Menikahi Selingkuhan Ibu

Menikahi Selingkuhan Ibu
BAB 107


__ADS_3

Jordan dan Ana semkin mesra setiap harinya, Ana yang tadinya tidak bisa memasak sama sekali kini sudah mulai bisa membuat nasi goreng, ikan goreng, ayam, bahkan juga sudah bisa membuat sup ayam kesukaannya. Semua bukan hanya karena resep di internet saja, tapi juga karena Jordan yang mengajarinya. Tidak heran juga kalau Jordan bisa memasak beberapa menu karena dulu dia pernah tinggal di luar negeri jadi melakukan semuanya sendiri adalah hal yang biasa untuknya. Tidak begitu menuntut Ana untuk menjadi istri sempurna dalam banyak hal, dia tahu ini tidak mudah apalagi usia Ana belum genap dua puluh tahun yang biasanya di usia itu akan lebih banyak dihabiskan untuk nongkrong dan bersenang-senang bersama teman-temannya.


Sudah tidak ada drama sarapan dari tetangga yang tujuan si pemberi sarapan adalah menggoda Jordan semenjak Ana menegurnya beberapa waktu lalu. Jordan juga dengan jelas menunjukkan bahwa dia tidak tertarik sama sekali sehingga Kalina tak begitu gencatan senjata seperti sebelumya.


Seperti kebiasaan beberapa hari belakangan ini, Jordan dan Ana akan berjalan di sekitaran komplek rumah menggantikan joging karena Ana sedang hamil.


" Sayang, ini sudah cukup kita pulang yuk? " Ajak Jordan karena merasa sudah cukup jauh mereka berjalan. Dokter memang mengatakan kalau Ana juga butuh olahraga, tapi tidak boleh juga terlalu lelah.


" Iya. " Ana tersenyum begitu Jordan memeluk pundaknya dengan hangat. Sungguh ini benar-benar di luar dugaan kalau pada akhirnya dia akan begitu bahagia dan mencintai pria yang dulu dia anggap begitu brengsek. Tidak di sangka juga kalau Jordan ternyata adalah orang yang lembut dan perhatian seperti ini.


" Hari ini kau tidak lupa jadwal pemeriksaan kandungan kan? " Tanya Ana kepada Jordan.


" Ingat, aku kan sudah mencatat di ponsel ku. Sekarang kita bisa lihat gender nya, kau penasaran tidak? " Tanya Jordan.


" Penasaran sih, tapi mau laki-laki atau perempuan tidak masalah bagiku. "


Jordan tersenyum dan mengangguk. Yah kalau boleh jujur sih dia inginnya anak laki-laki saja. Nanti kalau punya anak lagi juga kalau bisa anak laki-laki lagi karena dia ingat benar bagaimana tidak baik sifatnya kepada Ana dulu, dia tentu saja takut kalau nanti anaknya akan mendapatkan karma buruk dari perbuatannya di masa lalu.


***

__ADS_1


Moana tersenyum melihat Kendra sudah berpakaian dengan rapih, memang tidak bisa di ragukan lagi kalau Kendra alias suaminya adalah pria yang sangat tampan dan pantas membuat jantung wanita lain tidak dalam keadaan aman setiap kali melihatnya, apalagi kalau tersenyum, batin Moana memuji Kendra habis-habisan di dalam hatinya.


Moana boleh saja terlihat semakin mencintai Kendra, tapi pria itu malah selalu terlihat biasa saja dan hampir tidak pernah menunjukan emosi apapun sehingga membuat Moana merasa bingung apa yang sedang di rasakan Kendra, apa yang sedang di pikirkan Kendra saat sedang makan bersamanya, tidur bersamanya, berbicara padanya, apakah ada kebahagiaan ataukah tidak sebenarnya tapi Moana seolah begitu fokus dengan bahagia nya hingga tak terlalu ingin memikirkannya.


" Nanti aku mau pergi ke pabrik tekstil, kau mau ayam bakar di darah sana tidak? "


Moana yang sedari tadi tersenyum menatap punggung Kendra kini sontak terdiam. Ayam bakar? Bukankah ayam bakar adalah makanan yang paling di sukai oleh kakaknya? Hah! Apakah wajah datar tak memiliki emosi itu karena sedikitpun tak memiliki rasa untuknya, dan semua cintanya sudah habis untuk Soraya saja? Apakah hatinya juga begitu mati rasa setelah berpisah dengan kakaknya?


Tak mendapatkan jawaban dari Moana membuat Kendra berbalik menatap Moana.


" Kenapa diam saja? " Tanya Kendra.


Moana nampak sedih meski dia begitu memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


" Maksudnya? " Kendra kini menatap bingung karena masih belum paham apa maksud ucapan Moana barusan. Padahal dia bertanya ayam bakar lalu kenapa dihubungkan dengan Soraya.


" Aya bakar kan kesukaan kak Soraya, dia juga sering bilang kalau Ayam bakar di dekat pabrik tekstil memang sangat enak dan wangi sekali. "


Kendra menghela nafasnya, dia menatap Moana yang tak berani menatapnya sama sekali.

__ADS_1


" Aku bertanya karena seperti yang kau katakan tadi, ayam bakar di sana sangat enak dan wangi. Aku tidak terlalu suka ayam, karena jarang ke pabrik jadi tanya apa kau mau makan ayam bakar supaya aku bisa beli untukmu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan Soraya. "


Perlahan bibit Moana tergerak tersenyum dengan perasaan lega.


" Aku juga tidak terlalu suka ayam kok, jadi tidak usah beli. "


" Ya udah kalau begitu. "


Seperti kebiasaan mereka beberapa waktu ini, Kendra akan meninggalkan kecupan di kening Moana sebelum dia pergi untuk bekerja.


Moana menghembuskan nafas leganya, sebenarnya kabar pernikahan kakaknya dia tahu sebelum pernikahan dadakan itu terjadi. Moana tahu akan kabar kehamilan Soraya, begitu juga dengan Kendra. Karena merasa takut Kendra masih merasakan cemburu akhirnya dia terus menebak-nebak apakah benar cinta untuk kakaknya masih di rasakan suaminya. Yah, dari pada menebak akan hal itu sekarang yang lebih penting adalah berusaha sebaik mungkin agar menjadi lebih baik sebagai istrinya Kendra.


***


Sudah beberapa hari semenjak tinggal di pedesaan, Soraya dan Rigo tinggal di kamar yang terpisah. Soraya, dia akan sibuk dengan melamun, sesekali menyegarkan diri dengan berjalan mengitari rumah yang dipenuhi dengan pohon juga bunga. Tidak banyak yang bisa di kerjakan beberapa hari ini, tapi Soraya sudah akan bersiap untuk menanam beberapa sayuran di pelataran rumah. Dia juga sudah akan menyiapkan pot untuk beberapa tanaman buah dan bunganya.


Rigo, pria itu hampir tak pernah berbicara karena kalau tidak begitu penting. Yang akan dia katakan kepada Soraya hanyalah beberapa kalimat saja seperti, kau membutuhkan bantuan tidak? Bagaimana keadaan mu hari ini? Beritahu kalau kau menginginkan sesuatu. Tiga kalimat itu, tapi juga sering kali tak di jawab oleh Soraya.


Dia juga sama seperti Soraya, dia memiliki luka yang sulit untuk dia sembuhkan. Bayangan wajah Lisa saat kesakitan benar-benar berkelebatan di kepalanya. Tidur di malam hari juga hampir tidak pernah dia merasakan yang namanya nyenyak. Dia ingat benar tatapan sayu seolah menggambarkan betapa kesakitan Lisa, dan keinginanya untuk meninggal begitu kuat sehingga membuat egonya meninggi dan memaksa wanitanya untuk bertahan lebih lama sehingga dia menyesal dengan sangat karena menambah luka untuk Lisa sebelum dia meninggal.

__ADS_1


" Seharunya kau menolak saja ketika di paksa menikahi ku, kau pasti sangat tersiksa kan? " Gumam Soraya tanpa sadar merasa melas melihat wajah menyedihkan Rigo saat itu.


Bersambung.


__ADS_2