
Ana membuang nafas kasarnya karena tidak mendapatkan jawaban apapun saat dia bertanya kepada Jordan bagaimana seandainya dia hamil karena Jordan langsung memutuskan sambungan telepon. Sekarang Ana jadi merasa kalau Jordan memang hanya bermain-main dengan ucapannya, benar-benar gila karena dia sempat merasa goyah karena ucapan manis Jordan beberapa saat lalu.
Tidak ingi memikirkan apapun soal Jordan, Ana memutuskan untuk merawat anak yang ada di dalam kandungannya, dia juga berniat memberitahu Ayahnya besok pagi karena sampai sekarang ini sepertinya Ayahnya juga belum kembali ke rumah. Lebih baik berbaring dan sebentar berpikir bagaimana caranya memberi tahu Ayahnya besok.
Cukup lama Ana berbaring di tempat tidur, memikirkan ini itu dan semakin membuatnya semakin sulit untuk tidur. Sebenarnya bukan kehamilan ini yang menekannya, tapi karena dia sempat percaya kepada Jordan karena dia terlihat bersungguh-sungguh tapi sekarang malah dengan tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya membuat Ana merasa begitu terluka.
" Apa karena aku tidak secantik Ibu Soraya sampai dia tidak ingin anak dariku? "
Baru saja Ana menghela nafas untuk membuang keluhnya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, membuatnya melihat siapa yang menghubunginya.
" Jordan? " Ana mengeryit bingung, untuk apa lagi Jordan menghubunginya? Bukanya sikapnya tadi sudah cukup menjelaskan bahwa dia tidak menyukai kehamilannya? Apakah Jordan menghubunginya ingin memberikan uang untuk menggugurkan kandungan?
Dengan hati kesal Ana mengangkat telepon dari Jordan dan siap untuk memakinya sesuka hati.
Aku ada di depan rumah, tolong temui aku.
Ana yang tadinya ingin membuka mulut dan memaki dengan sumpah serapah dan menyebutkan nama binatang kini terdiam ketika Jordan mengatakan jika sudah ada di depan yang pasti di luar gerbang rumahnya. Sudahlah, lebih baik temui saja dari pada menebak-nebak yang tidak pasti, toh kalau bertemu langsung juga akan lebih puas lagi memaki Jordan nantinya.
Begitu sampai di luar Ana menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dimana mobil Jordan berada, dia menghela nafas karena tidak mendapati mobil Jordan, dan aneh karena hatinya merasa kecewa. Tadinya Ana ingin kembali masuk ke dalam rumah, tapi begitu mendengar namanya di panggil oleh seseorang, dan orang itu adalah Jordan yang baru saja keluar dari taksi yang sempat Ana lihat tadi namun dia tidak menyangka kalau Jordan berada di dalam sana.
" Ana? "
__ADS_1
" Kau, kenapa naik taksi? "
Ana terdiam tak bertanya lagi karena begitu sampai di dekatnya, Jordan langsung memeluk Ana erat-erat. Tadinya Ana ingin mendorong tubuh Jordan karena dia takut Ayahnya akan melihat dan marah seperti kemarin, tapi begitu merasakan tubuh Jordan yang terasa gemetar dan dingin dia menjadi tidak tega dan membuatkan saja Jordan memeluknya.
" Kau benar-benar hamil? " Tanya Jordan saat merasa cukup memeluk Ana, dia meraih kedua tangan Ana dan menatapnya seperti tatapan memohon jika apa yang di dengar beberapa saat lalu memalui sambungan telepon adalah benar.
Ana menakan salivanya, entah mengapa tatapan Jordan yang Seperti itu membuat jantungnya berdegup kencang. Dia memang mengakui kalau Jordan itu sangatlah tampan, tapi dia tidak menyangka kalau pada akhirnya dia berdebar seperti ini padahal saat melakukan hal yang jauh lebih ekstrim dia tidak merasakan debaran semacam itu sebelumnya.
" Ana, katakan padamu kau benar-benar hamil kan? "
" Aku kan hanya bertanya kalau saja aku hamil, aku tidak bilang dengan lantang bahwa aku hamil kan? "
Jordan terlihat lemas, dia bahkan sampai terhuyung hampir terjatuh saat dia memundurkan langkahnya. Untung saja Ana dengan siap menahan pergelangan tangannya sehingga Jordan tetap masih bisa berdiri dengan tegap.
" Jordan, kau baik-baik saja? " Ana semakin mendekatkan dirinya, dia memapah Jordan yang terlihat semakin lemas. Tidak memiliki pilihan lain, segera dia membawa Jordan masuk ke dalam rumahnya.
" Tidak, tidak! Kalau di ruang tamu lagi dan Ayah lihat Jordan bagaimana? "
Segera Ana berjalan ke depan, dia memanggil satpam rumah dan memintanya untuk membantu memapah Jordan sampai ke kamarnya. Satpam itu tentu saja hanya bisa menurut saja karena kasihan juga melihat Jordan yang begitu pucat, dan bersiap harus bersikap biasa saja saat Kendra pulang nanti agar dia tak curiga.
" Terimakasih, pak. "
__ADS_1
" Sama-sama Non Ana. "
Setelah kepergian satpam rumah, segera Ana mengunci rapat-rapat pintu kamarnya karena takut Ayahnya akan masuk ke dalam, dia juga sudah berpesan kepada Satpam rumah agar meminta Ibu dapur mengantarkan makanan ke kamarnya dengan syarat jangan memberitahu kalau ada Jordan di sana.
" Jordan, kau ini sebenarnya kenapa? "
Jordan yang sedari tadi memilih diam saja kini mulai bereaksi dengan menatap Ana yang duduk di dekatnya. Entah ini bisa di sebut keberuntungan karena dia sakit sehingga Ana kasihan kepadanya dan dia bisa berada di satu kamar, ataukah ini bencana untuk Ana karena bisa saja Kendra mengetahui keberadaannya dan memarahi Ana seperti beberapa waktu lalu.
" Kenapa pergelangan tanganmu berdarah? "
" Aku tidak bisa makan, Ana. Aku tidak bisa memakan apapun, bahkan air putih juga di tolak oleh lambungku. "
Ana membulatkan matanya terkejut. Apa ini ada hubungannya dengan kehamilannya? Jujur saja dia sampai lupa kapan dia terakhir datang bulan? Kalau di ingat sih dua bulan atau mungkin lebih setelah menikah dengan Jordan dia masih datang bulan, tapi tida tahu satu bulan belakangan ini karena dia tidak ingat, apakah juga sudah dua bulan dia tidak datang bulan.
" Kau makan saja dulu ya? " Ucap Ana karena sepertinya dia tahu siapa yang sedang mengetuk pintu, dia pasti adalah Ibu dapur yang mengantarkan makanan untuknya. Dengan sedikit membuka pintu Ana menerima piring itu, pembantu di sana sebenarnya sudah tahu adanya Jordan di dalam sana, tapi dia memilih untuk tutup mulut dan berharap semua akan baik-baik saja nantinya.
" Buka mulut mu! " Jordan mengikuti saja perintah Ana, dan benar saja dia bisa menelan makanan dengan baik, makanan dari suapan Ana juga terasa lebih enak dari biasanya. Entah mengapa makanan itu membuat Jordan tersentuh dan tanpa sadar dia menangis sembari memakan makanannya membuat Ana juga sempat ikut menangis.
" Sepertinya aku hanya bisa makan kalau itu darimu, atau dekat denganmu. Aku memang tidak tahu kenapa, tapi ada orang bilang biasanya ini terjadi pada pria yang memiliki istri tengah hamil. Aku sudah seperti ini sejak keluar dari rumah ini, dan sekarang kau tidak hamil, jadi aku ini sebenarnya kenapa? "
Ana terdiam sebentar, dia menatap Jordan yang terlihat sekali merasa kecewa jika kehamilan Ana adalah tidak nyata.
__ADS_1
" Jordan, sebenarnya aku memang hamil. "
Bersambung.