
Oca bergantung hidup dengan tabungan yang ia miliki, merawat nenek dan berusaha memenuhi kebutuhan Laura selama tinggal bersamanya. Oca sedikitpun tidak merasa keberatan, baginya kesehatan dan kenyamanan wanita hamil itu yang utama.
Seperti malam ini, ia berinisiatif keluar malam untuk mencari kebutuhan Laura. Oca keluar dari Minimart dengan membawa tiga kantung plastik berwarna putih bertuluskan nama mart tersebut, ia sengaja membeli banyak jenis buah, beberapa roti, cemilan dan susu hamil untuk Laura.
Angin malam bertiup kencang dan gerimis sudah mulai turun, ia berjalan cepat tanpa memerhatikan keadaan sekitar. Sesekali menundukkan kepala membetulkan barang bawaannya agar tidak jatuh.
DUG!!
"Akhh!!" Oca terjatuh sampai duduk di tanah, ia mengumpat dan terdiam melihat sepasang kaki jenjang ada di depan mata, pelan-pelan mengangkat kepala dan terkejut melihat pria yang ada di depannya. Karena buru-buru ia sampai menubruk dada seorang pria yang gosipnya tidak normal ini.
"Kalau jalan hati-hati, dong! Pakai mata," ucap Oca kesal sembari membersihkan telapak tangannya.
Rey tersenyum simpul dan berjongkok di depan Oca. "Harusnya kamu yang hati-hati. Jalan menghadap ke depan, bukan ke bawah!" Rey mengambil plastik putih milik Oca dan melihat isinya sekilas.
"Itu punyaku!" seru Oca sebelum Rey bertanya. Ah, jangan sampai Rey curiga kalau Laura ada di rumahnya.
Rey menaikkan satu alisnya. "Mau bilang kamu hamil lagi? Buah, susu hamil dan semua ini punya kamu?" Ia tersenyum remeh karena Oca diam dan mati gaya.
"Kembalikan!" Oca berusaha merebutnya tapi, Rey berdiri dihadapannya.
"Berdiri!" Rey menulurkan satu tangannya. "Kamu mau hujan-hujanan di sini?"
Meskipun kesal tapi Oca tetap berdiri, ia tidak sempat menolak ketika Rey meraih tangannya. "Kenapa keluar malam-malam begini?" tanya Rey basa-basi.
"Siang nggak sempat, aku sibuk cari kerja!" ketus Oca, wajahnya cemberut seperti benang kusut.
"Siapa suruh kamu menundurkan diri!" Rey tidak berhenti mengejek Oca, ia berjalan menuju mobil dan membuka pintu samping kemudi. "Masuklah, biar saya antar kamu pulang!"
"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri." Bahaya kalau sampai Rey ke rumahnya. Bukan cuma Laura, dirinya bisa tidak aman juga.
Kaca jendela penumpang terbuka lebar, mata Oca semakin membola melihat Diko menatapnya, harusnya ia memaki Diko tapi keberaniannya mendadak hilang begitu saja.
"Masuklah!" titah Diko, terlukis kecemasan di wajahnya.
__ADS_1
***
Mobil yang dikemudikan Rey melesat menuju rumah Oca yang hanya berjarak kurang dari 1km dari minimarket. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara, hanya ada decakan kecil ketika Diko memeriksa apa yang tadi dibeli Oca.
"Istri saya ada di dalam?" tanya Diko ketika sudah sampai di depan rumah tua milik nenek Oca.
Oca semakin panik karena Rey mengunci pintu secara otomatis, tidak ada jalan keluar selain menghadapi dua pria aneh ini.
Oca memutar badan melihat Diko. "Istri yang mana? Bukannya sudah Anda ceraikan, ya?" Ia tersenyum sinis. "Menceraikan istri dalam keadaan hamil, mau lepas dari tanggung jawab? lucu!" cibirnya, tidak ada sopan santun toh Diko bukan bosnya lagi.
"Jangan menambah masalah, jawab saja apa yang ditanya!" seru Rey tiba-tiba.
Oca melongos dan kembali duduk seperti semula.
"Biarkan saja ... dia bicara mewakili isi hati istriku. Laura pasti sudah banyak cerita. Tapi, mereka tidak tau kalau aku tidak pernah menceraikan Laura."
Oca terdiam dan berusaha mencerna ucapan Diko, ia melihat Rey. Rey menganggukkan kepala, lalu ia menoleh ke belakang. "Aku baca dan lihat sendiri ada tanda tangan kalian di sana."
"Aku sudah membuang kertas kosong itu tapi, ada orang lain yang memanfaatkan keadaan. Mereka sengaja merusak rumah tanggaku! Sampai sekarang Laura tidak tau kalau bukan aku yang menyiapkan surat itu!" Diko tidak bicara formal, ia menganggap Oca seperti temannya.
Darah Oca terasa panas, rasanya ingin mencabik-cabik wanita itu. Oca semakin terkejur ketika Rey menceritakan semuanya termasuk kondisi Dona yang kritis dan Rima yang mendekam di sel tahanan.
"Ya Tuhan ...." Sekujur tubuh Oca gemetaran.
"Tolong, jaga istriku selama aku tidak ada di sampingnya. Aku akan mengutus orang untuk menjemput kalian, jangan sampai Laura curiga kalau semua ini rencanku dan yakinkan dia agar mau ikut denganmu." Diko bicara serius, ia berpikir kalau malam ini bukan waktu yang tepat untuk menjemput Laura.
***
Oca menyembunyikan kebenarannya dari Laura, ia tidak mau keadaan Dona dan Rima membuat Laura stres. Oca percaya dan membantu Diko menyusun rencananya.
"Cepetan, itu mobilnya sudah datang!" teriak Oca di pagi hari. "Kita harus pindah dari rumah ini!" Ia membawa dua tas berisi pakainnya dan nenek.
"Kita mau ke mana?" tanya Nenek.
__ADS_1
"Tenang, Nek ... rumah ini nggak akan dijual. Kita cuma pindah sementara sampai rumah ini selesai direnovasi. Tuh liat, atapnya bocor, saluran air tumpet."
"Kamu punya uang untuk bayar tempat tinggal yang baru? Aku jadi nambah beban kamu ya," ucap Laura tidak enak hati.
"Udahlah jangan melow, dompetku masih aman, kok!" Oca menyengir kuda.
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikirim Diko sampai di perumahan sederhana tapi terlihat asri dan aman. Diko sengaja tidak menyiapkan rumah mewah suapaya Laura tidak curiga.
"Ini rumah siapa?" tanya Laura meragu, semua furniture dan warna dinding kamar sesuai warna kesukaannya bahkan ia merasa berada di kamar sendiri.
Oca menelan ludah, rumah ini terlalu besar untuk mereka. "Ak-aku sewa, iya udah aku bayar." Alasan yang masuk akal.
"Ada yang kau sembunyikan dariku?" slidik Laura.
"Nggak lah, udah ya aku mau liat nenek sebentar!" Oca meninggalkan Laura sendirian.
Laura menyingkap tirai jendela, ia tersenyum melihat hamparan bunga mawar yang bermekaran, sepertinya ia akan betah tinggal di rumah ini.
***
Diko tersenum lega melihat CCTV dari handponenya. Mulai hari ini ia bisa memantau Laura dari jarak jauh, memastikan keamanan dan kenyamanan istrinya.
"Oca memang bisa diandalkan," gumam Diko dan mencium layar ponselnya.
"Kau gila?" Nick duduk di samping Diko, ia baru keluar dari ruang ayahnya dirawat. "Kau bisa tersenyum sementara adikku ntah di mana!" Kalau bukan di rumah sakit, sudah ia habisi adik iparnya ini.
Diko tertawa dan menunjukkan layar handponenya. "Jangan khawatir istriku baik-baik saja."
Nick terperangah, terharu melihat Laura di tempat yang aman. "Dia sudah kembali ke rumah?" Matanya berkaca-kaca, rasanya ingin memeluk adiknya.
"Aku bahkan belum bertemu dengannya." Wajah Diko kembali murung. "Kita harus fokus merawat ayah, aku mau menjempt Laura di waktu yang tepat, disaat kita merayakan kebahagiaan nanti. Aku tidak mau Laura bersedih melihat kondisi ayah seperti ini."
Nick menepuk pundak Diko dan berucap. "Aku percaya padamu dan aku yakin semua akan baik-baik saja."
__ADS_1
Percakapan keduanya terhenti ketika beberapa dokter spesialis datang untuk melihat kondisi ayah mereka.