuk menjaganya apalagi ini kehamilan pertamanya.


" Aku berencana menemui Ayahnya Ana, aku akan memohon untuk di berikan kesempatan. "


" Jalannya mungkin agak sulit, jadi Ayah harap kau benar-benar bulat tekad. "


" Iya, aku tahu pasti tidak akan semudah itu. "


" Nanti kita temui Ayahnya Ana, Ayah akan bantu untuk bicara. "


Bersambung.


__ADS_1


Mampir yuk kesayangan othor ❤️


__ADS_2