
Malam setelah Kendra kembali, tepatnya saat makan malam akan berlangsung. Soraya nampak sendiri di meja makan tak ada satupun anggota keluarga yang lain menemani. Ana jelas dia tahu kalau Ana sedang pergi bersama dengan teman-temannya. Lalu Jordan? Kendra sejenak menatap Soraya tapi tak membuat langkahnya terhenti dan langsung menuju kamar tanpa mau menyapa Soraya terlebih dulu.
Soraya yang sudah bertekad tidak ingin menyapa Kendra malah dibuat bingung dengan sikap Kendra yang semakin acuh padanya. Padahal dia sengaja bersikap seperti itu karena dia ingin Kendra bertanya padanya kenapa Soraya berubah, lalu dia akan pelan-pelan membahas soal perceraian dengannya.
Sepertinya sekarang Soraya harus memikirkan lagi bagaimana caranya untuk memulai pembicaraan lagi. Tapi sudahlah, lebih baik sekarang dia makan dengan baik karena belum tentu setelah malam ini dia masih bisa makan sebaik mungkin.
Berbeda dengan Soraya yang bisa menikmati makan malamnya dengan santai dan begitu menikmati, maka Jordan kini sedang duduk termenung memikirkan baik-baik langkah apa yang akan terjadi setelah semua itu terbongkar. Tapi, semua momen bersama Ana justru kini tengah memenuhi kepalanya. Ana yang setiap malam akan memeluk punggungnya, tersenyum padanya tanpa terlihat canggung akan mengecup bibirnya meski Jordan terus menunjukkan wajah tak suka.
Ana, dia terlalu banyak membuatnya risih, tapi juga membuatnya mulai terbiasa. Cara dia memberikan sentuhan, cara dia yang tak mau mengalah dan memaksa Jordan untuk memeluknya, meksipun Jordan merasa kesal harus meladeni bocah, nyatanya kebiasaan yang baru berlangsung satu bulan itu membuatnya begitu terbiasa hingga tidak ingin kebiasaan itu berakhir begitu saja.
Jordan melihat ke ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Dia merah ponselnya dan melihat pesan yang dikirimkan Ana untuknya. Masih seperti biasa, Ana akan mengingatkan agar jangan lupa makan, dan bertanya apakah dia sudah berada di rumah. Ana memang hanya akan mengirim pesan, itu semua karena Jordan sering kali ogah mengangkat telepon dari Ana.
" Ana, sikapmu yang ambigu itu benar-benar membuatku gila sendiri. " Gumam Jordan, dia mengembalikan ponselnya ke atas tempat tidur tanpa membalasnya.
Di dalam kamar, Kendra yang baru saja selesai mandi dan memakai baju polos rumahan segera turun ke bawah untuk makan malam. Jujur dia agak heran karena ini adalah pertama kalinya Soraya makan tanpa menunggunya, dia juga nampak begitu menikmati seolah makanan akan lebih indah ketika sedang makan seorang saja. Tak mau banyak membuang waktu, juga tidak ingin memikirkan apapun yang hanya akan membuatnya pusing sendiri dan tidak memiliki manfaat apapun untuknya. Tak mengatakan apapun, Kendra segera meraih piringnya sendiri, menuangkan makanan ke dalam piringnya, lalu makan dengan mengabaikan keberadaan Soraya.
Soraya sudah selesai lebih dulu, dia bangkit dari duduknya, dan masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan diri agar bisa leluasa berbicara dengan Kendra nantinya. Soraya menarik nafas dalam-dalam berharap ucapannya nanti tak membuat Kendra begitu terkejut, selama ini kan yang dia tahu Kendra sangat mencintainya, Kendra juga sangat mengutamakan Soraya dalam hal apapun. Perceraian tentunya akan membuat Kendra sangat sedih, bahkan dia juga sempat memikirkan bagaimana seandainya jika Kendra sampai mengancam untuk bunuh diri, atau bahkan memohon padanya agar jangan meninggalkannya.
Setelah beberapa saat, Kendra masuk ke dalam kamar, dan Soraya yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur itu segera bangkit dari duduknya, dia menatap Kendra dan tersenyum.
__ADS_1
" Bisa kita bicara sebentar? "
Kendra terdiam sebentar, tapi tak lama dia mengangguk setuju. Dia berjalan mendekati Soraya, dan dengan gerakan tangannya dia mempersilahkan Soraya juga untuk duduk.
" Ada apa? " Kendra sebentar menatap Soraya, tapi tak lama dia menatap ke arah lain. Entah perasaannya saja atau bukan, tapi Soraya kali ini benar-benar ingin menunjukkan kepada dirinya seperti apa dia yang sebenarnya.
" Kendra, aku tahu hubungan kita lima tahun terakhir ini selalu baik-baik saja. Kita hidup bahagia dan hampir tidak pernah bertengkar, kita sudah melewati lima tahun terakhir ini hingga aku merasa seperti batu kemarin saja. "
Kendra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan kesal. Kendra? ini pertama kalinya Soraya memanggil namanya secara langsung, nada bicaranya yang hati-hati seperti sedang menjaga agar Kendra tidak marah atau sedih dengan apa yang akan di ucapkan, tapi itu justru membuat Kendra merasa bahwa Soraya sudah akan menghancurkan segalanya.
" Bicaralah intinya saja, Soraya. " Ucap Kendra yang membuat Soraya tersentak sebentar tak bisa bicara. Soraya? Cara memanggil Kendra dan juga nada bicaranya barusan benar-benar membuat dada Soraya berdenyut nyeri. Dia sudah terbiasa mendengar panggilan sayang dari Kendra dengan nada yang begitu lembut bahkan saat marah sekalipun, tapi yang barusan benar-benar tidak biasa untuknya.
" Kendra,... "
Kendra mengeratkan kepalannya. Bohong jika Kendra tidak memiliki dugaan apa yang akan di katakan Soraya selanjutnya, tapi meski begitu bukanlah harapannya jika harus berpisah.
" Kendra, mari kita bercerai saja. "
Bak di sambar petir terdahsyat, bak di hujan samurai panjang yang tajam, Kendra bahkan sampai menahan nafas beberapa detik karena begitu terkejut meski adalah dia menebaknya. Pria itu boleh tak menunjukan kepada Soraya bahwa dia sangat terkejut, tapi jujur saja kalimat yang keluar dari mulut Soraya benar-benar membuatnya hampir tercekik dan berdaya.
__ADS_1
" Kendra, aku tahu kau sangat mencintaiku, aku tahu kau sangat sayang dan perduli padaku, aku juga tahu kalau kau selalu menomorsatukan kebahagiaan ku, tapi aku tetap tida bahagia, Kendra. "
Sudah, Kendra sudah tidak bisa melakukan apapun jika alasan perceraian itu adalah Soraya tidak bahagia. Dia juga tidak ingin mengingat lagi bagaimana Soraya tersenyum ketika bersamanya, semua kenangan indah itu sepertinya tidak memiliki arti bagi Soraya meski dia sudah mengatakan betapa sempurnanya Kendra dalam mencintainya.
" Kendra, kau tidak kekurangan apapun, jadi aku yakin akan banyak wanita yang menginginkan mu. "
Kendra tersenyum kelu, apakah itu sebuah penghiburan? Untuk apa, dan apa tujuannya? Benar, banyak wanita yang menginginkannya.
Aku akan mewujudkan ucapan mu barusan, Soraya.
" Kendra, tolong mengertilah, aku ingin kebahagiaan yang sesungguhnya. "
Kendra menghela nafas, sekarang dia benar-benar tidak bisa lagi diam hanya dengan alasan konyol keutuhan rumah tangga jika pasangannya tak bahagia.
" Baiklah, aku akan memenuhi keinginan mu. "
Soraya yang begitu terkejut, dia terdiam seribu bahasa karena tidak menyangka jika Kendra akan secepat itu setuju.
Bersambung.
__ADS_1