Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Salah Menduga


__ADS_3

Selesai makan dan beristirahat sebentar, Genta pun melanjutkan pekerjaanya kembali.


"Aku kembali bekerja dulu. Kau tetaplah disini," kata Genta.


Maurine menganggukan kepalanya perlahan, "Hm, iya..., bekerjalah. Semangat sayang," kata Maurine mencium pipi Genta.


Genta tersenyum, "Terima kasih, satu kecupan darimu ini sudah seperti sejuta semangat yang kau lontarkan."


"Kemarilah, aku akan kecupan lagi. Ayo," pinta Maurine.


Genta semakin bersemangat, Maurine mencium kening, hidung, kedua pipi, hidung dan dagu Genta.


"Sudah," ucap Maurine menatap Genta.


Genta terlihat kecewa, "Hanya itu? tidak ada bonus?" tanya Genta.


Maurine tahu maksdud Genta, namun Maurine berpura-pura tidak mau tahu. Maurine sengaja ingin mengerjai Genta, ingin melihat reaksi Genta saat Maurine melupakan kecupan terakhir untuk bibir.


Genta mengernyitkan dahi, "Kau jangan berpura-pura. Jangan menggodaku sayang," kata Genta.


"Menggoda apa? sudah cepat bekerja," elak Maurine.


"Mana ciuman untuk bibirku?" tanya Genta langsung berterus terang.


Maurine melebarkan mata, "Astaga..., mengapa aku bisa menikah dengan pria seperti ini. Oh tidak," batin Maurine.


"Kau sungguh tidak tahu malu," gumam Maurine merasa malu. Wajah Maurine langsung bersemu merah.


"Kau menciumku, atau aku yang harus menciummu. Hanya ada dua pilihan," kata Genta.


Maurine menghela napas panjang, dia mendekat dan mencium bibir Genta dengan segera. Merasa posisinya tepat, Genta mehan tangkuk leher Maurine dengan satu tangan dan memeluk erat Maurine dengan satu tangan lainnya.


"Sudah ku duga, kau akan seperti ini. Tidak ada bedanya kau atau aku yang mencium lebih dulu," batin Maurine.


"Tidak ada perbedaan kau duluan atau aku duluan yang mencium, karena kita sama-sama menikmatinya. Kau hanya mulikku Maurine," batin Genta.


Genta mendalamkan ciumannya. Maurine tidak melawan dan hanya bisa membalas ciuman Genta. Beberapa saat berjalan, cukup lama mereka saling beradu ciuman. Sampai akhirya Maurine melepas ciumannya dan menarik hidung mancung Genta.


"Ini masih di kantor. Akan ada hal berbahaya jika kita masih berciuman. Kau bekerjalah dulu, aku akn menunggumu. Oke?" kata Maurine tersenyum.


Genta tersenyum tampan, "Oke sayang, aku mencintaimu."


Gente kembali mencium kilas bibir Maurine dan langsung berdiri dari duduknya. Genta berjalan menuju meja kerjanya dan langsung duduk di kursi dihadapan komputernya. Genta tidak membuang waktu lagi, dia pun fokus dan berkonsentrasi bekerja.


***


Felicia dan Zack berpisah jalan. Mereka akan kembali bertemu malam nanti di bar untuk minum bersama. Felicia duduk diam dimobilnya, tidak tahu harus apa dan kemana lagi.


Berencana pulang ke rumah, namun niatannya di urungkan. Dirumah dia hanya akan menangisi Genta dan berlarut dalam kesedihan.


Dalam pikirannya, Genta masih bisa di bayangkan. Didalam gatinya, Genta seakan tidak tergantikan. Genta adalah cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir baginya. Felicia masih tidak terima jika Genta begitu saja menyingkirnkannya, membuangnya seperti sampah.


Felicia kembali membayangkan rupa Maurine. Dia tidak akan pernah lupa wajah Maurine, karena Maurine adalah istri dari pria pujaan hatinya. Pria yang juga membohonginya selama ini, kebenciannya hanya berbanding tipis dengan cintanya.

__ADS_1


"Si*l, aku tidak bisa melupakan Genta ataupun wanita j***ng itu. Apa istimewanya, bisa-bisanya dia di sentuh oleh Genta. Arrrrggghhhh!" Teriak Felicia kesal saat pikirannya kembali mengingat merah-merah di dada dan bahu Maurine.


Falicia mengepalkan tangan. Matanya menatap tajam kearah jalan yang ada di depannya. Tiba-tiba saja, ide gila muncul di pikirannya. Dia ingin Genta dan Maurine mendapatkan malu. Felicia akhinya pergi bersama mobilnya menuju suatu tempat.


***


Norry datang ke perusahaan Genta, ingin kembali bertemu Genta dan bicara soal kerjasama. Norry tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia bertekad ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Genta.


Apapun yang terjadi dan bagaimanapun hasilnya, tidak akan mempengaruhi semanggat Norry untuk maju mendapatkan kontrak kerjasama.


"Aku tidak boleh kehilangan kesemoatan ini lagi. Norry ayolah..., lupakan dulu kebencianmu demi hal yang benilai. Bersikap baik dan tersenyum ramah," batin Norry melebarkan senyuman walaupun perasaanya tidak senang.


Nina datang ke ruang tunggu dan menghampiri Norry. Nina sebenarnya enggan, namun dia tidak boleh menunjukkan rasa tidak suka karena kejadian sebelumnya. Nina bersikap semua baik-baik saja seperti sebelumnya. Nina menyuguhkan secangkir teh untuk Norry.


"Nona silakan," kata Nina.


"Terima kasih," jawab Norry tersenyum ramah.


Nina kaget, dahinya berkerut. Nina tidak mengira jika Norry akan bersikap manis dan baik.


"Wah-wah pandai sekali bersandiwara. Dia sungguh secepat kilat melupakan kejadian sebelumnya. Jika itu aku, aku pasti akan malu untuk menampakkan batang hidungku. Wanita ini mengerikan sekali," batin Nina.


Nina tersenyum, "Mohon bersabar menunggu. Tuan masih ada pekerjaan, Tuan akan datang menemui Anda sebentar lagi."


"Baik. Aku akan menunggu," jawab ramah Norry dengan tersenyum manis yang palsu.


"Menyebalkan sekali, selalu diminta menunggu dan menunggu. Kau kira aku apa Tuan Aiden? huh..., jika bukan karena kerjasama dan perusahaan, aku tidak akan sudi datang. Demi mendapat nilai baik di mata Papa, aku harus bersikap baik. Aku harus menahan diri," batin Norry.


"Baiklah Nona, saya permisi lebih dulu. Masih ingin kembali bekerja," kata Felicia.


***


Sebelumnya, Nina datang dan memberitahu jika Norry datang. Norry sudah di persilakan menunggu di ruang tunggu.


Maurine yang mendengar menatap Genta. Genta menatap Maurine dan kembali menatap Nina. Genta menganggukan kepala kepada Nina, tanda dia mengerti. Genta pun berpesan jika dia akan menemui Norry, meminta Nina menyampaikan pesannya pada Norry. Nina mengiyakan permintaan Genta dan langsung pergi setelahnya.


Maurine menatap lekat pada Genta, "Kau mengundang Norry datang?" tanya Maurine.


Genta menggeleng, "Nicky mengirim email dan menyatakan permohonan maaf, dia ingin kembali memperbaiki hubungan kerjasama. Tidak tahu mengapa dia mengirim Norry datang. Menurutmu bagaimana sayang? apa yang sudah Papa tirimu pikirkan?" tanya Genta pada Maurine.


Maurine memalingkan wajah dari Genta, dia mengernyitkan dahi, tidak lama melebarkan mata. Maurine pun kembali menatap Genta, menatap penuh tatapan curiga.


"Tidak mungkin berencana menggodamu kan?" tanya Maurine.


Genta tersenyum, "Itu mungkin saja. Kau tahu bukan, pernikahan palsuku dengan Felicia hanya diketahui beberapa orang saja. Orang luar tidak tahu, Nicky juga tidak tahu. Mengirim Norry untuk menggodaku, mungkin juga dia akan lakukan jika itu. Di dunia ini yang berada di posisi atas pasti akan di panjat," jalas Genta.


"Kau tidak akan tergoda kan?" lirih Maurine merasa tidak senang.


"Aku tergoda...," kata Genta yang langsung diam.


Maurine langsung menunjukan raut wajah tidak suka pada Genta. Seakan kecewa dengan jawaban Genta, Maurine langsung melipat tangan dan membuang pandangannya ke arah lain.


Genta tersenyum, "Masih ada kelanjutan dari perkataanku. Kau tidak mau dengar?" kata Genta.

__ADS_1


Maurine menggeleng, "Omong kosong apa lagi?" kata Maurine kesal.


Genta memeluk Maurine dari belakang lalu berbisik, "Aku tergoda..., hanya padamu seorang. Aku hanya milikmu, milik Maurine Stella Aiden, oke?" bisik Genta dengan nada suara lembut.


Maurine tersenyum, Maurine merasa malu. Sempat berpikir olehny jika Genta akan benar-benar mengatakan jika dia tergoda oleh Norry. Namun Maurine tidak mengira jika Genta akan menggodanya. Rasa kesalnya pudar seketika. Maurine memegang tangan Ganta yang melingkar di perutnya, dan mengusap tangan Genta.


Genta mencium tengkuk dan pipi Maurine, "Sampai kapan kau tidak memahami suamimu. Kau tahu dengan benar jika aku suka sekali menggodamu," kata Genta menundukan kepala sehingga kening Genta bersandar di bahu Maurine.


"Ya, aku melupakan itu. Aku lupa jika kau adalah perayu ulung. Aku lupa jika...," kata-kata Maurine terpustus.


Genta dengan cepat membalik tubuh Maurine dan langsung mencium lembut bibir Maurine. Beberapa saat kemudian Genta melepas ciuman dan memeluk Maurine.


"Maafkan aku, kau pasti mengira aku sungguh tergoda pada Norry tadi. Kau lebih segalanya dari Norry sayangku, tidak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun. Dari awal hatiku tergerak olehmu, senyummu, sikapmu. Sampai akhirpun aku ingin kau yang selalu ada disisiku," jelas Genta.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia


❤❤❤❤❤


***


Kunjungi juga novel (TAMAT) saya yang lain.


•Lelaki Bayaran Amelia


•Pelukan Hangat Paman Tampan


•Pangeran Es Jatuh Cinta


(Season ke 2 dari Pelukan Hangat Paman Tampan)


•Pangeran Vampir


•Pangeran Vampir 2


•Vampir "Sang Abadi"


•Cinta Lama Yang Datang Kembali


•Mommy And Daddy


•Darren & Karren (Perjalanan Cinta)


•Suami Pengganti


•Oh My Husband

__ADS_1


Jangan lupa like, rate dan isi kolom komentar. Terima kasih.


__ADS_2