Menjadi Istri Simpanan

Menjadi Istri Simpanan
Hati Ini Memilihmu


__ADS_3

Begitu sampai di rumah sakit, Tiara langsung ditangani tim medis. Sementara Daniel menunggu di depan ruangan tempat Tiara di rawat. Daniel berkali-kali membenturkan kepalanya di dinding sebagai bentuk penyesalan atas apa yang sudah terjadi.


"Daniel bodoh! Kenapa kau tidak bisa mengendalikan emosimu? Semua salahku, Tiara. Aku selalu saja menyakitimu." Bahkan, air mata yang tumpah ruah di wajahnya cukup menggambarkan ketakutan akan kondisi Tiara dan calon anak mereka.


Mike berdiri tidak jauh dari Daniel, ia terpaku melihat kerapuhan Daniel. Kakaknya itu terlihat sangat menyedihkan, duduk di lantai dan membungkuk di depan pintu yang sedari tadi tertutup rapat.


"Da-Daniel," panggil Mike terbata, ia mendekat dan menepuk pundak Daniel. Daniel mengangkat kepala dan menatapnya dalam.


"Kau puas sudah menyakiti istri dan calon anakku?" Daniel menepis tangan Mike. "Seharusnya kau tidak melampiaskan amarahmu dengan Tiara, seharusnya kau tidak melibatkan keluargaku, Mike! Kalau sampai terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Aku bersumpah akan membunuhmu, Mike!" ucap Daniel, suaranya pelan tetapi penuh dengan penekanan.


Mike menelan ludah, bukan takut dengan ancaman Daniel. Tetapi, ia takut kalau Daniel benar-benar akan kehilangan anaknya. Mike sudah mencoba berpikir jernih, semua perkataan Tiara tentang Daniel perlahan menggoyahkan niatnya. Tiara benar, Mike merasakan sakit dan terluka melihat keadaan Daniel yang terpuruk.


"Lukamu adalah lukaku, juga. Maafkan aku." Mike ikut berjongkok di depan Daniel. "Semua pasti baik-baik saja."


Mike mencoba memeluk Daniel namun, respon yang diberikan Daniel tidak seperti harapannya.


"Pergilah, aku muak melihatmu!" cetus Daniel. Dia menolak kehadiran Mike di rumah sakit.


Belum sempat Mike beranjak, pintu sudah dibuka dari dalam. Seorang Dokter dan dua orang perawat keluar dari ruangan.


Daniel menghampiri Dokter. "Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Daniel.


"Syukurlah semua berjalan seperti yang diharapkan. Istri Anda mengalami pendarahan ringan yang diakibatkan stres dan tekanan batin yang berlebihan. Kami sudah melakukan USG dan janinnya masih terlihat jelas. Tetapi, untuk saat ini sebaiknya biarkan pasien istrahat dan menenangkan diri," tutur dokter pada Daniel.


Daniel kembali bernapas lega. "Kapan saya boleh bertemu dengan istri saya?" tanya Daniel.


"Tunggu sampai pasien dipindahkan ke ruang rawat, saya harap setelah kejadian ini. Anda bisa lebih hati-hati menjaga istri Anda, jangan buat dia stres dan banyak pikiran," ucap Dokter seraya menepuk bahu Daniel mencoba menasehati dan memberikan semangat.


"Saya janji, Dok!" seru Daniel sebelum dokter pergi meninggalkannya.


"Aku yang salah," lirih Daniel. Dia sadar kalau selama ini ia belum pernah membahagiakan Tiara, malah selalu menyiksa batin dan memaksa Tiara untuk menerima dan bertahan di sisinya. "Aku janji akan memberimu kebebasan seperti yang kamu impikan." Jika kebahagiaan Tiara bukan dengannya, maka Daniel akan melepaskan dan merelakan Tiara menjemput bahagianya sendiri.


***

__ADS_1


Sebuah pesawat baru mendarat dengan selamat di Bandara International. Para penumpang sudah mulai terlihat keluar dari kabin pesawat. Seorang wanita tersenyum ceria saat menapaki tempat yang belum pernah ia kunjungi. Laura membiakan angin bertiup menerbangkan rambutnya yang panjang seakan ia menikmati udara ini.


Lain halnya dengan Diko, sedari tadi ia tampak diam tanpa ekspresi, Diko membiarkan beberapa pengawal yang dikirimkan papanya membawa koper mereka. Diko menggenggam tangan wanita paruh baya yang berjalan di sisi kanannya dan membiarkan istrinya-Laura- tertinggal di belakang.


"Harusnya kamu menggandeng tangan istrimu!" Mama Delia mencubit lengan Diko. Delia sengaja datang diam-diam ke Indonesia memberikan kejutan untuk Daniel.


"Dia bisa jalan sendiri, Ma," jawab Diko.


"Mama juga bisa jalan sendiri."


"Nanti Mama nyasar, Diko nggak punya Mama lagi."


"Laura pun bisa nyasar!"


"Kalau dia nyasar, Diko bisa cari istri baru!" celetuk Diko tanpa tau Laura sudah berada tepat di belakangnya bahkan, mendengar percakapan Diko dan mertuanya.


"Kau ini!" Mama Delia menyubit perut Diko. Diko hanya tertawa meresponnya.


Bibir Laura mengkrucut. "Terserahlah yang penting aku sudah sampai di sini. Aku hanya perlu fokus mencari keluarga kandungku."


"Ma!" Mike berapi-api, ia berlari mendekati Diko dan mamanya. Mike akan memberikan kejutan untuk Daniel dan mama Delia.


"Kenapa wajahmu jelek seperti ini, Mike? Siapa yang memukulmu?" Delia memperhatikan memar di wajah Mike. "Kau selalu berkelahi!"


"Ini bukan apa-apa, Ma. Sekarang ikutlah denganku." Mike membukakan pintu mobil tepat di samping pintu kemudi. "Kalian duduklah di belakang!" Mike menunjuk Diko dan Laura.


Kini, mobil yang dikendarai Mike melesat di jalan raya. Delia selalu bertanya kemana Mike akan membawa mereka. Sementara di bangku belakang hanya ada keheningan, Laura mencoba menghapal setiap jalan yang mereka lewati sementara Diko mengernyitkan kening karena tau ke mana arah tujuan Mike membawa mereka.


Hari menjelang petang saat mobil Mike sampai di rumah sakit.


"Siapa yang sakit?" Hati Delia menjadi gelisah. "Ap-apa Nielku sakit?"


"Ikut saja, Ma." Sepanjang koridor menuju ruangan Tiara, Mike menggandeng tangan Mama Delia.

__ADS_1


"Siapa yang sakit?" tanya Laura, ia berajalan berdampingan dengan Diko. Diko hanya mengangkat bahu acuh.


Tiara sudah dipindahkan di ruang rawat, kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dokter baru saja mengijinkan Daniel masuk dengan catatan tidak boleh terlalu lama berada di dalam ruangan.


"Aku sudah kenyang," tolak Tiara ketika Daniel menyuapkan sesendok nasi untuknya.


"Sedikit lagi, satu sendok lagi ini yang terakhir," bujuk Daniel.


"Cukup!"


Daniel mengalah, ia meletakkan piring ke tempat yang lebih aman, lalu membujuk Tiara agar mau meminum obat dan vitamin sesuai anjuran Dokter.


"Terima kasih sudah kuat dan bertahan demi anak ini. Aku sangat takut kehilangan kalian berdua." Daniel mengecup kening Tiara. "Rasanya pasti sakit sekali," imbuhnya. Daniel menggenggam tangan Tiara.


Tiara menggeleng lemah. "Sakit yang aku rasakan tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Daniel ... jangan meyembunyikan masalah sendirian. Kamu tidak sendiri, berbagilah denganku." Tiara mengelus pipi Daniel.


"Memangnya apa yang aku sembunyikan darimu?"


"Semuanya ... terutama keluargamu. Kenapa sampai sekarang kau tidak cerita apapun tentang mereka? Papamu, mamamu, Mike dan semuanya. Kau tau ... kau sudah terlalu lama menyendiri di sini."


"Aku tidak sendirian, ada kamu dan anak ini." Daniel meraba perut Tiara. "Aku salah karena sudah memaksamu untuk tetap di sisiku, mungkin karena itu juga kamu stres, tertekan dan berakibat fatal sampai hampir keguguran, aku menyadari keegoisanku Tiara. Tapi, dengarkan aku ...." Daniel menangkup wajah Tiara dengan kedua telapak tangan yang ia letakkan di pipi Tiara. "Mungkin hatimu belum sepenuhnya milikku, mungkin cintamu masih ada untuk orang lain, dan aku siap menerimanya. Demi kebahagiaanmu ... aku rela melepaskanmu untuknya asalkan jangan pisahkan aku dengan anak ini."


Hati Daniel terpukul saat mengatakannya, ia sudah sangat mencintai Tiara. Tetapi, Daniel sadar selama ini tidak bisa membahagiakan Tiara. Jalan satu-satunya adalah melepaskan dan membiarkan Tiara bahagia dengan laki-laki yang dicintainya dan orang itu adalah Diko.


Tiara meneteskan air mata, ntahlah ia tidak sanggup membayangkan jika harus jauh dari Daniel. Tiara hanya ingin Daniel terbuka soal keluarganya bukan malah melepaskan dan mempertanyakan perasaannya.


"Tapi ... hati ini sudah memilihmu, Mas! Hati ini mencintai kamu, tolong jangan ragukan aku," jawab Tiara.


Daniel menghapus air mata Tiara. Ucapan Tiara terdengar indah di telinganya. "Maaf ...." Daniel memeluk Tiara.


Tiara memejamkan mata dan menikmati hangatnya pelukan Daniel, tanpa mereka sadari ada orang lain yang mematung di depan pintu.


"Di-dia menantuku?" lirih Delia.

__ADS_1


***


Bab ini nggak maksimal, berantakan. Nanti Vio revisi lagi🙏


__ADS_2