Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Bobby Bertemu Genta


__ADS_3

(Percakapan di telepon)


"Hallo...."


"Ini aku, Asisten Alvian. Aku ada di dekat gedung perusahaan dan melihat seseorang yang asing. Siapa orang yang bersamamu?"


"Ah, Asisten Alvian. Pria tua dihadapan saya ingin menghadap Tuan dan Nyonya Aiden. Dia mengaku jika dia adalah Papa dari Nyonya, dan menganggap Direktur menantunya. Saya tidak bisa melakukan apa-apa, Tuan."


Mata Alvian melebar, begitu juga Nina. Mereka saling menatap dan mengernyitkan dahi. Suara petugas keamanan itu begitu jelas, karena Alvian memasang pengeras suara.


"Benarkah yang aku dengar? jika benar aku harus segera sampaikan hal ini pada Tuan," batin Alvian.


"Begini saja, bawa dia keruanganmu. Aku akan datang sekarang," kata Alvian.


"Baik Tuan," jawab petugas keamanan.


Alvian menutup panggila. Alvian menatap Nina, seakan meminta pendapat.


"Apa yang aku dengar, Al? benarkah pria itu Ayah dari Nyonya Maurine?" tanya Nina.


"Entahlah, bagaimana menurutmu?" tanya balik Alvian.


"Kau hubungi Tuan, biarkan Tuan yang ambil keputusan."


"Tapi ini sudah malam," jawab Alvian.


"Coba saja dulu," jawab Nina.


Alvian berpikir sejenak, namun pada akhirnya mengubungi Genta. Alvian cemas, panggilannya tak kunjung dijawab. Alvian mencoba menghubungi ulang Genta berharap panggilannya dijawab kali ini. Benar saja, tidak beberapa lama panggilan Alvian diterima oleh Genta.


(Perbincangan di telepon)


"Ya Al," sapa Genta.


"Tuan, maaf mengganggu. Ada masalah Tuan," kata Alvian.


"Ada apa Al?" tanya Genta.


"Hm, itu Tuan. Ada seorang pria datang membuat ketibutan di depan gedung perusahaan. Saya dan Nina kebetulan lewat dan kamipun bertanya pada petugas keamanan. Petugas mengaku jika pria tersebut adalah Ayah dari Nyonya," jelas Alvian.


"Apa?" jawab Genta kaget.


"Apa ada perintah?" tanya Alvian ragu-ragu.


"Dimana dia?" tanya Genta dengan anda suara dingin.


Alvian kaget, "Saya meminta petugas membawanya ke kantor keamanan. Saya akan turun dan mengawasi," jawab Alvian.


"Hm, aku akan datang. Tunggu aku!" perintah Genta.


"Ba-baik Tuan."


Genta langsung mengakhiri panggilan. Alvian merasa takut, seluru tubuhnya langsung merasa panas dingin.


"Ada apa Al?" tanya Nina.


"Sepertinya akan ada badai," jawab Alvian, "Ayo, kita akan masuk kedalam dulu. Kau tidaj apa kan pulang terlambat?" tanya Alvian menatap Nina.


Nina menggelengkan kepala pelan, "Tidak apa, ayo...," kata Nina tersenyum.


"Oke," jawab Alvian, yang langsung membawa mobilnya menuju tempat parkir.

__ADS_1


***


Genta mengepalkan tangannya. Mendengar laporan dari Alvian, hatinya menjadi tidak tenang.


"Darimana dia tau Maurine bersamaku? apakah itu Rey?" batin Genta.


Genta memasukan poselnya kedalam saku celananya. Genta menghampiri Maurine yang sudah terlelap tidur, Genta mengusap kepala Maurine dan mengecup kening Maurine lembut.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu, Maurine. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu," batin genta.


Genta membenahi selimut Maurine, dan langsung pergi meninggalkan Maurine di ruangannya.


Pintu ruangan terbuka, Genta keluar dan menutup pintu perlahan. Genta menemui seseorang di bagian informasi dan meminta salah seorang perawat menjaga Maurine selagi ia pergi. Genta memberikan alasan jika ada masalah serius yang harus diselesaikan dan akan segera kembali.


Perawat mengiyakan permintaann Genta. Hati Genta merasa lega, ia langsung pergi, berlari kecil menuju pintu utama Rumah Sakit. Labgkah kakinya menuntunnya mendekati mobilnya. Dengan segera ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil. Pintu mobil tertutup, Genta bersiap mengemudikan mobilnnya. Hatinya sangat penasaran, banyak pertanyaan melintas dipikirannya. Dalam sekejap, mobilnya melaju meninggalkan gedung rumah sakit menuju kantornya.


***


Alvian mengintrogasi Bobby, mencecar Bobby dengan berbagai macam pertanyaan. Bobby hanya diam, dia tidak menjawab sepatag katapun. Membuat Alvian emosi karena merasa di abaikan.


"Tuan, apa kau sungguh tidak bisa bicara?" tanya Alvian kesal.


Nina berdiri dari duduknya, ia merangkul lengan Alvian dan mencoba menenangkan Alvian.


"Tahan emosimu," bisik Nina.


Alvian terdiam, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan.


"Baiklah, jika kau ingin diam. Diam saja," kata Alvian, "Saat Tuan datang, kau akan dapat masalah jika kau hanya diam membisu seperti ini."


Bobby menatap Alvian, matanya menatap tajam seakan meremehkan ucapan Alvian. Bobby tidak percaya jika suami putrinya akan menyakitinya.


"Jangan bermimpi, Maurine sangat peduli padaku. Aku adalah satu-satunya keluarganya setelah dia dicampakkan Ibunya. Bagaimana bisa suaminya akan bersikap kurnag ajar? apakah Maurine akan diam saja? huh," batin Bobby kesal.


30 menit kemudian....


"Dimana Tuanmu, kenapa begitu lama? tanya Bobby pada petugas keamanan.


"Kenapa? kau sudah bosan bicara paman?" sahut Alvian.


"Aku tidak bicara denganmu!" sentak Bobby.


"Huh, menyebalkan sekali kau ini."


"Menyebalkan atau tidak, bukan urusanmu. Kau mengerti?" kata Bobby.


"Baiklah, baiklah, aku akan diam. Aku akan lihat bagaimana Tuanku memperlakukanmu nanti," kata Alvian.


"Lihatlah, menantuku pasti akan bersikap baik padaku. Aku adalah Ayah dari istrinya, bukankah dia harus bersikap hormat padaku?" kata Bobby menyombongkan diri.


"Kau benar!" Sambung Genta yang baru datang.


Suasana langsung membeku, auara dingin bisa dirasakan Nina dan Alvian. Petugas keamanan mempersilakan Genta duduk, petugas itupun langsung pergi meninggalkan Genta, Alvian, Nina dan Bobby.


Genta menatap Alvian dan Nina, Genta memalingkan kepalanya sekilas kearah pintu, seakan memberi isyarat untuk pergi meninggalkannya dan Bobby.


Alvian menganggukkan kepala, Alvian menggandeng tangan Nina keluar dari ruangan.


Genta menatap Bobby, "Ada perlu apa?" tanya Genta.


"Kau hanya ingin bertemu putriku. Dimana dia?" tanya Bobby.

__ADS_1


"Putriku?" ulang Genta, "Hah, jika kau Ayah yang bertanggung jawab. Kau tidak akan menjual putrimu sendiri," jawab Genta meremehkan.


"Kau, bagaimana bisa bicara kasar pada Papa mertuamu."


"Itu pemikiranmu. Aku tidak berpikir seperti itu," jawab Genta tenang.


"Dimana Maurine?" tanya Bobby mulai terpancing kekesalan.


"Tidak perlu tahu dimana dia, dia aman bersamaku. Tidak perlu repot mencarinya," jawab Genta.


"Aku Papanya, aku punya hak untuk bertemu. Kau siapa? berani-beraninya melarangku bertemu putriku."


"Aku siapa? aku adalah suami Maurine. Maurine sudah sah menjadi istriku, dia adalah tanggung jawabku setelah aku menebusnya dari club. Setelah kau menjualnya, kau tidak pantas lagi disebut sebagai Papa!" Jelas Genta penuh penekanan.


"Cih, kau hanya salah satu dari banyaknya oramg yang punya uang. Jangan sombong anak muda, aku adalah orang yang tidak bida kau hentikan. Aku punya beberapa teman setingkat denganmu," kata Bobby.


"Oh, benarkah?" jawab Genta tersenyum masam seakan mengejek.


"Aku akan bongkar kebusukanmu jika kau tidak pertemukan aku dengan putriku. Kau akan dipermalukan," gertak Bobby.


Genta tersenyum lebar dan tidak lama tertawa, "Hahaha, kau berani menggertakku? jangan anggap kau tinggi hanya karena kau Ayah dari istriku. Apa kau tahu? Maurine tidak akan pernah mau bertemu denganmu. Baginya kau adalah seorang Ayah yang tidak punya perasaan dan kasih sayang. Dia sangat kecewa padamu," kata Genta.


Mendengar ucapan Genta, mata Bobby melebar. Bobby tidak menyangka jika Maurine akan seperti itu.


Bobby terus berpikir, "Berdasarkan sifat lembut Maurine, seharusnya dia tidak akan seperti itu. Ini pasti hanya bualannya saja," batin Bobby.


"Kau tidak perlu bicara omong kosong. Buktikan jika Maurine tidak mau bertemu Papanya ini. Aku ingin dengar langsung dari mulutnya," kata Bobby.


"Kau masih tidak terima?" jawab Genta, "Baiklah, tinggalkan nomor ponselmu. Aku akan hubungi kau dan aku akan atur rencana, kapan waktu dan tempat kalian bertemu.


"Baiklah, aku pegang ucapanmu."


"Hm," jawab Genta.


Bobby mengambil kertas dan pena di meja. Dengan cepat Bobby langsung menulis nomor ponselnya.


"Ini nomorku," kata Bobby melatakan kertas di meja, dihadapan Genta.


"Pergilah! tunggu kaabr dariku," kata Genta.


Bobby berdiri dari duduknya. Bobby menatap dengan tatapan penuh rasa kesal pada Genta. Genta membalas tatapan mata bobby dengan tatapan dingin.


Dengan langkah cepat, Bobby pergi meninggalkan ruangan. Tidak lama Alvian masuk dalam ruangan dan menemui Genta.


"Tuan...."


"Suruh seseorang mengikutinya. Aku rasa dia bekerjasama dengan seseorang. Jika tidak, dia tidak akan berani bicara besar padaku."


"Baik, Tuan. Permisi," jawab Alvian yang langsung pergi.


Genta menatap kertas di meja. Tangannya mengambil kertas itu dan merem*s kertas itu sampai kusut.


***


ig: dea_anggie


Line id: dea_anggie


Fb: dea anggie


Grup FB: Lelaki Bayaran Amelia

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2