
Hembusan angin menyibakkan sebagian rambut Ocha bahkan, hampir menutupi wajahnya namun, Oca tidak peduli Ia tetap diam menatap nanar nenek yang tersenyum dan memintanya untuk menerima lamaran Reyhan. Ocha tidak mengerti kenapa nenek mendukung pria ini padahal, nenek tahu kenapa sampai sekarang dirinya belum menikah jangankan menikah kekasih pun tidak punya.
Untuk sekarang dirinya tidak memikirkan adanya pernikahan apalagi dengan laki- laki yang tidak pernah mengenalnya dengan baik. Oca masih trauma dengan perceraian kedua orang tuanya, orang yang saling mencintai saja masih bisa bercerai lalu bagaimana dengan dirinya dan Rey? Sudah pasti ia akan mengulang sejarah kelam dalam hidupnya kedua orang tua bercerai di saat ia masih kecil, disaat ia sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang tetapi yang ada kedua orang tuanya pergi setelah menikah dengan orang lain lagi.
"Oca." Rey menyisipkan rambut halus di belakang telinga Oca. Sentuhan tangannya membuat Oca menatapnya lagi. Rey tersenyum dan percaya kalau Oca akan menerima pinangannya sebab, selama ia memerhatikan Oca di kantor, tidak ada satu laki-laki manapun yang dekat dengan Oca. Hingga Rey yakin kalau Oca belum punya kekasih. "Aku ingin mengenalmu lebih dekat," imbuhnya lagi.
Oca menggelengkan kepala, baginya semua ini tidak mungkin terjadi, ia melangkah mundur menjauhi Rey tanpa sedikitpun berpaling muka darinya. "Maaf ... aku tidak bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa menjadi istrimu." Suara Oca terdengar pelan tapi, berhasil mengusik hati Rey.
Raut wajah Rey berubah, senyum di wajahnya memudar, cincin berlian yang ia genggam jatuh diantara mereka.
"Kamu bercanda?" Ia berusaha menyangkal apa yang baru ia dengar.
"Sekali lagi maafkan aku, semua ini tidak mungkin." Oca berbalik arah, ia ingin pergi jauh dari tempat ini tapi, Rey mencekal pergelangan tangannya.
Rey tidak membiarkan Oca pergi. "Kenapa? Apa yang salah denganku? Kau masih berpikir kalau aku tidak normal?" Ia menarik tangan Oca sampai mengikis jarak diantara mereka.
"Bu-bukan, aku yang salah. Ak-aku tidak mencintaimu," jawab Oca, menurutnya ini jawaban yang tepat dan masuk akal.
"Kita bisa mencobanya. Beri aku kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padaku." Rey masih berusaha meyakinkan Oca.
"Tapi cinta tidak bisa dipaksakan, Rey! Tolong jangan ganggu aku!" pekik Oca, ia tidak nyaman menjadi pusat perhatian.
"Kau bohong!" Rahang Reyhan mengeras, wajahnya berubah menjadi merah padam. "Itu bukan alasan yang tepat, kau menolakku karena gosip rendahan itu, bukan?" Rey tersenyum sinis dan merasa terhina.
"Kalau aku bilang iya, apa kau akan melepaskan aku?" Terkutuklah mulut ini, Oca bahkan mengutuk ucapannya sendiri, kenapa ia bisa bicara sejahat ini?
__ADS_1
Tangan Rey mengendur, hatinya terasa sakit seperti dihantam benda tumpul, Rey melepas tangan Oca. "Pergilah! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini!" Ia membuang muka kesembarang arah.
Oca terdiam, bibirnya terasa berat untuk berucap karena takut salah bicara dan akan semakin menyakiti hati Rey.
"Maaf ...." Satu kata yang ia ucapkan tapi, Rey masih membuang muka. Orang-orang sudah mulai berbisik dan menunjuk ke arahnya, hingga Oca memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Nenek ikut lemas dan tertatih mengikuti Oca, ia tahu kenapa Oca tidak menerima lamaran Rey.
Kepergian Oca membuat hati Rey semakin sakit, ia menginjak kotak cincin yang sudah tidak berharga di matanya.
***
Pesta sudah usai beberapa jam yang lalu, para tamu undangan bermalam di kamar hotel yang sudah disewa Diko. Rencananya besok mereka sudah kembali ke kota masing-masing.
Angin malam berhembus kencang, udara dingin kian terasa di tepi pantai bali yang sudah mulai sunyi. Namun, kedinginan itu tidak berpengaruh pada dua pria yang sedang patah hati.
Pata hati terdalam ketika kisah cinta berakhir sebelum dimulai. Benar-benar menyiksa batin dan memalukan untuk kedua pria ini.
"Bersulang, Nick." Rey mengangkat gelas berisi Wine yang ntah sejak kapan ada di atas mejanya.
TING!!!
Dua gelas dari tangan yang berbeda sudah saling bersentuhan, dalam sekejab mata isi di dalam gelas sudah kosong diteguk pemiliknya.
"Akhhh pahit seperti mulutnya!" Rey mengumpat lalu terbahak, menertawakan dirinya sendiri. "Perempuan itu meragukan kejan ta nanku! Dia pikir aku tidak normal." Lucu sekali, padahal selama ini ia memerhatikan Oca dalam diam.
__ADS_1
Nick ikut tertawa bahkan, suaranya terbawa angin malam. Bukan menertawakan kisah cinta Rey yang menyedihkan tapi, menertawakan nasib dan kesedihan yang ia alami.
"Lebih jahat kelakuan wanita itu! Aku percaya dan menaruh harapan padanya tapi, ternyata dia seorang kriminal. Dia bahkan hampir menghancurkan hidup adikku."
PYAR!!!
Nicky membanting gelas sampai pecah di atas meja, sepertinya dua pria yang hatinya panas ini masih ingin melampiaskan amarahnya.
Bukan cuma Nicky dan Reyhan yang kepanasan. Di lain tempat tepatnya di kamar hotel mewah yang telah didekorsi khusus untuk suami istri yang sedang bahagia, terdapat seorang pria yang tengah kepanasan. Ace di ruangan tersebut seperti tidak berlaku untuknya.
Diko laki-laki yang sudah berdamai dengan istrinya juga sedang merasakan panasnya gelora asmara yang menguasai tubuh hingga tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya, ia bahkan dengan lihai mengajak Laura mengikuti gerakannya. Kedua orang ini sama-sama mencurahkan rindu yang sempat menguasai diri. Kini, sudah tidak ada jarak diantara mereka. Diko dan Laura sudah berada di atas tempat tidur yang sama hingga larut mengarungi lautan cinta sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
***
Tidak dengan Oca, ia sengaja meninggalkan Bali lebih cepat dari rencana. Oca pergi hanya meninggalkan pesan untuk Laura. Menjelang petang tadi, ia dan nenek sudah sampai di tempat tinggal mereka yang baru, Oca sudah bertekad untuk menghilang dari kehidupan orang-orang dari masa lalunya terutama Reyhan.
"Kenapa menolak anak itu?" tanya Nenek ketika Oca menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
"Nenek tau apa alasannya, kan?" Oca tidak mau membahas masalah ini tapi, Nenek selalu mengungkitnya.
"Kapan traumamu ini hilang? Jangan jadikan kegagalan orang tuamu sebagai alasan kau tidak mau menikah. Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda. Kau menolaknya bukan karena dia tidak normal! Kau tertarik dengannya tapi terlalu pengecut untuk memulai hubungan serius dengan dia!" Ntah sudah berapa kali Nenek memberi nasihat tapi, Oca tidak pernah mendengarnya.
***
Sebentar lagi ketemu Tiara, Daniel dan baby boy! Kok mendadak nggak rela tamat😌
__ADS_1