Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 53


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Jordan sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit. Hari ini adalah hari yang selama ini ditunggu Jordan agar bisa segera menemui Ana, tapi setelah hari dimana dia bertemu Ana dia sekarang merasa tidak rela keluar dari rumah sakit. Kenapa? Itu karena dia tidak bisa kembali ke rumah dimana Ana berada, dia tentu akan kembali ke rumah orang tuanya, atau bahkan tinggal di apartemen seperti sebelumnya. Jujur sekarang dia merasa ingin segera menemui Ana, tapi apa yang di ucapkan Ana terakhir kali begitu membekas di ingatannya sehingga mau tak mau dia menahan dirinya dulu untuk sementara ini, berusaha sebaik mungkin mengenali bagaimana dirinya, serta mencari tahu apa yang sebenarnya di inginkan hatinya.


Mungkin ini memang tidak mudah, tapi bukankah semua hal yang terjadi di dalam hidup memang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan? Ini adalah pilihan untuk menentukan seperti apa, dan jalan mana yang akan dia ambil karena ini adalah penentu masa depannya agar tidak akan ada kata menyesal di kemudian hari. Ana, dan Soraya memang memiliki kesan tersendiri baginya, maka apa yang dikatakan Ana adalah jalan yang harus dia jalani sekarang ini.


" Nak, pulang ke rumah Ibu saja ya? " Ajak Ibunya Jordan seraya memeluk lengan Jordan dengan tatapan khawatir. Entah itu mengkhawatirkan kesehatan Jordan, ataukah khawatir kalau saja pada akhirnya Jordan akan memilih tinggal di apartemen dan kembali menjalin hubungan dengan Soraya.


" Ibu, aku butuh ketenangan sekarang ini. Biarkan aku istirahat di tempat yang tenang dan sunyi, aku janji tidak akan melakukan hal yang Ibu khawatirkan. "


Sudah bisa di tebak, Ibunya Jordan hanya bisa menghela nafas pasrah. Sebenarnya dia memang sungguh takut kalau Jordan akan menjalin hubungan dengan Soraya lagi, tapi apalah daya jika anaknya memang tidak ingin menolak wanita itu.


" Jordan, Ibu tidak akan melarang kemana kau akan tinggal setelah ini. Hanya saja, ingat lah bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat kita raih dan kita miliki seutuhnya. Tuhan itu pemilik kehidupan, dia tentu sudah menggariskan jalan kehidupan untukmu, dan Ibu juga yakin satu hal, Jordan. Tuhan pasti akan memberikan apa yang kau butuhkan di banding apa yang kau inginkan. Karena terkadang orang hanya menginginkan sesuatu, tapi tidak tahu kalau sebenarnya itu tidak di butuhkan dalam hidup. "


Jordan terdiam mengartikan kalimat nasehat yang keluar dari bibir Ibunya. Memang terdengar begitu puitis, tapi kalimat dari Ibunya itu cukup membuat hatinya merasa tersentuh, dan sekarang dia akan benar-benar mencaritahu bagaimana dan apa yang di butuhkan oleh hatinya.


" Ibu antar sampai ke apartemen ya? "

__ADS_1


Jordan mengangguk dan tersenyum, dia menjalani tangan Ibunya dari lengannya, lalu merangkul Ibunya sembari membawanya melangkah bersama menuju lobby rumah sakit.


" Ibu benar-benar Ibu terbaik di dunia. " Ucap Jorda yang membuat Ibunya tersenyum bahagia.


Sesampainya di apartemen.


Ibunya Jordan menghela nafas, ini adalah kali pertama dia datang dan masuk ke apartemen yang dulu menjadi tempat tinggal Jordan sebel menikah dengan Ana. Betapa herannya dia karena ternyata semua poster dan photo adalah Soraya, kebersamaan mereka selalu di abadikan di jadikan pajangan di sana. Sungguh Jordan merasa malu sendiri dengan keadaan Apartemennya yang membuat Ibunya terlihat tidak nyaman.


" Kau pasti begitu menggilai wanita itu ya Jordan? " Ibunya Jordan bertanya sembari menatap Photo Jordan bersama dengan Soraya di sebuah pantai dengan senyum bahagia di wajah mereka berdua.


Deg!


Jordan tersentak sendiri dengan pemikirannya barusan. Kenapa? Padahal selama ini dia sama sekali tida pernah memikirkan untuk menyingkirkan poster Soraya juga photo mereka dari apartemennya. Dia bahkan tidak perduli dengan para sahabatnya yang mengejek Jordan karena terlalu berlebihan dalam mencintai Soraya, dia malah berniat memperbanyak koleksi photo mereka berdua, jadi kenapa bisa dia memiliki niat untuk membuang semua photo Soraya? Aneh! Bahkan sekarang dia merasa malu saat melihat semua ruangan apartemennya di penuhi wajah Soraya.


" Jordan, kalaupun ingin menggilai perempuan juga setidaknya harus dengan wanita yang tepat. "

__ADS_1


Jordan menunduk, entah ini bagaimana bisa terjadi, dan bagaimana bisa dia terus merasa malu dengan apa yang terjadi dengannya selama ini. Mungkinkah karena yang mengatakan itu adalah Ibu kandungnya yang selama ini menyayanginya dengan begitu luar biasanya? Ataukah karena memang hatinya mengalami perubahan yang tidak dia sadari? Sungguh Jordan semakin pusing, tapi dia masih harus berusaha lebih keras dalam hal ini.


" Ibu, kenapa Ibu tidak menyukai Soraya? "


Ibunya Jordan berbalik menatap Jordan dengan tatapan penuh maksud, tapi sayangnya Jordan tidak bisa mengartikan maksud tatapan itu.


" Karena wanita yang baik, tidak akan mengkhianati pasangannya apapun alasannya. Jordan, sebanyak apapun harta seorang wanita, setinggi apapun gelarnya dalam pendidikan, sehebat apapun latar belakangnya, sejujurnya yang dimilki wanita hanyalah sebuah harga diri. Jika dia tidak menjaga harga dirinya, bagaimana mungkin dia bisa menjaga harga diri pasangannya, juga keluarganya? Dengan dia berselingkuh denganmu, dia bukan hanya menginjak harga dirinya sendiri, tapi juga suaminya, orang tuanya serta keluarganya, dia juga menginjak harga dirimu, Jordan. Bagaimana Ibu yang seorang Ibu dari anak perempuan dan satu anak laki-laki bisa menerima itu? Ibu tidak akan bisa menerimanya, Jordan. "


Jordan menahan dirinya yang tiba-tiba merasa sangat hancur. Ibunya tidak menangis ataupun terlihat sedih, tapi perkataan Ibunya benar-benar membuat Jordan tertampar keras dan sakit yang luar biasa. Dulu dia kira semua akan baik-baik saja karena dia melakukan semua ini atas dasar cinta, juga balas Budi kepada Soraya, tapi dia benar-benar melupakan dan mengesampingkan banyak hal yang masuk akal dan lebih realistis.


" Jordan, sebagai seorang Ibu tentu saja harapannya adalah agar anak mereka mendapatkan hidup yang baik, juga pasangan yang baik. Itulah kenapa Ibu menolak wanita itu untuk masuk ke dalam kehidupan kita, tapi jika pilihan mu tetaplah dia, maka harapan hanyalah harapan, Ibu hanya bisa pasrah kepada sang pemilik kehidupan agar kau selalu selamat, dan tetap bahagia dengan jalan yang kau pilih. "


" Ibu, aku- " Jordan menahan tangisnya. Entah mengapa perkataan Ibunya begitu menyentuh seolah mengorek semua kesalahan yang ia lakukan tanpa memikirkan orang-orang yang akan terluka nantinya.


" Masih ada waktu, nak. Kau punya waktu untuk memperbaiki apa yang menurutmu salah. Meskipun jalannya sulit, tapi percayalah tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Ibu yakin kau sudah semakin tumbuh dewasa, jadi Ibu yakin untuk memasrahkan masa depan putra Ibu di tangannya sendiri. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2