
Hari pertama bekerja, gadis yang masih muda ini tidak mau melakukan kesalahan, ia tampak cekatan memelajari berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Kertas putih bertuliskan tangan yang ada di dalam laci menarik perhatian Rima, tertera nama Laura di sana.
"Laura ...?" Rima mencoba mengingat nama asing itu. Ya, nama asing yang akan selalu diingatnya. Rima merobek menjadi beberapa bagian dan membuangnya di tempat sampah.
"Anak baru?" celetuk Oca datang tiba-tiba. "Aku pikir, Laura. Ternyata bukan!" Ia meletak
kan file keuangan di atas meja kerja Rima. "Laporan yang diminta pak Diko, tolong sampaikan, ya."
"Iya, Mbak...biar saya yang kasih ke pak Diko."
"Iya lah, kan memang tugas kamu." Oca memerhatikan penampilan dan wajah Rima yang terkesan polos dan cantik tapi, ntah mengapa ia merasakan tanda bahaya. Bahaya bila Rima berada dekat suami temannya Laura.
"Ada lagi, Mbak?" Rima sudah mulai berdiri ingin meninggalkan meja kerjanya.
"Ada ... cuma pesan buat kamu. Baik-baik kerja di sini dan jangan cari masalah. Kalau kamu berani macam-macam...." Oca menepuk dadanya. "Berurusan sama Oca!" Oca pergi meninggalkan peringatan untuk Rima.
"Oca?" gumam Rima, satu nama yang pernah ia dengar dan kini pemilik nama itu yang menemuinya sendiri.
Rima mengetuk pintu ruangan Diko, ia masuk setelah pemilik ruangan memersilahkannya, Rima sempat terkejut melihat tumpukan kertas berserak di lantai dekat meja kerja Diko.
"Ini laporan keuangam dari Oca, Pak!" Rima meletakannya di atas meja Diko.
"Hem, kamu bawa semua sampah kertas ini ke ruangan daur ulang, pastikan semua kertas ini hancur tidak tersisa sedikitpun, ini tugas pertama untukmu! Dan satu lagi, pesankan pitza dan kirim ke rumah saya, pastikan istri saya yang menerimanya!" Diko bicara tanpa melihat Rima, ia fokus membaca laporan milik Oca.
Rima mengernyitkan kening, ia terkejut mendengar pengakuan Diko. Bukankah status bosnya ini masih lajang?
"Istri, Pak?"
Diko mengalihkan perhatiannya. "Kamu tau alamat rumah saya?" Rima mengangguk. "Istri saya Laura ada di rumah, kerjakan apa yang saya perintahkan tanpa banyak bertanya!"
__ADS_1
"Baik, Pak." Rima menyimpan pertanyaan dalam hati. Satu informasi ini akan menjadi ladang keberuntungan untuknya.
Rima memungut satu-persatu berkas-berkas yang sudah tidak terpakai itu. Begitu sampai di ruangan berisi mesin penghancur kertas, ia mulai memastikan kertas-kertas tergunting menjadi beberapa bagian kemudian ia masukkan ke dalam kantung plastik hitam berukuran besar.
Ketika ia memasukkan beberapa berkas terakhir ke dalam mesin penggunting itu, ia mengambil satu kertas yang menarik perhatiannya tanpa pikir dua kali Rima melipat dan menyimpan ke dalam saku kemejanya.
Pukul 10 pagi, Diko melakukan perjalanan menuju ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis dan mempromosikan furniture milik Nick. Menurut informasi Nick sudah berada di sana, sebenarnya ia malas bertemu dengan laki-laki itu karena kejadian di rumah sakit masih terbayang di ingatan.
Setelah menempuh tiga jam perjalanan sampailah mereka di luar kota. Restoran mewah menjadi tempat jamuan mereka. Diko menyapa satu-persatu rekan bisnis yang sudah hadir di sana.
"Pak Diko menggandeng perempaun baru!" sapa salah satu dari mereka. "Cantik, ya!" Semua orang terutama kaum lelaki tertawa, ada yang menggoda ada juga yang meminta agar Diko membawanya ke pelaminan.
"Cuma sekretaris sementara." Diko duduk dengan gelisah, apalagi sedari tadi ia belum menghubungi Laura.
Rima juga ikut bergabung, ia memilih duduk di samping Diko dan langsung membuka laptopnya. Rima tidak merasa risih mendengar candaan laki-laki mesum yang ada di sana sebab, ia sudah kebal dalam situasi seperti ini.
"Santai saja, Pak Nick. Kebetulan kita semua ada di sini bagaimana kalau kita santap makan siang yang sudah terlambat ini hahaha!" Perutnya sudah mulai keroncongan, pria bertubuh tambul ini mulai menyantap makanan yang ada di atas meja.
Dering ponsel khusus untuk urusan bisnis milik Diko mengalihkan perhatiannya, tertera nama Rey di depan layar.
"Aku dapatkan dia!" ucap Rey dari balik teleponnya.
"Di mana?" tanya Diko.
Rey menyebutkan nama sebuah jalan dan menutup teleponnya.
"Maaf, saya harus pergi. Rima akan mewakili pertemuan ini!" Diko beranjak dari duduknya.
"Pak Diko kenapa terburu-buru?" Nick mengentikan Diko, ia pikir Diko pergi karena merasa tidak nyaman dengan kehadirannya.
__ADS_1
"Rima, atasi semuanya. Tunggu kabar dari saya!" Diko tidak merespon pertanyaan Nick. Ia melangkah panjang meninggalkan Restoran.
Di tempat lain, di jalan yang cukup sunyi dua mobil sedan dengan kecepatan tinggi tampak kejar-kejaran. Rey fokus mengemudikan mobil mengejar pelaku tabrak lari yang berniat mencelakai Laura.
Tin! Tin! Tin!
"Berhenti berengs*k!" Rey mengumpat dan mencaci, ia semakin kesal dan semakin menekan pedal gas sampai berhasil melewati mobil lawannya. Rey tidak mau kehilangan kesempatan, tanpa pikir dua kali ia menginjak rem dan seketika mobil yang lain menabrak mobil miliknya.
BRAK!!!!
Benturan keras itu menyeret mobil Rey beberapa meter. Kepala Rey sempat terbentur tapi sekuat tenaga ia menahan sakitnya. Pelan-pelan ia membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Rey tertatih mendekati mobil lawan yang posisinya sudah berbalik arah dengan bagian kaca pecah dan berserak di jalanan.
"Keluar!" Rey menarik paksa pengemudi yang sudah bercucuran darah.
"Tolong ... tolong, Pak," rintihnya menahan perih.
"Mati saja, kau!" Rey hampir memukulnya tapi, tiba-tiba Diko datang dan menahan tangannya.
"Aku sudah bilang serahkan dia padaku, Rey!" Diko tidak datang sendirian, ia sengaja membayar orang -orang yang kompeten untuk membersihkan jalanan agar tidak ada seorangpun mengetahui kecelakaan ini. Termasuk polisi, ia ingin mengadili sendiri pelaku yang sudah menabrak istrinya. Lokasi kejadian yang terbilang sunyi melancarkan rencana Diko.
***
Mata Laura berbinar melihat kotak berisi pitza yang dikirimkan Diko untuknya. Aneh sekali suaminya itu, kemarin melarangnya makan pitza dan sekarang mengirimikan pitza sebanyak ini. Laura lahap memakannya tapi tiba-tiba ia merasa mual yang luar biasa. Laura bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Pusing, mual, lemas dan menggigil menyelimuti tubuhnya. Perawat sudah ia suruh pulang, asisten rumah tangga belum kembali dari supermarket, jadi tidak ada yang tau apa yang ia rasakan.
Dari kasur ke kamar mandi, ntah sudah berapa kali ia bolak-balik melakukannya. Bahkan, mulutnya semakin terasa pahit.
"Apa aku keracunan makanan?" Laura meraba perutnya yang datar, ia merasa tidak bertenaga untuk kembali ke kasur. Dengan meraba dan berpegangan dinding akhirnya Laura kembali berbaring di atas ranjang dan membalut tubuh dengan selimut tebal.
__ADS_1