Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 86


__ADS_3

Kendra menggeleng heran melihat tingkah Soraya yang benar-benar diluar dugaannya, padahal jelas Dokter mengatakan jika Soraya begitu terpukul dan mengalami trauma mental. Hah! Kalau Soraya bisa begitu ketus dengan adiknya, terlebih ekspresi Soraya barusan seperti sedang mengibarkan bendera peperangan bagaimana bisa dia akan mempercayai trauma yang di sebutkan Dokter tadi?


Dia bisa melihat benar bagiamana tatapan tulus Moana yang begitu ingin merawat kakaknya, tapi bisa apa dia kalau kalau Kakaknya saja ogah berdekatan dengannya. Sempat sih Kendra merasa bingung kenapa juga Soraya tiba-tiba memeluknya, dia juga merasakan bahwa tubuh Soraya memang bergetar dan dingin, tapi anehnya begitu Moana bersuara dia langsung bersikap sinis tak jelas apa maksudnya.


Apakah dia cemburu? Hah?! Tidak mungkin kan? Bukankah dia sudah mengakui dengan tatapan penuh keyakinan jika selama ini tidak pernah mencintai Kendra sedikitpun? Jordan, hanya pria itu yang selalu ia sebut seolah begitu menjelaskan betapa penting pria itu, dan betapa berartinya hingga tak siapapun mampu menggantikannya.


" Kak, kalau aku pergi siapa yang akan merawat kakak? Biarkan aku tinggal ya? "


Soraya membuang wajahnya ke arah lain. Gila, dia benar-benar merasa bahagia dan terlindungi ketika melihat Kendra tadi datang ke sana. Seketika dia lupa kalau hubungannya dengan Kendra sudah begitu buruk sejak sebulan lebih yang lalu. Pelukan tadi, tubuh Kendra benar-benar membuat Soraya nyaman dan membuatnya sangat tidak rela jika Moana sudah menggantikan tempatnya sehingga tak bisa lagi dia memeluk Kendra. Kenapa? Kenapa harus ada perasaan seperti itu? Apakah karena memang Kendra selama ini membuatnya nyaman? Ataukah sebenarnya dia mencintai Kendra tanpa dia sadari karena dia terlalu fokus dengan Jordan?


" Tidak usah, aku tahu kau hanya sok baik dan ingin membangun citra mu agar terlihat baik kan? Jangan harap aku akan memuluskan rencana mu. "


Ucapan itu sesungguhnya cukup untuk membuat Moana merasa sakit karena barisan kalimat itu seperti menggambarkan betapa buruknya dia selama ini, dan sekalinya ingin berbuat baik anggapan Soraya adalah tindakan untuk pencitraan yang bahkan tidak sekalipun terlintas di benaknya. Tidak, saat ini bukan waktunya untuk dia tersinggung, meksipun dia merasa tersentil egonya, nyatanya kakak yang juga dia sayangi pantas untuk mendapatkan perhatian dan cinta darinya.


" Kak, anggap saja aku seperti itu. Tapi untuk kali ini biarkan aku merawat mu dengan baik ya? " Senyum lembut itu terbit di akhir kalimat, tatapannya yang begitu hangat serta sentuhan tangannya yang terasa menenangkan kini tak lagi bisa di rasakan oleh Soraya. Wanita itu memilih mengacuhkan Moana, menganggap adiknya yang begitu naif sebagai dalang dari luka di hatinya.


" Kau ini tuli ya?! Aku bilang pergi sana! Aku tidak membutuhkan mu! Tidak butuh siapapun! Aku hanya ingin sendiri! "


Moana terperanjak terkejut, ini benar-benar kali pertama Soraya mengucapkan kalimat dengan nada membentak yang amat lantang. Kendra juga sama terkejutnya karena ini adalah kali pertamanya juga melihat betapa berbedanya Soraya dari sebelumnya yang memang sudah sangat aneh.

__ADS_1


" Kak, aku- "


" Berhentilah, Moana. Dia bilang tidak membutuhkan siapapun, jadi ayo kita pulang saja. Ada banyak hal yang harus kita lakukan, jadi berhentilah membuang tenaga mu hanya untuk orang yang bahkan tidak tahu bagiamana cara menghargai, dan tidak tahu cara menangani perasannya sendiri. " Kendra merangkul Moana, mengajaknya keluar dari ruangan itu tanpa menunggu Moana berbosa-basi lagi.


Soraya mengepalkan kedua tangannya, dia meraih selimut yang menutupi tubuhnya, lalu menghempaskan ke lantai dengan kekesalan yang begitu memuncak hingga membuatnya tidak tahan dan menangis sesegukan.


" Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa aku harus merasakan perasaan ini ketika aku berpisah darimu, Kendra? Aku tidak rela, tapi juga tahu kalau aku tidak pantas untukmu. Aku sakit, aku kecewa karena harapan ku yang begitu besar kepada pria lain. Aku mengabaikan mu, mengabaikan perasaan ini karena begitu terlena oleh Jordan, aku menyesal, aku sangat menyesal dengan perpisahan ini. "


Soraya memukuli dadanya kuat karena merasa sesak, sebenarnya dia tidak ingin semarah itu dengan Moana tadi, tapi saat dia tidak sengaja melihat tanda merah yang berarti Moana juga Kendra telah tidur bersama dia jadi tidak bisa mengontrol diri karena emosinya yang langsung naik dan meluap tak tertahankan.


" Kalau saja aku tidak melakukan kesalahan, aku pasti sudah hidup bahagia bersamamu, aku, kita pasti sudah memiliki anak juga kan? "


Moana sebentar menatap Kendra yang tak menunjukan ekspresi apapun, haruskah dia bertanya detik itu juga bagiamana tanggapan Kendra setelah mendengar pengakuan dari kakaknya yang dulunya adalah wanita yang amat dicintai suaminya itu? Tidak, dia tidak mungkin menanyakannya karena bagaimanapun masa lalu akan tetap ada, jika terus membahasnya bukanlah sama artinya membuat suaminya terbelenggu oleh masa lalunya bersama Soraya?


" Kau masih ingin memastikan apa lagi? Kakakmu sudah kuat memaki seharusnya dia baik-baik saja. " Ujar Kendra kepada Moana.


" Iya, kita pulang saja. "


Kendra menghela nafas, jika boleh jujur rasa cinta yang ia miliki kepada Soraya memang gak total menghilang dari hatinya, tapi menerima kembali Soraya tentu adalah hal yang tidak akan pernah dia lakukan. Bukan karena kemalangan Soraya beberapa saat lalu, hanya saja luka dari pengkhianatan yang dia dapatkan dari Soraya seolah membuat larangan tersendiri untuk wanita itu kembali masuk ke dalam kehidupannya.

__ADS_1


Di dalam perjalanan pulang Kendra dan juga Moana sama sekali tak bicara. Kendra fokus mengemudi sedangkan Moana terus memikirkan ucapan kakaknya yang begitu menggema di telinganya. Sampai dirumah mereka masih tak bicara, Kendra sebentar mengetuk pintu kamar Ana yang terkunci, karena Kendra pikir Ana sudah tidur maka dia segera masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa saat setelah mereka sama-sama sudah mandi dan berganti pakaian. Moana duduk di tempat tidur karena ingin membahas tentang Soraya.


" Kak, ucapan kak Soraya tadi apakah aku boleh tahu tanggapan kakak tentang itu? "


Kendra menatap Moana mencari tahu maksud dari pertanyaan Moana. Tapi karena tak tahu apa maksudnya, jelas lah Kendra memilih untuk bertanya.


" Tanggapan? Kenapa aku harus menanggapinya? "


Moana mencengkram selimut tebal yang kini membungkus kedua kakinya.


" Apakah masih mungkin kak Kendra kembali bersama Kak Soraya? "


Kendra menghela nafasnya terlebih dulu.


" Sejak aku tahu dia mengkhianati ku, Soraya sudah tidak akan bisa masuk lagi ke dalam kehidupan ku. "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2