Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
MIS 86


__ADS_3

Tidak sia-sia Diko menahan Rima di Apartmen sehingga membuka kesempatan mencari tahu di mana tempat persembunyian Dona. Mobil yang dikemudikan Rey sudah berhenti tidak jauh dari rumah minimalis di mana Rima baru masuk ke dalamnya. Tidak lama setelah taksi pergi mobil polisi datang untuk menangkap dua wanita yang diduga sudah melakukan kejahatan.


Mobil polisi datang setelah mendengar laoran dan bukti percakapan yang dikirimkan Diko beberapa waktu yang lalu.


Bukti kejahatan Dona sudah dipegang polisi. Pengakuam seorang laki-laki yang sempat menabrak Laura atas perintah Dona semakin menjadi bukti yang kuat untuk menjadikan Dona sebagai tersangka, percakaan untuk yang merencanakan pembunuhan pun akan menjadi pasal yang tidak bisa dihindari. Pemalsuan dokumen juga menambah kejahatan wanita itu. Dona dikenakan pasal berlapis yang akan membuat wanita itu kedinginan di dalam sel tahanan.


"Wanita itu ada di dalam, Pak!" Lapor Diko kepada seorang polisi. Beberapa polisi pun bergegas mengepung rumah terduga tersangka.


Sementara dua wanita ini saling berhadapan, tidak tahu kalau sebentar lagi kerja sama mereka akan berakhir untuk selamanya.


"Sudahi semua ini, Dona! Aku pikir kamu cuma mau buat rumah tangga Diko dan Laura berantakan tapi ternyata, kamu juga mau membunuhnya. Kalau dari awal aku tau kamu sudah pernah melakukan percobaan membunuh Laura, aku nggak akan sudi kerja sama denganmu!"


Rima melampiaskan semua kekesalannya. Dirinya baru menyadari kalau Dona adalah wanita yang berbahaya. Bahkan sudah beberapa hari ini mengincar dan mengancam adiknya.


Dona yang sedang memotong buah aple itu tersenyum tanpa melihatnya, telinga dan perasaannya seolah tertutup dan sedikitpun tidak merasa bersalah.


"Aku semakin yakin kalau kejiwaanmu sudah terganggu. Kamu gila Dona!"


BRAK!


"Diam!" Dona menggebrak meja, berdiri menarik dan mengunci satu tangan Rima ke belakang punggung lalu mengancam lehernya dengan anak pisau yang tajam. "Sebelum aku merobek mulutmu yang mungil ini sebaiknya kau tutup mulutmu!"


Rima terbatuk. "Dona lepaskan, kau jangan main-main dengan nyawa!" Rima tidak mau mati konyol sebab tidak akan ada orang selain dirinya yang akan membiayai pendidikan adiknya.


Dona menarik satu sudut bibirnya, membentuk smirik yang menakutkan. Raut wajahnya terkesan dingin dan ia berbisik. "Tidak ada yang bisa menghentikan aku, aku tidak akan pernah berhenti sebelum Laura mati!" Dendam yang sudah mendarah daging membuat Dona hampir lepas kendali, ia bahkan hampir menyayat leher Rima dengan mata pisau yang runcing.


Rima gemetaran, ia ketakutan dan keringat dingin sudah membasahi keningnya. "Tolong! Uhukk!!" Rima terbatuk dan hembusan napasnya terasa berat.


"Nggak ada satu orang pun yang mendengarmu Rima, bodoh! Kau pun ancaman untukku jadi aku harus menyingkirkanmu!" Dona tertawa seperti orang gila, dirinya sudah tidak membutuhkan Rima yang sewaktu-waktu bisa membongkar kejahatannya. Jalan satu-satunya agar ia aman adalah menyingkirkan semua bukti termasuk melenyapkan Rima.


Rima meronta dan mencoba melarikan diri tapi, semua sia-sia, sepertinya hidupnya akan berakhir di sini.

__ADS_1


"Dona stop!" Diko dan Rey berhasil masuk dengan cara merusak pintu. Keduanya terkejut melihat tingkah Dona yang mengerikan.


Perhatian Dona dan Rima sama-sama teralihkan, meskipun terkejut Rima merasa bersyukur sebab masih ada harapan untuk hidup.


Mata Dona semakin menyalang merah dan marah, ia semakin mengeratkan cekalannya. "Berhenti di situ atau aku habisi Rima di depan kalian!" Dona mengancam ketika Diko melangkah maju mendekatinya.


"Tenang, kita bisa bicara baik-baik," bujuk Diko tanpa menghentikan langkahnya hingga berhenti tepat di depan Dona dan Rima.


"Lepaskan Rima karena aku yang kau mau, bukan?" Ingatannya kembali pada kejadian di mana Dona pernah menggodanya tapi, ia tidak menghiraukan dan malah tetap memberikan Dona kesempatan kerja di kantornya.


"Kau bodoh Diko! Kau lebih memilih perempuan ****** itu untuk menjadi istrimu!" teriak Dona.


"Jangan sebut istriku ******!" Kesabaran Diko sudah mulai menipis, ia menarik Rima sampai terbebas dari Dona.


Dona refleks menyayat lengan Diko. Darah segar sudah mulai merembes membasahi kemeja Diko.


"Akhhhh...." rintih Diko menahan perih.


Rey berusaha mengejar Dona tapi wanita itu melarikan diri lewat pintu lain. Rey dan Rima sama-sama membantu Diko. Rima merobek ujung kemejanya dan membalut luka Diko yang cukup dalam.


"Anda kami tahan!"


"Nggak! Aku nggak salah, lepaskan!" Dona meronta dan melepaskan diri, ia berlari tanpa menyadari ada mobil melintas dengan kecepatan tinggi.


BRAK!!!


Tubuh Dona terpental beberapa meter hingga darah segar membasahi jalan.


***


Rima digelandang ke kantor polisi atas dugaan membantu Dona menjalankan rencana jahat.

__ADS_1


Sementara Diko mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat. Lukanya cukup dalam tapi, tetap memaksakan diri keluar dari rumah sakit agar bisa mencari Laura.


Kakinya tetap melangkah tegap berjalan di lorong rumah sakit. Dari kejauhan ia melihat Nick keluar dari salah satu kamar.


Nick juga sama, laki-laki ini menghampiri Diko. "Anda di sini?" Nick memerhatikan lengan Diko. "Anda terluka?" tanya Nick penasaran.


"Apa hubunganmu dengan Laura? Kenapa kau selalu mengganggunya?" tanya Diko tanpa basa-basi.


Kening Nick mengkerut, ia tahu kalau Diko saat ini sedang marah. "Aku tidak pernah mengganggu sepupu Anda."


"Sepupu?" Suara Diko terkesan dingin. "Laura bukan sepupu tapi istriku!" Ia menunjuk dada Nick. "Jauhi istriku!" serunya lagi.


Nick tetkejut, ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel di dinding. "Laura sudah menikah?" Ia masih tidak percaya, karena Laura tidak pernah bicara tentang pernikahannya.


"Aku tidak punya urusan menjelaskannya padamu dari awal aku tidak suka kalian saling bicara apalagi sampai Laura masuk ke dalam kamar hotelmu!" Satu tangan Diko menarik kera kemeja Nick. "Jangan pernah lagi temui istriku atau aku sendiri yang akan menghabisimu!" ancam Diko tidak perduli beberapa orang memerhatikan mereka.


Nick mengelengkan kepala dan menurunkan tangan Diko, sebagai sesama pria dirinya tahu kalau Diko cemburu tapi, semua ini hanya salah paham semata.


"Sampai kapanpun hubungan kami tidak akan pernah bisa dihapuskan!" jawab Nick yakin, wajah Diko semakin merah padam, ia tahu Diko semakin marah tapi tidak lagi memberi kesempatan untuk Diko bicara, ia mendorong punggung Diko dan membawanya ke ruangan di mana ayahnya di rawat.


"Kau lihat pria tua yang terbaring lemah di sana?" Nick menunjuk ayahnya.


Diko memerhatikan seorang pasien yang terhubung selang oksigen. "Kenapa kau bawa aku ke sini?" tanya Diko tidak mengerti.


"Supaya kau tau kalau aku dan Laura saling terikat satu sama lain. Dia ayah kandungku juga ... ayah kandung istrimu!"


Sekujur tubuh Diko terasa lemas, lutut yang tadi kokoh seolah melemah hingga tidak mampu menopang tubuhnya. Diko bersandar di pintu dan menjambak rambutnya.


"Apa yang sudah aku lakukan?" Wajah Laura semakin terbayang di matanya. "Pulanglah Laura, hukum aku semaumu...."


"Pulang?" Nick memegang pundak Diko. "Apa maksudmu pulang? Di mana adikku?"

__ADS_1


Diko seolah tidak punya nyawa lagi, ia menceritakan penyebab Laura pergi sampai terlibatnya Dona dan Rima dalam masalah ini.


"Rima?" Nick bergetar menyebut nama Rima.


__ADS_2