Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Mencurahkan Rindu


__ADS_3

Siang itu terik matahari semakin panas, sama halnya dengan hati Laura yang kian membara, marah dan cemburu. Tapi, ia tidak mau cemburu ini menguasai hati. Jangan sampai cemburu yang tidak beralasan menjadi penyebab keretakan hubungannya dengan Diko. Laura mencoba berpikir dewasa dan berpikir positif, mau seperti apapun ia tidak akan bisa berada di samping suaminya selama 24 jam penuh.


"Kok nggak dimakan?" Oca dan Laura memilih makan siang di cafe yang berada di pinggir jalan, tempat ini cukup bersih dan nyaman untuk mengisi perut dengan menu makanan yang sederhana.


"Aku mau makanan kamu aja, kayaknya enak!" Laura mencuil nila bakar yang ada di piring Oca. "Emm enak. Kamu makan punya aku, ya!"


Belum sempat Oca menjawab, piringnya sudah berpindah tangan, Oca terbengong melihat Laura begitu lahap menyantap makanannya.


"Pelan-pelan, Ra! Iya, buat kamu." Lapar yang tadi menyerang hilang begitu saja sekan makanan yang dikunyah Laura ikut masuk ke dalam perutnya. "Itu luka jahitan sudah sembuh?" tanya Oca sembari menyendok es kelapa muda.


"Udah, beres!" Laura mengulurkan tangan mengambil minuman milik Oca dan minum tanpa rasa segan.


"Rakus atau lapar? Punya kamu masih utuh, tuh!" Oca mulai tidak terima, aneh sekali temannya ini. "Kayak lagi hamil muda aja selera sama makanan orang lain!"


Laura mendesahkan napas dan melongos. "Memang aku hamil dan kamu orang pertama yang tau! Tutup mulut jangan bilang siapa-siapa!"


Oca menggebrak meja, beberapa orang melihat kearah mereka.Tapi, Oca tidak perduli. "Serius? Kamu hamil,Ra?" Suaranya naik satu oktaf.


"Heemmm!" Membersihkan mulut dengan tisu, berdiri dan menunjukkan perutnya. "Anak Diko." Laura tersenyum bangga.


Laura bersorak senang. "Gila! Ini gila! Keponakanku OTW?" Oca memeluk Laura. "Selamat ... udah kamu duduk manis aja di rumah, Rima biar jadi urusanku!"


"Tapi ak---


"Udah jangan protes!" Oca memungkas ucapan Laura, ia membereskan tagihannya dan menarik tangan Laura kelur cafe.


Mobil yang dikemudikan Oca berhenti di halaman minimarket. Oca tidak mengijinkan Laura turun sebab, tidak mau ibu hamil itu terlalu banyak berjalan.


Oca menuju rak berisikan susu ibu hamil yang tersusun rapi, ntah berapa kotak susu yang ia dekap dan berjalan menuju kasir.


BRUK!!!


Oca menabrak punggung seseorang hingga menjatuhkan kotak susu yang ia bawa, Oca lantas memungut satu-persatu di lantai.


Laki-laki yang ia tabrak juga melakukan hal yang sama, matanya memicing melihat kotak itu. "Kamu hamil?" cetus Rey.

__ADS_1


Oca mengangkat dagu, keduanya saling menatap. Rey penasaran sementara Oca terkejut karena takut Rey marah ia berkeliaran padahal jam makan siang sudah usai.


"Pak Rey ...sudah pulang?" Pikiran Oca lari ke Rima. 'Itu artinya Rima juga sudah sampai di kantor, aku harus introgasi dia sebelum rencananya berhasil.' Ia membatin yakin.


"Kamu jawab ... bukan malah tanya!" Rey menunjuk gambar wanita hamil pada kemasan.


"Oh ... iya ini punya saya!" Oca asal bicara dan langsung menuju kasir dan membawa kantung plastik putih berisi kotak susu ibu hamil.


Rey masih terpaku melihat Oca pergi. "Bukannya dia belum menikah?" gumam Rey kecewa.


***


Laura benar-benar bosan tanpa ada kegiatan apapun di rumah, kepalanya terasa pusing, hatinya berdenyut nyeri merindukan Diko. Perempuan cantik ini hanya bergantian menatap ponsel dan jam yang terus berdenting di dinding kamar.


Malam sudah datang lagi, susu hamil sudah ia minum, mengajak janin berkomunikasi pun sudah ia lakukan.


"Dasar!" Laura memukul-mukul foto Diko yang ada di ponselnya, foto mesra ketika mereka masih bulan madu di lombok beberapa waktu yang lalu.


"Kenapa tidak menelepone? Kau tidak merindukan aku?" Laura cemberut, ntah mengapa ia ingin memakai lingerie transparan warna merah seperti di foto. Laura mengambil lingerie dari lemari dan memakainya.


***


Siapa yang tidak merindukan istri tercinta? Istri yang selalu berada di dalam benak seorang suami disaat jauh. Percayalah Diko juga merasakan hal yang sama. Setelah menyebar beberapa orang untuk mencari Dona dan begitu urusannya selesai ia bergegas pulang menuju ke rumah.


Alroji di pergelangan tangan sudah menunjukkan angka 10 malam saat Diko sampai di rumah.


"Sudah pulang, Den? Biar bibik bangunkan Non Laura, ya." Asisten rumah tangga mengambil tas kerja Diko.


"Tidak perlu, Bik. Biar saya saja."


Diko menaiki anak tangga menuju lantai dua. Begitu sampai di kamar ia disambut dengan ruangan yang gelap temaram hanya diterangi cahaya lampu kecil di atas nakas.


Diko tidak mau membangunkan Laura, juga tidak mau mendekati Laura dalam keadaan tubuh yang masih lengket, ia memilih membersihkan diri di dalam kamar mandi.


Suara percikan air dari kamar mandi membangunkan tidur Laura, ia mengerjapkan mata dan duduk di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Siapa di sana?" Laura menjadi panik karena takut penyusup masuk ke dalam rumahnya. Suara percikan air itu sudah tidak terdengar tapi, pintu kecil itu sudah terbuka.


"Siapa?" Pandangannya terhalang gelapnya kamar tapi, ia tau kalau ada orang yang berdiri di sana. "Maling!!!" Laura berteriak sekuatnya, ia lupa kalau ruangan ini kedap suara. Mau menjerit sampai tenggorokannya kering pun tidak akan ada orang yang mendengarnya.


KLEK!!!


Bunyi saklar lampu mengejutkan Laura, ia tidak berkedip melihat Diko berdiri dan tersenyum padanya.


"Sudah bangun?" Dengan masih bertelanjang dada dan hanya memakai handuk sebatas pinggang, ia mendekati tempat tidur.


Laura masih tidak menjawab, bahagia, kesal, rindu, marah semua menjadi satu. Tanpa terasa bulir matanya mengalir begitu saja.


Diko duduk di tepi tempat tidur, ia menggenggam tangan Laura dan mencium punggung tangannya. Laura semakin menangis dibuatnya.


"Kenapa nangis?" Diko menghapus air mata dengan ibu jarinya. "Kamu tidak mau aku pulang?" canda Diko diselingi tawa.


"Dasar bodoh!" Laura memukul dada dan perut Diko. "Kau pikir kau masih lajang sampai tidak ingat pulang? Bahkan, kau tidak menghubungi aku!" Laura semakin menangis ia senang karena sudah bisa menyentuh Diko sesuka hatinya.


Diko memeluk Laura. "Maaf ... aku sengaja supaya kita merasakan rindu yang sama. Aku kangen," bisik Diko, ia mencium pipi Laura. "Maaf ... maafkan aku." Diko menangkup wajah Laura.


'Maaf karena aku belum berhasil menangkap Dona," batin Diko penuh sesal.


"Jangan ulangi lagi." Laura mencium pipi Diko.


Sentuhan Laura membuat Diko melupakan semua masalahnya. Harusnya ia pulang ke rumah lebih awal supaya pikirannya tidak semakin buntu. Diko tersenyum mesum melihat lingerie yang dipakai Laura.


"Mau bulan madu lagi?" Diko meraih dagu Laura. Ibu jarinya bermain di bibir tipis istrinya.


"Kau mau aku masuk angin?" Laura tersenyum tapi, senyuman itu menghilang ketika Diko menyatukan bibir mereka.


Malam ini Diko dan Laura sama-sama mencurahkan kerinduan di atas tempat tidur.


***


Jangan dibayangkan sodarah🙈

__ADS_1


__ADS_2