
Izin promosi, men temen. Cek profil Violla, ya. Terima kasih
Ch3- Kesucian Yang Ternoda.
Pak Regan seperti seekor singa yang tengah menguliti mangsanya, manik matanya tidak berpaling dariku, telapak tangan besar dan kokoh itu sudah mulai meraba bagian tubuhku yang hampir polos dibuatnya.
"Ukhh...."
Aku benci pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku mengeluarkan suara yang membuatnya semakin menggelora? Otak dan pikiranku ingin menolak, tapi tubuhku seakan pasrah di bawah kendalinya.
Apa yang harus aku lakukan?
Tangan yang masih terikat tidak bisa digerakkan, kaki yang masih terlilit kuat tidak bisa berlari. Punggungku seolah menempel tidak bisa berpindah dari posisinya, mulut hanya bisa menjerit dan digantikan suara desa*an yang spontan keluar dari bibir yang selalu diciumnya.
Hanya air mata yang menggambarkan betapa hancurnya perasanku saat ini. Kupejamkan mata, kugelengkan kepala menolak aksi pak Regan yang sudah berhasil menanggalkan gaun hitam yang tadi melekat di tubuhku.
Pasrah! Aku hanya bisa pasrah di bawah kungkuhannya. Tangan dan bibirnya selalu menyentuh permukaan kulitku.
"Sa-sakiit...."
Rasa sakit yang teramat luar biasa di bagian bawah membuatku histeris dan membuka mata, kulihat Pak Regan sudah menatapku intens, untuk sesaat kami saling beradu pandang sampai Pak Regan mencium kening, kelopak mata dan membelai pipiku.
"Percaya padaku, Delia," ucapnya sembari melanjutkan aksinya.
Aku harap semua ini hanya mimpi yang paling menyakitkan. Tapi, ketika tubuh kami sudah menyatu, mencabik-cabik seluruh tubuhku barulah aku tersadar kalau semua ini adalah kenyataan yang tidak kuinginkan.
Pak Regan menjamah tubuhku sesuka hati, membuatku merintih menahan perih. Aku menyerah tapi pria kurang ajar ini tidak mau berhenti.
Hilang! Dalam satu malam kesucian yang aku jaga selama 24 tahun ini sudah ternoda. Hilang diambil paksa oleh orang asing yang tidak aku kenal.
***
Ketika kelopak mataku mulai terbuka lebar. Kutatap ruangan asing yang menjadi saksi bisu keganasan laki-laki pemaksa semalam. Aku tidak tahu ntah sejak kapan ikatan di tangan dan di kakiku terlepas, kini aku sudah bisa bergerak bebas, tapi seluruh tubuhku terasa remuk redam, pegal, sakit dan perih terutama di bagian pangkal paha.
"Au, sakit," rintihku menahan perih di bagian bawah, namun aku tetap duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur. Kuraih selimut warna putih untuk menutupi tubuhku yang masih polos seperti semalam. Mataku terasa panas melihat noda darah yang kuyakini milikku. Sekelebat wajah si brengs*k melintas membuat air mataku kembali tumpah ruah.
Hanya ada aku seorang di kamar ini. Aku merasa seperti seorang wanita penghibur yang ditinggalkan laki-laki hidung belang setelah puas menuntaskan hasratnya.
__ADS_1
"Bodoh! Kenapa aku bisa sebodoh ini? Kenapa aku bisa terbuai dan berakhir satu malam dengan laki-laki asing itu? Sekarang dia pergi gitu aja?"
"Ayah ... maafkan Delia yang nggak bisa jaga diri. Delia sudah kotor! Delia menjijikan! Anak gadis ayah sudah tidak perawan...!"
Aku bukan anak gadis kebanggaan ayah lagi, aku sudah mencoreng nama baik dan mengecewakan ayah. Ayah akan terluka dan penyakitnya bisa kambuh kalau tahu aku sudah melakukan dosa besar, meskipun aku tidak mengkhendaki semua ini, tapi kesucian yang sudah hilang tidak akan bisa dikembalikan lagi, mengingat Ayah samakin menambah sesak di dada.
Siapa yang bisa menduga kedatanganku ke hotel untuk menghadiri pernikahan Ulan malah merampas kehormatanku?
Jejak-jejak merah yang ditinggalkan laki-laki itu di beberapa bagian tubuhku membuatku mual seketika.
"Brengs*k! Aku membencimu!" teriakkanku menggema di kamar.
Ceklek!
Pintu kamar mandi dibuka dari dalam menarik perhatianku. Ternyata, Pak Regan masih ada di kamar ini. Pria tidak tahu malu itu hanya memakai handuk putih yang melilit di pinggang, Pak Regan berjalan santai mendekati tempat tidur, rambutnya masih setengah basah, tetesan air membasahi leher dan dada bidangnya, bisa kulihat wajahnya lebih segar dari biasa.
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku tahu kamu mengagumiku, tenanglah... tubuh ini milikmu."
Aku merotasikan bola mata jengah. Heran, kenapa ada orang senarsis itu?
"Jangan deket-deket! Keluar sana!"
"Yakin, kamu mau aku pergi dari sini?"
Kutepis tangannya yang hampir membelai rambutku. Aku tidak tahu, kenapa ada orang tidak tahu malu seperti ini.
"Jangan marah-marah ... kamu masih kelelahan, loh. Tapi, aku suka karena aku orang pertama yang mendapatkan dan menyentuhmu. Terima kasih, ya...."
Mendengr itu membut kemarahanku semakin memuncak ke ubun-ubun.
"Punya hati, ngak? Bapak udah merenggut hal paling berharga dalam diriku. Gampang banget Bapak bilang makasih!"
"Berhenti memanggilku Bapak! Aku bukan bapakmu dan usiaku masih 28 tahun. Kamu harus tau kalau aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan. Tapi, lebih baik sekarang kamu bersihkan tubuhmu baru setelah itu kita bahas ini lagi."
Pak Regan berdiri di sampingku. Aku ragu kalau dia adalah pria yang bisa bertanggung jawab.
"Mau ngapain? Jangan kurang ajar, ya!" Aku semakin waspada dan mencengkram erat selimut di bagian dada. Aku takut kejadian semalam terulang lagi.
__ADS_1
"Ingatanku sudah merekam semua bagian dari tubuhmu, jadi tidak ada yang harus kamu tutupi dariku."
"Hey....!" teriakku ketika Pak Regan menarik selimut dan menghempaskan begitu saja, matanya hampir tidak berkedip menatapku.
"Dasar mesum! Dengar ya, Pak ... kalau aku ke luar dari sini, aku laporkan Bapak ke polisi karena sudah memerko*aku!"
Pak Regan membungkuk dan bicara tepat di depan wajahku. "Sekali lagi kamu panggil Bapak... aku pastikan kamu nggak bisa ke luar dari sini!"
Ancamannya membuat nyaliku menciut. Bagaimanapun caranya aku harus ke luar dari neraka ini.
Regan langsung menggendong dan membawaku ke kamar mandi. Aku merasa geli karena kulit kami saling bersentuhan lagi, mulut mau memaki tapi percuma karena tidak akan berpengaruh apapun yang ada hanya akan membuang tenaga saja, akhirnya aku pasrah saat tubuhku diturunkan di dalam buthup berisi air hangat.
Nyaman sekali tempat ini. Apa mungkin Regan sengaja menyiapkan untukku? Ntahlah yang pasti aku merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Berendam air hangat bisa sedikit menghilangkan perih yang kamu rasakan. Mandilah, aku tunggu di luar. Bisa berbahaya kalau kita berduaan di sini. Atau kamu mau aku berendam juga?"
Tangannya hampir membuka handuk yang menutupi pusaka yang sudah menodai mataku.
Kucipratkan air ke wajahnya. "Mimpi apa aku bisa ketemun sama Bapak?"
Regan jongkok dan bicara tepat di wajahku.
"Panggil apa? Sepertinya kamu memang mau kita mengulanginya lagi." Regan membelai rambutku.
"Apa, sih? Iya Regan! Regan! Regan! Puas!!!"
"Gadis baik... panggil aku kalau kamu butuh sesuatu."
Gila! Masih menyebutku gadis setelah merenggut kegadisanku. Setelah Regan pergi kutatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat, kini begitu banyak pertanyaan di benakku.
Siapa sebenarnya Regan?
Darimana Regan tau namaku?
Kenapa Regan tega merampas kehormatanku?
Apa jadinya aku setelah ini? Aku berangan-angan bisa menikah dengan pria baik yang kucintai dan mencintai aku. Tapi, laki-laki mana yang mau menerimaku yang sudah tidak suci lagi?
__ADS_1
Cek Profil Violla, ya.