
Punggung Diko semakin mengecil dan hilang dibalik lift menuju latai dasar. Rima sudah kembali bernapas lega dan tidak lupa mengunci pintu dari dalam.
"Hampir aja ketauan." Irama jantung Rima masih terasa kencang, ia kembali duduk di tepi tempat tidur.
Dona terbahak, ia tidak merasakan apapun selain puas dengan hasil kerja Rima. "Nggak sia-sia aku bayar mahal semua informasi yang sudah kau jual! Darimu aku tau kalau Diko dan Laura sebenarnya suami istri dan betkat kamu juga aku dapatkan ide untuk menghancurkan mereka."
Dona masih menaruh dendam pada Laura, ia sudah tidak sabar untuk menghancurkan Laura dan membuatnya merasa terhina karena dicampakkan.
"Kalian ada masalah apa, sih? Meskipun aku baru mengenal pak Diko tapi, aku yakin kalau dia orang baik, dan meskipun aku belum pernah bertemu dengan yang namanya Laura aku pikir dia juga nggak pantas untuk kamu jahatin!"
Rima mulai gelisah, hati nuraninya sudah mulai bicara kalau apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar tapi, lagi-lagi otak dan keadaan memaksanya untuk tetap tutup mulut menjaga rahasia antara dirinya dan Dona.
"Sudah jangan banyak tanya dan jangan coba-coba jadi pengkhianat di sini. Ingat ya, karena aku kamu bisa punya uang dan dapat pekerjaan, karena aku juga kamu bisa buktikan sama anak-anak kalau kamu bukan sekedar benalu dan sampah, jadi ... aku harap kamu selalu ingat jasa-jasaku ini." Dona mengambil amplop warna coklat dari dalam tas dan meletakknnya di pangkuan Rima. "Ini bonus untukmu!" Dona tersenyum remeh dan keluar dari kamar Rima.
Semua sudah selesai, kerja sama saling menguntungkan antara dua wanita ini sudah berakhir. Rima gemetaran melihat lembaran uang yang ada di tangannya, uang dari hasil kelicikannya menjadi mata-mata Dona selama beberapa hari belakangan.
Semua ia lakukan karena uang, disaat ia tidak punya uang semua orang mengucilkannya, teman-teman sekolah sudah berubah menjadi kaum sosialita, ada yang menjadi istri simpanan para pejabat, ada yang menjdi pelakor dan ada yang menjadi wanita malam tapi, ia masih seperti ini menjadi bahan ejekan sampai Dona datang menawarkan kerja sama.
"Cukup sudah, aku harap ini yang terakhir." Rima berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi berbuat curang hanya demi uang semata.
***
Diko masih berdiam diri di dalam mobil, mesin mobil sudah menyala tapi, ntah mengapa ia masih enggan menginjak pedal gas dan menjalankan mobilnya. Diko menatap ke luar jendela di mana ada beberpa orang berjalan di lokasi sekitar, ada pula mobil yang bergantian meninggalkan area parkir khusus roda empat.
"Dona?" Diko tidak salah lihat, pandanganya sudah tertuju pada seorang wanita yang berjalan mendekati mobil lain. "Dia ada di sini?" Diko membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
Diko berjalan cepat, ia tidak mau kelak Dona melarikan diri darinya tapi sayang, disaat itu jug Dona melihatnya.
"Pak Diko?" Dona gemetaran, jarak mereka semakin dekat hanya terhalang tiga mobil saja. Raut wajah Diko tampak murka, Dona menebak kalau Diko saat ini tengah mencurigainya. "Aku harus pergi sebelum dia menangkapku." Dona cepat-cepat masuk ke dalam mobil. "Jalan, Pak!" serunya kepada supir.
__ADS_1
"Dona tunggu! Aku tidak akan melepaskanmu!" Diko mengumpat dan berusaha mengejar mobil Dona yang sedang melaju, ia kembali masuk ke mobil untuk mengemudikan mobilnya.
Di dalam mobil pun Dona masih menjalankan rencana jahatnya, ia mengirimkan foto Diko dan seorang wanita yang wajahnya tidak kelihatan pada Laura, siapapun akan mengira kalau Diko baru keluar dari kamar hotel di mana ada wanita di dalamnya.
"Aku sudah pinjam suamimu untuk satu malam dan aku kembalikan lagi padamu!" Dona tidak lupa menyisipkan pesan di sana.
Dua mobil tampak melaju kencang di jalan raya, Diko selalu menambah kecepatan untuk mengejar mobil Dona, ntah sudah berapa mobil yang ia lalui sayangnya mobil Diko harus tertahan di lampu merah yang baru menyala sementara Dona sudah melesat semakin jauh.
"Sial!!!" Diko mengumpat dan memukul stir kemudi, ia kesal karena tidak berhasil menangkap Dona.
***
"Mau pulang?" Nicki sengaja menunggu Rima di loby hotel, ia menghampiri gadia itu ketika baru melakukan chek out.
"Pak Nicki masih di sini?" Rima pikir ia sudah bisa bernapas dengan lega tapi, ia masih takut memulai hubungan baru dengan laki-laki baik seperti Nicki. Rima sadar dirinya bukan orang baik, ia hanya gadis matre yang pernah memanfaatkan beberapa laki-laki untuk ia kuasai hartanya, barang mewah, plesiran ke berbagai daerah ia dapatkan dengan cuma-cuma.
"Nick saja, karena tempat tujuan kita sama jadi lebih baik kamu ikut saya saja." Nicki mengambil alih koper kecil dari tangan Rima. "Mobil saya ada di depan."
"Tapi saya maksa, tenang saja kamu pasti akan aman sama saya." Tidak mau berdebat lagi, Nick menarik koper keluar dari hotel.
Rima tidak punya pilihan selain mengikuti Nick dan pulang bersama laki-laki itu.
Sepanjang perjalanan Rima tampak diam dan gelisah, ia takut jika hati ini sudah terlanjur nyaman dan disaat itu juga Nick tau siapa dirinya yang sebenarnya maka, hancurlah sudah Nick pasti akan membenci wanita matre sepertinya, dulu ia memang sengaja mendekati pria karena harta tapi,kali ini ia tidak bermaksud melakukan hal yang sama terhadap Nick.
'Aku takut sekali." Rima membatin sembari melirik Nick yang fokus mengemudikan mobilnya.
"Kenapa?" Nick meliriknya sekilas. "Kamu sudah terpesona?" Ia tersenyum dan kembali mengukur jalan.
"Nggak!"
__ADS_1
"Tapi aku sudah, mulai hari ini aku tidak akan berhenti meyakinkanmu kalau aku serius mau mulai hubungan ini dan lagi usiaku tidak lagi muda hanya untuk sekedar main-main."
Rima hanya diam, ia tahu kalau Nick kaya dan bisa menjamin masa depannya tapi, ia takut kelak akan mengecewakan Nick.
***
Tangan Laura gemetaran membaca pesan yang ia dapatkan dari no asing yang tidak dikenalnya. Bahkan, foto punggung seorang laki-laki itu ia yakini sebagai suaminya, darah Laura memanas ketika meyakini kalau Diko baru keluar dari salah satu kamar hotel.
Tak!!!
Ponsel itu terjatuh di bawah kakinya. Laura sengaja datang ke kantor untuk sekedar bertemu dengan Oca malah semakin suntuk karena pesan dari orang asing ini. Oca yang kebetulan baru tiba di kantor pun memungutnya.
"Ra ... kamu nggak apa-apa?Ini foto siapa?" Oca penasaran dibuatnya.
"Diko," liruhnya, pikirannya melayang jauh memikirkan kemungkinan Diko mengkhianatinya, apa karena ini Diko susah menghubunginya?
"Gila! lakikmu main api?" Oca bahkan ikut tersulut emosi, jika benar ia akan membawa Laura pergi jauh dari Diko, Oca tidak terima kalau temannya ini disakiti.
"Suamiku tidak seperti itu! Dia tidak mungkin selingkuh." Laura masih berpikir positif.
"Tapi ini ...." Oca menggantungkan kalimatnya, ia fokus memerhatikan foto ini. "Ini aneh, Ra! Foto ini diambil dari belakang, dua punggung yang terlihat di sini, laki-lakinya Diko dan ini ... ini Rima!" Mata Oca terbelalak lebar, ada apa dengan mereka? "Aku yakin, ada orang lain selain Diko dan Rima.
"Rima siapa?" Laura semakin penasaran dibuatnya.
"Sekretaris lakikmu yang baru, tuh kan aku tau dia pasti nggak sepolos tampangnya, Ra ... ini anak pasti punya rencana lain."
"Terus gimana? Apa dia berencana jadi pelakora? Apa dia mau melakor Diko? kita harus kasih tau Diko!" Laura semakin kesal, ia tidak mau Diko direbut wanita lain.
"Tunggu, Ra! Kita harus cari bukti yang lebih akurat, aku yakin lakikmu nggak tau kalau fotonya diambil, selain itu yang keluar kota bukan cuma mereka berdua, kalau nggak salah ada pak Rey, ada pak Nicki juga jadi aku yakin Rima nggak mungkin satu kamar sama pak Diko!"
__ADS_1
"Aku juga yakin kalau Diko nggak mungkin berkhianat." Laura berusaha menenangkan pikirannya, ia tidak akan meragukan Diko yang jauh dari matanya.