Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Kabar Duka Yang Mencurigakan


__ADS_3

Maurine sudah diizinkan pulang setelah melakuakn serangkaian pemeriksaan. Genta meminta Dokter memeriksa dengan detail keadaan istrinya.


"Aku senang kau akhirnya pulang," ungkap Genta.


"Aku juga, jujur saja aku tidak tahan terus berada di rumah sakit. Lebih baik berada dirumah," kata Maurine.


"Tetap saja, aku harus memastikan kesehatanmu dengan benar. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," kata Genta.


"Sayang, bukankah aku sudah dipastikan baik-baik saja? hanya tinggal memulihkan kondisi dan banyak istirahat kan?" ucap Maurine meraba wajah Genta yang masih terlihat cemas.


Genta menatap Maurine, ia memegang tangan Maurine yang meraba wajahnya, dan mencium lama tangan itu.


"Kau tahu, seberapa takutnya saat kau terluka? serasa jantungku berhenti berdetak. Aku sangat takut saat kau belum sadarkan diri, aku selalu merasa gelisah dan cemas mrlihatmu berbaring lemah," ungkap Genta.


"Terima kasih," kata Maurine tersenyum.


Genta mengusap kepala Maurine dan mendekap tubuh Maurine dengan hati-hati.


"Sampai kapan kau akan mendekapku, Tuan Aiden. Ayolah, aku sangat merindukan pulang ke rumah."


Genta melepas dekapan dan mencium kening Maurine, "Apa yang kau inginkan? aku akan berikan sebagai hadiah," kata Genta.


"Hm, apa ya? aku ingin..., aku masih belum memikirkan apa yang ingin aku minta. Permintaanku banyak," kata Maurine tersenyum.


Genta tertawa kecil, "Mintalah semuanya, pasti akan aku berikan. Hanya jangan minta aku untuk menjauh darimu, aku tidak akan kabulkan itu."


"Wow, manis sekali. Darpada harus menjauh, bagaimana dengan memintamu menciumku?" tawar Maurine.


"Dengan senang hati, menciumu adalah hal yang paling aku suka. Jangan sungkan untuk memintanya," jawab Genta.


Maurine tertawa, ia merasa geli. Genta sungguh berhasil membuat suasana hatinya menjadi jauh lebih baik.


"Sudah-sudah. Ayo pulang," ajak Maurine.


"Hm, oke."


Genta dan Maurine pun pulang kerumah mereka. Mereka dengan mengendarai mobil pergi meninggalkan rumah sakit.


***


Sesampainya di rumah, Maurine dan Ganta disambut oleh Bibi Anna dan Alvian. Bibi Anna terlihat senang dengan kepulangan Maurine, langsung memeluk Maurine.


"Akhirnya Anda pulang, Nyonya."


"Bibi, aku merindukanmu...."


Puas berpelukan, Bibi Anna membantu Maurine masuk kedalam rumah.


"Sayang, istirahatlah. Biarkan Bibi Anna mengantarmu, aku masih ada hal penting yang harus dibicarakan bersama dengan Alvian."


"Oke," jawab Maurine.

__ADS_1


Maurine dan Bibi Anna pergi meninggalkan Genta dan Alvian di ruang tamu. Genta duduk, diikuti Alvian yang duduk di hadapan Genta.


"Bagaimana?" tanya Genta.


"Sesuai apa yang saya sampaikan semalam, Tuan. Tuan Rey sudah bersedia membantu, beliau tidak akan menghalangi Anda untuk meringkus Zack."


"Bagaimana dengan Bobby?" tanya Genta.


"Ada laporan, jika Tuan Nicky pergi menemui Bobby," jawab Alvian.


"Oh, begitu. Kita hanya menunggu Zack bergerak saja, sejauh apa dia akan membantu Felicia."


Ponsel Alvian berdering, panggilan dari seseorang dari kantor polisi. Alvian menerima panggilan tersebut dan berbincang, seketika Alvian teekrjut dan melebarkan mata saat mendengar kabar jika Ferdian meninggal dunia. Alvian pun mengakhiri panggilan dan terdiam sesaat, sampai Genta memanggil-manggil namanya.


"Al, Alvian..., kau mendengarku?" panggil Genta.


Alvian tersentak, "Ya, Tuan." Jawab Alvian.


"Ada apa? kenapa kau kaget seperti itu?" tanya genta lagi.


"Tuan, Tuan Ferdin...," Alvian terdiam sesaat karena merasa kaget.


"Ferdian," sambung Genta penasaran.


"Beliau meninggal, dan Nona Felicia dilarikan kerumah sakit karena berusaha bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri."


Genta menutup mata dan menghela napas, "bagaimana bisa seperti ini?" gumam Genta.


"Kau pergilah mengurus ini, Al. Aku akan menyusul nanti, aku akan bicara pada Maurine lebih dulu. Kabari aku jika ada sesuatu," kata Genta membuka suara.


"Baik, Tuan. Saya permisi," jawab Alvian.


"Ya, berhati-hatilah. Terutama pada Zack," kata Genta memperingatkan.


"Iya, Tuan."


Alvian berdiri dan kembali berpamitan, ia segera pergi meninggalkan Genta. Genta memijat pangkal hidungnya lembut, ia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan kejadian yang menimpa Ferdian dan Felicia.


Genta berdiri dari duduknya. Dengan langkah cepat ia berjalan menuju kamar tidurnya ingin segera menemui Maurine.


Pintu kamar terbuka, Genta masuk dan menutup pintu. Langkahnya membawanya mendekati tempat tidur dimana Maurine duduk bersandar dan memeluk bantal.


Maurine menatap Genta, "Ada apa?" tanya Maurine.


Genta duduk di tempat tidur, "Ada kabar buruk," jawab Genta.


"Kabar buruk? tentang apa?" tanya Maurine ingin tahu.


"Ferdian meninggal dunia, dan Felicia dibawa ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Bagaimana menurutmu, bukankah ini mencurigakan, sayang?" tanya Genta.


Maurine diam sejenak, ia mencoba mencerna ucapan Genta. Maurine juga merasa aneh, namun ia tidak ingin berburuk sangka.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanya Maurine.


"Hm, entahlah. Aku tak ingin menebak-nebak, hanya saja perasaanku mengatakan jika ada sesuatu dibalik meninggalnya Ferdian. Terlebih sikap Felicia yang seperti itu, sampai melakukan pencobaan bunuh diri."


"Maksudmu? ada dalang dibalik ini semua? atau mungkin saja mereka sengaja merencanakan ini semua? begitu maksudmu?" terka Maurine.


Genta menatap Maurine, "Ya, itu semua bukan hal yang tidak mungkin kan? terlebih, ada seseorang yang diam-diam membantu Felicia. Sampai mengorek informasi tentangmu pada Rey, juga melibatkan Papamu, Bobby."


Maurine mengernyitkan dahi, "cerita yang benar. Jangan setengah-setengah, jangan membuat aku menerka dan berpikir keras, sayang. Mengapa Papaku ikut terlibat juga?" kata Maurine semakin penasaran.


Genta mengubah posisinya, ia memeluk Maurine dan berbaring mendekap Maurine.


"Aku akan cerita, sayang. Jangan banyak perpikir lagi. Dengar baik-baik ceritaku, oke?" ucap Genta.


Genta pun bercerita. Maurine baik-baik mendengar dan menangkap setiap kata-kata Genta.


15 menit kemudian....


"Jadi, maksudmu? papaku telah dimanfaatkan orang?" tanya Maurine menatap Genta.


Genta membelai rambut Maurine dan mengangguk perlahan, "Ya, kurang lebih seperti itu. Maafkan aku baru menceritakan ini, aku tak ingin kau banyak beban pikiran."


Maurine tersenyum, "aku mengerti. Kau sangat sayang padaku, ingin selalu membuatku tersenyum bahagia. Namun, kau tidak perlu menyimpan berita atau kabar yang bisa membuatku sedih. Sampaikan saja, aku pasti bisa mengerti."


"Baiklah, aku janji ini yang terakhir."


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Maurine menyandarkan kepalanya ke dada bidang Genta.


"Aku akan selidiki diam-diam ini semua. Kita tidak bisa hanya menduga dan menerka saja. Butuh bukti yang kuat dan kepastian," kata Genta.


"Apakah kau akan mengurus pemakanan Ferdian?" tanya Maurine.


"Ntahlah, aku rasa akan ada orang lain yang mengurusnya. Kita lihat saja, jika memang tidak ada yang mengurus atau membantu Felicia. Aku tidak akan keberatan, bagaimana pun Ferdian dan aku juga saling mengenal lama."


"Berhati-hatilah, jangan sampai kau terluka. Kau harus selalu waspada," kata Maurine.


"Tentu," jawab Genta.


Genta mengecup lembut kening dan puncak kepala Maurine. Genta lalu mendekap ringan tubuh Maurine.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2