
Diko tidak menyangka kalau hidupnya akan dilimpahi kebahagiaan seperti sekarang, dulu ia mau mengakui anak orang lain sebagai anaknya sendiri. Tapi, ayah anak itu datang menjemput ibu sekaligus bayi yang masih berada di dalam kandungan, dan sekarang Tuhan menggantinya dengan menghadirkan istri dan calon buah hati mereka, anak kandung dari benih yang ia tanam sendiri di dalam rahim Laura. Jika ia bisa memutar waktu maka, Diko tidak akan mau bicara kasar yang akan menyakiti Laura, sungguh Diko tidak pernah berpikiran akan mencintai Laura sedalam ini.
Gambar janin yang masih kecil dan berwarna monocrome itu seakan menempel di telapak tangan Diko, tidak mau dilepas walau hanya sebentar saja hatinya semakin menghangat melihat calon anaknya. Bahkan, sedari tadi dirinya yang paling antusias mendengarkan penjelasan dokter tentang kehamiln Laura. Vitamin dan suplemen makanan pun akan menjadi asupan Laura yang tidak boleh dilewatkan.
Selama rumah masih direnovasi, dipasang lift dan disterilkan dari debu-debu yang menempel di sana. Diko sengaja membawa Laura ke hotel bintang lima, ia ingin menjaga dan memastikan kenyamanan Laura selama tinggal di luar rumah, awalnya Laura menolak tapi, Diko tetap memaksa dan meminta asisten rumah tangga mengantarkan keperluan Laura.
"Tunggu di sini, aku harus menghadiri meeting dadakan di kantor." Diko terpaksa meninggalkan Laura sendirian di hotel sebab, ia kedatangan tamu asing dari luar negri untuk membahas perihal kerja sama mereka.
"Jangan lama-lama nanti aku bosan di sini dan kamu jangan lupa hubungin, aku." Bosan hanya akan jadi alasan Laura, mana mungkin ia bosan karena apa yang ia mau ada di sini belum lagi fasilitasnya sangat lengkap.
"Iya, aku cuma pergi sebentar saja. Ingat pesanku kamu jangan pergi kemana-mana dan jangan bicara dengan orang asing." Diko bergantian mengecup perut dan kening Laura lalu pergi membawa foto janin anaknya.
Setelah tiga puluh menit berlalu Laura merasa bosan di dalam kamar, acara tv tidak ada yang bisa menghiburnya, ia butuh teman cerita tapi, di jam kantor seperti ini tidak mungkin menghubungi Oca dan akhirnya ia memutuskan untuk mencari angin segar di luar.
Masih melewati lima kamar dari kamarnya, samar-samar ia melihat seorang laki-laki keluar dari kamar lain. Laura mendekati pria yang diyakini memiliki hubungan darah dengannya.
"Nick? Kamu di sini, juga?" Ya, pria itu adalah Nicki. "Ngapain?" tanya Laura.
Belum sempat Nicki menjawab, Laura sudah bertanya lagi. " Gimana hasil DNA kita? Kamu udah tau hasilnya?" tanya Laura penasaran.
"Beberapa hari ini aku sibuk di luar kota dan ngurus papa jadi aku belum sempat ke rumah sakit." Nicki menutup pintu kamar rapat-rapat, ia khawatir suarnya akan mengganggu orang yang istirhat di dalam.
"Papa kenapa?" Laura spontan mengatakan papa padahal, belum tentu papa mereka orang yang sama. Mendadak ia merasa cemas.
"Papa ... papa maksa untuk ketemu sama kamu dan nggak mau nunggu sampai hasil DNA kita ke luar."
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang sama aku? Terus sekarang papa ada di mana?" Laura menyentuh lengan Nick. "Aku juga mau ketemu sama papa."
"Kamu yakin udah siap ketemu sama papa?" Laura mengangguk pelan, Nicki yang tadinya ragu karena awalnya ia takut Laura menolak bertemu dengan papanya akhirnya membuka pintu kamar hotel leber-lebar. "Papa ada di dalam." Nick sedikit menjauhi pintu agar Laur bisa leluasa masuk ke dalam. "Masuklah!"
Tanpa pikir panjang, Laura masuk ke dalam kamar dan Nicki mengikutinya dari belakang. Laura melihat seorang laki-laki berambut putih tengah duduk di kursi roda menghadap jendela.
Laura tidak mengatakan sepatah katapun, ia marah, kecewa, sedih dan bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan papa kandungnya, sekujur tubuhnya bergetar mengingat takdirnya yang sengaja dijual sedari kecil bahkan, tidak ada seorang pun yang mencarinya.
Terlepas dari semua itu. Pantaskah ia membenci papa kandungnya sendiri?
Air mata Laura sudah mengalir di pipi, semarah dan sebenci apapun ia tetap tidak bisa melupakan fakta dan darah kental yang mengalir di tubuhnya dan lagi keluarga angkatnya pun tidak jauh lebih baik perlakuannya selama ini.
"Pa-Papa ...." lirih Laura terbata. Laura sudah siap menghadapi semuanya.
"Ka-kamu belum pergi? Papa berhalusinasi kalau adikmu ada di sini. Cepat jemput dia." Ia membuka telapak tangannya. "Gelang ini ... Papa mau kasih sendiri ke dia. Ini gelang cantik peninggalan ibu kalian. Sebelum Papa pergi, sebelum semua terlambat, Papa mau minta maaf." Tangan yang mengeriput itu menghapus kelopak mata yang sudah basah. "Papa sudah tidak punya banyak waktu lagi," ucapnya lirih.
Disaat Laura semakin tersedu, barulah pria yang menderita penyakit komplikasi ini menyadari kehadirannya. Gelang tangan yang tadinya ia genggam erat itu pun jatuh di keramik yang licin. Ternyata itu bukan sejedar halusinasi semata, sosok wanita cantik yang berdiri di sisi kirinya ini ia yakini sebagai bayi merah yang dulu pernah dijualnya.
Dengan air mata yang berlinangan ia menakupkan kedua telapak tangannya. "Maaf ... maafkan laki-laki tua ini." Bibirnya bergetar, matanya terpejam ia siap menerima kemarahan dan penolakan Laura karena ia yakin kalau perbuatannya sudah sangat keterlaluan.
Menukar anak kandung dengan uang.
Laura cepat-cepat berlutut lalu meraih tangan Papanya. Nalurinya sebagai seorang anak yang sebentar lagi akan menjadi orang tua tidak bisa menyimpan benci terlalu lama.
"Papa ... Papa masih ingat sama aku?" tanya Laura.
__ADS_1
"Jangan, jangan panggil Papa. Aku tidak pantas menyandang gelar itu darimu. Aku cuma orang tua bo doh. Maafkan aku." Ia kembali menakupkan kedua tangan penuh sesal.
Masih dalam posisi berlutut, Laura memeluknya. "Mau seperti apapun ... Papa tetap Papaku. Jujur, Laura kecewa tapi, kita tidak harus larut dengan masa lalu. Laura tidak mau membuang waktu kita lagi. Laura ke sini memang untuk mencari Papa, Laura mau tau seperti apa keluarga kandung Laura," ucap Laura.
Papa Laura semakin menangis, kalau tau anaknya sebaik ini tentu ia tidak akan pernah menjualnya.
"Terima kasih sudah hadir di usia senja Papa." Ia masih bersyukur karena Tuhan masih berikan kesempatan untuknya.
Nick mengambil gelang peninggalan ibu mereka. "Papa menyimpan gelang ini untuk kamu."
Laura melepaskan pelukannya. "Pakaikan, Pa ...." Ia mengulurkan tangan dan tersenyum.
"Apa ini mimpi, Nak?"
Laura menggeleng. "Tidak, Laura ada di sini," jawab Laura.
Dengan senang hati Papa Laura memaikaikan gelang cantik itu dipergelangan tangan Laura.
"Kamu cantik persisi seperti ibumu." Ia mengecup kening Laura.
***
Dua pengawal yang dikirimkan diam-diam untuk mengawasi Lauraberdiri di depan pintu yang masih tertutup rapat.
"Kita laporkan sama bos," ucap salah satu dari mereka.
__ADS_1