Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Fakta yang mengejutkan


__ADS_3

Daniel pikir ia yang sudah membuat Tiara menangis, bibirnya tidak berhenti minta maaf. Andre dan Moza sampai kebingungan, Andre menarik tangan Moza sampai kembali duduk di sampingnya. Sementara Tiara masih menangis di pelukan suaminya.


"Kenapa kamu yang minta maaf? Atau jangan-jangan selama ini Tiara tertekan batin, ya? Kalau kamu macam-macam dan nyakiti Tiara, lebih baik aku bawa pulang dia ke Indonesia!" ancam Moza tidak main-main.


"Tidak ada yang bisa bawa Tiara dariku! Lagipula aku tidak pernah menyakitinya. Kami cuma bertengkar kecil saja, iya kan sayang?" Daniel menghapus air mata istrinya. "Sudah jangan menangis lagi."


"Kak Moza mau pulang ke Indonesia. Aku bisa kesepian di sini," rengek Tiara manja.


"Ada aku, ada mama dan sebentar lagi akan ada Laura. Diko sudah menghubungi aku. Tidak lama lagi mereka akan kembali ke Paris. Laura bisa menjadi temanmu, nanti." Daniel mengajak Tiara duduk. "Sudah ya, jangan menangis lagi."


"Kapan mereka datang?" tanya Tiara.


"Sebentar lagi!" Daniel mendekap Tiara dan membujuknya agr tidak menangis lagi.


"Kalau seperti ini aku tidak khawatir meninggalkan Tiara, aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik, aku harap kamu tetap sabar meghadapi sikap Tiara yang terkadang keras kepala." Moza mengenggam tangan Tiara. "Kalau saja Kakak tidak terikat kontrak di Indonesia, pasti kakak akan tetap di sini sampai persalinanmu, nanti. Tapi, kamu jangan khawatir, doa kakak selalu bersama kamu." Meskipun berat ia harus tetap kembali ke Indonesia.


Tiara berhenti menangis, ia bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang sayang padanya, mereka pun terlibat percakapan kecil yang diselingi tawa.


***


Beberapa hari kemudian di Indonesia.


Diko dan Laura sudah kembali ke kota. Diko mengajak papa tinggal bersama mereka agar ia tetap bisa memantau kesehatan ayah mertuanya. Rey dan Nicky bekerja sama memajukan perusahaan, sementara Diko berencana kembali ke Paris karena mama selalu mendesaknya untuk membawa Laura pulang ke Paris.


"Kamu sudah cari Oca?" Laura masih berusaha mencari informasi tentang Oca, ia marah karena Oca hanya meninggalkan sepucuk surat tanpa alamat atau no yang bisa dihubungi. Temannya itu seperti menghilang di telan bumi.

__ADS_1


Diko menyimpan beberapa berkas ke dalam koper dan kemudian ikut duduk di tepian tempat tidur.


"Belum, sepertinya Oca sengaja menutup semua informasi tentangnya."


"Kenapa?"


"Ntahlah, tapi aku akan tetap meminta Rey dan Nicky mencarinya. Mereka berdua sudah menunggu di ruang kerja, kamu di sini sebentar, ya. Jangan keluar kamar sebelum mereka pergi." Diko mengecup kening Laura, ia sengaja menahan Laura di kamar agar tidak mendengar apa yang akan ia bahas bersama Rey dan Nicky.


"Jangan lama-lama." Raut wajah Laura belum berubah, ia masih kecewa karena Diko tidak berhasil menukan Oca padahal, besok ia sudah kembali ke Paris.


"Tidak akan." Diko pergi tidak lupa menutup pintu kamar.


***


Dua pria yang masih patah hati ini duduk diam di sofa kecil yang ada di ruang kerja Diko. Tidak ada yang mulai untuk bicara, mereka hanya fokus membaca beberapa berkas dari rumah sakit dan pengacara Diko.


"Kupikir kalian sudah bosan menunggu." Diko menutup pintu dan duduk di hadapan Rey dan Nicky.


"Hasil tes DNA!" Nicky meletakkannya di atas meja.


"Lucu sekali kau ini, aku tidak butuh, itu!" tolak Diko, ia mengambil berkas lain di atas meja dan membaca isinya. Surat keterangan kematian dari rumah sakit. "Dona meninggal?" Ia hampir tidak percaya, memang dari awal kondisi wanita itu sangat mengenaskan jika hiduppun bisa cacat seumur hidup.


"Dokter sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya tapi, semua sia-sia. Takdir Tuhan berkata lain," jawab Rey, ia bergantian menatap Diko dan Rey.


Diko menghela napas berat, meskipun perbuatan Dona sudah sangat jahat karena sudah mencoba melenyapkan istrinya tapi, sebagai manusia ia tetap mendoakan kedamaian untuk wanita itu.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Rima? Sudah sampai di mana kasusnya?" tanya Diko lagi.


Kali ini Nicky duduk gelisah, jemari tangannya saling bertautan, hati kecilnya sangat mengkhawatirkan gadis yang akan dihukum itu Nicky sudah berusaha melenyapkan perasaannya tapi tetap saja masih ada tempat untuk Rima.


Rey diam sejenak dan sesekali melihat raut wajah Nick yang sudah berubah, Rey tau kalau Nicky masih sangat terpukul dengan kenyataan ini, sama dengan apa yang ia rasakan, ah ... kenapa harus mengingat Oca, lagi?


"Rima bisa mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama. Menurut pengakuannya dia tidak tahu kalau Dona sempat menyuruh orang untuk menabrak Laura, dari awal ia pun tidak tahu tentang surat cerai yang disiapkan Dona. Tapi dia tidak memungkiri kalau sudah berikan kertas berisi tanda tangan kalian. Demi uang, Rima mau membantu untuk merusak rumah tangga kalian, tapi, Rima tidak berniat sedikitpun untuk mencelakai Laura." Rey menjelaskan seperti apa yang disampaikan pengacara sebelumnya.


Perasaan Nicky semakin tidak karuan. "Tetap saja, wanita itu sudah berniat jahat." Nicky bahkan enggan menyebut namanya.


Diko dan Rey saling melirik satu sama lain, sebagai sesama pria mereka bisa merasakan dilema yang dirasakan Nicky, karena selama ini Nick sudah terang-terangan menunjukkan ketertarikkannya pada Rima.


"Dona sudah meninggal dan Rima tetap harus mendekam di penjara." Diko sudah mengambil keputusan untuk tidk mencabut laporanku ke polisi.


PRANG!!!!


Nampan berisi tiga gelas minuman yang dibawa Laura jatuh ke lantai, tangannya gemetaran saat tidak sengaja mendengar apa yang dibahas Diko di ruang kerjanya. Ya, Laura sudah berdiri di belakang suaminy tanpa sepengetahuan Diko, Reyhan dan Nicky.


Ketiga pria ini terkejut melihat ekspresi wajah Laura, wanita yang tengah hamil muda itu tampak syok dan masih mematung melihat mereka.


"Sayang...." Diko menghampiri Laura. "Kenapa keluar kamar?" Ia menggenggam tangan Laura yang terasa dingin saat menyentuh kulitnya.


"Karena ini kamu nggak bolehin aku keluar kamar? Apa semua yang aku dengar itu benar? Dona dan Rima, me-mereka bekerja sama untuk--" Laura tidak sangup meneruskan ucapannya, semua ini terlalu mengejutkannya.


Diko merangkul Laura dan membawanya duduk di sofa, memberikan segelas air putih untuk istrinya. "Minum dulu."

__ADS_1


Laura menepis tangan Diko. "Kamu bilang Dona yang merekeyasa surat cerai itu tapi, kamu nggak ceritakan semua ini! Aku salah dengar 'kan? Dona tidak mungkin meninggal dan Rima sekretaismu itu tidak sedang dipenjara 'kan?" Suara Laura terdengar lirih dan bergetar bahkan, wajahnya terlihat pucat mendengar kenyataan yang menakutkan.


__ADS_2