Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 37


__ADS_3

Jordan mengeryit melihat Ana berkemas, memang hanya koper berukuran kecil, tapi jelas kan kalau Ana pasti akan pergi menginap di tempat lain. Sebentar Jordan mengabaikan sembari berpikir mencari cara bagaimana dia akan menanyakan kemana Ana akan pergi. Ah, tidak tahu mengapa dia merasa malu dan gugup padahal hanya bertanya saja.


Segera setelah Ana benar-benar selesai dengan menutup kopernya, Jordan akhirnya bertanya karena dia takut sampai Ana pergi tetap tidak berani bertanya hanya karena bingung cara menanyakan kemana Ana akan pergi.


" Kau mau pergi kemana? "


Ana menoleh ke Jordan sebentar, lalu bangkit dari posisinya karena memang sudah selesai dengan kopernya. Dia berjalan mendekati Jordan, meraih handuk kecil yang Jordan gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


" Duduk sini, biar aku bantu keringkan. " Ucap Ana lalu tersenyum setelahnya.


" Kau mau kemana? " Tanya lagi Jordan karena belum mendapatkan jawaban dari Ana.


" Kau lupa ya? Aku kan sudah bilang kalau aku akan pergi camping bersama teman-teman untuk merayakan satu teman ku yang ulang tahun. Aku semalam sudah meminta izin kan darimu? "


Jordan mengeryit mengingat-ingat kapan Ana mengatakan itu? Dia benar-benar tidak ingat sama sekali, dan saat dia ingat bahwa dia sempat mengiyakan ucapan Ana ketika dia sedang melamun mesum, barulah dia yakin kalau saat itu Ana pasti meminta izin darinya, dan langsung dia mengiyakan saja meski tak mendengar jelas apa yang di katakan Ana.


" Di mana? " Tanya Jordan penasaran.


" Di puncak. "


Jordan terdiam sebentar.


" Berapa lama? "


" Besok aku sudah pulang kok. Kenapa? Kau takut rindu denganmu ya? " Goda Ana lalu terkekeh setelahnya.


Berbeda dengan Ana yang masih bisa tertawa, Jordan malah merasa kelu tak bisa menjawab ledekan Ana barusan. Kenapa? Iya memang itu lah yang ingin Jordan tanyakan kepada dirinya. Kenapa dia khawatir? Kenapa dia perduli? Bukankah dia tidak mencintai Ana? Lalu dari mana perasaan khawatir dan perduli itu? Apakah karena Ana adalah istrinya sehingga dia merasa khawatir dan cemburu meski tidak ada perasaan cinta? Yah, mungkin itu adalah jawabannya.


" Aku keringkan rambutmu dulu ya? "


" Iya. "

__ADS_1


Jordan terus memandangi Ana dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Gadis itu, bocah sembilan belas tahun yang sekejap mata menjadi istrinya, mengalahkan Soraya yang sudah bertahun-tahun mengidamkan posisi itu. Wajahnya biasa saja, dia tidak cantik seperti Soraya, tapi ketika di perhatikan dengan baik seperti sekarang ini, ternyata Ana cukup manis juga. Ana yang begitu serius mengeringkan rambut Jordan juga tak terlihat seperti bocah seusianya.


" Besok bisa jemput aku tidak? "


" Em? " Jordan tersentak karena sedari tadi dia kan sedang melakukan wajah Ana.


" Besok bisa jemput Aku tidak? "


" Iya. "


Ana tersenyum senang.


" Serius?! "


" Iya. "


Ana yang begitu bahagia reflek saja mencium pipi Jordan berkali-kali. Aneh, tapi Jordan benar-benar merasa kecupan dari Ana itu membuatnya senang. Entah, mungkin kecupan seperti itu tidak seperti kecupan untuk pasangan, tapi setidaknya itu cukup membuat jantung Jordan berdebar.


" Nah, sudah! Kita langsung sarapan ya? "


" Iya. "


Setelah Ana dan Jordan bergabung, segera Soraya melayani Kendra untuk memulai kegiatannya.


" Sayang, aku ambilkan ayam bakar untukmu ya? " Ucap Soraya dengan sigap segera bangkit, mengambil sepotong Ayam bakar dan meletakkan di piring Kendra. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Kendra, pria itu masih saja betah untuk berdiam diri, dan hanya akan tersenyum kepada Ana saja.


" Aku ambilkan ayam bakar untukmu ya? " Ucap Ana kepada Jordan, dia sudah akan bangkit, tapi ucapan Soraya membuat semua mata membelakak padanya.


" Tidak Ana! Jordan tidak suka ayam bakar, dia lebih suka ayam goreng. "


Melihat tatapan semua orang terarah kepadanya, Soraya menjadi tak bisa bicara. Lagi, dia kehilangan kata-kata karena keceplosan.

__ADS_1


" Dia adalah suamiku, jadi aku pasti lebih tahu apa yang dia suka dan mana yang tidak dia suka. " Ucap Ana, dia segera bangkit dari dan megambil sepotong ayam goreng untuk Jordan.


Jordan, pria itu entah mengapa begitu berdebar seolah dia tidak ingin kalau sampai Kendra curiga kepadanya. Entah, apakah ini karena dia tidak ingin mendapatkan kemarahan Kendra, atau karena Ana?


Grep!


Ana menyentuh paha Jordan dan mencengkeramnya, dari tindakan itu Ana benar-benar berharap agar Jordan membantunya untuk memakan ayam bakar yang dia ambilkan dengan mimik yang mendukung. Iya, Jordan paham benar, sehingga Jordan memutuskan untuk memakan ayam bakar itu dengan lahap.


" Ini enak. " Ucap Jordan yang pada akhirnya membuat tatapan Kendra beralih ke makannya. Cukup, pria itu benar-benar tidak tahan lagi dengan sikap Soraya ya h semakin menjurus ke arah sana. Bukan bodoh, jelas ini sudah kedua kalinya dia Soraya terlihat begitu akrab dengan Jordan sampai tahu benar bagaimana selera Jordan. Dulu, Soraya mengatakan jika Jordan tidak suka makanan pedas, lalu sekarang ayam bakar? Hanya Tuhan yang tahu seberapa kuat dan sabarnya Kendra jika kebenaran sudah jelas terang menderang di hadapannya nanti.


" Ma maaf ya? Aku salah mengira. "


Ana tak menjawab, tapi karena minat Jordan begitu menikmati ayam bakar yang dia ambilkan tadi, setidaknya itu sudah bisa mengurangi ketegangan di hatinya.


Selesai sarapan, Ana dan Soraya berjalan sampai ke teras rumah untuk mengantarkan suami mereka. Sudah beberapa hari ini Soraya lah yang lebih agresif untuk mencium Kendra sebelum dia berangkat bekerja.


" Hati-hati di jalan sayang? Kabari aku kalau sudah sampai. " Ucap Soraya mengantarkan kepergian Kendra.


Jordan, pria itu hanya bisa terdiam karena tak bisa memungkiri jika masih lah dia merasakan sakit melihat Soraya begitu mesra kepada Kendra seolah Soraya begitu mencintai pria itu.


" Dengan siapa kau akan berangkat nanti? Perlu aku antar tidak? " Tanya Jordan kepada Ana sebelum dia melangkah menuju mobilnya.


" Aku pergi dengan temanku, dia yang akan menjemputmu. Besok saja jemput aku ya? "


" Iya. "


" Kau tidak boleh menemui wanita saat aku tidak ada nanti ya? "


Jordan terdiam, bukan tidak ingin menjawab, tapi dia takut memberikan kebohongan saat berjanji nanti.


" Sudahlah, aku tahu kok kau tidak akan menemui wanita lain. " Ana tersenyum setelahnya.

__ADS_1


Soraya, wanita itu terlihat senang karena merasa jika dia memiliki kesempatan untuk berdua dengan Jordan dan melepaskan rindu yang sudah menggunung itu.


Bersambung.


__ADS_2