
Rima mondar-mandir di balik pintu, ia bingung sebab tidak bisa membuka pintu, mana ia tahu kode akses keluar masuk Apartemen ini karena ini bukan miliknya dan pertama kali Iya datang ke sini itu pun Diko yang membuka pintu. Rima masih memikirkan cara agar bisa keluar dari sini.
Tangannya masih gemetaran, kepalanya masih terasa sakit bahkan, rambutnya rontok karena Laura sekuat tenaga menjambaknya.
"Dia cantik tapi, kalau marah mengerikan. Tuhan ... apa yang sudah aku perbuat? Wanita itu dalam keadaan mengandung tapi, aku malah tega memfitnah suaminya. Semua ini karena Dona, karena aku juga yang tidak bisa menolak dan tergiur pada janji-janjinya. Semoga Laura dan anaknya baik-baik saja."
Pikiran Rima masih kacau, ia duduk di lantai dan masih mencoba menghubungi Dona. Sudah hampir jam 11 malam ketika panggilan itu terhubung.
'Nggak tau udah malam, apa? Kau mengganggu tidurku!'
Tidak ada sapaan hangat atau sekedar basa-basi dari lawan bicaranya. Rima kesal dibuatnya, Dona bisa tidur nyenyak sementara dirinya masih melek mata memikirkan dosa.
"Berhenti marah-marah, Dona! Kau nggak tau apa yang sedang aku alami. Aku bahkan nggak bisa bernapas lega gara-gara nuruti rencana gilamu itu!" Rima hampir gila seperti Dona, bedanya ia sempat gila pengakuan, pujian, kedudukan dan materi hingga melakukan segala cara untuk mendapatkan uang.
Di sana, Dona menyingkap selimut, duduk bersila kaki di tempat tidur, menajamkan telinga dan mencerna ucapan Rima.
"Bicara yang jelas! Kau sudah melakukannya?" Dona mengepalkan tangan di udara, ia bersorak senang karena Rima menjalankan perintah terakhir darinya dan untuk sisanya ia sendiri yang akan menjalankannya.
"Lebih dari itu! Aku bahkan sudah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang wanita. Kau mau aku menghancurkan rumah tangga mereka, bukan? Selamat! Kau sudah berhasil!" Rima yang masih dibalut emosi mengeraskan suaranya. Biarlah! Toh tidak ada yang mendengarnya.
"Hahahaha!" Dona tertawa. "Kau yakin? Tinggal satu langkah lagi maka, Laura akan merasakan apa yang aku rasakan, dipermalukan dan dicampakan!" Dona masih menaruh dendam pada Laura.
Rima menggeleng dan berdecih. "Apa kau tidak punya perasaan? Apa kau belum puas? Demi menjalankan rencana gila ini, aku bersedia tinggal di Apartmen Diko sampai istrinya datang marah-marah dan memakiku. Laura dalam keadaan mengandung, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama anaknya? Sebagai sesama perempuan apa kau tidak merasa iba? Apa kau masih belum puas dengan pertengkaran mereka?" pekik Rima, suaranya terdengar bergetar.
"Aku bahkan ingin mereka mati!" Dona tersenyum sinis. "Tugasmu cukup sampai di sini dan jangan coba-coba berkhianat karena ... adikmu ada di tanganku!" Dona mengakhiri percakapan mereka.
"Kau jangan gila, Dona! Apa lagi yang mau kau lakukan? Sudahi semuanya!" teriak Rima, ia melemparkan handpone hingga membentur dinding sampai hancur dan berserak menjadi beberapa bagian di lantai.
***
__ADS_1
"Kurang ajar!" Diko mengepalkan tangan, ia baru saja membersihkan diri dari keringat yang menempel di tubuhnya.
Tadi, ia dan Laura sama-sama masuk ke kamar hotel tanpa bicara apapun. Laura masih betah diam seribu bahasa begitu juga dirinya yang tidak sabar berendam air dingin sekaligus mendinginkan otak dan pikirannya.
Tidak rugi ia melihat CCTV yang terhubung di ponselnya. "Ternyata benar dugaan Oca kalau Rima punya niat lain. Dia bekerja untuk Dona?"
TAR!!!
Diko meninju cermin wastafel sampai pecah dan melukai tangannya. Darah segar mulai mengalir namun, ia tidak merasakan sakit.
"Kali ini kau tidak akan bisa lari dariku, Dona! Kita lihat sejauh mana kau bisa bersembunyi!" Matanya menyalang merah, marah dan ingin segera membalas perbuatan Rima dan Dona.
Diko membalut tangannya dengan handuk kecil dan keluar setelah berusaha meredam emosinya, ia tidak mau menghadapi Laura dalam keadaan emosi karena akan membuat masalah semakin besar. Pertama, ia akan beri perhitungan untuk Dona dan Rima lalu menemui Nick dan bicara empat mata.
Kakinya melangkah pelan, duduk di tepian tempat tidur memandang punggung Laura yang dibalut selimut tebal. Diko tau kalau Laura sengaja tidur untuk menghindarinya.
"Hufft!" Mengembuskan napas panjang agar dadanya tidak terasa sesak, berbaring menghadap Laura dan memeluk pinggang istrinya yang sedang merajuk. "Maaf ... aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk bicara. Kita sama-sama emosi dan butuh waktu untuk introfeksi diri. Kau harus tau, tidak sedikitpun aku meragukan anak ini," bisik Diko.
"Aku yang salah ... aku masih trauma dengan masa laluku. Karena itulah aku melarangmu bicara tentang Nick. Aku melarangmu bertemu dengannya. Maaf ... maafkan aku."
Diko mengeratkan pelukannya dan mencium sekilas cengkuk leher Laura. Tapi, Laura sama sekali tidak berekasi.
"Tidurlah ... besok kita bicara." Diko meraih handpone dan keluar meninggalkan Laura sendirian.
Suara pintu tertutup membuat Laura membuka mata, ia sengaja pura-pura tidur karena tidak mau ribut di tengah malam. Disekanya air mata yang mengalir setelah kepergian Diko, tentu ia mendengar semua yang diucapkan Diko.
"Kau egois! Egois!" Laura terisak dan menahan suara tangisannya. "Kau memikirkan dirimu yang belum bisa berdamai dengan masa lalumu? Apa gunanya aku? Lalu bagaimana denganku? Kenapa tidak memikirkan aku?"
Hatinya sakit, dadanya terasa sesak. "Kau melarangku bertemu dengan Nick tapi, kau bebas bertemu dengan wanita lain bahkan, bahkan kalian ...."
__ADS_1
Laura menangis di bawah selimut sampai memejamkan mata benar-benar tidur sebelum Diko kembali.
***
Suara pintu yang diketuk membangunkan Laura dari tidurnya. Matanya terasa berat, wajahnya sembab karena menangis di malam hari, ia tidak melihat Diko di sampingnya juga tidak ada tanda-tanda orang di kamar mandi. Lalu ada di mana suaminya itu? Dalam keadaan yang kacau ia membuka pintu.
Asisten rumah datang membawakan makanan untuknya.
"Sarapannya, Non!"
"Bibik kok di sini?"
"Tadi pagi-pagi sekali tuan Diko telepone. Bibik disuruh nyiapin sarapan untuk Non Laura." Bibik memerhatikan wajah Laura, ia tahu Laura tidak sedang baik-baik saja. "Habis nangis, Non?"
"Hmmm kangen sama mama di Paris, aku mau pulang aja, Bik." Mata Laura berkaca-kaca, andaikan mama mertuanya atau Tiara ada di sini tentu dirinya tidak akan merasa sendirian.
Bibik cepat-cepat meletakkan apa yang ada di tangannya, lalu memeluk Laura yang masih berdiri di ambang pintu.
"Jangan sedih, cantik ... ada Bibik di sini," ucap Bibik menghibur dan mengusap punggung Laura.
Bukan berhenti menangis. Pelukan hangat Bibik semakin membuat Laura histeris. "Aku mau pulang, Bik ... aku mau pergi!"
Dua orang sudah berdiri tegak di depan pintu, berjaga agar Laura tidak bisa pergi.
***
Sambil menunggu jempolin ini, ya.
Apa yang terjadi kalau hantu dan manusia saling mencintai?
__ADS_1
Horor, ya? Tapi, romantis. Hanya fiksi ya. Terima kasih