
Masih ingat dengan Delia dan Regan di Menjadi Simpanan Pria misterius? Sekarang sudah ganti judul baru.
Delia POV
Dua tahun yang lalu, tepatnya setelah menyandang gelar sarjana ekonomi, aku langsung mengirimkan lamaran kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain di Kota. Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang aku bayangkan, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tidak terhitung sudah berapa banyak perusahaan besar menolak lamaranku. Tidak memiliki pengalaman bekerja ditambah penampilan tidak menarik menjadi alasan mereka perlu berfikir lagi untuk menerimaku.
Ya, aku sadar ... apalah aku. Aku hanya seorang gadis biasa yang berasal dari kampung terpencil yang harus bekerja keras mencari uang demi membiayai kuliahku dan sekolah adikku di kampung. Jangankan sekedar untuk memanjakan diri di salon kecantikkan ternama, untuk makan sehari-hari saja aku harus memeras keringat. Aku tidak berasal dari keluarga kaya, ayahku hanya supir angkot biasa sementara ibuku sudah lama meninggal.
Namun, sesulit apapun keadaan yang aku alami, aku tidak pernah menyerah sampai akhirnya diterima bekerja sebagai tim marketing di perusahaan ADIJAYA. Perusahan properti ternama yang telah memiliki cabang di berbagai daerah.
Aku tidak pernah tahu pertimbangan apa yang membuat para petinggi di perusahaan itu mau memberi aku kesempatan. Yang pasti selama ini gaji yang aku dapatkan bisa dibilang cukup besar bagi pemula sepertiku.
Terkadang, aku penasaran seperti apa wajah dan rupa pemilik perusahaan ADIJAYA, selama dua tahun bekerja tidak pernah sekalipun aku bertemu dengannya. Kabar burung yang aku dengar pemilik perusahaan ADIJAYA menetap di luar negri, jadi tidak heran kalau aku tidak pernah bersitatap muka dengannya.
Begitulah aku habiskan waktu untuk bekerja dan bekerja. Bisa pulang lebih awal dari biasanya menjadi anugerah terbesar bagiku. Seperti hari ini, demi merayakan hari jadi perusahaan, para karyawan sengaja dipulangkan lebih awal dari biasanya.
***
Ballroom hotel ternama telah di sulap menjadi tempat pesta mewah malam ini. Ratusan tamu undangan termasuk para petinggi telah memenuhi tempat itu, begitu banyak orang yang antusias ingin bertemu dengan pemilik Adijaya yang katanya turut menghadiri acara malam ini. Dan aku ... aku menjadi salah satu bagian dari mereka. Aku penasaran seperti apa wajah orang yang sudah menggajiku mahal. Apa perutnya buncit seperti pak Danu? Atau kepalanya plontos licin seperti pak Bambang? Atau seperti Pak Dirga. Manager perusahaan yang tampan dan tentunya masih lajang. Kenapa rasanya jantung ini berdetak lebih cepat? Apa karena penasaranku selama ini akan berakhir?
Namun nyatanya, sosok misterius itu tak kunjung menampakkan diri. Sementara ngantuk mulai menyerang mata. Hingga akhirnya aku meninggalkan acara yang masih berlangsung.
Aku merasa angim malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya, lebih dingin sampai menembus pori-pori dan menusuk tulang, aku merasa seperti ada sepasang mata yang memerhatikanku dari kejauhan. Kuedarkan pandangan ke semua penjuru lorong hotel yang sepi tapi aku tidak melihat siapapun di sini, aku semakin bergegas masuk ke dalam lift yang akan membawaku kembali ke lantai dasar, tapi tiba-tiba seorang pria bersepatu pantovel warna hitam mengkilat menerobos pintu lift yang sudah hampir tertutup rapat.
Pria berkemeja hitam berperawakan tinggi itu sudah berdiri di dekat pintu tepat di depanku, seketika aroma wangi parfumnya mengisi ruangan hingga menusuk rongga hidungku, bisa kutebak, tinggi badannya 180 cm, badannya tegap, rambutnya hitam dan aura dingin tidak bisa ditutupi darinya, berdua di dalam lift dengan pria asing ini membuatku gemetaran, pikiran jelek pun langsung hinggap di kepala.
Bagaimana kalau pria ini menyakitiku? Ah, ingin rasanya aku cepat-cepat menghilang dari sini.
"Ekhm...."
Pria itu berdehem dan menekan tombol menuju lantai atas, tidak! Lantai paling atas, dari penampilannya bisa kuduga kalau dia bukan orang semabarangan juga tidak mungkin orang biasa bisa menempati kamar termewah di hotel ini.
"Mengagumi saya, Nona?"
Aku menjadi gelegapan. Kutelan ludah sangat kasar. Pria itu berbalik badan melihatku, wajahnya tampan, matanya tajam, kening dan rahangnya terlihat tegas, suara dan pandangannya seperti menusuk jantung membuatku sesak seketika.
"Sudah puas memerhatikan saya diam-diam?" imbuhnya lagi, suaranya hampir membekukan aku.
Aku seperti pencuri yang tertangkap basah. "Ti-tidak, aku tidak sedang memerhatikan Bapak."
Pria asing ini menelisik penampilanku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, sumpah aku tidak nyaman diperhatikan seintens itu. Sengaja aku menundukkan kepala agar tidak bertemu dengan matanya, tapi dia malah mendekatiku.
"Manis ... lihat aku lagi."
Manis dia bilang? Aku maksudnya itu? Karena penasaran aku memberanikan diri menatapnya lagi, tapi melihat tatapannya seperti elang semakin membuat nyaliku menciut.
Ting!
Bunyi lift mengembalikan kesadaranku, aku mendorong tubuh kekarnya dan siap pergi. Tapi kemana aku harus pergi? Bukankah ini tempat tujuannya? Jadi, kenapa aku yang harus pergi?
"Keluarlah." Bisikkannya membuat aku berbalik arah. Kupikir ada yang aneh dengan pria ini.
"Bapak mabuk? Maaf, seharusnya Bapak yang keluar karena aku mau kembali ke lantai dasar."
__ADS_1
Ya, pria ini pasti mabuk. Meskipun aku takut, tapi aku harus tetap tenang agar dia tidak menyakitiku, tapi aku tidak mencium aroma alkohol dari mulutnya.
"Saya tidak mabuk, dan tidak akan keluar sendirian."
"Maksudnya?" Aku gagal paham dibuatnya, bukannya menjelaskan maksud ucapannya pria asing ini malah menarik tanganku.
"Lepasin! Aku mau dibawa ke mana?" Aku memberontak sekuat tenaga, tapi pria asing ini semakin menarikku.
"Tolong! Siapapun tolong aku!" Aku berharap ada orang datang menolongku tapi sialnya tidak ada siapapun selain kami di sini.
"Tenanglah, jangan buang-buang tenaga," ucapnya sembari menekan tombol angka yang ada di samping pintu kamar.
"Bapak sudah bertindak kurang ajar dan sekarang menyuruhku tenang?"
Aku menggigit tangannya sampai berbekas, tapi dia tidak terpengaruh sama sekali malah semakin memaksaku masuk ke dalam kamarnya.
BRAK!!!
Pria asing ini menutup pintu dari dalam lalu memojokkan punggungku sampai menempel di dinding, aku semakin ketakutan dan mencoba melarikan diri.
"Kenapa Anda membawaku ke sini? Tolong biarkan aku pergi."
Tanganku yang sudah bergerak bebas memukul dada bidangnya, tapi pria jahat ini tidak merasa sakit sedikitpun. Aku tidak mau mengulur waktu dan terkurung di sini, aku berbalik badan meraih knop pintu.
"Kamu tidak akan bisa pergi tanpa izinku!" Suaranya terdengar tegas. "Kau milikku." Bisikkannya membuat bulu kudukku merinding.
"Jangan sembarangan bicara, aku milikku sendiri, keluarkan aku dari sini!" sentakku tidak terima.
"Kalau begitu akan kubuat kamu menjadi milikku."
Setelah itu tubuhku terasa berputar sampai menghadapnya lagi. Kulihat matanya memerah, ketika aku akan bicara tiba-tiba pria ini menyatukan bibir kami.
24 tahun aku hidup baru sekarang ada pria yang menciumku. Sialnya, ia pria asing yang tidak aku kenal.
2
Pria kurang ajar ini benar-benar semakin mele*ehkan dan membuatku kesulitan bernafas, kekurangan oksigen mengakibatkan sekujur tubuhku lemas, di detik kemudian, dia melepaskanku. Ulahnya membuat dadaku naik turun tidak karuan, aku menghirup oksigen untuk menetralkan pernafasanku lagi.
Kuhirup dari hidung kemudian aku hembuskan dari mulut, berulang kali kulakukan sampai aku merasa lebih tenang seperti semula, perlahan kuberanikan diri melihatnya, tinggi badanku yang hanya sebatas bahunya mengharuskan aku mengangkat kepala, tidak kusangka langsung disuguhkan mata tajam yang membuatku semakin ketakutan.
Sepertinya, pria mesum ini sudah dipenuhi naf su, meskipun aku belum pernah pacaran kutahu dirinya ingin lebih dari sekedar ciuman. Tapi, kenapa harus denganku?
"Ap-apa yang Bapak lakukan?"
Kuusap sisa-sisa ciuman yang tertinggal di bibirku. Untung aroma mint yang ia tinggalkan di mulutku, jika bau jigong... aku pasti sudah muntah di wajahnya.
Pria ini sama sekali tidak merasa bersalah, tidak minta maaf dan tidak bicara sepatah katapun. Ingin kuremas wajah dan menjambak rambut hitamnya itu. Tapi, belum sempat tanganku menjangkaunya pria gila ini menarik kepala dan menciumku lagi.
"Emppp...."
Pria asing ini semakin kurang ajar dan lebih berani mengexplore rongga mulutku, aku yang baru pertama kali merasakan sensasi ini hampir luluh dibuatnya, namun akal sehatku masih berfungsi hingga kakiku bergerak cepat untuk menendang pangkal pahanya.
"Akh, Delia... kenapa kamu menyakitinya?" Aku memicingkan mata melihatnya merintih dan memegang senjatanya, bisa kuduga kalau pria tidak tahu malu ini bukanlah orang baik-baik karena mau memerkos*ku di sini.
Aku harus bagaimana?
__ADS_1
Aku harus pergi!
Tapi, tidak ada tempat untuk berlari dan bersembunyi.
"Bukan cuma aku ... kamu pun akan merugi kalau senjataku nggak berfungsi lagi...." Telapak tangannya semakin menutupi tempurungnya.
Apa katanya? Kenapa aku pun merugi? Pria ini benar-benar sakit jiwa.
"Itu belum seberapa dibandingkan perbutan Anda yang sudah mengambil ciuman pertamaku!" sentakku berai-api, namun kemarahanku dinggap sebagai angin lalu ia semakin mendekat dan memegang daguku.
"Jadi, ini ciuman pertamamu?" Pria itu tersenyum, tapi di mataku justru tampak mengerikan.
"Aku berhak mengambilnya darimu. Bukan itu saja, seluruh tubuhmu, hatimu bahkan pikiranmu pun milikku, hanya aku yang boleh menyentuh dan memilikinya, Delia...."
Delia? Sudah dua kali pria ini menyebut namaku. Ini merupakan pertemuan pertama yang tidak disengaja, terus dari mana tahu namaku? Ah, apapun itu aku tidak perduli, aku harus cepat-cepat menyelamatkan diri darinya.
Kuhempaskan tangannya dengan kasar kemudian aku bersiap menekan tombol angka di dekat pintu.
"Siapapun Anda dan apapun tujuan Anda, aku tidak perduli! Sekarang sebutkan berapa kodenya kalau tidak ... aku akan melaporkan Anda ke pihak berwajib!"
"Seperti yang kuduga sebelumnya, kamu lebih suka dipaksa!"
Grep!!!
"Lepasin aku!"
Pria jahat ini membawaku ke dalam ruangan yang keseluruhan dindingnya didominasi warna emas mengkilau yang membuatku terpesona. Namun, aku tetap memberontak berusaha lepas dari cengkramannya.
Detik itu juga aku merasa punggungku terjerembab di atas benda empuk yang menggoyangkan tubuhku, pria asing ini sudah menghempaskanku di atas tempat tidur berukuran besar.
Aku mencoba bangkit, tapi pria gila ini malah mengikat kedua tanganku di sandaran tempat tidur, kemudian melilit kedua kakiku menggunakan selimut hingga aku tidak bisa bergerak lagi, tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis, sementara dirinya sudah membuka kemeja yang ia kenakkan.
"Tolong jelaskan kenapa Anda lakukan ini kepadaku?" Aku mencoba mengulur waktu berharap pemilik wajah tampan berhati buruk ini tidak melanjutkan aksinya. Namun kenyataannya semakin nekat membuka celananya di depanku.
"Bukan waktunya berdiskusi nikmati saja malam ini dengan begitu aku tidak akan menyakitimu." Wajahnya semakin merah padam, pria asing ini mulai naik ke atas temat tidur dan mendekatiku.
Apa itu? Aku bergidik ngeri melihat sesuatu yang menyembul di balik segi tiga biru itu. Tubuhnya benar-benar sudah polos hanya meninggalkan segi tiga biru sebagai penutup ... ah, aku tidak mau membayangkannya.
"Tolong jangan sentuh saya! Anda salah orang, Pak!" Kugelengkan kepala ke kiri dan ke kanan sebagai bentuk penolakan atas aksinya yang sudah berada di atas tubuhku.
Tapi, pria itu sepertinya menuli. Wajahnya kini berada tepat di depan mataku.
"Mungkin Anda sudah terlalu sering melakukan ini dengan wanita lain tapi, jangan samakan aku dengan mereka! Aku perempuan baik-baik, jadi lepas dan biarkan aku pergi dari sini!"
Kulihat raut wajahnya semakin kaku, gerahamnya mengeras, bahkan aku bisa mendengar suara giginya bergemertak saling bersahutan. Sepertinya ucapanku sudah menyinggung perasaannya.
"Aku tidak perduli! Apapun yang kamu pikirkan tentangku itu urusanmu, yang pasti aku ingin kamu menjadi milikku, dimulai dari malam ini dan selamanya!"
Aku tidak bisa menjawab atau bicara sepatah katapun lagi, sebab bibirku terasa dingin tersentuh benda kenyal miliknya, aku ingin menolak tapi tidak kuasa melakukannya, hanya air mata yang menjelaskan betapa hancurnya perasaanku saat ini.
"Jangan menangis ... aku tidak akan menyakitimu," ucapnya ketika melepaskan ciumannya, matanya sudah terlihat sayu, dihapusnya air mata yang mengalir di pipiku. "Percaya padaku, Delia ... aku hanya menginginkanmu."
Suaranya terdengar lirih di telingaku hingga aku hampir terbuai dengan kata-kata yang dilontarkan, bodoh jika aku percaya begitu saja. Setampan dan selembut apapun bicaranya, pria ini tetap brengsek dan tidak punya etika sama sekali. Rasanya aku sangat ingin mencakar wajah tampan itu, tapi apalah daya, ikatan di tanganku tidak bisa membuatku berkutik. Aku hanya menangis tergugu menatap wajahnya.
Judul : Kesucian Ternoda
__ADS_1
Nama pena : Riviolla
Fi**o