
Bukan tidak percaya dengan pelayanan hotel, hanya saja Diko ingin menjaga kandungan Laura, apa yang dikonsumsi, vitamin, dan susu hamil harus sesuai dengan apa yang sudah dianjutkan dokter sebelumnya. Masih pagi buta ia meninggalkan hotel, sengaja menunda rencana untuk menemui Nick agar bisa lebih fokus mencari tahu rencana Rima dan Dona sebelum bertindak lebih jauh mengganggu dan melukai istrinya.
Stelan kantor sudah melekat di tubuh ketika ia menjemput Rima di apartmen. Diko berusaha menyimpan amarah dan penasarannya agar Rima tidak curiga kalau ia telah mengetahui kebusukan Rima. Biarlah berpura-pura sampai ia bisa menangkap Dona.
"Mana berkasnya?" tanya Diko ketika berada dalam perjalanan.
Rima yang duduk di sampingnya cepat-cepat membuka tas dan mengambil berkas penting untuk ditandatangani Diko. "Ini, Pak." Memberi pena hitam dengan kepala tertunduk malu dan merasa bersalah.
Diko membubuhkan tanda tangannya. "Kamu bawa laptop saya yang ada di atas meja?" tanya Diko.
Rima mengangkat kepala. "Tidak, Bapak nggak ada bilang."
"Gimana mau bilang? Ponsel kamu nggak bisa dihubungi." Ia menyerahkan berkas untuk disimpan Rima. "Saya paling tidak suka bekerja dengan orang yang plimplan, harusnya ponsel kamu aktif selama 24 jam! Apa kamu lebih sibuk dari saya?" Diko marah dan kembali menatap keluar jendela.
Telapak tangan Rima sudah keringat dingin. Bahkan, untuk bicara pun sudah tidak punya nyali. Rima tahu kalau sekarang suasana hati Diko sedang kacau.
"Ehm, maaf Pak ... saya salah. Maaf juga karena saya sudah membuat istri Bapak salah sangka."
Diko melirik Rima. "Perduli apa kamu sama istri saya?" Diko menghela napas panjang, menaham diri agar tidak menghabisi Rima di sini. "Sudahlah, hormon kehamilan membuat emosinya tidak labil." Diko mengambil handpone dari saku jas yang ia pakai. "Kamu pakai handpone ini dan aktifkan selama 24 jam penuh, paham kamu?"
Rima tampak ragu tapi akhirnya ia mengambil benda pipih itu. "Terima kasih, Pak. Nanti saya kembalikan."
Diko hanya berdehem dan meminta supir menambah kecepatan mobilnya.
***
Bibik sudah kembali ke rumah, ia terpaksa meninggalkan Laura sendirian di hotel karena tidak berani membawa Laura tanpa ijin dari Diko. Apalagi, dua pengawal itu selalu berjaga di depan pintu.
"Permisi!" Petugas pos berhenti di depan pagar.
Bibik menghampirinya. "Cari siapa, Pak?"
"Saya ngantar surat untuk ibu Laura yang ada di alamat ini dan katanya harus ibu Laura sendiri yang nerima."
__ADS_1
"Non Laura nggak ada di rumah, biar saya saja yang antar," tawar Bibik.
"Waduh gimana, ya? Saya takut salah. Soalnya ini penting."
"Saya tau ini penting, mungkin surat dari Paris." Bibik meyakinkan Pak pos sampai akhirnya ia kembali ke hotel membawa surat untuk Laura.
***
"Surat apa?" Laura tampak membolak-balikkan amplop berwarna putih yang baru diberikan bibik padanya, ia duduk ditepian tempat tidur dan membuka amplop yang tertulis namanya. "Tidak mungkin dari Paris." Meski ragu Laura tetap membuka dan mengambil selembar kerts dari sana.
DEG!!!
Kelopak mata itu terbuka lebar, jantungnya terasa sakit seperti disayat sembilu, kepalanya terasa berat seperti ada yang menimpa ubun-ubunnya, tangannya gemetaran sampai menjatuhkan surat cerai yang dikirimkan Diko untuknya.
Inilah puncak pertengkaran mereka, Laura menangis karena semakin tidak mengenali Diko. Bukanlah malam tadi pria itu masih memeluknya? Tapi kenapa hari ini mengirimkan surat cerai untuknya?
"Dari awal kau tidak mencintai aku makanya kau menyiapkan kertas dan tanda tangan kita dulu. Kenapa kau sejahat ini?"
Kini, Laura tahu untuk apa Diko meminta tanda tangannya. Sudah jelas agar seolah-olah dirinya terima percerain ini.
Dua pengawal menghadang jalan Laura. "Mau ke mana, Non?" tanya salah seorang dari mereka.
"Kalian tidak perlu menghalangi jalanku, karena Tuan kalian sendiri yang memintaku pergi dari sini!" Laura menunjukkan surat cerai itu.
Dua orang ini terkejut dan saling melirik satu sama lain, mereka ingin memastikan sendiri keaslian surat itu dan menghubungi Diko tapi, Diko tidak menjawab panggilannya.
"Saya bisa laporkan kalian kepolisi atas perbuatan yang tidak menyenangkan karena saya bukan istri Tuan kalian lagi!" cetus Laura. Kini, Laura pergi tanpa ada yang menghalanginya.
Kaki yang masih gemetaran itu berhenti tepat di depan kamar Nick. Laura semakin menangis dibuatnya.
"Aku nggak mungkin datang dalam kondisi yang kacau seperti ini. Papa tidak tahu kalau sebelumnya aku sudah menikah. Papa bisa semakin sakit kalau aku diceraikan dalam keadaan mengandung. Maafkan aku, Pa ... tunggu aku." Laura menyeka air mata dan pergi meninggalkan hotel seorang diri.
***
__ADS_1
Diko, Rey dan Rima berada di dalam ruangan yang sama untuk memulai meeting. Tanpa sengaja Diko melirik handpone di atas meja. Tertulis dua panggilan tidak terjwab dari orang di hotel.
"Ada apa?" tanya Diko ketika panggilan itu sudah terhubung. "Pargi? Kenapa Laura bisa pergi?" Diko marah dan menggebrak meja.
"Nona pergi setelah membaca surat cerai yang bapak kirimkan."
"Bodoh! Aku tidak pernah mengirimkan surat apapun! Apa lagi surat cerai untuk istriku!" Diko mengepalkan tangan, anak buahnya meyakinkan kalau ada tanda tangan Diko dan Laura di sana. "Cari istriku, jangan biarkan dia pergi sendirian terlalu jauh, bod oh!" Diko memaki dan mengakhiri percakapan mereka.
Laura dan Rey pun terkejut mendengarnya. Rey beranjak ketika Diko pergi tanpa bicara apapun.
"Cerai?" Rima keringat dingin, ia yakin ini buntut dari kejadian malam tadi tapi ia bingung mendengar ucapan Diko tidak pernah menceraikan Laura.
"Surat itu, jangan-jangan perbuatan Dona! Dia manfaatkan kertas kosong berisi tanda tangan Diko dan Laura yang pernah aku kasih!"
Rima merasa bersalah, ia menghubungi Dona memakai ponsel yang diberikan Diko sebelumnya.
"Kau memang gila, Dona! Kau yang kirim surat cerai untuk Laura, kan?" tanya Rima.
Dona tertawa. "Iya, sempurna, bukan? Kalau aku nggak bisa buat Laura mati secara langung, maka akan aku buat dia mati perlahan!"
"Kau sudah di luar batas! Cepat periksakan kejiwaanmu sebelum terlambat!" certus Rima.
"Aku nggak gila! Kalau saja orang yang aku suruh nabrak Laura berhasil bikin Laura mati aku nggak akan nyiapin surat cerai itu, Rima!" teriak Dona.
"Tenang Dona, jangan marah-marah! Tunggu aku kita harus bicara!" Rima menekan tombol merah dan meninggalkan ruang meeting.
Tidak perduli dengan orang-orang yang menghalanginya. Rima meninggalkan kantor menggunakan taksi. "Ke alamat ini, Pak!" Rima memberikan secarik kertas untuk supir.
***
"Seperti biasa, Oca selalu punya isting yang kuat dan kali ini apa yang ia curigai memang terbukti." Diko menggenggam handpone miliknya. Ya, dirinya telah menyadap handpone yang diberikannya untuk Rima.
"Benar-benar licik." Rey mengumpat di balik kemudi.
__ADS_1
"Jalankan mobilnya, Rey! Jangan biarkan dua perempuan itu lolos!" titah Diko.
Rey menekan pedal gas dan mengikuti taksi yang membawa Rima pergi.