
Maurine menceritkan tentang Mama dan Papanya pada Genta. Meski Genta bisa dengan mudah membeli informasi, tetap saja ia lebih tertarik dengan cerita yang didengarnya dari mulut istrinya.
"Jadi...."
"Jadi apa?" sambung Genta.
"Jadi begitulah," jawab Maurine.
"Begitu apa? aku tidak mengerti maksudmu," ucap Genta.
"Entahlah, aku harus cerita darimana. Yang jelas, Mamaku dulu berkata jika aku harus bisa menemukan seseorang yang tulus mencintaiku. Tidak hanya mencintai kelebihanku, tetapi juga mencintai kekuranganku. Mama ingin aku bahagia, apa maksud itu aku juga tidak mengerti pada awalnya. Namun, aku sadar arti semua itu saat Papa dan Mama bertengkar. Papa yang memukul Mama, tidak ada kasih sayang ataupun cinta dimata Papa."
Genta memeluk Maurine, "Ada aku disini, aku akan menjaga dan melindungimu. Aku akan mencintaimu dengan setulus hatiku," ucap Genta.
"Ya, aku percaya itu. Kau adalah pria yang baik," jawab Maurine tersenyum senang.
"Kenapa Mama Liana tidak pulang ke rumah orangtuanya?" tanya Genta.
"Mama mengatakan jika Mama sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya. Bahkan saat Nenekku meninggal, aku dan Mama hanya bisa memandang dari jauh."
"Soal Mama Liana yang memutuskan hubungan. Apakah sebelumnya Mama melakukan kesalahan? atau terjadi sesuatu?" tanya Genta penasaran.
"Soal itu aku tidak mengerti. Yang ku ingat saat Papa dan Mama bertengkar, Mama selalu mengatakan menyesal pergi dan menikah dengan Papa. Papa sangat tidak peduli, menyulitkan Mama."
"Menyesal pergi? tunggu, mungkinkah Mama Liana melarikan diri dari rumah?" ucap Genta tanpa banyak berpikir.
"Hah? melarikan diri? dari siapa?" jawab Maurine bertanya-tanya.
Maurine tidak mengerti maksud Genta. Sedangkan Genta mulai curiga, dia memikirkan sesuatu hal, mencerna ucapan Maurine baik-baik.
"Sepertinya aku harus selidiki latar belakang keluarga Mama Liana. Aku akan minta Alvian mengurus ini nanti, aku curiga sesuatu. Ya, jika tidak dicari maka rasa ingin tahu ini tidak akan hilang begitu saja," batin Genta.
Melihat Genta diam, Maurine jadi lebih bingung. Maurine memanggil Genta dan bertanya pada Genta.
"Sayang, apa ada sesuatu?" tanya Maurine.
"Tidak ada, lupakan saja. Terima kasih kau sudah mau jelaskan tentang keluargamu padaku. Bagaimana perasaanmu sekarang? apa masih terasa sakit?" tanya Genta khawatir.
Genta meraba perut Maurine. Maurine tersenyum, memegang tangan Genta yang meraba perutnya.
"Hei, hentikan. Jangan merabanya lagi," kata Maurine.
"Kenapa?" tanya Genta tidak mengerti.
Wajah Maurine memerah, "Lupakan," jawab Maurine.
Genta mengernyitkan dahi, "Ahhh, aku mengerti. Apakah kau merasa demam?" tanya Genta menggoda, "Kenapa wajahmu merah sayangku," sambungnya.
Maurine memalingkan wajah, "Tidak ada, aku tidak demam dan aku baik-baik saja."
Genta mendekat, ia mengecup pipi Maurine kilas. Sikap Genta membuat jantung Maurine berdebar, Maurine semakin malu dan salah tingkah.
__ADS_1
"Jangan tiba-tiba menciumku," kata Maurine.
Genta tersenyum dan mendekati wajah Maurine, "Sayang, ada apa denganmu? apa yang membuatmu berubah sikap seperti ini?" Bisik Genta ditelinga Maurine.
Jarak yang begitu dekat, Maurine bisa mendengar deru napas Genta. Juga bisa meeasakan hangatnya napas Gneta.
Genta tiba-tiba saja menjulurkan lidah dan menjilat daun telinga Maurine. Tentu saja Maurine kaget dan langsung menutup matanya. Genta kembali berbisik, lagi, lagi mengejutkan Maurine.
"Aku tahu, apakah kau begitu merindukanku? sudah tidak tahan? ingin...," kata-kata Genra terhenti, Maurine memalingkan wajah dan menutup mulut Genta dengan tangannya.
"Shhh, jangan bicara lagi."
Genta tersenyum, ia melepas tangan Maurine dari mulutnya dan langsung mencium bibir Maurine. Ditahannya tengkuk leher Maurine dengan tangan kiri, dan dipeluknya pinggang Maurine dengan tangan kanannya.
Ciuman berlangsung cukup lama, Maurine dan Genta saling melepas kerinduan. Puas berciuman, mereka pun melepaskan ciuman mereka masing-masing. Mereka tidak bisa berbuat lebih dari itu, karena keadaan Maurine yang belum pulih sepenuhnya. Genta terpaksa menahan keinginannya untuk melakukan hal manis bersama Maurine.
"Awas saja, aku akan membuatmu membayar hutang, Nyonya Aiden."
"Haha," Maurine tertawa, "Oh ya, baiklah. Ayo kita bertaruh, siapa yang akan kalah nanti dalam pertarungan."
"Wanita nakal," kata Genta mencium kilas hidung Maurine.
"Pria mesum," jawab Maurine.
"Mesum? hei, normal saja pria mesum jika istrinya nakal. Yang terpenting aku tidak menggoda wanita lain, aku hanya akan mesum padamu dan menggodamu."
"Kau berjanji?" jawab Maurine.
Maurine tersenyum cantik, Genta mencium pipi Maurine dan kembali mencium bibir Maurine. Ciuman yang lembut, Genta sangat berhati-hati dalam mencium Maurine, ia juga menjaga agar tangannya bisa diam. Satu kesalahan saja bisa membuat Maurine dalam masalah.
"Tahan keinginanmu Genta. Maurine masih sakit, saat ia sembuh nanti, kau bisa puas bermain bersamanya. Jangan buat kekacauan," batin Ganta menahan diri.
"Lembut sekali dan sangat berhati-hati. Apakah dia sangat takut lukaku terbuka?" batin Maurine.
***
Sore harinya, Maurine sedang tidur. Alvian datang dan meminta waktu untuk berbincang dengan Genta.
Genta mengajak Alvian kelaur dari ruangan agar tidak mengganggu Maurine beristirahat. Genta dan Alvian bicara di ruang tunggu yang ada didepan ruang kamar Maurine.
"Bagaimana?" tanya Genta.
"Saya temukan sesuatu, Tuan. Silakan Anda melihat hasil foto ini."
Alvian memberikan ponselnya agar Genta bisa melihat foto yang diingin ditunjukkannya.
"Bobby pergi menemui seseorang?" tanya Genta melihat foto diponsel Alvian.
"Ya, dari indormasi yang saya dapatkan. Seseorang ini adalah Zack, keponakan dari pemilik club, Tuan Reyvandi."
"Bagaimana bisa mengenal Bobby, Al?" tanya Genta tidak mengerti, ia mengembalikan ponsel Alvian kembali dan diterima oleh Alvian.
__ADS_1
"Maaf Tuan, ada hal penting lainnya yang harus saya informasikan. Nona Felicia kenal dekat dengan Zack, Zack beberapa kali mengunjungi Nona Felicia."
"Aku mengerti, minta kepala polisi menempatkan Felicia di ruangan khusus dan jangan ada satu orangpun yang diperbolehkan datang melihat keadaan Felicia. Bisa-bisanya mencari bantuan orang lain untuk membalas dendam, wanita ini memang sudah gila. Sisanya kau tahu harus apa Alvian, aku mengandalkanmu. Aku tidak bisa begitu saja mengebaikan Maurine disini."
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan melakukan semua yang Anda perintahkan."
"Hm, pergilah. Aku lelah ingin istirahat," sambung Genta.
"Baik, Tuan. Saya permisi," jawab Alvian.
Alvian pergi meninggalkan Genta. Genta memejamkan mata dan mengehela napas panjang.
"Aku akan melindungi istriku, bagaimanapun caranya. Tidak akan aku biarkan seseorang menyakitinya lagi. Felicia, jangan harap kau bisa keluar dari penjara! wanita jahat sepertimu tidak akan bisa berubah jika diberikan kesempatan sekalipun. Kau yang memulai ini, jangan salahkan aku jika aku akan bersikap kejam. Hahhhh...," gumam Genta yang lagi-lagi menghela napas.
***
Alvian menjalankan perintah dari Genta. Bahkan Alvian tidak hanya menghubungi juga langsung datang berbicara dengan kepala polisi. Alvian menceritakan mengenai Zack, meminta bantuan untuk menyelidiki siapa Zack. Setelah begitu lama berbincang, Alvian berpamitan untuk segera pergi menyelesaikan hal lain.
Dari kantor polisi, Alvian pergi menemui Reyvandi. Alvian tahu Reyvandi adalah seseorang yang bisa membantunya juga . Alvian menceritakan semuanya pada Reyvandi, membuat Reyvandi kaget dengan pernyataan Alvian. Rey sapaan Reyvandi, tidak menyangka keponakannya akan seperti itu.
Rey pun berpikir, ia memang menceritakan sedikit masalah Maurine dan Genta yang membawa pergi Maurine. Rey akhirnya sadar, jika ceritanya dijadikan bahan informasi oleh Zack.
"Tuan, ada apa?" tegur Alvian.
"Tidak-tidak, hanya sedikit ingat saja. Aku sepertinya sudah membuat kesalahan dan dimanfaatkan oleh Zack."
"Maksud Anda?" tanya Alvian lagi.
Rey pun bercerita. Bahwa ia sudah menceritakan masalah Maurine yang dijual Bobby juga masalah Genta yang menebus Maurine pada Zack.
"Apa yang harus aku lakukan, Alvian?" tanya Reyvandi.
"Jika Anda berkenan, Anda bisa bekerja sama dengan Tuan Aiden. Kami tidak akan mencelakai Anda maupun keponakan Anda jika Anda mau bekerja sama, Tuan Rey."
"Tidak masalah, karena aku juga terlibat aku akan berusaha bekerja sama dengan baik."
"Terika kasih, Tuan Rey. Tuan Aiden pasti akan senang mendengar ini," jawab Alvian.
Setelah selesai berbincang dengan Reyvandi, Alvian segera berpamitan.
***
ig: dea_anggie
Line id: dea_anggie
Fb: dea anggie
Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia
❤❤❤❤❤
__ADS_1