
Kelopak mata laki-laki yang memiliki bulu-bulu halus di rahangnya yang tegas ini sudah terbuka. Diko menggeliat merenggangkan otot tangannya yang terasa kaku tapi, pagi ini ia merasa staminanya lebih baik dan lebih bugar dari biasanya. Mungkin karena malam tadi ia mendapatkan vitamin dari Laura. Ah! Mengingat Laura membuat sudut bibirnya terangkat hingga membentuk sebuah senyuman. Senyumnya memudar ketika tidak melihat Laura di sampingnya.
"Di mana dia?" Diko menyingkap selimut yang membalut tubuhnya, setelah menutupi tubuhnya yang sebagian polos dengan kimono Diko bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Sama halnya dengan Laura, wanita yang memakai kemeja putih dan rok span di atas lutut ini tampak sumringah menata makanan di atas meja. Laura sengaja bangun pagi buta untuk belajar memasak nasi goreng kesukaan Diko dari mama mertuanya. Kini, nasi goreng dan telur mata sapi setengah matang sudah tersaji di atas meja lengkap dengan segelas teh hangat untuk Diko.
"Diko beruntung punya istri seperti kamu, cantik, baik, perhatian dan penyayang," puji mama yang antusias berbagi resep dengan menantunya.
"Laura yang beruntung punya suami seperti Diko. Meskipun Laura tau dia belum sepenuhnya nerima Laura tapi dengan dia mau belajar nerima pernikahan ini aja udah buat Laura bahagia."
Mama mengelus lengan Laura yang masih berdiri di sampingnya. "Mama yakin, kamu adalah satu-satunya orang yang diinginkan Diko untuk selalu ada di dekatnya, meskipun saat ini Diko belum seratus persen menyadari perasaannya, Mama harap kamu tetap sabar menunggu dan jangan pernah tinggalkan dia."
Mama masih ingat bagaimana rapuhnya Diko ketika dulu ia kehilangan mama kandungnya, sejak saat itu Diko sering menyendiri dan wanita yang sudah menganggap Diko seperti anak kandungnya ini tidak mau hal yang sama terulang lagi. Tidak mau Diko merasa kehilangan lagi.
"Laura janji ... nggak akan pernah pergi kecuali Diko sendiri yang minta."
Percakapan dua wanita beda generasi ini terhenti ketika mendengar suara sepatu pantovel masuk ke area ruang makan. Laura tersenyum melihat Diko memakai pakaian kantor yang tadi sempat disiapkannya.
"Pagi, suamiku." Laura menarik kursi untuk Diko. "Duduk sini, aku siapkan sarapan untuk kamu."
"Yakin kamu yang masak?" tanya Diko usai mendudukkan bok*ongnya." "Sepertinya tidak mengecewakan," imbuhnya ketika sepiring nasi goreng sudah ada di hadapannya.
"Tentu karena aku masak dengan penuh rasa cinta." Laura duduk di samping Diko tepat di depan mama.
"Mama yang masak?" tanya Diko sembari mengunyah makanan. Rasanya enak.
"Istri kamu berusaha dengan baik. Jangan khawatir karena sekarang Laura sudah hapal menu makanan kesukaan kamu. Ini masakan pertama yang dibuatnya. Laura istri yang baik." Mama tidak berbohong, dirinya sudah memberikan banyak catatan untuk dipelajari Laura .
"Mama terlalu memuji." Laura bersorak dalam hati,dirinya akan berusaha membuat Diko jatuh cinta padanya.
***
Tidak ada supir yang mendampingi. Diko duduk di bangku kemudi sementara Laura duduk di sampingnya. Tidak ada yang mulai percakapan. Diko fokus mengukur jalan sementara Laura mengecek beberapa berkas yang kemarin dikerjakan sekretaris sementara selama Laura tidak masuk ke kantor.
Laura berdehem setelah merapikan map coklat dipangkuannya. "Kalau setiap hari kita pergi berdua seperti ini. Karyawan yang lain bisa curiga kalau kita punya hubungan." Laura mulai memancing mungkin saja Diko akan mengumumkan status mereka.
"Mereka sudah tau hubungan kita 'kan?" jawab Diko tanpa menoleh sedikitpun.
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu datang dan menjadi sekretarisku."
__ADS_1
Bibir Laura mengkerucut, raut wajahnya cemberut. "Tapi, mereka pikir kita sepupu, bukan suami istri." Laura kecewa dan menatap nanar ke luar jendela.
Diko menoleh sekilas, keningnya mengkerut melihat posisi duduk Laura. Paha Laura yang terlihat jelas membuat darahnya panas.
"Apa tidak ada pakaian yang lain, Laura?" Diko kesal dan kembali fokus memegang stir di tangannya.
Laura menoleh tidak mengerti. "Kenapa jadi bahas pakaian?" Laura memperhatikan dirinya sendiri. "Tidak ada yang salah."
"Salah kalau kamu yang makai!" sentak Diko suaranya sudah mulai meninggi.
"Hah? Kenapa?"
"Jelek!" ketus Diko. "Jangan mendebat! Mulai besok kau pakai celana, saja!" Diko mendadak tidak rela orang lain melihat sebagian paha mulus Laura.
Laura terdiam sampai mereka tiba di kantor.
"Siapkan semuanya, jam 10 nanti kita ada rapat dengan clien baru." Dona terpaksa mengembalikan tugas sekretaris kepada Laura. "Kenapa sih kamu datang ke kantor ini? Bukannya di luar negri kamu bisa jadi bos di perusahaan orang tuamu?"
Dari awal Dona tidak suka melihat Laura yang diperkenalkan Diko sebagai sepupunya. "Kalau tidak ada kamu, aku yang jadi sekretaris pak Diko."
'Ah, jadi itu masalahnya.' Laura mangut-mangut. "Aku juga bisa jadi bos di sini, gimana kalau kamu jadi sekretarisku!"
Dona menghentakkan kaki. "Awas kamu!" Ia yang merasa terhina kembali ke kubikelnya.
"Perempuan ulet keket kayak dia nggak akan aku biarkan ada di dekat suamiku," gumam Laura.
"Maaf saya terlambat!" Nick mengetuk pintu. Pria ini tersenyum melihat Laura. 'Aku mendapatkanmu, Aura.' Nick berjalan dan berhenti tepat di depan meja Laura. "Kamu di sini? Apa perasaanmu sudah lebih baik?"
Laura yang terkejut sontak berdiri. "Nick? Maksudku ... Pak Nicky?" Ia memerhatikan jas mahal yang dipakai Nick sama persis seperti jas yang belum ia kembalikan.
"No ... Nick saja," jawab Nick yang tidak berhenti menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Diko mengepalkan satu tangannya di bawah meja. "Apapun hubungan yang kalian miliki. Saya harap kalian bisa bekerkerja secara profesional di sini!"
Wajah tidak ramah Diko membuat Laura takut. "Silahkan duduk Pak Nicky," ucapnya.
"Oh, maafkan saya Pak Diko. Saya pasti profesional dalam bekerja." Nick duduk tepat di depan Laura.
Meeting berjalan lancar. Hasil rapat pun menghasilkan keputusan yang memuaskan. Perusahaan Diko akan turut mempromosikan berbagai furniture mewah milik Nick.
"Laura, kembalikan laptop ini ke ruangan saya!" Usai meeting Diko mengusir Laura secara halus. Ia tau kalau sedari tadi Nick terus memerhatikan Laura.
"Baik, Pak."
__ADS_1
"Bukankah ini jam makan siang?" Nick ikut bersuara. "Bagaimana kalau kita--
Ucapan Nick terputus. " Tentu, saya sudah siapkan semuanya! Di sekitar sini ada Restoran, kita bisa makan siang di sana!" seru Diko, ia tidak memberikan kesempatan untuk Nick dan Laura saling bicara.
Laura meninggalkan ruangan meeting di mana masih ada Diko dan Nick di dalamnya.
"Lama banget, sih? Aku udah laper!" Oca teman wanita satu-satunya yang berhati baik ini menarik tangan Laura. "Kantin, yuk!" ajaknnya.
"Kenapa nggak duluan aja?"
"Nggak na*psu makan kalau gak sama kamu." Oca dan Laura masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar di mana ada kantin di sana.
Di kantin. Laura dan Oca duduk berhadapan. Mereka menikmati makan siang sambil tertawa dan bercengkrama.
"Anak kesayangan dan keganjenan. Nggak puas dapat kasih sayang dari bos. Jadi mengharap kasih sayang dari klient yang baru!" Dona duduk di belakang Laura. Ia memang sengaja menyindir Laura.
"Kumat tuh anak!" celetuk Oca.
"Udah biarin aja!" Laura tidak ambil pusing.
Dona bertambah kesal dengan membawa segelas orange jus. Wanita berambut panjang ini menghampiri meja Laura.
"Akhhh!!!" Laura refleks berdiri sembari mengibaskan kemeja dan roknya yang sudah basah.
"Upsss! Nggak sengaja!" ucap Dona sinis setelah menumpahkan jus orange miliknya.
"Lo sengaja'kan? Iri banget sih jadi orang?" Oca tidak terima.
"Budek ya? Gua kan udah bilang gak sengaja! Kenapa marah?"
"Alasan, sini lo!" Oca hampir menarik rambut Dona.
"Udah jangan ribut!" relai Laura. Ia melangkah menuju toilet untuk membersihkan noda yang menempel di pakaiannya.
Tidak ada yang menyadari kalau ada dua laki-laki yang memerhatikan Laura. Nick menolak makan siang di Restoran karena Laura tidak ikut bersama mereka sehingga Nick memilih makan siang di kantin. Tapi, masih sampai di ambang pintu mereka dikejutkan dengan kericuhan yang ada di depan mata.
Semua mata tertuju pada Laura. Kini, sebagian ujung rok dan paha Laura sudah basah. Laura berusaha menutupi dengan kedua telapak tangannya.
Diko semakin geram bukan main, ia berjalan cepat sembari membuka jas hitam yang membalut punggungnya. Semua orang dibuat terkejut ketika tiba-tiba Diko memeluk Laura dari belakang dan mengikatkan jas miliknya di pinggang Laura hingga menutupi paha Laura.
***
Sudah 1000 kata lebih. Walaupun Real Life nggak bisa diganggu gugat tapi, Vio masih lanjutkan cerita ini dan diusahakan sampai tamat demi Readers yang masih setia di MIS.
__ADS_1
Kalau cerita kemarin yang sempat vio promosikan di sini. (Antara Dendam Dan Cinta) Masih bingung mau dibawa ke mana. Semoga dapat durian runtuh jadi bisa nulis di sini terus hihihi.
Makasih banyak-banyak.