Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Dona Dipecat


__ADS_3

Laura mengulum senyum, ia bahkan berharap agar waktu berhenti berputar memberinya kesempatan untuk lebih dekat dengan Diko. Aroma parfum maskulin ini membuat Laura enggan menjauh dari suaminya karena Diko jarang sekali mendekapnya seperti ini kecuali bila mereka berada di atas ranjang.


"Peringatan pertama untukmu!" Diko memutar tubuh Laura dan memastikan paha istrinya ini tertutup dengan sempurna. "Sekali lagi aku melihatmu memakai rok seperti ini, kupastikan kau tidak bisa jalan." Wajah Diko tampak seperti benang kusut, ia menoleh kearah Dona yang terpaku di tempatnya. "Ikut keruangan saya!"


Jemari tangan Dona gemetaran, ia tidak tau kalau bosnya masuk ke kantin ini. "Ba-baik, Pak...." ucapnya lirih dan ketakutan.


"Oca, pesan kemeja dan celana untuk Laura!"


"Ba-baik, Pak." Oca buru-buru meraih tangan Laura. "Ikut aku." Bahhkan Laura juga tidak berani membantah suami dan bosnya ini.


Sebenarnya Diko ingin menarik Laura pulang tapi, ia tidak mau mencampur urusan pribadi dan pekerjaan lagi ia harus segera menyelesaikan parasit yang ada di sekitarnya. Diko yang masih kesal tidak menghiraukan siapapun lagi ia pergi dan hilang dibalik pintu lift.


"Awas, kau!" Dona sempat menatap benci pada dua wanita ini sebelum menggerakkan kaki mengejar Diko.


"Rasain, lo! Semoga dipecat!" seru Oca, ia sudah muak melihat tingkah Dona yang semena-mena.


Laura mendesahkan napas, harusnya ia mengejar Diko dan tidak membiarkan suaminya berdua dengan wanita lain tapi Diko bisa semakin marah kalau ia membangkang.


"Kamu nggak apa-apa?" Nick mendekati Laura. Sebagai seorang laki-laki dewasa Nick sempat curiga melihat tindakan, tatapan dan ucapan Diko pada Laura tapi, untuk sekarang mencari tau hubungan mereka bukan menjadi urusannya, karena Nick masih punya tujuan utama yang lebih penting yaitu mengambil sample darah atau rambut Laura untuk segera ia bawa ke rumah sakit agar bisa mengetahui DNA mereka, apakah cocok atau tidak.


"Nggak, cuma insiden kecil. Maaf ya, tamu penting harus melihat kejadian memalukan seperti ini," ucap Laura. "Aku memang suka bikin keributan," imbuhnya.


"Kamu nggak perlu sungkan, Laura. Kita ini bukan orang asing, kita sudah saling mengenal aku bahkan menganggapmu teman, apa kamu tidak mau berteman denganku? Apa kamu sudah melupakan percakapan kita di taman hiburan waktu itu?" tanya Nick.


Laura mencoba mengingat ketika ia menangis tersedu. "Oh, itu ... aku semakin malu. Apa kau sudah menemukan titik terang?" Laura antusias, sementara Oca tampak linglung seperti orang bo doh, kenapa mereka terlihat akrab? pikirnya.


"Sebentar lagi." Nick merogoh saku jasnya. "Tulis no ponselmu." Ia mengulurkan benda pipih miliknya.


Laura menerimanya. "Baiklah." Tangannya mengetik angka sampai 12 digit. "No aktif yang bisa kamu hubungi ketika sudah mendapatkan informasi." Laura mengembalikan ponsel Nick. "Ntah mengapa aku percaya padamu, Nick."


Salah! Laura tau kalau ini salah harusnya ia terbuka pada Diko, harusnya ia percaya dan meminta bantuan Diko tapi, Laura malu pada suaminya itu belum lagi Diko tidak mengatakan apapun tentang perasaannya, bagaimana kalau Diko semakin menolak dan menjauhinya kalau sebenarnya tujuannya datang ke Indonesia hanya untuk mencari ayah kandungnya? Diko pasti marah karena merasa ditipu. Tidak, hubungan mereka sudah mulai membaik dan Laura tidak mau ada jarak lagi diantara mereka.

__ADS_1


"Aku janji, kau akan menerima kabar baik."


Percakapan mereka terputus ketika Oca menarik dan membawa Laura tanpa bicara sepatah katapun lagi, wajah Oca mendadak menjadi pucat pasi setelah sempat membaca pesan dari no baru yang ia yakini kalau Diko yang mengirim pesan itu.


'Bawa Laura pergi dari sana atau kau jadi pengangguran untuk seumur hidupmu.' Terkutuklah pesan ini. Oca bahkan masih gemetaran.


***


Ace diruangan Diko berfungsi dengan baik tapi, Dona merasa dikelilingi hawa panas, ia masih berdiri mematung di depan meja Diko. Sudah hampir 10 menit ruangan itu hening seperti tidak berpenghuni, sejak menginjakkan kaki di sini, Diko tidak mengatakan sepatah katapun selain fokus menatap layar di depannya.


Diko menggenggam erat ponsel di tangannya. Pupil matanya fokus memantau CCTV kantin di mana Laura tampak berbincang dengan Nick.


"Harusnya kutarik dia tadi." Diko mengirim pesan berisi ancaman untuk Oca.


TAK!


Diko meletakkan benda pipih itu di atas meja dan mengedarkan matanya menyorot Dona.


"Kau dipecat!" ucap Diko tanpa basa-basi.


"Kau pikir aku buta? Kemasi barang-barangmu sebelum aku melakukan hal yang bisa kau sesali."


"Beri saya kesempatan untuk perbaiki kesalahan yang tidak sengaja saya buat, Pak."


"Tidak sengaja?Kesalahan mana yang tidak sengaja kau lakukan? Menyiram Laura? Atau menggelapkan uang perusahaan?" teriak Diko.


Dona semakin gemetaran dari mana Diko tau tentang semua ini?


"Pak---


"Rey!!!" Diko memanggil asistennya. Rey membuka pintu dari luar dan masuk mendekati meja Diko. "Tunjukkan padanya agar wanita ini tidak berani bersilat lidah lagi."

__ADS_1


"Baik, Pak." Rey membuka laporan keuangan selama Diko di Paris dan selama Dona menjadi sekretarisnya.


Dona sudah tertangkap basah.


"Kau menggelapkan uang dalam jumlah besar dan merugikan perusahaan, ditambah lagi kau sering berbuat semaumu kepada karyawan lain ketika pak Diko tidak sedang berada di kantor."


Dona mengepalkan tangan, ia tidak mengira kalau ternyata pria yang tampak pendiam ini ternyata adalah seorang mata-mata yang mengerikan.


"Aku masih menahan diri karena menghargai ayahmu yang ikut membantu membangun perusahaan ini berdiri jika tidak ... aku sudah menjebloskanmu ke penjara," ucap Diko.


"Ampuni saya, Pak. Jangan pecat saya, jangan bawa saya ke penjara." Dona memohon dan memelas tapi Diko tidak menghiraukannya.


Diko memberi isyarat mata agar Rey membawa Dona pergi dari ruangannya. Rey pun tidak mau membuang waktu, laki-laki bertubuh jangkung ini pun menarik Dona dan membawnya secara paksa.


"Dengain gue, Rey! Lo nggak bisa lakuin gua kegini, brengs*k!" teriak Dona ketika Rey melepaskan cengkraman tangannya di dalam lift.


Rey tetap diam dan menekan tombol turun ke lantai dasar.


"Sial*an, lo anggap gue tunggul!" Dona menarik lengan Rey hingga pria ini menghadapnya. "Gue mau, kita kerja sama. Gue bisa jamin lo dapat keuntungan besar asalkan lo bisa pastikan gue nggak dipecat dari perusahaan ini."


Rey memicingkan mata. "Kamu sudah gila!" Rey tersenyum remeh.


Dona semakin menjadi ia mendorong Rey sampai punggungnya membentur dinding.


"Aku ... bisa kasih apapun yang kamu mau, termasuk." Dona menjeda ucapannya, ia memainkan jemari tangannya di wajah Rey agar Rey tergoda dan masuk perangkapnya. "Menemanimu di atas ranjang," bisiknya lirih.


Rey tersenyum dan sekilas memejamkan mata, di menit berikutnya ia memutar punggung Dona dan mengunci kedua tangannya.


"Akhhh!" Dona mengaduh kesakitan, ia tidak mengira peliharaan Diko yang biasanya pendiam ini bisa marah juga bahkan sangat mengerikan.


"Jangan berani main-main dan jangan membangunkan macan yang sedang tidur. Hari ini masih ada ampun untukmu, pergi dan jangan kembali lagi sebelum aku mengulitimu hidup-hidup."

__ADS_1


Ting!!!!


Pintu lift terbuka lebar, Oca terkejut dan menelan ludah melihat dua orang yang tampak saling menempel dalam lift.


__ADS_2